Seminya Bunga

By On Friday, March 10th, 2017 Categories : Cerita

Semilir hawa malam bersama taburan bintang. Terdengar gerak deru kapal berdebur ombak yang memecah udara malam hari. Di lantai bawah, Felly bersama dengan segerombolan taruna kapal bernyanyi dengan irama. Menikmati malam dan angan yang entah apa itu namanya.

Petikan gitar terdengar damai hati Felly. Terdengar memuncak saat nada emosi ada di dalamnya. Terdengar membingungkan saat ia mendengar gitar itu. Ia tidak mengerti, dimana ia berada. Ia hanya mengenal satu orang di atas kapal itu meski ia telah lama bersama mereka. Yah.. laki-laki itu. Davincia Prayoga.

“Kau kenapa, Felly?!,” tanya Davin saat melihat tatapan Felly seakan begitu tersiksa.
Felly menggelengkan kepalanya. Namun, hal itu tidak cukup membuat Davin untuk berdiri dan meraih tangan Felly untuk ikut bersamanya. Andre yang bertanya mengapa dan apa yang terjadi, hanya mendapatkan jawaban gelengan kepala dari Davin. Seakan, Andre tak boleh tahu apa yang sudah terjadi di sana.
“Felly, kalau kau ada di sini terus, dan memaksa dirimu, kau bisa sakit!,” kata Davin dengan nada khawatirnya.
Felly pun mendongkakkan kepalanya. Kemudian, ia meraih tangan Davin. Dengan cepat, Davin memapah Felly masuk ke dalam kamar. Di sana, Davin membantu Felly untuk tidur dan memasang selimutnya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini, Vin?!,” tanya Andre yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
“Maksud lo apaan?,” tanya Andre.
“Gue yakin, lo nggak sebodoh itu, Vin!,” kata Andre yang mulai kesal.
“Gue nggak ada perasaan apa-apa sama Felly. Gue cuman mau nolongin dia setelah musibah yang menimpa dia. Dia di sini nggak punya siapa-siapa, Ndre! Ayolah, pahami gue!”
“Tapi sampai kapan lo bakalan terus-terusan sembunyiin dia dari kenyataan kalau dia lupa ingatan? Kenapa lo nggak membantu dia sama sekali untuk mengingat dia berasal darimana? Okay gue akui lo pemilik perusahaan kapal ini! Tapi nggak seharusnya lo membiarkan kehidupan Felly semu dan tabu kayak begitu!”
“Gue nggak pernah menghalangi jalan dia untuk mengingat dia berasal darimana?! Masa iya, gue harus memaksa dia mengingat?”
“Davin, apa semua ini ada hubungannya dengan Nafia?”
“Lo ngomongin apaan, sih? Makin hari makin ngawur aja lo!,” kata Davin.
“Apa lo nggak ngerasa kalau lo udah bohongin diri lo sendiri?!,” kata Andre.
“Ndre, biar gue perjelas lagi, gue nggak ada hubungan atau perasaan apapun sama Felly. Gue cuma mau membantu dia! Udah ah, gue mau balik ke anak-anak. Ngomong ama lo, ribet mulu dari tadi!,” kata Davin dengan meninggalkan Andre teman seangkatannya.
“Pengertian mengenai diri lo yang lebih mendalam adalah gue, Vin. Gue yakin, lo ada rasa sama Felly. Lebih dari yang lo berikan ke Nafia,” gumam Andre dengan melihat ke Felly yang tengah terbaring.

Malam itu menjadi malam dimana anak-anak teknik dan juga neutika berkumpul. Mereka menikamati malam-malam terakhir bersama. Yah.. malam dimana kemungkinan kecil mereka akan bertemu kembali. Mereka menyatu dengan segala perbedaan.
Baik suku, idealis, adat istiadat, asal muasal daerah, dan juga yang lainnya. Mereka menyatukan prinsip dengan idealis yang sama. Dimana, mereka merelakan waktu mereka untuk jauh dari orang-orang yang mereka sayang.

“Vin, lo tadi di cari sama rektor tuh!,” ucap salah satu teman sekapal Davin.
“Sekarang beliau dimana?,” tanya Davin.
“Lo di tunggu di hall room atas. Kayaknya, mereka mau rapat besar deh mengenai perpisahan kita.”
“Oh ya? Ok deh, gue akan ke sana sekarang. Makasih ya, atas informasinya,” kata Davin melangkahkan kakinya tanpa menghilangkan senyuman.

