Setelah Kau Tiada

By On Wednesday, April 30th, 2014 Categories : Cerita

Cerpen Percintaan – Aku Bunga.. manusia lemah yang tak pernah bisa mengerti perasaan seseorang, dan aku sangat menyesali itu. Aku mencintai seseorang yang tak pernah mencintaiku, suatu kebodohan bukan? dan aku tak kan bisa memperbaiki kesalahanku seumur hidupku ~ Bunga.

“Hey, lagi apa?”, tanya Bilqis, dia sahabatku.

“Ih apa sih? ngagetin aja deh..”, protesku.

“Ih.. gitu aja sewot, kamu aja tuh yang bengong dari tadi, ngapain sih?”, tanya Bilqis ingin tau.

“Kepo aja si..”, sergahku.

“Pelit kan? gak seru ah..”, Bilqis cemberut.

“Loh jadi kamu yamng ngambek? gimana si?”, aku bingung.

“Ya udah sama-sama ngambek!”, Bilqis masih mengkerutkan dahinya.

“Yeh.. gak bisa gitu donk, ntar gak bisa berduaan lagi”, aku meledek seraya menaik turunkan alis mata.

Bilqis melirik melihatku bertingkah konyol, ia pun menahan tawa.

“Udahlah kalau mau ketawa mah lepasin aja”, sindirku.

“Hah hah”, Bilqis membuka mulutnya didepan wajahku.

“Ikhlas banget ketawanya”, ucapku menutup hidung.

“Katanya suruh ketawa”, Bilqis jutek.

“2 kalau doank? terlalu”, sahutku.

Bilqis hanya cekikikan sendiri melihat ekspresiku.

“Udah ayo ah.. ke kelas aja, Billy sama Bima nungguin tuh..”, ajak Bilqis.

“Yaudah ayo”, sahutku.

Kami berdua pun pergi ke kelas karena bel pun sudah berbunyi. Sepulang sekolah kami berkumpul untuk merencanakan tujuan kamu besok karena besok hari libur.

“Bil, kemana nih besok?”, tanya Bima.

“Loh kok?”, Billy bingung.

“Kan biasanya kamu yang tau tempat asik”, sahutku.

“Tapi masa aku mulu sih?”, tanya Billy.

“Orang kamu yang paling jago nyari tempat, ya gak?”, Bilqis angkat bicara yang diikuti anggukanku dan Bima.

“Ya udah besok kumpul aja ya di rumah Bunga”, pinta Billy.

“Kok rumah aku?”, aku bingung.

“Udah nurut aja”, ucap Billy.

Semua mengangguk.

“Ya udah duluan ya.. udah dijemput! see you..”, pamit Bilqis seraya melambaikan tangan.

Kami pun membalas lambaian tangan Bilqis, tak terkecuali Bima yang menjadi aneh.

“Eh Bil, tempatnya yang romantis ya.. soalnya mau nembak orang nih”, pinta Bima.

“Hah? mau di penjara lu Bim?”, Billy melotot.

“Aduhh.. lu itu oneng apa tulul sih! maksudnya gue mau nyatain perasaan gue ke cewek”, jelas Bima yang tadi mendorong punggung Billy.

“Iye iye tau.. emang siapa sih?”, tanya Billy penasaran, begitu juga aku.

“Bilqis”, ucap Bima santai.

“Hah?”, aku dan Billy terkejut.

Bima menutup telinganya karena suara terikan kau dan Billy.

“Biasa aja donk”, protes Bima.

“Lu serius Bim?”, Billy memegang pundak Bima.

Bima mengangguk mantab. Aku hanya menunduk tak dapat berbicara. Billy menatapku miris, karena hanya Billy yang tau perasaanku.

“Duluan ye.. mau siap-siap buat besok hehe.. bye”, sambil menepuk bahu Billy.

“See you cantik”, seraya menggodaku.

Tetapi aku tak dapat tersenyum, aku menatap Billy dengan berjuta kekecewaan.

