Toku Hodo Mae, Anta Ga Suki Desukedo (Aku Menyukaimu Sejak Lama)

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Sama seperti biasa, saat itu dia juga duduk sendirian di meja itu, seraya menopang dagunya, sembari mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan lukisan jingga yang menutupi langit sore di kejauhan sana.
Itu adalah kebiasaan yang dia sering lakukan ketika jam sekolah telah usai. Yuuki Takashi tidak banyak meluangkan waktunya untuk kegiatan klub atau bergabung dengan remaja-remaja seusianya, pergi ke kafe atau bersenang-senang, seperti lazimnya anak SMA di perdunya. Anak itu sedikit berbeda.
Mungkin, kurang tepat kalau disebut berbeda. Membedakan diri agaknya lebih pas untuk mendeskripsikan Takashi dari kelompok remaja wajar di Jepang ini.

Takashi tidak punya peminatan pada kegiatan apa pun di sekolah. Sudah dua tahun dia menjalani program yang disebut sekolah sekarang ini, dan dia juga masih belum punya teman seorang pun. Tidak banyak alasan yang bisa disebutkan kenapa dia begitu. Semua orang menganggap dia sombong karena sifat pendiamnya.
Walau sebenarnya, sifat itu sedikit lebih rumit daripada apa yang sebenarnya terjadi. Sejak saat Takashi mengalami penderitaan itu, dia mulai berubah jadi begini. Menjauhi semua orang dan tidak peduli pada apa pun lagi. Baginya, langit selalu tampak runtuh tanpa keindahan. Kehilangan dalam hatinya membuat dia benar-benar berbeda.

Sore ini perasaan tersebut masih membenak dalam dirinya. Sama seperti biasa. Hanya saja, sekarang, konten yang menyenakkan dirinya kini bertambah lebih banyak.
Saat Takashi baru saja ingin mengganti uwabaki-nya ketika baru tiba di sekolah dia menemukan bahwa sepucuk surat ternyata sedang bermukim di dalam loker sepatunya. Surat yang dia tidak tahu kenapa datang padanya. Surat yang dia tidak pernah sangka pengirim dan kontennya.

Kini, saat Takashi ingat-ingat kembali, sudah dua tahun lebih sejak mereka mulai berhenti bicara dan berganti jadi seperti orang asing. Sekarang, saat gadis itu kembali memutuskan untuk bicara pada Takashi, semua keanehan ini malah yang datang. Takashi tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan.
Dia hanya duduk di sana, menunggu si gadis, dan memperhatikan langit yang tampak suram setiap kali dia mendongak ke atas.

“Um?”
Sesaat setelah pintu kelas terdengar digeser, Takashi perlahan mengarahkan pandangannya pada sumber suara itu. Tampak seorang gadis sedang berdiri di tengah pintu. Sebelah tangannya memegangi kusen pintu. Wajahnya mengarah datar pada Takashi, dengan dua bola mata cokelat indah. Guratan mata itu benar-benar kuat. Tegas. Bagaikan sedang menatap tugas berat yang akan membumi hanguskan dunia ketika ditinggal. Gadis itu menatap Takashi telak.
“Kotori.” Takashi berujar, lirih.
Gadis itu, Iida Kotori, belum mengatakan apa pun. Dia masih berdiri di sana. Masih dengan tegang memegangi kusen pintu, dengan tatapan mata bak tengah terpojok oleh nasib sial, yang sebenarnya timbul karena keputusan bodohnya.
“…halo.”
Suara itu terdengar seperti rekaman kusut. Berhenti begitu saja tanpa kelanjutan.
“Ada apa sebenarnya?” kata Takashi, bangkit dari kursinya, berdiri menghadap gadis mungil itu. “Surat ini… apa maksudnya?”

Selembar surat yang terselip di amplop terbuka Takashi tunjukkan. Sepucuk amplop merah muda yang plasternya menggunakan sebuah stiker hati tak biasa. Bukan karena obyek tersebut aneh, tapi karena tidak wajar saat digunakan pada surat yang Iida Kotori kirimkan untuk Takashi.
Kotori merasa bodoh dengan semua itu. Dirinya bagaikan terkekang oleh sangkar kematian. Dia malu. Dia merasa munafik. Dia merasa seperti seorang pembohong.