“Lo darimana aja, bego?! Gue tadi nyariin lo!,” kata Andre.
“Ya maaf.. ada urusan yang harus gue urus.”
“Apaan?,” tanya Andre.
“Felly,” kata Davin.
“Apa lo tahu kalau lo dapet telepon dari Nafia?,” tanya Andre.
“Oh ya?!,” tanya Davin tidan percaya.
“Apa Felly sekarang menjadi prioritas utama lo? Davin, sadar dong! Felly nggak sebanding dengan Nafia. Dia cuman cewek ilang yang nyasar ke kapal kita gara-gara adanya gelombang besar saat itu. Apa yang akan lo ambil dari Felly, hah?! Dia cacat, Vin! Apa lo pikir dia sebanding dengan lo?!,” tanya Andre.
“Apa lo pikir gue bodoh. Nafia dan Felly. Mereka memang jauh berbeda. Dan gue tegaskan sekali lagi, gue masih milih Nafia. Di mata gue, cinta itu realistis. Bukan hanya mengandalkan perasaan. Dan gue juga bukan lo, yang secara terang-terangan menilai seseorang,” kata Davin dengan berlalu meninggalkan Andre dan memasuki hall kapal. Di sana, Davin kembali memimpin jalannya rapat. Membicarakan mengenai pementasan perpisahan mereka yang akan tergelar di hotel berbintang lima. Atau lebih dari itu. Mereka juga mengusulkan mengundang artis-artis terkenal. Dan hal tersebut mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak. Mereka setuju, akan menggelar perpisahan yang sudah ditetapkan dua hari mendatang.

Di ruangan yang mewah dan penuh dengan fasilitas yang ada, Bram memaki seluruh body guardnya karena tidak berhasil menemukan orang yang dicarinya. Billy yang sedari tadi terus berusaha berkomukasi dengan pihak penyewanya, dan Riska yang bersaha mengurusi lagu baru mereka. Mengingat, mereka mempertahankan kualitasnya yang sebanding dengan uang yang diberikan oleh paraa konsumen.

“Tuan! Saya menemukannya,” ucap salah satu body guard Bram dengan wajah berserinya.
“Dimana?!,” tanya Bram tak sabar.
“….,” ucap salah satu body guardnya dengan nada berbisik di samping telinga Bram.
“Kirim orang kita ke sana untuk mengambilnya perlahan. Hubungi diaadan pastikan dia mau tawarannya. Dan kirimkan berkasnya sekarang mengenai apa yang sudah terjadi,” kata Bram tegaas.
“Ini tuan, berkasnya.”

Dengan cepat, Bram melihat seluruh berkas itu. Bram membagi tugas mengenai apa yang selama ini ia inginkan. Semenjak hal itu terjadi, seluruh struktur dalam posisi mereka bertiga abu radul. Berbeda dengan sebelumnya. Sangat jauh berbeda.
Mereka bertiga berusaha semaksimal mungkin dalam penawaran bisnis tersebut. Mengingat hasil yang akan mereka dapat lebih besar dari tender yang pernah berhasil mereka raih. Yah… mau tidak mau, Bram menerobos maasuk perbatasan aturaan kapal untuk mendapatkan apa yang ia mau.

“Bram! Gimana nih! Apa lo yakin dengan hal ini?!,” tanya Billy kawatir saat mereka berjalan ke ruang VIP.
“Tahu nih, Bram! Gue takut bego! Nama kita bisa ancur!,” kata Riska.
“Apa masih bisa ancur setelah ada senjatanya?,” tanya Bram dengan menggerakkan dagunyaa ke arah pintu.
Billy dan Riska pun menoleh ke arah pintu yang tertutup. Sorotan matanya seakan menunjukkn bahwa tidak ada apa-apa di sana. Namun, perhatian mereka mulai tersita seluruhnya setelah ia mendengar pintu terbuka dan melihat seseoraang berdiri dengan sorotan matanya yang tajam.
“Felly!,” panggil Billy tak percaya.
“Akhirnya, gue selamat daari maut! Oh my god, Bram! Thank you baby!,” kata Riska dengan memeluk Bram girang. Kemudian, berlari kecil ke arah Felly dan memeluknya girang.
Felly membalas pelukan Riska selaku sahabatnya. Billy memandang Bram dengan tidak menyangka kalau Bram dapat melakukan seluruh kemauannya dengan nekat bermodal fasilitas dan ambisinya.
“Bram, thank you udah nyariin gue! Dan makasih karena memberikaan kesempatan untuk menunjukkan..”
“Gue sengaja mempersembunyikan segalanya dari siapapun. Karena lo dan gue sama, Fel! Gue yakin, ada orang yang harus lo tumpas di sini!,” kata Bram dengan senyuman tantangannya.
Felly tersenyum simpul membalas tantangan Bram yang jelas ada di matanya. Tak lama dari itu, mereka mendapatkan panggilan dari MC untuk memulai show di panggung megah itu.