“Tenang.. ada yang lebih indah dari cinta kammu ke Bima”, ucapnya dan merangkulku.

Aku menatapnya bingung, apa maksudnya?

“Ikut yuk sebentar”, ajak Billy.

Aku pun menurutinya.Tak lama kami sampai di sebuah danau kecil bertepi taman yang indah. Ya.. Billy mengajakku kesini jika aku sedang sedih. Kami pun duduk di kursi taman yang biasa kami duduki. Aku masih saja menangis walau tak terdengar.

“Udahlah.. gak usah nangis terus..”, Billy menenangkan.

“Kamu gak tau rasanya”, ucapku.

“Bahkan aku sangat tau, aku lebih tau, aku lebih merasakan, dan aku lebih berpengalaman”

“Maksud kamu apa si Bil? kamu suka Bilqis?”, tanyaku bingung.

“Kok kamu jadi nanya gitu? ya gak lah..”, tawa billy pelan.

“Terus apa?”, tanyaku lagi.

“Udah ah.. kamu mah lola”, ledek Billy.

“Ah.. Billy”, aku kini menekuk wajahku.

“Cantik kok”, senyum Billy.

Aku tersipu. Hanya Billy yang dapat membuatku seperti ini.

“Aku kecewa, kenapa gini jadinya? gak kayak yang aku harapkan”, keluhku.

“Bima gak tau kan kalau kamu suka dia?”, tanya Billy tiba-tiba.

Aku mengangguk.

“Kamu juga gak tau”, ucapan Billy benar-benar berhasil membuatku bingung.

“Gak tau apa?”, tanyaku penasaran.

“Yah.. kalau dikasih tau kamu jadi tau donk”, elak Billy.

“Ih Billy.. kamu tuh bikin kepo aja tau gak”, protesku.

“Kan hobby aku”, sahut Billy.

“Kayak gitu kok dijadiin hobby”, aku dengan nada kesal.

“Biarin..”, ucap Billy lalu menjulurkan lidahnya.

“Tapi aku cinta Bima, Billy..”, teriakku.

“Ada yang lebih indah kok dari cinta kamu ke Bima”, kata-kata Billy kembali berhasil membuatku bingung.

“Apaan?”, tanyaku.

Namun Billy hanya diam.

“Billy..! hobby banget deh.. apa si? jangan buat penasaran”, pintaku.

Billy tetap saja diam tak mau memberitahukan, dia hanya menatap ke depan dan tersenyum, sesekali menatapku yang kesal karenanya.

Sampai di rumah aku segera menuju kamar.

“Kak?”, Bella, adik perempuanku memanggilku.

“Apa?”, sahutku.

“Sama kak Billy?”, tanyanya.

“Iya, kenapa?”, tanyaku balik.

“Gak papa tanya aja”, Bella berlalu begitu saja seraya tersenyum.

“Kenapa lagi tuh anak”, aku pun segera menuju kamar.

Sampai di kamar aku langsung merebahkan tubuhku di ranjangku.

“Huh.. nangis capek yah..”, keluhku.

Aku pun melamun, mencoba mengerti dari kalimat-kalimat yang dilontarkan Billy.

“Maksud dia apa si? ah.. gak ngerti deh.. dia mah mainnya rahasia-rahasiaan”, ucapku sendirian.

“Udah ah.. jadi mikirin Billy, gak ngerti sama dia, mending tidur deh..”, aku pun memeluk guling dan menutup mataku perlahan, lalu aku pun terlelap.

“Assalamualaikum.. Bunga”, ternyata Bima dan Bilqis.

“Eh udah dateng.. ya udah gih masuk dulu”, sambutku.

Mereka pun duduk di ruang tamu.

“Mau apa nih?”, tanyaku.

“Mau jadi pacar kamu donk”, ledek Bima seraya menaik turunkan alisnya.

