The DanSing Girls

By On Saturday, March 11th, 2017 Categories : Cerita

Saat ini aku sedang bermain ayunan di Golden Park dekat rumahku. “Huft…, mana sih mereka? Apa mereka jam karet ya?” gumamku. Akhirnya aku melamun sendiri.

Tiba-tiba, “dooor!!! Hayo, ngapain tuh bengong-bengong sendiri? Masih siang, nanti bisa kesambet loh…,” kata Vallen. Aku pun sedikit manyun.
“Eh.., jangan manyun-manyun. Nanti jadi pinokio bermulut panjang!” kata Melody.
“Iya, Mama Melo!” balasku. Aku suka memanggil Melody dengan panggilan Mama Melo karena di antara kita bertiga hanya dia yang paling tua. Setelah itu, aku baru Vallen.
“Kurang ajar lah ni anak!” seru Melody. Aku hanya menjulurkan lidah. Dia pun bertambah geram.
“Sudahlah, gak usah seperti anak kecil,” lerai Vallen.
“Oke!!” koor aku dan Melody.
“Nah, gitu dong. Eh, guys, bagaimana kalo kita buat lagu tentang persahabatan kita?” usul Vallen.
“Tapi, aku enggak bisa buat nada yang cocok untuk lagu kita nanti,” ucap Melody.
“Gini aja, kita gunakan nada lagu ‘Rasa Ini’, tapi liriknya kita ganti tentang persahabatan kita,” kata Vallen dengan antusias.
“Ya, kayak mana, Vallen? “tanya Melody.

“Persahabatan…
Sangat indah merona..
Kita saling menyayangi..
Dalam suka dan duka…
Ku sayang kalian..
Dengan cinta sahabat..
Ku takkan lupakan perjuangan kalian selama ini..” nyanyiku. Vallen dan Melody melihatku dengan kagum.

“Kenapa sih kok liatnya gitu kali?” tanyaku yang jadi kegeeran.
“Ih! Bagus loh! Coba lagi! Dari awal samapai reff-nya!” kata Melody. Vallen mengangguk cepat.

“Ku bahagia…
Kalian datang..
Dengan senyuman..
Senyuman indah…
Yang penuh cinta dan kasih sayang..
Menghapus semua..
Sedih yang kurasa..

Mungkinkah kalian tau..
Isi nan lubuk hatiku..
Penuh cinta.. sahabat…

Persahabatan…
Sangat indah merona..
Kita saling menyayangi..
Dalam suka dan duka…
Ku sayang kalian..
Dengan cinta sahabat..
Ku takkan lupakan perjuangan kalian selama ini..” nyanyiku. Begitu selesai, Vallen dan Melody tepuk tangan.

“Bagaimana kita buat lagu lagi? Yang lagu ini, tinggal buat dance-nya aja?” usul Vallen.
“Kita dance-nya tema ballet, biar kak Mira yang ajarin kita buat dance-nya,” kata Melody.
“Kita buat nada lagunya dari nada lagu ‘Me Gustas Tu’ aja? Kan kalian tau nadanya kayak mana,” kataku. Mereka pun mengangguk.
“Sudah yuk, kita pulang!” kata Melody. Aku dan Vallen pun mengangguk.

Aku, Vallen, dan Melody berjalan santai menuju tempat kursus DanSing yang hanya berjarak empat rumah dari rumahku. Sesampainya kami di sana, kami melihat sebuah brosur pengumuman di jendela rumah kursus kami. Brosur itu berisi tentang perlombaan paduan suara dan dance di dekat Nagoya Hill. Kami terbelalak begitu melihat hadiahnya. Juara satu: mendapatkan sertifikat, piala, medali dan beberapa uang tunai, juara dua: mendapatkan sertifikat, piala, dan beberapa uang tunai, sedangkan juara tiga: mendapatkan sertifikat dan beberapa uang tunai.
Kami pun segera berlari ke Miss Deadly untuk segera mendaftar.

