Teknis Budidaya Jamur Tiram

By On Tuesday, October 16th, 2012 Categories : Artikel

(Budidaya Jamur Tiram Menggunakan Berbagai Media) – Jamur Tiram atau Oyster Mushroom merupakan jamur perombak kayu. Ada beberapa spesies yaitu Pleurotus ostreatus (Tiram putih), Pleutorus flabelatus (Tiram merah), Pleurotus sajor-caju, P. sapidus, P. cornucopiae, dan P. eryngii. Jamur ini dapat tumbuh pada serbuk gergaji, jerami padi, sekam, limbah kapas, limbah daun teh, klobot jagung, ampas tebu, limbah kertas, dan bahan lignoselulosa lain.

Jamur Tiram (Pleurotus sp) termasuk Basidiomycetes kelompok white rot fungi. Jamur ini banyak ditanam karena menghasilkan badan buah yang dapat dimakan. Setelah pertumbuhan miselium kurang lebih 30 hari, dengan induksi cahaya dan diberi aerasi serta kelembapan yang cukup maka akan muncul badan buah.

Bentuk badan buah sangat tergantung pada tempat tumbuhnya. Apabila tumbuh di sisi samping substrat, badan buah sering tidak bertangkai, atau bertangkai pendek yang letaknya asimetri (seperti kerang).

Jamur Tiram dapat ditanam pada bahan yang mengandung lignoselulosa tanpa dipersiapkan lebih dahulu seperti difermentasi atau tanpa dikomposkan terlebih dahulu. Pertumbuhan miselium pada bagas lebih cepat dibandingkan jerami dan sekam padi. Untuk jamur Tiram putih sangat cocok ditanam pada media kayu gergajian dari kayu Albizia.

Oleh:
Sri Sunarsih
Laboratorium Biologi Tanah
Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian
UPN “Veteran” Yogyakarta
Jl. Ring Road Utara, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta

Informasi lebih lanjut
E-mail: Sumarsih_03@yahoo.com
Atau lihat di: Sumarsih07.wordpress.com

Teknik Penyiapan Substrat

(Budidaya Jamur Tiram: Teknik Penyiapan Substrat) – Untuk menyiapkan substrat dapat digunakan metode Till, yaitu substrat dipanaskan pada suhu 121°C, 100ºC atau 80ºC, kemudian didinginkan dan ditanami bibit jamur.

Metode ini dapat dikembangkan untuk menghasilkan substrat secara mekanis dan kontinyu. Dengan pemanasan, kualitas substrat meningkat, karena meningkatkan kandungan bahan terlarut air dan glukosa.

Selain itu pemanasan akan mematikan organisme lain, sehingga mengurangi tumbuhnya jamur lain yang tidak diinginkan.

Faktor-faktor Lingkungan Yang Berpengaruh

Faktor lingkungan yang berpengaruh dalam budidaya jamur tiram meliputi suhu, sinar matahari, pH, CO2, kelembapan, kandungan air, ukuran partikel, viabilitas kultur, dan kontaminan.

Kandungan air pada media penanaman yang sesuai untuk pertumbuhan miselium adalah 60 – 70%. Ukuran partikel substrat untuk jerami adalah 2 – 3 cm. Kelembapan relatif udara minimum 75%.

Suhu optimum untuk pertumbuhan miselium adalah 25°C, dan pH optimumnya 5,5 – 6,5. Faktor viabilitas kultur sangat penting diperhatikan. Jamur yang telah berulang kali dipindahkan dari media PDA/MEA pertumbuhan miselianya kurang baik.

Untuk mempertahankan viabilitas sebaiknya digunakan kultur dari spora tunggal.

Budidaya Jamur Tiram: Persiapan Kultur jamur pada MEA

(Budidaya Jamur Tiram: Persiapan Kultur jamur pada MEA) – Media MEA dibuat dari Malt extract 5,0 g, pepton 1,0 g, KH2PO4 0,5 g, MgSO4.7H2O 0,5 g, FeCl3 1% 1,0 g, Yeast extract 0,1 g, tepung kedelai 10 g, agar 15 g dan air 1 liter.

Semua bahan dicampur dan disterilkan 1210C 15 menit. Miselium jamur Pleurotus ostreatus ditumbuhkan pada media MEA sampai umur 2 minggu.

