Titisan Seroja

By On Sunday, March 5th, 2017 Categories : Cerita

Bus yang ditumpangi Diana mengerem di pemberhentiana terdekat Desa Warui. Gadis itu memiringkana senyum semangat, tak sabar dengan petualangan kali ini. Mengulik desas-desus unik Desa kecil nan hijau itu. Hidungnya melebar, jantungnya berdebar-debar karena adrenalin meningkat, ia mencium bau keberhasilan. Dengan paras ayu 25 tahun wajahnya dan 5 tahun bergelut sebagai jurnalis membuatnya semakin percaya diri.
“Nothing impossible.” Motto hidupnya.

Sebuah koper didorongnya, perlengkapan cukup untuk selama di sini, tak lupa kamera digital dalam tas ditenteng di lengan. Matahari mengintip di balik awan. Meski jalanan diiringi sawah dan perkebunan tampak tak berujung, cuaca tak begitu menyengat. Sungguh awal menyenangkan, benak Diana bersyukur.

Di kejauhan ia menangkap sesuatu bergerak, seperti seseorang dan erangan. Di sebuah petak sawah yang berlumpur. Seorang tengah terjebak di lumpur bersama tongkatnya. Kakek itu tampak kesulitan.

Diana menanggalkan semua barang bawaannya lalu berlari dan berhenti di tepi sawah, ia berteriak, “Tuan, anda tidak apa-apa?”

Kakek itu menghentikan gerakannya, mendongak ke arah suara. Ia terkikik lalu batuk-batuk.
Diana melepaskan alas kaki, meremas roknya setinggi mungkin, lalu meceburkan diri mendekat ke si Kakek.

“Ah… Kakek tak apa-apa, Nak. Kakek kira Kakek masih sedikit muda. Tanpa sadar sudah nyemplung ke sini. Kakek hanya ingin menikmati hidup selagi bisa… hahaha.” Kembali batuk-batuk. Kali ini Diana telah menggapit lengan Si Kakek.

“Pokoknya Kakek ke atas saja dulu. Lumpur ini hampir menelan Kakek, loh,” ucap Diana sambil melingkarkan satu lengan Kakek ke pundaknya, lalu menyeretnya mentas ke tepian. Mata Kakek berlinang air mata.

“Ke-kenapa… apa yang sakit, Kek?”
“Kakek tak menyangka ternayata msih ada Cah ayu yang sudi menolong tulang-belulang seperti Kakek ini.”
“Kakek ngomong apa toh, menolong kan nggak pandang bulu. Pokoknya Saya antar Kakek sampai ke rumah Kakek, ya…”

Setelah mengantarnya Dian pamit undur diri pada Pasutri yang mengurus Kakek Marwan. Meski ditawari naungan selama tinggal di desa Diana menolak dengan sopan, mengaku punya teman di tempat terpencil ini. Padahal orangtuanya pun belum tahu anak semata wayangnya telah melebarkan sayapnya lagi. Tadi Diana sempat melirik, tak jauh dari rumah Kakek berdiri penginapan yang cukup mewah di pinggir jalan. Ia tak ingin merepotkan orang lain.

‘PENGINAPAN SEROJA’
Tulisan timbul di atas ukiran kayu di depan bangunan besar. Bangunannya tampak berumur. Cat tembok mengelupas akibat pergantian cuaca dan atap kayu yang kokoh namun kusam, menyambutnya.

Diana merapat ke meja resepsionis, menekan bel di atas meja, seorang wanita paruh baya berpakaian khas muncul dari balik pintu.

Wajahnya cantik. Melempar senyum hangat sambil menyapa Diana dengan logat jawa yang kental.

Setelah menerangkan maksud kunjungannya, wanita itu memberinya sebuah kamar sewa, menjelaskan rutinitas penginapan dan sempat melarang Diana untuk tidak keluar penginapan untuk sementara waktu. Sebab akan ada badai melanda desa itu. Semua warga desa telah siap siaga.

Biasanya Diana langsung melaksanakan aksi, menuju TKP, mencari info sebanyak mungkin. Kemudian mengungkap misteri baru melalui tulisannya. Selama karir emasnya, ia tak pernah benar-benar menemukan sesuatu mistis. Hanya mitos dan tentunya cukup sedikit penjelasan ilmiah, semua terkuak. Namun biasanya warga setempat lebih bergantung pada adat-istiadat. Lain cerita. Diana hanya memenuhi hasrat dan menuangkannya. Bonus bilamana honor besar membuntuti hobinya.