“Aku tidak begitu mengerti kenapa… dan, ini, sebenarnya tampak terlalu membingungkan. Aku tahu isi surat ini, dan juga amplopnya… maksudku, bukankah ini terlalu berlebihan?”
Kalimat Takashi dibarengi dengan senyum segan.
“Kau… hanya bercanda, kan?”
“Tidak. Aku serius.”
Tanpa pikir panjang, Kotori berujar.
“Kau serius…?” ulang Takashi, menapak maju selangkah. “Ini bukan lelucon?”
“Menurutmu ini lelucon?!”
Tersentak oleh keterkejutan, Takashi pun menutup mulutnya. Ia kembali memperhatikan tulisan pada surat itu. Tertera tulisan tangan rapi yang sangat dikenalnya. Kalimat tersebut menerangkan bahwa Takashi baru saja mendapat pernyataan cinta. Dari Iida Kotori yang sudah memusuhinya waktu kelas tiga SMP dulu.

“Tapi… kenapa?” tanya Takashi, kembali pada Kotori di depannya, yang mengedarkan pandangan. “Kau bilang kita tidak ada hubungan lagi sejak saat itu, kan— Kita juga mulai berhenti bicara sejak hari itu. Sekarang… ini jadi terasa tidak masuk akal.”
“Dua tahun.”
Kotori mengangkat kepala, menusuk Takashi dengan tatapan tajamnya.
“Dua tahun kau sudah kehilangan Kaori-chan. Dan, selama itu juga kau jadi pemurung.”
Sesak, seperti ada yang mengganjal, wajah itu kembali muncul dalam ingatannya. Kaori. Gadis yang sebelumnya membuat hari-hari Takashi jadi lebih berwarna. Gadis yang membuat dia jatuh cinta. Dan, yang membuat dia merasa kehilangan.

“Sejak kedatangannya kau jadi jauh lebih bersemangat dari biasanya. Kau semakin bersinar, dan itu membuatku merasa tersisih. Kaori-chan, kau tahu, dia adalah gadis yang jujur dan baik. Aku menyukainya. Sebagai seorang teman, aku beruntung karena punya kesempatan untuk mengenalnya.”

Takashi diam membatu. Dia hanya memperhatikan. Ini hari pertama dia dan Kotori mulai bicara lagi. Setelah dua tahun lebih memutuskan persahabatan mereka —yang dilakukan oleh Kotori.

“Kau tidak pernah seperti itu saat bersamaku, bukan? Kita sudah saling kenal sejak kecil. Sejak saat itu pula kita sangat dekat. Dan, bagimu, aku ini hanya sebatas teman masa kecil yang belajar piano dengan guru yang sama. Tidak lebih dari itu.”

Angin sore masuk bertiup. Tubuh Takashi disapunya dengan kehangatan. Kehangatan yang begitu ribut bersama perasaan tak terlihat. Di depannya, Kotori mulai menunjukkan sisi yang tidak pernah dia lihat sama sekali.

“Sejak kematian Kaori-chan, kau mulai merasa kehilangan. Dirimu seperti hampa. Tidak lagi terisi dengan cahaya atau semangat. Jemarimu sudah tidak menekan tuts lagi. Kau seperti kertas kosong.”
Kotori mengangkat wajah. Matanya sembab oleh kesedihan.
“Itu… pastinya karena rasa kehilanganmu sangatlah besar, kan? Makannya kau jadi seperti ini.”
Dia tersenyum singgung. Sedikit. Sedikit saja.
“Karena kau sangat mencintainya, karena dia berharga… makannya kau jadi begitu. Kau memang orang yang langka. Kaori-chan juga, hubungan kalian juga.”

Di matanya saat ini apa yang bisa dia lihat di sana bukanlah gadis yang dia kenal. Semua kata-katanya, nada bicaranya, dan tangisan di matanya itu. Takashi tidak kenal siapa itu. Dia bukan Kotori yang diketahuinya.

“Tapi… jika itu sedikit saja, aku tidak masalah,” kata Kotori, kembali tersenyum, kaku. “Jika itu sedikit saja, jika kau merasa kehilangan diriku sedikit saja, bagiku itu sudah cukup. Setidaknya, kau merasa kalau diriku pernah wujud selama ini, dan masuk dalam daftar sosok yang Takashi anggap berharga.”
“Selama ini aku kehilangan dirimu, Kotori”, kata Takashi, lirih.
“Yaa, itu yang kau katakan.”

