When I See You Again

By On Saturday, March 11th, 2017 Categories : Cerita

Benarkah ini akan segera berakhir? Ataukah malah baru dimulai? Tak tahu jawabannya akan dunia ini. Karenannya banyak nyawa terenggut, banyak harta tersia-siakan. Karena dunia aku kehilangan mereka. Orangtuaku. Menjadi bagian negara yang dijajah beresiko. Terkontaminasi oleh asap bom, bahkan hilangnya harga diri.

Palestina, negara tercintaku. Tempat dimana aku dilahirkan, bermain di pangkuan ibu, hingga terkena omelan ayah. Semuanya aku lakukan di sini. Tapi, beberapa tahun belakangan ini negaraku harus terasa pahit. Berdarah. Berbau busuk oleh mayat. Ibu pernah bilang jika akan ada waktu dimana negaraku terbebas, dimana dunia akan cerah kembali. Lalu, terpikir olehku, itu pertanda kiamat.

Hari yang pasti datang, hari pembalasan akan apa yang kita telah perbuat. Gemetar aku mengingat dunia ini akan hancur, tapi ayah selalu bilang “Akan ada dunia yang lebih indah. Yaitu, bersama-Nya. Di surga.”
Sedikit senyum kusunggingkan mendengarnya. Tapi, kenangan itu benar-benar akan jadi kenangan. Karena ketika aku bertemu denganmu lagi.

Pagi itu terasa lebih tenang daripada biasanya. Langit nampak cerah tanpa awan, matahari bersinar cemerlang di atas, jalan yang lenggang tanpa ada patahan tangan atau darah. Aneh, mengingat perkara yang tengah terjadi. Aku duduk santai menghadap jendela, sedikit menghirup aroma kedamaian. Tak jauh dariku, ibu duduk termangu merajut baju. Ayah belum pulang sejak malam tadi. Aku menatap bongkahan bangunan yang telah menjadi puing-puing, mungkin esok giliran rumah kami.

“Umar, sini duduk dekat ibu.” lambaian tanganya memanggilku
Sebuah senyum lucu kulemparkan padanya “Ada apa, Ibu?”
“Jangan duduk dekat jendela.”
“Baik, ibu.”
“Entah sampai kapan kita bisa terus mempertahankan rumah ini” gumamnya meneliti ruangan yang terbuat dari batu tanpa cat.
Mendengar gumamannya aku merasa akan ada hal besar terjadi. Aku tak menjawab, membiarkan kekosongan menyelimuti kami.

Ibu kembali merajut, dan aku manunggu ayah datang. Tak lama sebuah suara yang menggetarkanku terdengar, masuk dengan wajah lelah. Ibu melemparkan senyum paling menawan diiringi tahmid dari bibirnya. Lega, ketika ia masih bisa melihat wajah suaminya.

Ayah memelukku senang, lalu memgecup kening ibu. Aku terkikik geli melihat kemesraan itu di depan mataku. Ibu mendesis malu, sedangkan ayah terlihat bingung.
“Belum ada pergerakan dari lawan?” tanya ibu sembari meletakkan secangkir teh di meja tempatnya merajut. Aku duduk tanpa berniat menyela percakapan mereka.
Ayah menyeruput teh sebelum berkata, ”Ya. Tapi, kita diminta tetap waspada akan bahaya yang terjadi berikutnya.” Ibu manghela lelah “Abdur semalam kehilangan satu tangannya, tertembak.”
Ibu mengucapkan tahlil, aku membeku
“Ayahnya Faridz?” tanyaku memastikan
Ayah mengangguk singkat “Aku takut ini giliranku” Ibu menggeleng meremas tangan ayah.
Lagi-lagi aku tertegun “Kalau itu terjadi pada ayah, maka aku akan berdiri melindungi ayah dan ibu.” bergaya bak tentara yang siap menghadang musuh
Aku tersenyum melihat ayah dan ibu kembali tertawa. Walau aku tak bisa membantu ayah berperang, setidaknya aku sudah membuat mereka ceria lagi.

Pagi telah berganti malam, kini bulan yang menguasai bumi. Bintang bersinar di langit yang gelap, cahaya matahari memantul lewat bulan yang bersinar. Aku termangu mendengarkan ayah bercerita tentang perjuangan Nabi Muhammad melawan pasukan Quraisy. Tak bosan aku mendengar suara bariton ayah bercerita, gagah dan menyenangkan. Ibu menegur agar segera tidur, lalu kami membalas dengan enggan. Ini yang biasa terjadi ketika pihak lawan tak melancarkan serangan, penuh canda, omelan, gelakkan tawa, jadi satu dan indah.