“Yee.. bercanda aja.. aku kasih air comberan nih ya”, sahutku yang sebelumnya melemparkan bantal ke arah Bima.

“Galak amet sih..”, protes Bima.

Bilqis hanya cekikikan melihat aku dan Bima.

“Bodo ah.. mau gak nih?”, ancamku.

“Iye iye..”, jawab Bima.

“Andai Bima serius sama kata-katanya tadi”, gumamku dan berlalu.

Aku menyediakan sirup untuk mereka.

“Makasih Bunga”, ucap Bilqis manis.

“Iya iya diminum tuh, mumpung masih anget”, candaku.

“Iyeh.. anget banget dah”, ledek Bilqis.

Tak lama Billy pun datang.

“Woyy.. enak banget ya dah pada minum-minum”, celetuk Billy.

“Lagian lama banget sih.. jadi gak dibikinin deh sama Bunga”, sahut Bilqis.

Billy langsung duduk di dekatku berlaga menjadi cowok ‘cool’ macam Bima.

“Ya udah kalau mau minum ambil sendiri ya, mau siap-siap dulu nih..”, ucapku.

“Yah.. ya udah deh”, Billy pun beranjak ke dapur.

Saat aku baru mau ke kamar, Bella lewat dan bertanya.

“Tadi kayak ada suara kak Billy, orangnya mana?”, tanya Bella.

“Ada tuh di dapur, bantuin bikin minum gih..”, pintaku.

“Iya kak”, jawab Bella dan segera menuju dapur.

“Kayaknya Bella suka ya sama Billy?”, tebak Bilqis.

“Masa?”, tanyaku.

“Bisa jadi bisa jadi!”, sahut Bima.

“Ya udah gih ganti, jangan lam-lama”, pinta Bilqis.

#Dapur
“Hai kakak”, sapa Bella.

“Eh hai Bel”, sahut Billy.

Bella mendekati Billy yang sedang mencari gelas.

“Apa kabar Bel?”, tanya Billy basa-basi.

“Baik kok kak.. sini aku bantu”, Bella menuangkan sirup ke dalam gelas Billy.

“Makasih ya”, ucap Billy.

“Iya kak”, jawab Bella.

“Kakak ke depan dulu ya..”, pamit Billy.

“Eh.. kak”, panggil Bella.

“Apa Bel?”, tanya Billy.

“Boleh ngomong sesuatu?”, tanya Bella.

“Ya boleh donk, emang mau ngomong apa?”, Billy tersenyum.

“Emm.. aku.. gimana ya ngomongnya?”, Bella bingung.

“Emang mau ngomong apa sih? kok jadi bingung gitu?”, tanya Billy.

“Aku itu.. sebenernya..

Bella merasa grogi berbicara dengan Billy, apalagi billy menatapnya seperti itu.

“Aku.. aku itu.. sebenernya…

“Si Billy lama amat sih, masa sampe aku udah rapih gini belum balik”, celetukku.

Bella pun lewat dengan wajah tertunduk.

“Bel?”, panggilku.

Dia menoleh ke arahku.

“Billy mana?”, tanyaku.

“Ada kak di dapur”, jawabnya dan segera berjalan lagi.

“Bel? kamu kenapa sih? abis nangis? diapain emang sama Billy?”, tanyaku bertubi-tubi.

Bella hanya menggeleng dan segera pergi. Tak lama Billy pun datang di ruang tamu.

“Eh Bil, si Bella lu apain? sampe nangis gitu!”, tanya Bima.

“Masa? gak gua apa-apain”, jawab Billy santai.

“Ih seriusan”, ucapku.

Billy berlalu begitu saja tanpa kata-kata.

“Yeh.. tuh anak mau kemana lagi, udah ayo ah susulin aja”, ucap Bima dan beranjak dari posisi duduknya.

Kami pun menyusul Billy keluar rumah. Saat di depan teras, kami melihat Billy dengan Bella sedang berdua. Bella nampak tersenyum tak seperti tadi. Billy pun melihat kami dan menghampiri.