“Miss Deadly! Miss Deadly! Kami ingin mendaftar di perlombaan itu!” teriak kami.
“Keributan apa ini?! Apakah kalian tau, Miss sedang mengajarkan gerakan dasar pada junior kalian!” seru Miss Deadly. Kami hanya nyengir kuda.
“Miss, bolehkah kami mengikuti perlombaan itu? Kami janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk menang?” mohonku.
“Tapi, kalian harus membuat lagu sendiri. Dan kalian juga harus minta izin dengan orangtua kalian,” jelas Miss Deadly. Kami mengangguk.
“Baiklah, kalian boleh ikut perlombaan itu. Ingin yang per grup atau per orang?” tanya Miss Deadly.
“Per grup!” seru kami.
“Kalo Per grup harus beranggota 5-6 orang. Kalian masih tiga orang, jadi harus tambah dua atau tiga lagi,” jelas Miss Deadly. Kami melemas. Miss Deadly tersenyum.
“Bagaimana kalo kalian ajak si Rossiana Angel, dia lumayan unggul seperti kalian?” usul Miss Deadly. Kami pun tersenyum cerah dan mengangguk.
Miss Vallen pun mengangguk dan pamit, begitu juga kami. Akhirnya, kami mengikuti kursus DanSing dengan baik

“Hi Rossi!” sapaku begitu melihat Rossi sedang membaca buku sambil mendengar lagu. Rossi menoleh dan membalasnya.
“Rossi, maukah kamu ikut dengan kami untuk perlombaan?” tanya Vallen.
“Perlombaan yang ada di dekat Nagoya Hill itu loh..!” jelas Melody.
“Oh yang itu! Boleh, tapi bolehkah aku mengajak kedua sahabatku?” jawab sekaligus tanya Rossi.
“Siapa?!” tanya kami bertiga.
“Rossi!” Tiba-tiba muncul dua gadis manis di samping Rossi.
“Siapa mereka?” tanyaku. Rossi tersenyum.
“Kenalkan, Cinthya Daisy panggil saja Cinthy. Yang ini Michelle Gisella panggil saja Sella,” jelas Rossi. Mereka berdua pun tersenyum.
Aku, Vallen, dan Melody juga memperkenalkan diri kami masing-masing. Kami juga mengajak mereka untuk mengikuti perlombaan yang kami bicarakan dengan Rossi.
“Oh, perlombaan itu. Hem.., boleh. Bagaimana denganmu, Cinthy?” ucap Sella. Cinthy mengangguk manis.
“Oke, kalo begitu bagaimana kalo nama girlband-nya The DanSing Girls. DanSing itu singkatan dari Dance & Sing. Oke?” usulku. Mereka pun mengangguk. Kami juga akan mmembuat lagu dan nada supaya pas. Kami buat lagu judulnya ‘Sahabat’ dan nadanya dari nada lagu ‘Me Gustas Tu’. Cinthy dan Rossi tidak tau kayak mana nada ‘Me Gustas Tu’, tetapi Sella akan memberitahu mereka. Setelah semuanya setuju, kami pin bubar dan akan berkumpul di taman ini lagi. Kebaikannya, setelah mendaftar sama Miss Deadly, kami pun kembali berkumpul dan latihan untuk perlombaan tiga hari yang akan datang

Hari yang dinantikan pun telah tiba. Kami kembali mengingat struktur yang sudah kami buat tiga hari yang lalu. Kami peserta nomor satu, jadi kami langsung naik ke panggung.

Sella dan Melody duduk. Vallen dan Cinthy sedikit membungkuk. Dan aku sama Rossi berdiri. Kami menyanyikan lagu ‘Sahabat’ dengan nada ‘Me Gustas Tu’.

“Sahabat, mulai sekarang
Hanya kamu dan aku
Kita meraih mimpi
Hanya kamu dan aku
Diriku kan selalu setia dengan dirimu
Itulah janji persahabatan sejati

Sahabat, sahabat
Oh aku sayang kamu
Sahabat, oh I love you”

Kami berhasil membuat penonton menjadi kagum kepada kami. Kami bangga dan akhirnya kami juara dua. Lumayan. Kami melihat Miss Deadly membawa handycam sedang tersenyum kepada kami. Kami membalasnya dengan senyum nyengir. Kami merasa senang pada hari itu.

Mulai hari itu, kami berenam menjadi sahabat.