Sistem Tata Nama Makhluk Hidup

By On Friday, February 24th, 2017 Categories : Sains

Carolus linnaeus memperkenalkan sistem pemberian nam ilmiah utuk setiap jenis spesies dengan menggunakkn sistem tata nama ganda, yang disebut binomial nomenklatur

Setiap makhluk hidup diberikan nama ilmiah (scientifik name). Ada pula yang menyebutnya dengan nama latin. Penyebutan nama lain sebenarnya kurang tepat, karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli dalam bahasa latin, melainkan nama yang diberikan oleh orang yang memberikan deskripsi, lalu dilatinkan.

Orang yang memberikan deskripsi satu spesies disebut deskripstor. Nama spesies yang diberikan oleh ahli pada pada mulanya merupakan deskripsi lengkap suatu organisme, misalnya physalis amno ramis angulosis glabris foliis dentoserrati yang artinya tanaman yang memiliki batang bersudut dan daun berbulu dengan tepian bergigi. Namun, dalan perkembanganya, nama yang panjang dianggap kurang praktis dan sulit diingat sehingga diubah mejadi genus dan spesies yang ringkas dan jelas, contohnya physalis angulata (ceplukan).

Pemberian nama ilmiah pada setiap makhluk hidup bertujuan agar spesies mudah dikenali dan menghindari kesalahpahaman. Nama ilmiah berlaku secara universal. Tidak seperti nama lokal diman spesies akan disebut berbeda didaerah yang berbeda. Di Jawa Tengah (bahasa jawa) pisang disebut gedang, sedangkan dijawa barat (bahasa sunda) pisang disebut cau, sedangkan dalam bahasa inggris disebut banana. Nama ilmiah pepaya, yaitu carica papaya , dan nama ilmiah pisang, yaitu musa paradisiaca.

Pada tahun 1735, Carolus linnaeus memperkenalkan sistem pemberian nam ilmiah utuk setiap jenis spesies dengan menggunakkn sistem tata nama ganda, yang disebut binomial nomenklatur. Pemberian nama spesies menggunakan dua kata yang mendeskripsikan organisme tersebut. Sistem tata nama binomial nomenklatur mengikuti beberapa kaidah, yaitu sebagai berikut.

  1. Menggunakan bahasa latin atau bahasa lain yang di latinkan.
  2. Terdiri atas dua kata, dimana kata pertama merupakan nama genus, sedangkan kata kedua merupakan nama spesies yang spesifik.
  3. Huruf pertama pada kata pertama ditulis dengan huruf besar (uppercase), huruf selajutnya ditulis dengan huruf kecil (lowercase).
  4. Nama genus dan nama spesies dicetak miring (italic) atsa digarisbawahi secara terpisah.
  5. Nama atau singkatan nama deskriptor dapay dituliskan dibelakang nama spesies, dengan menggunakan huruf tegak dan tanpa garis bawah.

Contoh penulisan nama ilmiah:

Glycine max Merr atau Glycine max Merr (kedelai). Merr adalah nama deskriptor (E.D Merrill).

Vicia faba L atau Vicia faba L (buncis). L merupakan singkatan dari Linnaeus.