“Ayo, udah siap kan?”, tanya Billy.

“Abis ngapain sih kamu sama Bella”, tanyaku penasaran.

“Gak ngapa-ngapain, udah yuk”, Billy merangkulku.

Bima dan Bilqis tampak menyusul di belakang.

Kami pun sampai di tempat tujuan. Memang benar, Billy paling hebat dalam hal mencari tempat seperti ini, aku sempat kagum, tapi kekaguman padanya tertutupi oleh sosok Bima yang terlihat indah di tempat itu.

“Eh.. aku kesana dulu ya..”, ucap Bilqis dan berlalu.

“Eh.. gue nyusul Bilqis dulu ya Bil, dah Bunga..”, Bima juga berlalu.

“Pasti dia mau nembak Bilqis”, pikirku dalam hati.

“Eh.. udah gak usah murung gitu, tenang aja, aku tau Bilqis kok”, Billy tersenyum.

Aku hanya diam memandang di sekitarku. Memikirkan apa yang terjadi nanti.

Tak lama Bima kembali, tetapi ia sendirian tanpa Bilqis.

“Loh.. Bilqis mana?”, tanya Billy.

“Ada tuh”, jawab Bima dengan raut wajah kecewa.

“Kenapa Bima?”, bukannya seneng yang abis jadian sama cewek idaman”, ledekku.

“Apaan.. Bilqisnya kagak mau”, jawab Bima lesu.

Billy tersenyum memberi tanda padaku, bahwa ini maksud dari katanya tadi. Aku pun tersenyum malu melihat Billy begitu menatapku.

“Kalian berdua jangan gitu donk, bikin envy tau..”, celetuk Bima.

“Suka-suka lah..”, sahut Billy.

Bilqis pun datang dengan santainya. Dia pun menatap Bima.

“Udahlah.. tuh Bunga masih ada”, celetuk Bilqis.

“Ih apaan sih..”, sahutku.

“Tau nih.. mereka udah berdua tau”, ucap Bima.

“Loh?”, ucapku berbarengan dengan Billy.

“Ampe segitu envynya”, ledek Billy.

“Hahahaa..”, semua tertawa.

“Ada yang lebih indah tau dari cinta lo ke Bilqis”, sahut Billy.

“Lebay lo..”, jawab Bima.

“Tau sendiri kan Billy itu puitis”, sahut Bilqis.

“Ih beneran tau..”, protes Billy seraya melirikku.

“Apa lihat-lihat!”, sewotku.

“Galak amat sih..”, ucap Billy.

“Masalah buat L!”, sahutku.

Kami pun menghabiskan waktu sehari itu bersama di tempat itu. Menjelang sore kami bergegas untuk pulang. karena kami harus mempersiapkan kebutuhan sekolah untuk besok.

Dari pagi tadi aku tak melihat Billy, dia pun yang biasanya di sampingku sekarang tak ada, jika dia tak masuk.. mengapa dia tak bilang padaku?

“Eh si Billy kemana? gak masuk dia?”, tanyaku.

“Tau nih.. biasanya paling pagi, harusnya kan kalau gak masuk bilang sama kita”, sahut Bilqis.

“Ditelpon juga gak bisa guys”, Bima memperhatikan handphonenya.

“Kamu kemana si Bil?”, tanyaku dalam hati.

“Maaf..”, seorang pemuda duduk di kursi taman dan tertunduk, Billy.

“Aku gak tau harus apa, aku gak bisa bilang”, ucapnya lagi.

Dia pun berlalu..

Pulang sekolah aku menuju danau kecil, tempat aku dan Billy biasa bersama.

“Gak ada Billy”, ucapku sedih dan tertunduk dikursi.

“Kok anget?”, aku heran.

Kursi yang ku duduki terasa hangat seperti ada seseorang yang habis duduk disitu.

