Your Eyes

By On Monday, March 6th, 2017 Categories : Cerita

Pagi ini adalah pagi yang sangat cerah. Tapi aku masih dalam balutan selimut tebalku yang berwarna ungu ini.
“Noya.. cepetan bangun, bukannya hari ini hari kelulusan kamu” teriak mama membangunkanku.
“Lima menit lagi, mah” ucapku kemudian tidur lagi.

Tidak berapa lama handphoneku berdering. Terdengar suara teman-temanku yang terus berteriak agar aku segera bersiap ke sekolah.
“Noya, cepetan ke sini papan pengunguman bentar lagi ditempel nih” teriak mereka.
Aku pun segera bangun dan bersiap ke sekolah.
Ya, hari ini hari kelulusanku di SMA. Masa yang takkan pernah terulang lagi dalam hidupku. Masa dimana aku punya banyak teman, punya pacar, putus cinta, dapat hukuman dari guru dan lain-lain, aku pasti akan merindukannya.

Hari itu dengan tergesa-gesa aku berangkat ke sekolah. Aku mengendarai motor agar tidak kena macet. Tapi sesuatu terjadi padaku. Aku merasa mataku mulai sulit untuk kubuka dan perlahan semuanya menjadi gelap.

Tak lama kemudian aku pun tersadar. Tapi…
“Aku di mana? Kok gelap sih?”
“Kamu di rumah sakit sayang”
“Mamah? mah ini ada apa sih kok mata aku diperban kaya gini sih mah? mah tolong bukain, aku takut mah…” ucapku sambil memeluk mama.
“Kamu kecelakaan sayang, apa kamu enggak inget?” ucap mama.
Aku pun hanya terdiam. Dokter pun datang dan segera memeriksa keadaanku. Perban di mataku juga mulai dilepas.

“Sayang, kamu bisa liat mamah?” tanya mama padaku.
Tapi semuanya masih gelap. Aku pun mulai panik. Aku tidak bisa berhenti berteriak, kenapa aku gak bisa liat apa-apa?
“Karena benturan di kepala yang cukup keras memungkinkan adanya syaraf pada mata putri ibu yang rusak. Mungkin putri ibu tidak akan bisa melihat lagi”
Mendengar hal itu air mataku menetes begitu saja. Aku buta…
“Dokter, apa anak saya bisa melihat lagi?” tanya mama sambil terisak.
“Hanya ada satu cara agar anak ibu bisa melihat lagi yaitu operasi. Tapi menemukan donor mata yang cocok dengan anak ibu itu sangat kecil kemungkinannya”
Tangisku pecah saat itu. Hidupku seakan berakhir saat itu juga.

Pagi harinya aku meminta suster ke taman karena aku merasa bosan. Di sana aku bertemu seseorang yang pasien rumah sakit juga. Aneh, tapi aku merasa nyaman di dekatnya, aku merasa bebanku sedikit berkurang saat bicara dengannya. Aku meminta untuk menyentuh wajahnya, dan dia pun mengizinkan. Dia punya hidung yang mancung, muka yang lonjong dan bibir yang tipis. Aku rasa dia sangat cakep. Tak lama kemudian tidak terdengar lagi suaranya. Aku mulai memanggilnya, tapi dia tidak pernah muncul lagi sampai hari terakhir aku pulang ke rumah. Aku bahkan belum sempat tau namanya. Tapi hari itu dokter mengatakan kalau dia sudah mendapatkan donor mata yang cocok untukku. Aku pun sangat senang, aku segera memeluk mama. Hari itu aku merasa aku akan hidup kembali.

Operasi berjalan lancar dan akhirnya aku bisa melihat lagi. Ketika aku hendak pulang dari rumah sakit, ada seseorang yang terus memperhatikanku dari koridor. Aku pun menatapnya dengan heran.
Dia hanya tersenyum.
“Sekarang kamu udah bisa liat” ucapnya.
Suara itu, aku tau.
“Apa kamu yang pernah ngobrol sama aku di taman?”
Dia tersenyum lagi. Sekarang aku tau namanya. Namanya adalah Romy, dan dengan seiringnya waktu aku pun mulai jatuh cinta padanya.
Sejak aku bisa melihat lagi, entah kenapa aku jadi suka memotret. Apa karena mata baru ini?

“Romy, kenapa ya aku ngerasa kalau ada sesuatu yang sama di antara kita tapi aku gak tau apa itu”
“Tentu aja ada yang sama, kita punya dua mata, satu hidung, telinga, tangan, kaki…”
“Romy, aku juga tau kalo itu, tapi aku ngerasa ada sesuatu”
Romy hanya terdiam kemudian mengantarku pulang.

