Semua Akan Indah Pada Waktunya

By On Tuesday, March 7th, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung

“As, aku nggak salah denger ya?” tanya Fadia pada Asma, seolah-olah yang didengarnya barusan adalah sebuah keajaiban. “Aku serius, a..ku.. sa..ngat.. menyu..kai…nya.” Jawab Asma “Aku nggak habis pikir kamu mendam perasaanmu itu bertahun-tahun.” kembali tidak percaya. “Bagaimana lagi, sudah nasibku mungkin. He… He… He…” jawab Asma dengan tersenyum semi tertawa. “Kenapa aku punya teman seperti dia ya? Wong harusnya sedih kok bisa tertawa gitu. Tapi aku salut padamu, Asma. Walau kamu pintar tapi kamu juga kelewatan kalau bikin orang lain tertawa.” kata Fadia dalam hati
Fadia ikut tertawa, merangkul sahabatnya. Mereka tertawa lepas. Setidaknya hati Asma sedikit terobati dengan tertawa bersama sahabat baiknya, Fadia.

Gadis berjilbab itu Asma, dan temannya Fadia dia juga berjilbab walau masih bongkar pasang. Asma gadis remaja yang masih SMA berjilbab, pintar, galak tapi baik karena saking baiknya kadang sikapnya sering disalah artikan orang lain, suka melakukan yang orang lain tidak bisa lakukan, ya seperti tertawa yang seharusnya sedih dan aneh. Laki-laki yang disukai Asma dia adalah temannya sendiri satu kelas dari SD, SMP dan sampai sekarang kelas 11, dia Arga.
Entah kenapa mereka selalu bersama walau itu juga nggak pernah komunikasi. Dalam satu kelas, tanpa komunikasi? Ya, capek.

Dulu hubungan mereka lumayan bagus tapi entah karena apa, Arga ngejauh dari Asma. Asma udah berulangkali ngajak bicara tapi itu cuma beberapa detik lalu TAMAT. Pernah juga Asma nanya kenapa Arga ngejauhin dia, tapi jawaban Arga cuma “nggak apa-apa”, what?. Kakinya Asma ngeder nggak karu-karuan.
Mulai saat itu Asma nggak mau nanya alasan Arga ngejauhin dia. TRAUMA…

“Ya ampun, sudah jam setengah tujuh lebih.” Asma mengayuh sepedanya dengan kekuatan turbo. “Dorr…” ban sepeda Asma bocor. “Ya ampun, sepeda. Kamu sangat nggak bisa diajak kerjasama. Aku harus berjalan, ini baru setengah jalan.” Asma berdiri, memandang ban sepeda belakangnya penuh kecewa.

Asma berjalan kadang berlari dengan mendorong sepedanya. Sampai-sampai nafasnya, ngos-ngosan. Lalu, Asma menitipkan sepedanya di rumah saudara jauhnya yang dekat dengan sekolahnya. Walau nggak tau darimana asal-usul bisa punya hubungan kekerabatan. Yang penting lebih efisien, karena di sekolah parkiran penuh dan apa Asma juga mau memarkirkan sepeda bocornya ke sekolah? Sebenarnya, Arga juga menitipkan sepedanya, tapi di rumah saudaranya sendiri. Jarak satu rumah dari kerabat jauhnya Asma.

Asma menengok ke belakang sebelum belok. “Arga.” Arga ada di belakangnya. Asma mulai berkhayal, “Aku nanti mau ngajak bicara dia!”

Mereka berjalan, Asma di depan dan Arga di belakangnya.. Suasana hening. Rencana Asma untuk memperbaiki hubungan persahabatannya dengan Arga gagal total, karena dia takut…

Sampai di sekolah ternyata mereka sudah terlambat. Di lapangan banyak murid yang membentuk barisan, dengan alasan yang sama, terlambat. “Wah, ternyata hari ini ada acara terlambat massal.” batin Asma. Asma dan Arga ikut mengisi barisan, karena mereka sadar akan kesalahannya.

Sebenernya banyak siswa yang terlambat itu karena kemarin malamnya ada pertunjukan wayang di Balai Desa. Dan wayang itu tayangnya tengah hari sampai 3 pagi. Jadi Kepala Sekolah memberikan keringanan hukuman, lari-lari lapangan basket 1 kali lalu langsung masuk ke kelas. Sebenernya Asma terlambat bukan karena malamnya lihat wayang, tapi baca novel barunya sampai tuntas, sampai jam 1 pagi.

Asma dan Arga menaiki tangga, karena kelas mereka ditingkat. Kelas 11 IPA A. Kelas unggulan dengan makhluk yang beragam. Mereka pun masih diam. Asma mengetuk pintu, tetapi gurunya nggak ada. Asma mengucap salam dulu, lalu Asma dan Arga masuk bersamaan.

