Sistem Pencernaan Makanan pada Hewan Vertebrata

By On Sunday, February 26th, 2017 Categories : Sains

Sistem pencernaan makanan pada hewan vertebrata seperti ikan, amfibi, reptil dan burung akan di uraikan berikut ini.

Sistem pencernaan ikan

Didalam mulut ikan terdapat lidah pendek yang tidak dapat bergerak. Ikan mempunyai gigi pada rahang atas dan bawah, serta tidak mempunyai kelenjar ludah tetapi mempunyai lendir. Ikan mempunyai hati, kantong empedu, dan saluran empedu yang bermuara ke dalam usus. Pankreas ikan bersatu dengan hati, sehingga disebut hepatopankreas.

Sistem pencernaan Amfibi

Pada mulut amfibi terdapat gigi, lidah (menangkap mangsa), dan kelenjar ludah. Kloaka merupakan muara dari saluran pencernaan, saluran ekskresi, dan saluran alat kelamin.

Alat pencernaan makanan diawali oleh cavum oris dan di akhiri oleh anus. Pada beberapa bagian dari trackus digestoria mempunyai struktur dan ukuran yang berbeda. Mangsa yang berupa hewan kecil yang ditangkap untuk dimakan akan dibasahi oleh air liur. Katak tidak begitu banyak mempunyai kelenjar ludah. Dari cavum oris makanan akan melalui pharynx, oesophagus yang menghasilkan sekresi alkalis dan mendorong makanan masuk ke dalam vetriculus yang berfungsi sebagai gudang pencernaan. Kontraksi dinding otot ventriculus meremas makanan menjadi hancur dan dicampur dengan sekresi ventriculus yang mengandung enzim, yang merupakan katalisator. Enzim yang dihasilkan oleh ventriculus dan intestinum terdiri atas pepsin, tripsin, erepsin untuk protein, lipase untuk lemak. Di samping itu ventrikulus menghasilkan asam klorida untuk mengasamkan bahan makanan. Gerakan yang menyebabkan bahan makanan berjalan dalam saluran disebut gerak peristaltik. Makanan masuk ke dalam intestinum dari ventriculus melalui klep pyloris. Kelenjar pencernaan yang besar ialah hepar dan pancreaticum yang memberikan sekresinya pada intestinum. Hepar yang besar terdiri dari beberapa lobus dan bilus (zat empedu) yang dihasilkan akan ditampung sementara dalam vesica felea, yang kemudian akan dituangkan dalam intestinum melalui ductus Cystecus dahulu kemudian melalui ductus cholydocus yang merupakan saluran gabungan dengan dengan saluran yang dari pankreas. Fungsi bilus untuk mengemulsikan zat lemak. Bahan yang merupakan sisa di dalam intestinum mayor menjadi feses dan selanjutnya di keluarkan melalui anus.

Amfibi darat juga memiliki kelenjar intermaksilari pada dinding mulutnya. Ada beberapa amfibi yang lidahnya tidak dapat bergerak, tetapi sebagian besar bangsa Amfibi mempunyai lidah yang dapat dijulurkan ke luar serta katak dan kodok lidah digulung ke lambung. Usus menunjukkan berbagai variasi. Pada Caecillia menunjukkan ada gulungan kecil dan tidak dibedakan antara usus kecil dan usus besar, pada katak dan kodok terdapat usus yang relatif panjang, menggulung yang membuka kloaka.

Sistem pencernaan pada reptil

Pada mulut reptil terdapat gigi, lidah untuk menangkap mangsa dan kelenjar ludah untuk mempermudah penelanan mangsa. Bentuk lambung sesuai dengan bentuk dan ukuran tubu. Usus sebagai tempat penyerapan dan pengeluaran berupa kloaka.

Pada umumnya reptil tidak mengunyah makanannya jadi giginya berfungsi sebagai penangkap mangsa. Pada rongga mulut terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua. Pada reptilian pemakan insekta memiliki lidah yang dapat dijulurkan, sedangkan pada buaya dan kura-kura lidahnya relative kecil dan tidak dapat dijulurkan.

Kerongkongan (esophagus) merupakan saluran di belakang rongga mulut yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam esophagus tidak terjadi proses pencernaan.

Lambung (ventrikulus) merupakan tempat penampungan makanan dan pencernaan makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakangesophagus. Disini makanan baru mengalami proses pencernaan. Pada bagianfundus pylorus makanan dicerna secara mekanik dan kimia.

Intestinum terdiri dari usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya menuju ke rectum, kemudian diteruskan ke kloaka untuk dibuang. Ukuran usus disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

Kantong empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati. Pancreas pada reptile terletak diantara lambung dan duodenum. Pancreas berbentuk pipih dan berwarna kekuning-kuningan.

