Treason

By On Thursday, March 16th, 2017 Categories : Cerita

Semua berawal bahagia
Saat aku dan kau menjadi kita
Saat waktu kita lalui bersama
Tak ada yang berani mencela
Tak ada yang berani menggoda
Seolah-olah dunia hanya milik kita berdua
Terucapkan atas janji cinta
Saat kau berkata akulah segalanya
Dan itu membuatku percaya
Bahwa kau benar-benar mencinta
Namun…
Kini semua telah berbeda
Sungguh di luar dugaan yang ku kira
Mungkinkah aku terlalu percaya?
Ataukah kau yang telah berdusta
Menodai cinta kita
Entahlah…
Yang ku tau semenjak ada dia
Bahagia yang kurasa kini berubah menjadi duka
Canda tawa yang dulu ada, kini berubah menjadi tangis air mata
Dan aku yang dulu segalanya, Kini tergantikan karena dia

Aku terdiam dan mencoba memahami setiap bait puisi yang dibacakan, seakan-akan puisi itu dibacakan khusus untukku. Dengan iringan musik klasik yang syahdu, membuatku merasa sesak di dada. Bola mata ini terasa panas, seakan menahan sesuatu, semakin lama mata ini semakin berkaca-kaca, tanpa terasa mengalir air mata ini di pipi. Teringat akan kenangan masa laluku yang kacau, kisah cintaku yang harus kandas hanya karena pengkhianatan seorang sahabat. Ya… dia telah mengambil Riko dariku, dia mengambil kekasih sahabatnya sendiri, dan dia telah menghianati persahabatan yang ada. Aku tak kuasa untuk menerima kenyataan ini. Memaksaku untuk memutuskan semua ini. Kuputuskan Riko bukanlah kekasihku lagi. Dan dia (Reyn) bukan sahabatku lagi. Mungkinkah ini semua keputusan yang tepat? Entahlah… Pikiranku kembali ke masa itu…

Langit begitu cerah dan mentari pagi mulai menunjukkan senyum melalui sinarnya yang menyapa pagiku. Sepanjang langkahku menuju sekolah, hatiku terlihat sangat gembira, wajahku nampak berseri-seri, terukir senyuman yang tak pernah pudar di bibir ini. Bagaimana tidak? Aku bukan lagi anak SMP bertitle putih biru. Melainkan anak SMA dengan cerita “putih abu-abu” yang katanya merupakan masa terindah selama sekolah. Yah… harus kuakui itu. Bukan hanya itu, aku bisa satu sekolah lagi dengan sahabat-sahabatku, Reyn, Vita, dan Anggi. Bukan itu saja, bahkan aku satu sekolah dengan Riko, kekasihku, pujaan hatiku. Lengkap sudah hari-hariku.

Jarak dari rumahku menuju sekolah tidak terlalu jauh. Hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki, tubuh ini telah sampai di depan sekolah. Aku terdiam sesaat, kutatap gerbang sekolah itu yang tersenyum padaku, kubalas senyumnya. “SMA PELITA BANGSA” ucapku perlahan, jadi teman terbaikku yah, selama tiga tahun ke depan, ucapku seraya kulalui gerbang sekolah itu. Uuhh… desahku, pikiranku tiba-tiba kacau. Mata ini mulai sayu ketika melihat daftar pembagian kelas di papan pengumuman. Ipa 3, yah… itu kelasku. Kubaca barisan nama yang ada, tidak ada nama sahabatku satupun, nama Riko sekalipun tidak ada. Vita dan Angi di kelas IPS 2, dan ternyata Reyn dan Riko satu kelas di kelas IPS 1. Ya sudahlah… toh mereka tidak saling kenal sebelumnya. Yang pasti aku bisa memintai tolong Reyn untuk menjaga Riko.

Kring… Kring… Kring… bel tanda masuk pun berbunyi, semua siswa terutama siswa baru berhamburan untuk mencari dan memasuki kelas masing-masing, termasuk aku. “Hey, boleh aku duduk di sini?” Tanyaku pada seorang gadis. “Boleh kok, nama kamu siapa?” Ucapnya padaku. “Hm…, namaku Winda, dari SMP 25, kalo kamu?” Ucapku lagi. “Aku Nindy, dari SMP Tunas Bangsa” Balasnya. Obrolan kamipun terhenti saat seorang guru memasuki ruangan kami.

Hari terus berganti, dan waktu semakin berlalu. Tak terasa sudah lama aku berada di sekolah ini. Hari-hariku berjalan seperti biasa, tak ada yang menarik bahkan terkesan membosankan. Riko semakin berubah, dia tak seperti dulu lagi. Sahabat-sahabatku? Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkin semua ini hanya firasatku saja yang terlalu merindukan kebersamaan bersama mereka.

“Mm… Nda boleh nanya nggak?” Ucap Nindy membuyarkan lamunanku. “nanya aja” Jawabku singkat. “Ih gitu banget sih jawabnya? Ga jadi nanya ah! Ucap Nindy kesal, “Hehe… iya iya… mau nanya apa?” Ucapku. “Ehh… Riko tuh pacar kamu yah?”. “Em… iya, kok kamu tau? Emangnya kenapa?” Jawabku. “Ya taulah… eehh denger-denger sekarang dia deket banget yah sama yang namanya Re… Re… Re…” “Reyn?” Ucapku. “Nah… iya Reyn” Ucap Nindy. “Ya ampun Nindy… Riko itu pacar aku, dan Reyn itu sahabat aku, wajar dong kalo mereka deket?”. “Reyn sahabat kamu?”, “tapi nda…”. “Tapi apa? Udah ah laper nih, kantin yuk”. “Yaudahlah, yuk.” Jawab Nindy.

Hening… tak seperti biasanya, koridor yang kulewati sepi seperti ini. Memang, aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Aku berjalan perlahan, menikmati kesunyian di sepanjang koridor. Di kejauhan kulihat Riko. Ternyata Riko dengan Reyn. Aku terdiam sesaat, untuk apa mereka datang sepagi ini, pikirku. Kuhampiri mereka, awalnya sempat terkejut dengan kedatanganku. “Ehh… pagi-pagi udah berangkat, ada apa Nda?” Tanya Riko. Disitulah aku mulai mengerti, mulai merasa, perbedaan yang ada. Dingin, caranya berbicara. “Emm… nggak kok, nggak ada apa-apa. Kalian sendiri ngapain?” Tanyaku. Baru saja Riko mau menjawab, Reyn memotongnya “Aku sama Riko udah biasa kok Nda kaya gini, kenapa?” Ucap Reyn dengan nada meninggi.

Tok… tok… tok… suara pintu kamarku membuyarkan lamunanku tentang masa laluku itu. Masa lalu yang terlalu menyakitkan untuk diingat. Tapi… aah sudahlah. Mungkin dari kita sangat bahagia dan bangga ketika memiliki sahabat yang selalu ada. Memiliki sahabat yang setia. Tapi… semua itu tak lagi bermakna, ketika seorang sahabat “berkhianat”.