Semua siswa ngelihatin mereka berdua. Temen-temen Asma yang udah tau hubungannya dengan Arga langsung ngerubutin Asma.
“Kok terlambat As?” “Kok bisa bareng? pasti ada apa-apanya nih.” “Murid teladan kok terlambat.” “Cie… Yang habis jadian.” “Kok barengan As, berangkatnya gandengan ya?” “Prmu udah belum As? Ngembarin boleh kan As?” Yang ini nggak menyakitkan, tapi jangan ditiru because it nggak baik “Udah baikan nih.” “Kok… bla… bla… bla….” pertanyaan beruntun mengahampiri Asma. “Itu cuma kebetulan. KEBETULAN! Kalau nggak percaya tanya aja sama dia.” Asma melirik Arga. “Oh gitu, beneran nih.” Fadia meledek Asma. “He’eh.” Asma mengangguk.

Mereka semua lalu berpindah ke tempat duduknya Arga. Konferensi Pers dibuka, Fadia menepuk meja. Pertanyaan yang sama menghampiri Arga. Arga cuma diam, karena itu sudah sikapnya. Semua udah tau sikapnya Arga. Dingin.. Semua langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing. Karena udah tau apa yang akan dilakukan Arga ke mereka, kerena ada yang mengganggunya. Asma cuma senyum-senyum ngeliatin teman-temannya yang ketakutan dipelototin Arga.

Di waktu istirahat, entah kenapa Arga yang lagi berdiri di depan kelas menatap Asma sangat tajam. Asma yang lagi ngeliatin bapak-bapak penjual pentol di luar sekolah. Fadia yang tahu kalau Arga lagi ngelihatin Asma, langsung punya lampu bersinar untuk mendekatkan mereka berdua.

Siasat dijalankan…
“Dor! Lagi ngapain As?” Fadia mengagetkan Asma. “Apaan sih Fad, lagi ngeliatin bapak-bapak itu loh, kayaknya udah ratusan pembelinya, tapi dagangannya nggak habis-habis.” menatap Fadia lalu kembali melihat ke bawah. “Kok bingung sih As, bapak itu kan punya stok yang banyak buat jualan. Kamu itu pintar, tapi kok kadang bingungin juga ya.” Ucap Fadia. “Wah, kamu bilang aku pintar. Makasih Fadia ku cantik. Muah…” Asma tersenyum pada Fadia. “Ini anak, kalau dipuji malah kelewatan deh.” batin Fadia “Fad, kok diem?” tanya Asma karena Fadia nggak nanggepin ucapannya. “Eh iya. As, ada sesuatu yang penting. Ini menyangkut kehidupan Arga…”
Hening… Karena Asma cuma diam saat dengar nama Arga.
Setelah bingung cari kata yang yang cocok untuk kata-kata Fadia, lalu Asma memutuskan yang paling mudah adalah kata “Lalu”, singkat, mudah, dan efektif.
“Lalu?” Asma bertanya
Fadia yang udah tahu karakter Asma dari dulu, yang nggak bisa ngucapin apa-apa saat nama Arga terdengar di telinganya. Udah maklum aja.
“Dia punya perasaan sama kamu.” Kali ini Fadia mendekatkan mulutnya ke telinga Asma. “Mungkin itu, perasaan benci.” Asma mendesah pelan. “Nggak, As. Itu nggak benar. Aku yakin dia sebenarnya juga punya perasaan ke kamu. Aku memang tahu kalau kamu anti pacaran, tapi membiarkan hati kita mengungkapkan perasaan kita ke orang yang kita sukai kan nggak apa-apa. Aku nggak ingin kamu tersiksa kaya gitu.” kata Fadia panjang lebar. “Atas dasar apa kamu bilang gitu ke aku Fad?” Asma menatap tajam ke Fadia. “Itu cuma feeling aku aja.” Fadia tak dapat berkutik. Asma memang selalu nyari tahu fakta dari setiap permasalahan sebelum mengambil keputusann. “Maafkan aku Fad, bukannya aku nggak percaya padamu, tapi itu sangatlah mustahil. Arga menyukaiku? Itu terlalu mengada-ada. Aku cuma ingin hubungan persahabatan kami kembali seperti yang dulu. Tidak lebih.” Asma mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.
Asma pergi meninggalkan Fadia. Fadia merasa bersalah, telah membuat temannya menangis. Fadia tidak mengejar Asma, karena Asma akan marah jika ada orang yang mengganggunya disaat dia menangis.

Di sisi lain, Asma berjalan melewati Arga yang masih berada di depan pintu, yang sedari tadi secara diam-diam mendengarkan pembicaraan Asma dan Fadia. Asma melirik sekilas Arga, lalu menundukkan kepalanya dan kembali berjalan.
Arga merasa ada sesuatu yang salah. Entah kenapa si es batu kini luluh, Arga memang tahu kalau Asma menyukainya, karena sejak SMP mereka dijodoh-jodohin sama teman-temannya Asma, dan ternyata Asma masih tetaplah menyukainya hingga sekarang. “Asma, aku tahu kau menyukaiku, aku tahu kau selalu diam-diam memandangiku, aku tahu kau selalu membelaku saat namaku disebut-sebut walau tak ada yang menyuruhmu. Asma, aku yang terlalu bodoh untuk menyadarinya, aku terlalu bodoh karena menghindarimu, aku terlalu bodoh karena telah membuat hatimu terluka. Aku terlalu egois. Kamu memang tidak memikirkan tentang pacaran, kamu cuma ingin bersahabat kembali denganku. Aku telah salah menilaimu.” Arga menyesal dalam hatinya dan masuk ke kelas.