Keesokan harinya aku cek up mata di rumah sakit. Tiba-tiba terpikir olehku untuk mencari tau pendonor mata dan berniat untuk berterima kasih pada keluarganya.
Aku sempat kaget sesaat saat melihat nama pendonor itu adalah Romy.
“Ya ampun Noya, kamu pikir yang namanya Romy itu cuma ada satu” ucapku pada diri sendiri.

Aku pun datang menemui keluarganya. Banyak foto di rumahnya dan salah satunya adalah orang yang aku kenal. Aku bertanya siapa orang yang ada di foto itu dan ibu itu menjawab kalo foto anaknya Romy yang sudah meninggal. Aku sama sekali tidak percaya ini. Bagaimana mungkin Romy yang aku kenal adalah pendonor mataku. Aku pun lari dari rumah itu tanpa berpamitan.

“Kenapa kamu nangis”
Suara itu mengagetkanku.
“Kamu, siapa sebenernya kamu, kamu bukan Romy kan?!!” teriakku.
“Noya…”
“Jangan mendekat, atau aku bakalan teriak. Kamu bukan Romy. Karena Romy udah meninggal, dia yang donorin matanya buat aku…” teriakku sambil menangis.
Dia terdiam sesaat.

“Aku memang udah meninggal” ucapnya lirih.
“Apa kamu pikir aku bakalan percaya kamu, kalo kamu udah meninggal terus kamu apa, hantu? hah.. aku gak percaya, kamu itu cuma penipu.” ucapku kemudian berbalik badan meninggalkannya.
Tapi dia sudah ada di hadapanku lagi. Aku pun berbalik lagi tapi dia sudah ada di depanku lagi.
“Aku memang hantu yang hanya bisa dilihat kamu saja”
Aku tidak bisa menerima ini, aku pun berlari menembusnya. Air mata ini mengaburkan pandanganku hingga aku terjatuh.
“Apa aku udah gila? aku gak percaya..” ucapku diiringi tangis.

Aku tidak keluar rumah selama beberapa hari. Aku masih belum percaya dengan semua omong kosong ini. Tapi jika aku mengingatnya, betapa aku sangat mencintainya. Hariku begitu sunyi tanpanya, betapa aku merindukannya Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada hantu, apa aku sudah gila atau otakku sudah tidak di kepalaku lagi.

Terlihat seseorang di balik jendela kamarku. Aku tau itu Romy, tapi aku masih belum siap bertemu dengannya lagi. Tapi akhirnya aku menemuinya juga.
“Mau apa lagi kam…”
“Aku bakalan pergi” ucapnya memotong ucapanku.
“Apa bener cuma aku yang bisa liat kamu?”
“Mmmm…”
“Apa karena mata ini, mata yang kamu donorin buat aku? Sekarang aku tau apa yang sama di antara kita, yaitu mata kita. Mata aku adalah mata kamu, dan mata kamu adalah mata aku sekarang.”
Aku berusaha menahan air mataku agar tidak keluar di depannya.
“Mungkin ini terakhir kalinya kita ketemu” ucapnya.
“Kamu mau pergi ke mana” tanyaku.
“Ke sana” ucapnya sambil mengarah ke langit.
Apakah ini mimpi atau kenyataan, aku tidak bisa membedakannya.
“Jaga kesehatan kamu, jangan lupa cek up ke rumah sakit, jangan keseringan begadang, jangan pake baju terbuka, harus sering senyum karena kamu lebih cantik kalo tersenyum dan jadilah fotografer profesional seperti impian kamu” ucapnya
Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku pun membalikan badan dan mulai menangis. Apa yang harus aku lakukan?
“Kenapa baru sekarang kamu bilang gitu, apa kamu gak tau aku selalu pengen denger kata-kata itu dari dulu. Kenapa saat kamu bakal pergi baru kamu ucapin. Apa ini yang namanya kata perpisahan hah? kenapa kamu gak jawab?”
Aku pun membalikkan badan. Tapi dia sudah tidak ada di sana.
“Romy.., Romy.., kenapa kamu pergi sebelum ngucapin selamat tinggal? Kamu cuma ngucapin apa yang kamu pengen ucapin, kamu bahkan belum sempet denger apa yang pengen aku ucapin ke kamu…” Teriakku diiringi tangisan.
“Aku cinta kamu Romy, iya aku cinta kamu. Aku gak peduli kalaupun aku bisa gila karena hal ini, aku gak peduli kamu manusia atau bukan, aku sayang kamu Romy, aku cinta sama kamu Romy…”

Tapi sejak hari itu Romy tak pernah muncul. Cinta itu memang tidak memandang apapun dan siapapun. Cinta memang bisa membawa luka namun cinta juga bisa mengobati. Aku terus melakukan semua permintaannya sampai saat ini, dan sampai saat ini pun aku masih mencintainya.