Di dalam kamar sederhana itu, Diana merebahkan badan di atas kasur. Jemari menari merancangkan rencana esok.

Di luar gemuruh, petir dan angin mulai beradu. Dedaunan dan ranting patah melayang-layang, petir menghantam pohon-pohon. Tumbuhan dan benda sekitar saling terjang. Butir-butir hujan mengikuti angin tak beraturan. Entah kapan Diana telah menggenggam tepi jendela memandang ke luar. Takjub atau ngeri, ia tak yakin. Tubuh kakunya berdiri menahan napas. Lalu semuanya bergetar. Ia terpelanting.

Kepalanya membentur beda keras. Sinar lampu berkedip lalu pelan-pelan meredup. Dunianya menjadi hitam.

Kepalanya terasa berputar. Kamarnya yang tadi rapi kini berantakan. Isi kopernya yang tadi terbuka memenuhi seluruh ruangan. Ia merangkak menyender ke tembok. Pintu terbuka dengan kasar. Pemuda dengan rambut bangun tidurnya, menatap lurus ke arahnya.
Wajahnya… ah… andai hati di dalam dada dapat terjatuh, pasti sudah pecah terbelah-belah. Pertama kali ia melihat manusia sempurna secara langsung. Bukan di dalam tv dorama favoritnya.

“Hei!” secepat kilat pemuda itu telah jongkok di depannya, “ini tempat apa?”
“Eh?” wajah Diana memanas.
“Kenapa aku di sini? Kenapa tidak ada pintu keluar? Hanya ada deretan kamar dan cuma kamarmu saja yang berpenghuni. Ini di mana?”
“Emm… bukannya kamu juga menginap di sini?”
Pemuda itu bungkam. Sinar di matanya menari-nari.

“Ini kan penginapan. Penginapan Seroja. Aku baru tiba kemarin.”
“Lalu…?”
“Lalu…” suara Diana tercekat, “… aku tak tahu apa-apa.”

Rupanya pemuda itu kehilangan sebagian ingatannya. Selain kenapa ia di sini dan identitas dan kejadian sebelum bangun di tempat ini, ia ingat.

Namanya Hanung. Warga asli desa ini. Usia 20. Punya keluarga besar dan benak Diana mengatakan keluarganya bukan keluarga biasa (dilihat dari cerita Hanung).

“Lalu bagaimana?”

Sebenarnya Diana lebih memilih menunggu di sini sampai badai reda.

“Bagaimana kalau penghuni yang lain kenapa-napa?”

“…”

“Wanita resepsionis! Dia yang menyambutku tadi sore.” suara Diana bergetar.
“Kita harus mencarinya.” Diana mengangguk.

Kedua insan itu melesat menelusuri reruntuhan bangunan yang nyaris tak tertolong itu.

Hujan turun begitu lebatnya. Hawa dingin menusuk ke tulang. Dua insan meringkuk di belakang meja resepsionis. Tanpa kata. Napas mereka beradu. Lelah telah menyapa.

Penginapan Seroja telah menjadi kepingan tumpang tindih dan terjebak di dalamnya bukanlah topik hangat sebuah obrolan. Keduanya tenggelam dalam benak masing-masing.

“Aku tak suka cerita horor,” ungkap Hanung. Suaranya putus-putus. Tubuhnya bergetar. Bibir merah mudanya mulai berubah warna.

Diana melirik ke arah kaki Hanung. Sobekan di kulit, darah segar merembes di celana jeansnya. Rasa bersalah seketika menyeruak.

“Aku harus mencari bantuan,” tukasnya. “kamu tunggu di sini. Aku segera kembali.” Diana bangkit…
“Tunggu!” “…aku ikut…” Diana menoleh.

Mereka berdua tahu bahwa itu tak mungkin.
Ahh… wajahnya mengingatkan Diana pada kucing tetangga. Ia penyuka kucing namun alergi memaksanya jauh dari mahluk imut itu.

“Aku segera kembali. Aku janji.” kemudian berlari menerjang hujan.

Diana tiba dua jam kemudian bersama beberapa warga. Hanung tergeletak di tempat semula. Kelopak matanya tertutup rapat. Jantung Diana berdegup.