Sistem pencernaan burung

Pada mulut burung berupa paruh sebagai adaptasi dari bentuk makanannya. Makananya dari paruh ditelan dan disimpan dalam tembolok. Dari tembolok makanan masuk lambung kemudian lambung mengeluarkan getah lambung. Setelah dari lambung makanan masuk ke dalam empedal makanan dihancurkan/di cerna.

Pada prinsipnya sistem pencernaan burung dibagi menjadi 3 macam yaitu :

1. Sistem Pencernaan Secara Mekanis

Secara Mekanis dirongga mulut bahan pakan didorong secara mekanis oleh lidah menuju kerongkongan (oesophagus) disini bahan pakan tersebut menuju tembolok, selanjutnya didorong menuju empedal dan didalam empedal (ampela) bahan makanan mengalami proses pengecilan partikel secara mekanis agar luas permukaan serapannya menjadi lebih luas atau lebar dan enzim pencernaan dapat melakukan penetrasi lebih dalam.

2. Sistem Pencernaan Secara Enzimatis

Kelenjar yang banyak didalam tubuh burung mempu mencerna pakan secara enzimatis, di dalam rongga mulut bahan makanan dicerna oleh amilase ptyalin untuk mengubah pati menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Di dalam lambung, pakan yang dalam proses pencernaan (ingesta) diasamkan oleh keberadaan asam khlorida (HCI) atau asam lambung. Asam ini sangat penting untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin yang sangat dibutuhkan untuk mencerna protein menjadi pepton (senyawa protein yang lebih sederhana) sehingga dapat diserap oleh usus halus.

Kemudian ingesta didorong menuju usus halus yang terdiri dari 3 bagian yaitu duodenum, jejunum dan illeum. Pada dinding doudenum ini terdapat pangkreas yang menghasilkan beberapa enzim seperti amilase dan lipase. Amilase untuk mencerna pati menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Lipase penting untuk mencerna lemak menjadi asam lemak yang akan diserap oleh usus halus. Kemudian mengalami absorbsi nutrien dalam usus halus , ingesta selanjutnya didorong menuju usus besar dan disini sedikit mengalami absorbsi nutrien.

3. Sistem Pencernaan Secara Biologis

Secara biologis sistem pencernaan ini dilakukan oleh mikroba sehingga proses pencernaan ini kemudian disebut pencernaan secara mikro-biologis. Proses pencernaan secara mikro-biologis terjadi ketika ingesta tertahan didalam usus besar, seperti sekum dan usus besar. Pada Unggas khususnya ayam, guna meningkatkan efektifitas pencernaan secara biologis ini maka pada saat sekarang dikembangkan berbagai macam produk probiotik maupun prebiotik  (pakan mikroba) yang tujuannya untuk memperbanyak jumlah mikroorganisme yang menguntungkan didalam saluran pencernaan. Mikroba ini sekaligus mendesak keberadaan mikroba patogen yang dapat merugikan derajat kesehatan unggas. Namun tampaknya pada burung hal ini belum terlalu berkembang.

Sistem pencernaan ruminansia (hewan memamah biak)

Hewan memamah biak merupaka hewan herbivora murni, artinya hewan yang makanannya berupa rerumputuan atau tumbuhan hijau. Sistem pencernaannya mempunyai struktur khusus yang berbeda dengan karnivora dan omnivora.

Berikut penjelasan struktur khusus pada ruminansia.

  1. Gigi seri, mempunyai bentuk yang sesuai untuk menjepit makanannya yang berupa rumput atau tumbuhan hijau.
  2. Gigi geraham terbentuk lebar dan datar yang digunakan untuk mengunyah
  3. Rahangnya yang bergerak menyamping sehingga makanan tergiling dan tegilas secara mekanik.
  4. Usus sangat panjang yang didalamnya hidup koloni bakteri yang bersimbiosis mutualisme membantu menghancurkan dinding sel tumbuhan. Koloni bakteri menghasilkan selulase untuk menghancurkan dinding sel tumbuhan yang mengandung selulosa. Bakteri ini akan mati pada pH rendah, namun dapat dicerna sebagai sumber protein (asam amino esensial).
  5. Struktur lambungnya yang komplek dengan empat ruangan.
  • Rumen (perut besar), tempat menyimpan sementara makanan. Di dalam rumen terjadi fermentasi selulosa oleh enzim yang dihasilkan oleh bakteri dan protozoa tertentu. Selain itu, rumen juga sebagai tempat pencernaan protein dan polisakarida.
  • Retikulum (perut jala), tempat pembentukan bolus.
  • Omasum (perut kitab), tempat menghaluskan makanan
  • Abomasum (perut masam), tempat pencernaan secara kimiawi.