Untuk Langit Dan Untukmu Juga

By On Sunday, March 5th, 2017 Categories : Cerita

Terlihat seorang gadis yang sedang memandang langit yang indah. Setiap hari gadis itu berada di tempat itu. Sebuah taman yang hanya ada langit biru yang tetap setia membuatku tentram dan ilalang yang terus bergerak mengikuti angin. Hanya di tepat inilah dia menemukan inspirasi. Hal yang membuat dirinya tenang ialah memandang langit, kata-kata yang sangat ia sukai tentang langit ialah “Untuk langit yang bisa kupandangi setiap hari tapi tak bisa kugapai”. Dia adalah Rumi Dwi Sukma, atau akrab disapa Rumi, seorang gadis yang sederhana, menyukai keindahan alam, memilki jiwa petualang, dan hobinya adalah memotret.

Suatu hari aku tidak sengaja bertemu dengan seorang pria. Perawakan orang itu tinggi, putih, memilki lesung pipi dan mata yang indah, dan dia sepertinya bukan orang Indonesia, aku tebak dia itu orang Asia tepatnya Korea. Dia hampir saja jatuh ke jurang yang ada di pinggir taman itu. Untung saja aku langsung memegang tangan orang tersebut. Dan aku pun langsung menarik dia ke atas, dengan sepenuh tenaga aku berhasil menarik dia agar tidak jatuh ke jurang tersebut.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku kepada orang itu.
“Ya, saya baik-baik saja” Jawab orang itu, ternyata dia lumayan bisa berbahasa Indonesia meskipun dengan logat korea.
“Oh, syukurlah” Kataku.
“Terima kasih atas bantuannya, Nama saya Park Chanyeol, senang bertemu denganmu”. Ujar orang tersebut sembari memperkenalkan dirinya.
“Sepertinya aku pernah dengar nama itu, tapi di mana ya?, Ah, iya dia itu member EXO!” Ujarku dalam batin sambil mengingat-ingat nama itu. “Ah ne, Cheonmaneyo, Naneun Rumi~ya imnida, Bangapseumnida” Jawabku menggunakan bahasa korea tapi dengan sedikit logat Indonesia.
“Kamu bisa bahasa korea?” tanya Chanyeol kepadaku.
“Ne, tapi hanya sedikit, masih harus belajar lagi” jawabku sambil tertawa kecil dan Chanyeol pun ikut tertawa.
“Kita lanjutkan pembicaraan kita di sana saja, tidak enak kalau kita bicara di dekat jurang” kata Chanyeol beranjak dari tempat kita ngobrol tadi.

Kami pun duduk di kursi taman yang panjang. “Apa kamu sering ke tempat ini” Ujar Chanyeol.
“Iya” Jawabku singkat.
“Apa yang membuatmu menyukai tempat ini?”
“Aku suka karena aku bisa melihat langit setiap hari disertai dengan angin yang berhembus”. Jawabku sambil memandang langit.
“Oh begitu”.
“Lalu, apa yang membuatmu datang ke sini, apa kau tidak sibuk, kau kan seorang artis?”
“Sama sepertimu, aku ingin melihat langit, dan sekitarku, tapi kenapa kau bisa tahu aku seorang artis?”.
“Aku seperti pernah mendengar namamu, kau itu member EXO kan”.
“Aku tahu pasti kau itu fansku, ya”.
“Aniyo, aku bukan EXOTIC’S tapi aku VIP’S, aku hanya tahu melalui berita K-POP saja”.
“Ah begitu ya” Jawabnya dengan nada yang terlihat sedikit kecewa.

Aku melirik jam yang ada di tangan ku. Pukul 15.46 wib waktu untukku pulang. “Maaf sepertinya aku harus segera pulang, kalau ada waktu kita mungkin bisa lanjutkan mengobrol kita” Jawabku bersiap beranjak bangun dari tempat duduk. Tapi ada tangan yang menahanku. “Aku di Indonesia hanya 2 bulan, bisakah kita bertemu lagi setiap hari?”.
Aku pun duduk kembali dan Chanyeol melepas pegangan tangannya dari tanganku. “Boleh pinjam ponselmu” pinta Chanyeol.
“Ah, Ne,” jawabku sambil mengeluarkan ponsel dari tas dan heran kenapa dia meminjam ponselku.
Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan dia memijat nomor di ponselku, sepertinya dia akan menelepon. Dan benar saja dia sedang menelepon menggunakan nomorku untuk menghubungi nomor ponselnya. Aku hanya diam saja atas apa yang sedang Chanyeol lakukan.

