Sepintas Yang Terlintas

By On Thursday, March 2nd, 2017 Categories : Cerita

Drrrttt… drrrttt… drrrttt… Handphoneku bergetar untuk yang kesekian kalinya. Tak seperti biasanya, kali ini aku begitu kesal karenanya. Kulirik layar handphone yang letaknya tak jauh dari jangkauan tanganku.
‘Duh ganggu banget!’ gerutuku sambil melirik layarnya yang bertuliskan 7 Missed Calls dan 1 New Message.

1 New Message
From: +6289923054728
Untuk malam, bintanglah yang spesial
Untuk taman, bungalah yang spesial
Tapi untukku, kamulah yang paling spesial
– Selamat Malam Cinta –

“Ira, kamu kenapa sih kok manyun gitu?” tanya Nana sahabatku dengan mengejutkanku
“Eh… Aku nggak kenapa-kenapa kok”
“Udahlah gak usah ngelak gitu, aku kenal kamu udah dari dulu Ra. Jujur aja sama aku. Ada apa?” desak Nana sedikit memaksaku

Flashback On
“Hallo. Ini siapa sih?” tanyaku dengan geramnya ketika kutelepon nomor misterius itu. Namun usahaku tak membuahkan hasil, seseorang di seberang telepon tak menggubrisku.
“Hallo!” sambungku
*tiiit… tiiit…* tiba-tiba telepon ditutup oleh seseorang di seberang sana.
Flashback Off

“Cieeee cieeeee si Ira punya fans baru nih”
“Ih Nana apaan sih!” jawabku sambil melempar bantal ke muka Nana dan meninggalkannya begitu saja
“Awwww… Sakit tau!”

Hari itu aku menghadiri pesta ulang tahun temanku di sebuah cafe mewah yang tak jauh dari rumahku. Di sana nampak ramai, teman-teman satu fakultas telah diundang olehnya. Ya, maklum saja karena dia adalah salah satu anggota BEM tingkat fakultas. Satu persatu kuamati wajah mereka, tak terasa asing bagiku. Namun ada seorang pria misterius yang menyedot perhatianku tetapi aku tak bisa mengenalinya dengan jelas karena ia memakai kacamata hitam. ‘Siapa dia? Sepertinya aku tak pernah melihatnya sebelumnya’ bertubi-tubi pertanyaan itu muncul di benakku. Semakin lama aku semakin penasaran dengan sosok pria itu karena dia juga menatapku terus-menerus. Berkali-kali aku mendapatinya tengah mencuri pandang padaku.

“Ra, kok ngelamun sih? Yuk gabung sama mereka” ujar Tika kepadaku, sontak saja aku terkejut mendengarnya. Lalu kuikuti langkah kakinya yang mengarah ke tempat acara utama
“Eh Tika, Happy Birthday ya” kataku sembari cipika cipiki dengannya

Drrrttt… drrrttt… drrrttt…
Terpampang di layar handphoneku 1 New Message.

1 New Message
From: +6289923054728
Gaun merah yang kau kenakan dibalut dengan high heels hitam metalic sungguh membuatmu nampak elegan. Malam ini kau terlihat begitu cantik bidadariku.
– Selamat Malam Cinta –

‘Nomor ini lagi? Ini siapa sih bikin penasaran aja’ batinku, tanpa pikir panjang aku langsung membalas smsnya.

To: +6289923054728
Maaf, ini siapa ya?

1 New Message
From: +6289923054728
Aku tidak bisa memberitahumu siapa aku sebenarnya, tetapi aku sungguh mengagumimu sejak pertama kali melihatmu.

‘Sejak pertama bertemu? Kapan aku pernah bertemu dengannya? Siapa dia?’ begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku, dan jawaban orang itu semakin membuatku tercengang hingga tak sadar aku telah menjatuhkan handphoneku sendiri.

1 New Message
From: +6289923054728
Jika kamu ingin tau siapa aku sebenarnya, temui aku di taman dekat danau esok hari.

Akhirnya aku pun sampai di tempat yang dimaksudkan setelah kuikuti setiap petunjuk dari pria misterius itu yang kusebut sebagai Mr. X. Kulangkahkan kakiku ke arah kursi kayu panjang yang terbuat dari batang pohon jati yang berada di bawah pohon rindang.

‘Sejuk sekali udara disini’ batinku sambil sesekali menengok kanan dan kiri untuk memastikan apakah Mr. X sudah datang atau belum.

Sudah satu jam lamanya aku duduk di kursi kayu itu yang berarti sudah satu jam pula aku menunggunya tetapi ia tak kunjung datang. Akhirnya kuputuskan untuk segera pergi dari tempat itu karena aku tidak ingin menunggunya lebih lama lagi, namun tiba-tiba ada yang menarik tanganku dan aku menoleh ke arahnya.
“Mr. X…!!!” spontan saja kuucapkan kata-kata itu di depannya. Aku menatapnya, dan dia pun menatapku. Aku merasa ada getaran-getaran aneh yang melanda tubuhku, seluruh tubuhku mengeluarkan keringat dingin semenjak Mr. X memegang tanganku. Aku merasa bahwa aku sudah mengenalnya sangat lama tetapi aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena ia memakai topeng sebatas hidung.
“Mr. X? Apakah itu panggilan untukku? Hey kenapa kau memanggilku seperti itu? Seakan kau tidak pernah mengenalku” ucap si Mr. X dengan suara beratnya.
“Aku memang tidak mengenalmu” ucapku seraya mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya
“Perhatikan aku baik-baik, nona. Ku yakin kau pasti akan mengenaliku walaupun tak sepenuhnya” tukasnya sembari mendekatkan wajahku pada wajahnya yang hanya berjarak sekitar 10 cm saja
‘Siapa dia? Aku benar-benar tak mengenalnya’ batinku seraya menjauhkan tubuhku darinya sehingga aku bisa menatapnya dengan jelas. Kucermati setiap bagian tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, berkali-kali aku menatapnya seperti itu. Kuperhatikan tubuhnya yang tinggi semampai dengan wajah yang lumayan tampan menurutku walaupun aku belum bisa melihat wajahnya secara keselurahan karena masih tertutup topeng yang ia kenakan. Kemeja abu-abu bermotif garis dipadukan dengan celana jeans hitam dengan sepatu kets yang ia kenakan semakin menambah tingkat ketampanannya. Namun aku masih saja belum bisa mengenalinya.

“Siapa kamu sebenarnya? Aku benar-benar tak bisa mengenalimu”
“Sungguh, nona? Coba perhatikan aku baik-baik”

‘Tatapan mata itu, sepertinya tak asing lagi bagiku. Rasanya aku begitu dekat dengan tatapan matanya. Ah tapi siapa dia? Aku benar-benar tak bisa mengenalinya’ kata hatiku mulai berbicara dan tanganku mulai mencoba untuk melepaskan topeng yang menutupi wajah tampannya tetapi tangannya menampik tanganku seolah ia tak ingin aku mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
“Jangan kau buka dulu sebelum kau bisa mengenaliku” ucapnya seraya membenarkan posisi topengnya yang hampir terbuka
“Sungguh aku tak bisa mengenalimu tetapi tatapan matamu sepertinya sudah tak asing lagi bagiku. Rasanya aku sudah sangat dekat denganmu. Ah tapi sepertinya aku salah bicara. Maafkan aku”
“Kamu tidak salah. Kita berdua memang pernah dekat bahkan sangat dekat. Tujuh tahun silam” jelasnya di ikuti topengnya yang perlahan-lahan semakin terbuka.
“Haykal…!!”