“Apa jangan-jangan tadi Billy kesini?”, aku menebak-nebak.

“Berarti aku telat donk? ah!”, ucapku kesal sendiri.

“Kok jadi kerasa sepi ya? gak ada Billy jadi aneh rasanya”, aku termenung.

“Billy…”, teriakku melihat Billy ada di dalam kelas.

Billy hanya tersenyum melihatku. Aku segera menghampirinya.

“Kemarin kamu kemana si? kok gak bilang-bilang kita?”, tanyaku penasaran.

“Ada urusan mendadak”, jawab Billy.

“Si Bima nelpon gak bisa katanya”, ucapku.

“Iya.. hpnya mati seharian, gak sempet ngecas”, jelas Billy.

“Sampe segitunya apa?”, tanyaku lagi.

“Cerewet banget sih..”, celetuk Bima.

“Bodo amat! masbuloh!”, sahutku.

“Tapi kamu pucet, gak papa kan?”, tanya Bilqis.

“Gak papa, kecapean kemaren kali”, sahut Billy.

“Tapi ini pucet banget loh”, aku begitu khawatir.

“Gak papa, gue masih cool kan?”, Billy mulai bercanda.

“Yang paling cool tuh gue!”, protes Bima.

“Yang lebih lebih gue”, Billy tak mau kalah.

“Ehh.. malah jadi debat beginian sih!”, Bilqis berteriak.

“Iya cantik, jangan marah-marah”, goda Bima.

Pukk..

“Adaww..”, teriak Bima spontan.

Bilqis menjitak kepala Bima hingga ia berteriak.

“Muke lu tuh cantik, ayo ah Bung..”, Bilqis menarikku.

“Rasain tuh maa broh”, ledek Billy cekikikan.

“Puas lo semua!”, sewot Bima memegang kepalanya.

Akhir-akhir ini Billy lebih senang menyendiri dan mulai menghindar dari kami. Aku bingung, tapi untungnya dia masih mau dengar curhatku. Dan setiap curhatku tentang Bima, dia pasti selalu berkata ‘Ada yang lebih indah dari cinta kamu ke Bima’, dan setiap dia berkata itu, tak pernah ku tanya lagi apa maksudnya. karena ku tau dia pasti tak kan menjawab. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas, tapi Billy makin menjauh. Dan mungkin hampir tak ku tangkap sosok Billy. Kemana dia? sampai liburan tiba pun ia tak muncul, padahal kami ingin sekali dia yang mencari kan tempat berlibur kami.

“Billy kemana si? beberapa minggu ini gak keliatan”, celetuk Bilqis.

“Gue ke rumahnya juga sepi banget”, sahut Bima.

“Masa sih? serius?”, tanyaku kaget.

“Serius! masa si gue bohong?”, ucap Bima.

“Terus dia kemana? pindah? masa jahat banget sih gak bilang-bilang”, kesal Bilqis.

“Udah kita positive thinking aja dulu, jangan mikir yang enggak-enggak”, aku mencoba menenangkan suasana.

“Gue kangen banget sama dia.. jujur deh..”, celetuk Bima.

“Aku juga sama”, lanjut Bilqis.

“Jujur sebenernya akun juga kangen kamu Bil, kamu kemana si?”, ucapku dalam hati.

Setahun hampir berlalu, tetap tak ada tanda-tanda Billy berada.

“Kita coba ke rumah Billy lagi gimana?”, usulku.

“Yakin?”, tanya Bilqis.

“Ya udah ayo deh kita coba”, Bima setuju.

Kami pun pergi menuju rumah Billy dulu. Dan tak sia-sia, sepertinya rumah itu berpenghuni kembali. Kami pun mencoba mengetuk pintu setelah sampai pintu utama. Tak lama wanita paruh baya membuka pintu, dia ibunya Billy. Dia pun tersenyum saat melihat kami.

“Assalamualaikum tante”, ucap kami.