Untuk pemula yang belum trampil membuat kultur jamur maupun bibit jamur, dapat langsung menanam jamur dari bibit yang sudah jadi.

Persiapan Inokulum Jamur

(Budidaya Jamur Tiram: Persiapan Inokulum Jamur) – Kayu gergajian atau bubuk ampas tebu atau jerami atau sekam kemudian dicampur dengan bekatul, kapur, gips, dan TSP, dan dilembabi dengan air, kemudian dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik.

Selanjutnya disterilkan selama 30 menit pada suhu 121°C tekanan 2 atm menggunakan alat otoklaf. Setelah itu dibiarkan semalam dan paginya diinokulasi dengan miselium jamur yang ditumbuhkan pada MEA. Diinkubasi selama 1 bulan dalam keadaan gelap pada suhu kamar.

Setelah miselium jamur tumbuh merata, siap digunakan sebagai inokulum atau bibit jamur.

Budidaya Jamur Tiram: Persiapan Substrat (media tanam)

Budidaya Jamur Tiram: Persiapan Substrat (media tanam) – Sebelum membuat media tanam perlu tahu dahulu contoh komposisi bahan media sebagai berikut:

  • Kayu gergajian 100 kg
  • Bekatul 10 kg
  • Kapur gamping 1,5 kg
  • Gips 0,5 kg
  • TSP 0,5 kg

Pada komposisi ini kayu gergajian dapat diganti dengan ampas tebu (bagas), jerami, sekam atau bahan lain yang mengandung lignoselulosa.

Cara membuat media tanam adalah dengan mencampur semua bahan, kemudian ditambah air hingga kandungan airnya 60% dan dimasukkan ke dalam polibag. Saat memasukkan campuran media ke dalam polibag sambil dilakukan pemadatan media.

Selanjutnya disterilkan pada suhu 121°C, menggunakan uap panas bertekanan 2 atm atau 15 psi selama 30 menit. Apabila tidak memungkinkan maka bisa dengan aliran uap panas suhu 100°C selama 2 jam, atau suhu 80°C selama 4 jam. Setelah disterilkan dibiarkan selama semalam.

Inokulasi Jamur

Budidaya Jamur Tiram: Inokulasi Jamur – Bahan diinokulasi (diberi bibit jamur) menggunakan inokulum (bibit) jamur yang telah disiapkan. Bibit yang dimasukkan ke dalam media tanam adalah sebanyak 2%. Untuk memasukkan bibit sebaiknya dilakukan dengan cepat di tempat khusus yang bersih dari jamur lain.

Biasanya tempat dan alat disterilkan dulu dengan disemprot alkohol. Untuk mengambil bibit digunakan pinset yang sudah disterilkan dengan dipanaskan di atas lampu spiritus kemudian dicelup ke dalam alkohol.

Inokulasi sangat menentukan keberhasilan penanaman jamur, sehingga perlu ketrampilan cara inokulasi yang benar. Setelah diinokulasi, kemudian diinkubasi di tempat gelap selama 1 bulan.

Di akhir bulan dipindahkan ke tempat yang terang (penerangan kurang lebih 10 jam per hari). Setelah satu bulan, miselium jamur yang berwarna putih sudah tumbuh memenuhi media.

Pembentukan Badan Buah

(Budidaya Jamur Tiram: Pembentukan Badan Buah) – Untuk merangsang tumbuhnya badan buah jamur (bagian jamur yang dipanen untuk konsumsi), maka di bagian samping polibag dirobek dengan silet sepanjang 5 cm.

Apabila menggunakan polibag yang telah berlubang, tinggal menyemprot halus dengan air 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore hari). Cara ini dilakukan sampai terbentuk primordia (calon) badan buah. Setelah terbentuk badan buah semprotan dikurangi menjadi 2 kali sehari. Kelembaban udara sangat menentukan terbentuknya badan buah yang sempurna.

Setelah pileus (tudung jamur) dari badan buah membuka penuh menjadi berbentuk seperti kerang, maka badan buah siap dipanen.

Panen dilakukan dengan mencabut badan buah jamur berikut tangkai jamurnya. Panen yang terlambat menghasilkan jamur yang semakin liat sehingga tidak disukai konsumen.

Setelah dipanen, jamur dapat dipasarkan dalam bentuk segar maupun dalam bentuk kering. Untuk menyimpan jamur segar dapat diletakkan di dalam almari pendingin, walaupun tidak bisa tahan lama.