Bram memimpin langkah mereka yang disusul Riska, kemudian, Billy. Barulah Felly yang ada di sana. Dengan topengnya yang terhias dengan begitu indah layaknya ia berada di lantai dansa pesta para pembisnis kaya dan golongan elit.
Felly memulai suaranya dengan seluruh pesonanya. Sorotan matanya yang begitu tajam, menunjukkan tegasnya diri serta lembunya diri itu yang dapat menyatu dalaam satu waktu. Terjemput oleh suaraa drummer Bram, jas milik Billy, dan Piano Riska yang menyatu dalam satu waktu. Mengiringi suara emas Felly yang telah lama hilang.
Sampai akhirnya, di titik Felly menunjukkan seluruh suara emasnya yang memenuhi ruangan panggung bersama ia memetik gitarnya, Billy melepas sisi topeng Felly. Sehingga terlihat wajah Felly yang tertata make-up naturalnya tanpa menghilangkan eksotiknya wajah seksi itu.

Seluruh wisudawan berdiri dengan mata yang terbelalak. Bibir yang menganga. Serta sorotan mata yang tidak menyangka. Hanya Davin yang tidak mampu untuk berdiri meski Davin ternganga dan mengingatkan Davin dengan colekan di lengannya bahwa yang tengah berdiri di atas panggun bak bidadari adalah Felly.
Yah.. Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis yang telah mereka rendahkan serendah-rendahnya sampai di titik kesabaraan Felly menampung seluruhnya. Memambalas segalanya dengan caranya sendiri.

“Felly!,” panggil Davin dalam seruan suara Felly yang menggelegar bak petir di sana.
“Tuh kan gue bilang apa? Foto yang gue temukan kemarin adalah foto Felly. Dia tampak beda banget ya, kalau nggaak pake baju seksi dan makeupnya,” nyata salah satu taruna yang ada di belakang Davin.
“Boleh gue tahu fotonya?,” tanya Davin memastikan bahwa yang ada di atas panggung adalah Felly.
Mereka berdua memberikan foto itu. Dan benar. Semuanya benar. Itu adalah Felly. Felly yang ia permainkan dengan kasih sayangnya yang palsu. Pernyataan itu juga terpampang jelas saat Felly pernah menyanyikan lagu ciptaannya di detik-detik sebelum ia mengungkap siapa dirinya.
“Lagu itu,” gumam Davin.
“Ya! Itu lagu yang membuatnya dia bangkit.”
“Yudis.”
“Aku hanya bisa mengingatkan padamu. Jangan pernah membangunkan singa betina yang tengah tertidur dengan lelap.”
Davin hanya bisa terdiam membeku menengar peringatan Yudis. Untuk lagu keduanya, Felly memutuskan untuk menyanyikan lagu solo yang bukan merupakan lagunya sendiri. Melainkan, membutuhkan cengkok suara yang benar-benar tepat di setiap liriknya.

Felly kembali memetikkan jarinya. Mengeluarkan suaranya, dengan gerakan mimik yang benar-benar menikmati lagu itu. Bram daan tengah gatal ingin memukul drumnya karena ia merindukaan saat duet bersama dengan Felly, terlarang oleh tangan Billy dan Riska yang memberikan kekuasaaan panggung kepada Felly.

“Sejak kapan, Davincia Prayoga salah memilih berlian? Sejak kapan, Davincia Prayoga salah menilai seseorang. Dan sejak kapan, Davincia Prayoga dapat dengaan mudah ditipu oleh gadis seperti itu,” umpat Davin dengan meninggalkan kursi kehormatannya di sana. Kemudian, ia melangkahkan kakinya ke ruang VIP dimana ia bisa berbicara langsung dengan Felly.

Tak lama kemudian, Felly berseta Pro Techno masuk ke dalam ruangan. Senyuman Felly yang mengembang seketika hilang. Bram, dan yang lainnya mengerti akan posisi itu. Sampai akhirnya, Bram dan yang lain memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.