“Wa’alaikumsalam.. ayo masuk”, balasnya ramah dan mempersilahkan kami masuk.

Kami pun dipersilahkan duduk di ruang tamu.

“Apa kabar?”, sapanya ramah.

“Baik tante”, ucapku mewakili.

“Ada perlu apa ya?”, tanyanya.

“Ini tante kita cari Billy, ada tante?”, tanya Bilqis.

Seketika raut wajahnya menjadi terlihat menduka.

“Nak.. maafkan Billy ya?”, dia pun tiba-tiba menangis sendu.

“Maaf kenapa tante? tante kenapa?”, tanyaku heran.

“Maafkan Billy, sudah meninggalkan kalian terlalu lama”, ucapnya lagi.

Aku pun menghampirinya dan mendekapnya.

“Iya gak papa tante, tapi sekarang Billynya mana?”, tanyaku lagi.

“Billy.. sekarang Billy benar-benar meninggalkan kalian untuk selamanya”, tangisnya pecah.

“Maksud tante.. Billy?”, Bima yang tampak mengerti pun terkejut.

“Gak.. gak mungkin tante.. gak”, aku tak percaya.

Bilqis hanya dapat terdiam.

“10 bulan lalu.. dia menghembuskan nafas terakhirnya”, jelasnya lagi.

“Kenapa dia tante?”, tanya Billy penasaran.

“Dia sakit.. kerusakan hati kronis”, ucapnya menahan tangis.

“Kenapa dia gak bilang?!”, tanya Bilqis.

“Dia cinta kamu Bunga.. dia gak mau kamu juga sakit melihat dia sakit”, jelasnya menatapku.

“Aku tau itu tante, dan aku nyesel baru sadari semua itu sekarang, maafin aku tante”, ucapku penuh sesal.

“Bukan salah kamu sayang, ini sudah kehendak”, ucapnya menenangkanku.

“Dia dimakamkan dimana tante?”, tanya Bima.

“Dekat daerah danau kecil, dia minta dimakamkan disana”, jelasnya.

“Sore ini kita kesana”, pintaku.

Menjelang sore kami pun berziarah ke makam Billy, ya.. benar-benar dekat danau kecil. Danau dimana semua kenanganku bersama Billy berada disana. Setelah berziarah, aku memutuskan untuk ke danau itu sendiri. Aku terduduk di kursi taman itu, ingatanku tentang Billy pun mulai terbayang-bayang di pikiranku. Bagaimana ia menghiburku disaat aku sedih karena Bima. Betapa bodohnya aku, secara tak langsung menyakitinya. Bercerita tetapi menyakitinya, bodoh aku tak pernah peka apa yang dia rasa, sedangkan dia selalu tau perasaanku.

“Sekarang aku mengerti, aku paham Billy.. semua kalimat itu.. aku terlalu bodoh membiarkan kamu terluka tanpa aku tau, bodohnya aku tak pernah peka terhadap perasaan kamu, dan kamu sangat bodoh membiarkan semua itu terjadi, aku menyesal Billy.. kenapa kamu buat aku kayak gini? buat aku berada di posisi yang sulit.. dan sekarang terlambat untuk bilang bahwa aku benar-benar cinta kamu.. aku mencintai kamu Billy!”

Penyesalanku tak kan ada habisnya, tak kan bisa digantikan. Dan aku tetap mencintai Billy, cinta terakhirku. Jika Billy bisa mencintaiku sampai mati, kenapa aku tidak?. Terimakasih Billy telah menjadi cahayaku, menjadi petunjuk arah, menjadi penghangat, menjadi sumber kehidupanku disaat aku merasa kelam.

Janjiku.. tak kan pernah melupakanmu, tak kan pernah menggantikanmu, tak kan pernah meninggalkanmu, dan tak kan pernah berhenti mencintaimu…

Cerpen Karangan: Annisa Nur Fitriani
Facebook: Niisa Icha / Andicksa Karisma