Tiba-tiba, tak biasanya ayah berbisik padaku “Aku bahagia menjadi ayahmu, Umar. Ayah sangat menyayangimu.” lalu memelukku sebelum tidur.
Sepersekian waktu aku tertegun merasakan hangatnya pelukkan ayah. Ibu mengusap rambut hitamku seraya membacakan ayat kursi, lagu tidurku. Semua terjadi begitu cepat, pelukkan ayah dan suara lirih ibu. Melindungiku. Hingga ledakan besar membangunkan kami, ayah segera mengambil pistol laras panjang. Sebelum melangkah pergi, ayah mencium kening ibu. Ciuman yang terkesan perpisahan mengiris hatiku. Ayah tersenyum padaku, senyuman yang tak dapat aku artikan. Bisikkan itu membayangiku.
Ibu memelukku erat, bibirnya tak henti berdoa agar keluarga kecilnya baik-baik saja. Aku tak dapat melakukan apapun ketika ibu berbisik lirih di telingaku.
“Umar, pergi jika ibu suruh ya.” aku mengangguk pasrah—pandangan lembutnya lagi-lagi mengiris hatiku “Aku bahagia menjadi ibumu dan ibu sangat mencintaimu.”

Seketika tubuhku kaku. Bisikkan yang sama, penuh makna dan sangat sarat hal yang tak ingin aku katakan. Ibu mengajakku berlari menjahui bangunan yang sebentar lagi runtuh. Berlari tanpa tahu arah, menghindari serangan lawan. Aku tak berani menatap ke langit yang tengah berbintang. Bulan mengintip di balik pesawat tempur milik penjajah negara kami. Padahal baru tadi pagi aku merasakan tenangnya hidup, kini diuji kembali.

Kami terus berlari, sampai lengan ibu ditarik paksa. Sebuah pistol tertuju tepat di kening tempat ayah menciumnya. Ibu mendorongku sebelumnya, aku terduduk di dekat reruntuhan yang menjadi penghalang tempatku dan ibu. Gemetar kakiku ketika siluet pandangan lembut ibu menyuruhku lari. Setelahnya bunyi senjata sialan itu membekukan langkahku. Tahlil berkumandang, takbir menjadi jalan penguatku.

Aku berlari hingga ke tempat yang diungsikan untuk kami. Di sana melihat banyak anak menagis, meronta, meringis akibat serangan udara tadi. Aku sendiri, memeluk baju rajutan ibu yang kini kupakai. Menunggu kabar baik tentang ayah. Tapi, tak satu pun pria berperawakan ayah hadir. Telah banyak keluarga yang berpelukkan, namun aku terdiam selagi berdoa.

Seorang pria dengan pistol laras panjang miliknya mendekatiku. Peluh membasahi badannya, gurat sedih ia tampilkan
“Umar, ayahmu mati jihad. Dia mati mempertahankan negeri dan agamanya. Dia mati jihad. Maafkan aku tak bisa menyelamatkannya.”

Aku menutup wajah dengan tangan, seulas senyum tersunggingkan. Setidaknya ibu tidak sendirian, ayah ada di sana. Menemani ibu bertemu Tuhan, dapat saling bercengkrama lagi tanpa perlu takut. Aku di sini akan menjadi penerusnya, berdoa agar kembali bertemu. Dalam keadaan menuju-Nya, melangkah ke surga-Nya.

“Aku bahagia menjadi anak kalian dan aku mencintai kalian. Ketika aku bertemu denganmu lagi pasti aku akan bahagia, menjadi anak kalian lagi.”
When I see you again.

27918672, 27918673, 27918674, 27918675, 27918676, 27918677, 27918678, 27918679, 27918680, 27918681, 27918682, 27918683, 27918684, 27918685, 27918686, 27918687, 27918688, 27918689, 27918690, 27918691, 27918692, 27918693, 27918694, 27918695, 27918696, 27918697, 27918698, 27918699, 27918700, 27918701, 27918702, 27918703, 27918704, 27918705, 27918706, 27918707, 27918708, 27918709, 27918710, 27918711