Pulang sekolah…
Arga telah berjalan dulu dan menunggu Asma di dekat sungai. Arga telah menyiapkan mentalnya untuk berkata sejujurnya tentang perasaannya pada Asma. Arga duduk di batu, dan melemparkan kerikil-kerikil kecil ke dalam sungai.
Ketika Asma sudah dekat, Arga berdiri dan memanggilnya.
“Asma! Kumohon berhentilah dulu.”
Asma langsung berhenti dan menghampiri Arga tanpa berkata apapun.
“Asma duduklah.” Sambil ikut duduk di samping Asma. “Ada apa Ga? Kau mau memarahiku karena ucapan teman-teman yang mengolok-olok kita?” Asma memulai bicara dengan pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan sekarang. “Tidak Asma, bukan tentang itu. Aku tadi mendengar pembicaraanmu dengan Fadia. Aku ingin mengungkapkan perasaanku.” “Perasaan apa? Bahwa kau membenciku?” Asma kembali menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ditanyakannya. “Sudah Asma, tolong diamlah.” Arga sedikit menaikkan intonasi bicaranya. “Aku menyukaimu Asma. Selama ini aku pura-pura membencimu. Agar kamu menjauhiku, tetapi itu telah melukaimu. Maafkan aku.” Arga menatap serius Asma. “Tak apa, Arga. Aku juga menyukaimu. Sangat menyukaimu. Apa kau tahu, alasanku selalu giat belajar matematika? Itu karena aku ingin berada sama tingkat denganmu. Walau selalu masih satu tingkat di bawahmu. He… He… He…” Asma tertawa renyah. “Apa kau tahu Asma, aku juga selalu memperhatikan tingkahmu yang aneh, kaya jalan-jalan keluar masuk kelas, naik turun tangga, cuci muka ke kamar mandi berulangkali, teriak-teriak karena ada yang nggak mau piket, marah-marah kalau ujian ada yang nyontek dan masih banyak lagi, yang jarang aku temui.” Arga tersenyum manis di samping Asma. “Wah ternyata ada paparazzi di kelas 11 IPA A.” Asma tertawa. “Kamu kan juga gitu.” Arga tidak mau kalah. “Ups… ketahuan deh.” Asma menutup wajahnya. “Ha… Ha… Ha…” mereka tertawa bersama.

Suasana hening. Kini mereka bingung untuk meneruskan pembicaraan mereka ke yang lebih inti. “Ga, aku nggak mau pacaran.” ucap Asma. “Ya, aku tahu itu. Tapi inti dari ini semua kita bisa bersahabat lagi, tapi anggap aku teman spesialmu ya!” Arga menggoda Asma. “Baiklah, sayangku.” Asma menggoda Arga dengan menyenggolkan bahunya pada Arga. “Oke, aku tunggu itu. As, ayo pulang.” berdiri dan mengulurkan tangannya. Asma menerima uluran tangan Arga dan berdiri. “Asma, bukankah sepedamu tadi bocor?” tanya Arga.
“Ya, kau benar sekali sayang.” Asma menggoda Arga lagi. “Bagaimana kalau kau ikut naik sepeda denganku?” ucap Arga. “Maksudmu?” Asma tak mengerti. “Aku akan mengantarmu dengan sepedaku.” “Oh… dengan senang hati.” Asma tersenyum pada Arga.
Mereka berjalan seiringan, lalu menaiki sepedanya Arga. Mereka memang tidak pacaran, tapi itu bukanlah akhir dari segalanya. Dan semuanya akan indah pada waktunya.

The End

Somebody Else's Sky (Something in the Way, #2), Is This Love... (BWWM Romance Book 1), The Story of My Life: An Afghan Girl on the Other Side of the Sky, The Middle Child, When Breath Becomes Air, Politics For Evangelicals, Dogwood Hill (Chesapeake Shores, #12), Pieces (Patchwork, #1), The Hearts of Horses, Foreign Aid: Will It Ever Reach Its Sunset?, The Rithmatist (The Rithmatist, #1), Emily Shadowhunter: Book 1: VAMPIRE KILLER, Things Fall Apart (The African Trilogy, #1), SQL: The Ultimate Guide From Beginner To Expert - Learn And Master SQL In No Time! (2016 Edition), Middle School: Escape to Australia (Middle School, #9), Vampire Killer (Emily Shadowhunter #1), 1984, The Dispatcher, Recycling Day, The Nanny Arrangement (Country Blues, #2)