“Ini untuk aku bisa berjumpamu di sini lagi, apa kau akan ke sini menemuiku lagi?” tanya Chanyeol sambil memberikan ponselku dan menatapku. “Berjanjilah kau akan menemuiku setiap hari di sini?”. Pertanyaan Chanyeol membuatku sedikit terkejut, apa dia serius ingin aku menemui dia setiap hari, apa aku sedang bermimpi bahwa ada seorang Idola K-pop mengajakku untuk bertemu dengannya.
“Apa kau serius dengan perkataanmu” tanya ku heran.
“Ya, aku serius” jawab Chanyeol dengan tegas. Aku akhirnya memutuskan menjawabnya Iya. Dan aku langsung beranjak dari tempat duduk meninggalkan Chanyeol sendirian. Aku melihat raut muka Chanyeol yang sumringah disertai senyuman kecil.
“Rumi~ya” Teriak Chanyeol saat aku berjalan dan aku pun menoleh. “Aku akan menghubungimu nanti, tunggu saja ya!” teriak Chanyeol kepadaku. Dan aku pun balik menjawabnya dengan berteriak “Oh, geurae” .
Lambaian tangan mengakhiri pertemuan kami yang tidak sengaja ini. Aku tidak tahu ini disengaja atau sudah ditakdirkan terjadi. Tapi kenapa aku merasa senang bertemu dengannya.

Hari terus berjalan, tanpa terasa 2 bulan hampir berlalu. Ini adalah hari dimana Chanyeol akan pulang ke negaranya. Aku pun langsung menuju tempat kami bertemu pertama kali. Aku melihat Chanyeol sudah ada di sana. “Oh, kau sudah ada di sini” tanya ku baru tiba.
“Aniya, aku baru saja datang kok” jawab Chanyeol senang melihatku.
“Hari ini kau akan pulang kan?” tanyaku.
“Ne, tapi sebelum itu aku akan mengatakan sesuatu kepadamu…”.
“Iya, ada apa?” tanyaku keheranan melihat Chanyeol menggantung kata-katanya.

Tanpa basa-basi Chanyeol langsung mengatakan isi hatinya kepada Rumi. Bahwa Chanyeol menyukai Rumi sejak mereka bertemu pertama kali. Rumi yang terkejut mengetahui hal itu tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa terdiam mematung. Chanyeol menanyakan apakah dia menerimanya atau tidak. Tapi Rumi menjawabnya dengan…

“Untuk langit yang bisa kupandangi setiap hari tapi tak bisa kugapai, Seperti itulah kau”.

Rumi menahan tangisnya menutupinya dengan tangannya. Lalu Chanyeol melihat ada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Rumi, seperti cincin pertunangan. “Apa kau sudah bertunangan” tanya Chanyeol to the point.
“Iya” jawab Rumi tertunduk tak mampu menatap Chanyeol.
Seakan tak percaya, Chanyeol hanya bisa mengatakan kata “Benarkah?”.
Rumi pun akhirnya bisa menahan tangisnya. “Tapi, meskipun begitu kau senangkan bertemu denganku” tanya Rumi dengan nada menahan tangis dan mengulurkan tangannya.
“Iya, aku senang, bahkan sangat senang bertemu denganmu” jawab Chanyeol menatap Rumi sambil menerima uluran tangan Rumi.
Lama Chanyeol menggenggam tangan Rumi, seakan tak rela Rumi menghilang dari pandangannya, Chanyeol memegangnya dengan sangat erat. “Tolong lepaskan Chanyeol, aku rasa sampai di sini saja, aku harus pergi” ujar Rumi berusaha melepas genggaman tangan Chanyeol. Chanyeol akhirnya melepaskan genggamannya meskipun dia tidak rela.
“Kalau begitu sampai bertemu lagi” kata Rumi sambil tersenyum pahit.

Rumi berlalu meninggalkan Chanyeol sendirian. Dan dia akhirnya menangis tanpa suara disertai dengan iringan suara angin yang berselir.

~ Dengan langit aku bisa merasakan kau yang merindukan ku ~
~ Dengan langit aku juga bisa melihatmu melukiskan namaku di atas goresan langit yang biru ~
~ Dan dengan langit pula aku pun bisa memandangimu meskipun takan pernah bisa kugapai ~