“Penginapan Seroja… itu dia!” pekik salah satu warga.
“Benar. Ini pasti dia.” timpal yang lain.
“Ayo semua bantu angkat!” ajak Pak RT. Serempak seruan setuju menggema.

Tanpa jeda mereka memboyong Hanung menjauh dari reruntuhan. Diana mengekor sedari tadi. Tak begitu paham dengan yang sedang terjadi. Tapi yang jelas sekarang Hanung selamat. Warga desa tampaknya suka tolong-menolong.

Pak RT mengetuk pintu sebuah rumah. Rumah yang cukup familiar bagi Diana. Tadi siang baru saja berkunjung kemari. Rumah Kakek bertongkat itu.

“Kita menemukannya,” tukas Pak RT, mereka menoleh pada tubuh lunglai Hanung yang dibopong 4 warga. Diana di sampingnya.
“Ayo masuk. Masuk…” pinta sang pemilik rumah.

Hanung diletakkannya di atas kasur. Si istri meraup satu telapak tangan Hanung. Air bening mulai turun di kedua pipinya.

“Syukurlah Kakek selamat…”

Kakek…?

Pikiran Diana berputar. Kenapa wanita itu menyebutnya Kakek?

“… Kakek?” ucap Diana lantang. Serentak semua kepala menoleh padanya.
“Oh, Eneng yang tadi siang?” Sang suami menghampirinya.
“Hatur nuhun Neng udah nolong Kakek lagi. Terima kasih banyak, Neng…”
Kening Diana mengkerut. “Tapi… tapi pemuda itu bukan Kakek Marwan. Dia Hanung. Anak keluarga Masayu. Dia bilang rumahnya dekat perkebunan cengkeh di bukit. Aku tak mengerti kenapa kalian menyebutnya Kakek. Maaf… tapi lihatlah!”
“rambutnya saja hitam bahkan kulitnya lebih muda dari kulitku. Kalian juga melihatnya bukan?” ucap Diana antusias.
Entah mengapa hatinya begitu ‘tak terima’.
Pak RT maju ke depan, “sebaiknya Neng duduk dulu. Biar kami jelaskan.”

“Kami tahu ini akan terdengar tak masuk akal. Jadi kami mohon sedikit pengertian Neng Diana. Kami juga masih belum mengerti. Tapi sejak dulu kampung kami punya satu kisah satu rahasia. Setiap 25 tahun akan ada satu titisan yang menangkal marabahaya desa kami. Karena desa kami diapit pegunungan, laut, bukit, maka sudah lumrah bencana alam kerap terjadi. Meski begitu dahulu kala Nenek moyang kita telah menemukan suatu pemecahan.

“Bagi warga paling tua dan sakit-sakitan, ia akan dipinjam raganya oleh Sang titisan. Dan kali ini Kakek Marwan lah raga dari Sang titisan… Pemuda ini. Tapi ini baru pertama kali kami menemukan titisan yang sudah dewasa. Biasanya jabang bayi atau anak kecil.”

“Bagaimana kalian yakin Hanung adalah Sang titisan? Dan Kakek Marwan… Kakek Marwan di mana?”

Mata mereka saling pandang.

“Tentu saja Kakek Marwan, ya pemuda ini,” kata Pemuda desa.

“Meski pemuda ini tak ingat sedikitpun memori si pemilik badan.” timpal yang lain.

Warga lain melanjutkan, “kemarin malam kami menemukan banyak sekali kembang seroja di kasur Kakek Marwan. Itu adalah tandanya.”

“Tahun ini Sang titisan muncul di bangunan yang tak pernah ada.”

“Penginapan Seroja. 100 persen adalah tandanya.” jelas Pria berbadan gembul.

Diana tertegun. Sudah banyak kisah-kisah aneh yang dijumpainya. Namun ini tak terdengar benar.

Bagaimana mereka mengasumsi begitu saja? Sang titisan merebut raga salah satu warga? Hanung dicap sebagai Titisan? Kakek Marwan hilang entah kemana? Bencana? Marahbahaya?

Diana merasa ganjil. Hatinya tak bisa percaya cerita satu pihak.

“Kakek hanya ingin menikmati hidup selagi bisa… haha.”

“… kita harus mencari Kakek Marwan. Aku… aku tetap tak percaya ini,” lirih Diana.

“Kalau begitu tolong bunuh aku,” tukas suara laki-laki. Mereka menoleh ke arah suara.
“Untuk menyelamatkan Kakek Marwan.” lanjut Sang titisan.

The end