“Ada yang harus aku bicarakan denganmu,” ucap Davin.
“Bicaralah!,” pinta Felly dengan menghempaskan dirinya di atas sofa depan tempat duduk Davin hingga mereka mendapatkan posisi untuk berhadap-hadapan.
Felly meraih gelas kaca dan meminum minuman itu dengan table mannernyaa yanaag begitu elegan. Sorotan matanyaa menatap mata Davin yang tengah mengumpat amarahnya.
“Apa maksud semua ini?,” tanya Davin.
“Apa aku harus menjawabnya?,” tanya Felly kembali. Kemudian menyecap minumannya.
Davin memukul meja kaca itu hingga tedengar begitu keras. Namun, Felly tidak kaget atau mengerutkan keningnya sama sekali. Ia tetap menyesap minumannya dengan begitu elegan. Dengan posisi kakinya yang jenjang bertumpu, terlihat begitu seksi di sana.
“Kau bukan siapa-siapaku. Jadi, aku tidak perlu menjawab pertanyaan dari seonggok sampah,” kata Felly dengan senyuman simpulnya. Kemudian, Felly beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggaalkan Davin.
Namun, Davin meraih lengan itu dan memegangnya dengan begitu erat, hingga Felly mengerutkan dahinya menahan sakit. Namun, ia menenanagkan pikirannya dan menatap mata Davin dengan sesimpul senyuman. Seakan, ia menganggap bahwa keseriusan Davin hanyalah sebuah permainan semata.
“Kau!,” umpat Davin.
“Kenapa? Apa aku terlalu indah menjadi berlian? Tau aku terlalu hebat untuk mengalahkan kekasihmu? Atau, akau terlalu pintar membuatku jatuh ke tanganku dalam waktu yang begitu singkat? Atau aku sudah membuatmu gila, Davin?!,” ucap Felly dengan santai tanpa menghilangkan tekanan nada pada setiap kalimatnya.
“Ya! Ya!!! Kau membuatku gila!!! Kau membuatku marah!!! Dan kau.. kau..”
“Membuatmu mampu meninggalkaan Nafia?! Aku akan melakukan itu dalam waktu lima detik! Ah! Tidak! Satu detik!,” kata Felly dengan menggerakkan jarinya yang lentik.
“Davin!,” panggil Nafia.
“Nafia!,” ucap Davin tidak menyangkaa bahwa apa yang diucapkan Felly benar.
Felly memberikan tatapannya dengan menyorotkan matanya ke arah lurus pandangannya. Sehingga, hal tersebut membuat Davin menolehkan kepalanya. Dan benar saja, Di sana ada cermin yang memantulan bayangan Nafia saat hendak berjalan ke sini.
“Aku rasa, namaku sudah dipanggil oleh MC untuk penampilan keduaku bersama band terbaik milik kalian. So, aku pikir kalian bisa menghabiskan waktu kalian berdua di sini,” kata Felly dengan meninggalkan mereka berdua tanpa terlewati untuk menatap Nafia dan Davin secara bergantian dengan tatapan sinis dan menjijikkan. Terumata, untuk Davin.

Yah.. sampai di sanalah Felly menilai Davin seperti sampah. Barang yang tidak memiliki hal untuk dibanggakan. Dimana dari sudut pandang Felly, cinta yang berkualitas adalah cinta yang mempertahankan pasangannya tanpa memohongi dirinya sendiri meski ia bertemu dengan bidadari dari kayangan. Bukan sebaliknya.
Di sisi lain, Felly mamandang Davin laki-laki yang tidak patut dimiliki oleh seorang wanita. Dimana, laki-laki yang hanya bisa menilai seseorang dari covernya. Bukan emas yang ada di dalamnya.

“Gimana?,” tanya Bram.
Felly mengedikkan bahunya dengan senyuman remeh. Billy dan Riska hanya tersenyum simpul melihat Felly tetap sama seperti dulu meskipun ia telah hilang ingatan.
“Eh Fel, lo bisa ceritaian nggak kenapa lo bisa ingat lagi dengaan semua ini?,” tanya Riska penasaran saat mereka berjalan ke ruangan lain untuk menikmati fasilitas yang ada.
Felly menganggukkaan kepalanya setelah mereka sampai di sana dan mendapati hidangan mewah setelah tampil. Felly menepis ingatannya bersama dengaan Davin. Menghiburkan pikirannya yang terganggu dengan mulai mendongeng di depan temaan-temannya meskipun sebenarnya, dalang dari semuanya ada Bram. Yah.. Bram yang tengah asik memakan makanan dan ikut mendengarkan Felly. Sekaligus membenarkan Felly apabila ada salah satu kesalah di ceritanya.
Mereka tertawa bersama dengan kebersamaan itu. Begitu juga dengan Felly yang mengakhiri seluruhnya dengan tawa. Meskipun ia tidak memiliki siapapun dan sempat memiliki rasa terhadap kebaikan Davin, ia tidak lupa akan prinsip-prinsip hidupnya yang telah menetapkan dirinya ntuk memandang sesuatu yang buruk. Cinta. Yah.. cinta yang berkualitas.