Langkah Kotori bergerak maju, berdiri di depan lelaki yang dulu selalu tertawa bersamanya.
“Tapi, kau tidak pernah menganggap hal itu penting. Karena saat itu kau sudah punya Kaori-chan. Saat itu, ketika aku bilang persahabatan kita tidak mungkin bisa dilanjutkan, rasanya, aku tidak melihat penyesalan sama sekali pada wajahmu.”
“Aku tidak menyesali apa pun. Aku hanya tidak mengerti situasinya. Kau… tiba-tiba saja… Lalu, semua itu berakhir tanpa kusadari. Semua itu— Aku tidak bisa memahaminya sama sekali.”
Kotori sedikit tersenyum.
“Kurasa aku saja yang terlalu bodoh.”
Ia mendongak, menatap wajah lelaki murung itu dengan bola mata memelasnya. Semua ini tidak terlihat nyata sama sekali.

“Aku tahu kalau Kaori-chan kena penyakit itu. Makannya, kurasa, akan lebih baik jika aku tidak mengganggu kalian. Kaori-chan, dia… sangat menyukai Takashi soalnya. Biolanya diciptakan untuk diiringi oleh pianomu. Saat kalian tampil di panggung itu, kalian tampak sangat cocok, bagaikan nada yang saling bersambung. Ritme tanpa jeda. Terus bermain dengan semangat tinggi.”
“…..”
“Aku… tidak pernah lihat kau memainkan pianomu seperti itu sebelumnya. Begitu pula Kaori-chan. Saat aku sadar ternyata hati kalian sudah saling bergumam, saat itu pula aku sadar bahwa aku posisiku tidak akan lagi bisa kududuki.”

Takashi merenung dalam seraya mendengarkan penjelasan itu. Teman masa kecil dan cinta pertama. Keduanya merupakan pemusik. Keduanya saling mendukungnya agar bisa tetap tegar untuk hidup setelah kepergian kedua orangtuanya.
“Saat itu aku sadar bahwa aku tidak mungkin bisa mengatakannya. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku juga tidak ingin kehilangan Kaori-chan. Aku tidak ingin dia pergi dengan rasa sakitnya. Paling tidak, jika itu bersamamu, mungkin dia bisa lebih tenang. Atau, jika keajaiban datang, kau mungkin bisa menyelamatkannya dari penyakit itu.”

Pikiran Takashi terbang jauh menembus batas waktu. Senyum Kaori terproteksi dalam kepalanya. Senyuman yang dia rindu mati-matian.

“Maka dari itu… aku memutuskan untuk tidak mengganggu. Itu yang kupikirkan awalnya,” kata Kotori, seketika memalingkan wajah. “Tapi, sebenarnya, alasan itu hanyalah suatu kebohongan. Nyatanya, aku sebenarnya marah padamu. Aku juga cemburu pada Kaori-chan. Padahal aku yang lebih dulu bersamamu, lantas kenapa dia yang diistimewakan. Takashi juga… Kau juga… tidak pernah menyadari perasaanku padamu. Itu… membuatku merasa telah dikhianati.”
Semua kalimatnya menusuk jantung Takashi.
Semua kalimat Kotori yang tidak pernah dia sangka.

“Pada akhirnya, aku cuma ingin melarikan diri dari kenyataan. Perasan itu tidak pernah ada untukku. Perasaan itu untuk Kaori-chan. Hanya untuknya. Bahkan sampai sekarang. Saat kupikir kau tidak mungkin sembuh dari rasa kehilangan itu, aku jadi makin marah, dan membencimu.”
Dia menatap telak mata lemah Takashi. Mata yang sudah lelah menunggu kedamaian hatinya.

“Katakan Takashi, apa kau pernah merasa ingin mencintai seseorang untuk sebuah alasan?”

Takashi bungkam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Yang dia tahu, dia jatuh dalam senyum Kaori tanpa sebab yang jelas. Walaupun begitu, dia tidak pernah meragukan perasaan tersebut. Dia nyaman dengan perasaannya.

“Kalau aku— Aku punya. Alasan yang cukup kuat untuk mencintai seseorang. Yaitu, agar aku bisa terbebas dari belenggu kesendirian ini, serta, agar aku bisa memberikan kedamaian untuk orang yang kucintai itu.”
Takashi tidak pernah memiliki hal semacam itu dalam dirinya. Semua itu terasa sangat ganjil.
“Saat itu aku tidak bisa mengatakannya karena aku tidak ingin menyakitimu atau pun Kaori-chan. Makannya aku diam dan lebih memilih melarikan diri. Sekarang, mungkin bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tapi, aku tidak ingin memendam semua ini terlalu lama.”

