Struktur Tubuh Jamur

By On Saturday, February 25th, 2017 Categories : Sains

Dalam taksonomi, kingdom fungi dibagi menjadi 4 divisi berdasarkan cara reproduksi secara generatif (generatif), yaitu Zygomycota (menghasilkan zigospora), Ascomycota (menghasilkan askospora), Basidiomycota (menghasilkan basidiospora), dan Deuteromycota (belum diketahui cara reproduksi generatifnya).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memanfaatkan jenis jamur tertentu dalam pembuatan beberapa bahan makanan, misalnya tempe dan oncom. Jamur dapat tumbuh di kulit dan menyebabkan noda-noda putih serta menimbulkan rasa gatal. Kita pun dapat menemukan jamur di tempat pembuangan sampah, di bagian kayu yang mati atau lapuk atau di tumpukan jerami padi. Tanpa jamur maka bumi ini akan penuh dengan bangkai dan sampah. Mengapa demikian?

Jamur dikenal dengan istilah kapang (mold), khamir (yeast), ragi, atau cendawan (mushroom). Istilah kapang (mold) digunakan untuk menyebut jamur pada tahap reproduksi secara vegetatif (vegetatif). Pada tahap tersebut, miselium tumbuh dengan cepat dan menghasilkan banyak spora vegetatif. Contohnya kapang roti Rhizopus. Istilah ragi dan khamir digunakan untuk menyebut jamur bersel satu (uniseluler), misalnya ragi pengembang adonan roti Saccharomyces cerevisiae. Istilah cendawan digunakan untuk menyebut jamur pada saat membentuk tubuh buah, misalnya jamur merang (Volvariella volvacea) yang berbentuk seperti payung.

Dalam dunia biologi, jamur dikenal dengan istilah fungi. Ilmu yang mempelajari jamur adalah mikologi, yang berasal dari bahasa Yunani mykes (jamur) dan logos (ilmu).

Ciri-Ciri Tubuh Jamur

Jamur ada yang berukuran mikroskopis dan ada pula yang makroskopis. Tubuh jamur mikroskopis (ragi dan khamir) hanya terdiri atas satu sel (uniseluler), sedangkan tubuh jamur makroskopis (kapang atau cendawan) terdiri atas banyak sel (multiseluler). Jamur makroskopis dapat dilihat dengan mata secara langsung, misalnya jamur merang (Volvariella volvacea), jamur kuping (Auricularia polytricha), dan jamur tempe (Rhizopus oryzae). Jamur makroskopis dapat membentuk tubuh buah, dengan ukuran yang bervariasi, bahkan ada yang lebih dan satu meter, misalnya Calvatia gigantea. Namun demikian, untuk dapat melihat sel-sel jamur dengan jelas harus menggunakan bantuan mikroskop cahaya. Jamur mikroskopis, misalnya Saccharomyces sp., Rhodotorula, dan Candida sp.

Jamur memiliki bentuk tubuh yang sangat bervariasi, antara lain berbentuk oval, bulat, pipih, bercak-bercak, embun tepung (mildew), untaian benang seperti kapas, kancing baju, payung, dan mangkok. Jamur berbentuk oval terdapat pada jamur bersel satu, misalnya Saccharomyces cerevisiae. Jamur berbentuk untaian benang seperti kapas, misalnya jamur tempe (Rhizopus oryzae). Jamur berbentuk seperti payung, misalnya jamur merang (Volvariella volvacea). Jamur berbentuk seperti mangkok, misalnya Sarcoscypha coccinea. Jamur berbentuk bulat, misalnya “puffball” (Lycoperdon gemmatum). Jamur berbentuk pipih, misalnya jamur kuping (Auricularia polytricha). Jamur berbentuk bercak-bercak, misafnya jamur penyebab panu. Jamur yang berbentuk embun tepung (mildew), misalnya kapang roti (Mucor sp). Jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak ada yang berwarna hijau. Lichen (lumut kerak) berwarna hijau karena jamur hidup bersimbiosis dengan ganggang hijau.

Struktur Tubuh Jamur

Tubuh jamur tersusun oleh sel-sel eukariotik yang memiliki dinding sel dan zat kitin. Zat kitin tersusun atas polisakarida yang mengandung nitrogen, bersifat kuat, tetapi fleksibel. Zat kitin pada jamur mirip dengan zat kitin yang ditemukan pada kerangka luar serangga atau Arthropoda lain. Fungi tidak memiliki klorofil, oleh karena itu fungi tergolong organisme heterotrof. Meskipun bersifat heterotrof, fungi tidak mencerna makanannya di dalam tubuh.

Struktur Tubuh Jamur

Struktur Tubuh Jamur

Sel-sel penyusun tubuh jamur makroskopis memanjang membentuk benang yang disebut hifa. Hifa bercabang cabang membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan membentuk tubuh buah.

Hifa merupakan struktur menyerupai benang yang terdiri atas satu atau banyak sel yang dikelilingi dinding berbentuk pipa. Pada beberapa jenis jamur, hifa memiliki sekat-sekat antar sel yang disebut septa. Septa memiliki celah atau pori yang cukup besar sehingga organel sel dapat mengalir dan suatu sel ke sel lainnya. Sel jamur mengandung organel eukariotik, antara lain mitokondria, ribosom, dan inti sel (nukleus). Pada beberapa jenis jamur lainnya, hifa tidak memiliki sekat sehingga disebut asepta. Oleh karena tidak memiliki sekat, hifa jamur asepta merupakan massa sitoplasma yang panjang dan mengandung ratusan hingga ribuan nukleus; disebut hifa senositik. Jumlah inti sel yang banyak merupakan hasil pembelahan inti sel yang berulang ulang tanpa disertai pembelahan sitoplasma.

Hifa yang bercabang-cabang membentuk miselium memungkinkan terjadinya perluasan permukaan bidang absorpsi (penyerapan) sehingga sangat cocok sebagai alat penyerap nutrisi. Diperkirakan, 10 cm3 tanah organik yang subur dapat ditumbuhi hifa jamur berdiameter 10 µm sepanjang 1 km. Jamur yang hidup parasit pada organisme lain memiliki hifa yang termodifikasi menjadi haustorium. Haustorium adalah ujung hifa yang menembus jaringan inang dan berfungsi untuk menyerap sari makanan. Hifa pada sebagian miselium ada yang berdiferensiasi dan termodifikasi membentuk alat reproduksi untuk menghasilkan spora. Miselium yang menghasilkan spora disebut miselium generatif.