Perlahan, wajah Kaori mendongak kembali. Dia melangkah mundur, dengan tangan di belakang pinggang. Sedikit tersenyum, ia pun berujar lambat.
“Takashi… Selama ini, aku menyukaimu.”
Kata-kata yang dia ingin pastikan. Kalimat yang tertera di surat itu serupa dengan apa yang Kotori sampaikan. Baru saja.

“Aku akan segera pindah ke Jerman besok. Ini adalah salam perpisahan. Hari ini adalah hari terakhir kita bicara.”
“Padahal baru hari ini kita bicara setelah sekian lama.”
“Aku tidak menyesali apa pun.” Kotori tersenyum. “Aku juga tidak minta balasan apa pun. Aku hanya ingin melegakan hati tertimpaku ini. Dan menunjukkan padamu bahwa kau tidak pernah sendirian. Masih banyak orang-orang yang menyayangimu. Dan mencintaimu.”
Sedikit, segaris senyum tipis terbentuk di bibir kering Takashi.

“Kaori-chan tidak akan senang melihatmu begini. Aku juga… tidak senang melihatmu seperti ini. Menyakitkan ketika melihat orang yang kucintai larut dalam kesedihan tak sudah.”
Kata-kata itu terdengar seperti omelan. Tetapi, di saat bersamaan terdengar juga bagaikan nasehat penting.

“Kau baru saja bilang perasaanmu padaku dan kemudian ingin pergi ke tempat lain. Apa tidak ada cara yang lebih menyakitkan lagi?” kata Takashi, masih dengan senyum tipisnya.

“Aku senang kau bicara begitu.”
“Aku tidak senang kau bicara begitu. Kau selalu saja menyebalkan, Kotori.”
“Kalau begitu lebih bagus lagi.”

Entah perasaan senang atau malah menambah kehilangannya, kini hati Takashi terserang oleh lunjakan ketidak inginan yang menyerbu. Kehilangan Kaori sudah cukup buruk buatnya. Kini, sekali lagi, dia harus merelakan dirinya ditinggalkan oleh gadis yang selalu berdiri di sampingnya untuk kedua kali. Seakan tenang sebelum badai, semua ini terlihat seperti kesenangan yang dibuat-buat.

“Kuharap kau akan baik-baik saja, Takashi. Selamat tinggal.”
“Kau juga. Baik-baiklah di sana, Kotori.”

Kotori pun tersenyum tipis. Dia tidak menggubris apa pun lagi. Langkahnya dia ambil, dengan sedikit gerakan lamban, bagaikan robot kekurangan energi, dia melangkah ke arah pintu, melewatinya, lalu hilang beberapa saat kemudian. Langkah kakinya di lantai koridor tidak terdengar lagi.

“Semua ini terasa seperti mimpi konyol. Iya kan, Kotori.”
Sambil bergumam sendirian, Takashi pun menoleh kembali keluar jendela. Langit sudah mulai makin meredup. Begitu juga dengan keresahan yang Takashi rasakan tadi. Dia bimbang tentang apa yang sebenarnya akan Kotori sampaikan, ragu bahwa semua itu cumalah candaan, kemudian menemukan bahwa dirinya ternyata memang menyimpan perasaan khusus itu.

“Sekarang, apakah aku sungguh akan baik-baik saja? Kotori, kau memang keterlaluan dalam banyak hal…”
Perasaannya bagaikan diobrak-abrik oleh kejahilan takdir. Nasib baiknya seolah telah kehabisan tenaga. Takashi hanya bisa merenungkan semua yang sudah terjadi selama ini.

Di kejauhan sana, garis oranye yang membentang di ujung barat perlahan menutup tabirnya.

~ Shuryo ~

Foot note:
kun: sufiks umum yang digunakan pada laki-laki. Terkadang juga dipakai pada mereka yang lebih muda: junior dan bawahan.
san: sufiks paling umum yang digunakan pada semua orang. Bentuk ini bisa diimplementasikan untuk siapa pun. Biasa dipakai pada mereka yang jarak hubungannya belum begitu dekat, mereka yang dihormati, dan orang asing. Tetapi wajar juga pada orang-orang yang sudah dikenal, akrab, bahkan keluarga sendiri.
uwabaki: jenis sepatu yang digunakan saat masuk ke sekolah.