Sejarah ekonomi pertanian memasuki era baru

By On Sunday, April 16th, 2017 Categories : Sains

Sejarah ekonomi pertanian memasuki era baru. Permintaan terhadap hasil panen ikut dipengaruhi kebutuhan untuk bahan bakar (John Carey dan Adrienne Carter, BusinessWeek, 2007)

Belum lagi selesai perdebatan soal ketahanan pangan di Indonesia, sektor pertanian kini menghadapi tantangan baru dari persoalan krisis energi global. Menjulangnya harga minyak global mendorong pencarian sumber energi alternative pengganti minyak bumi yang notabene adalah sumber energi terbesar yang digunakan oleh banyak negara.

Saat ini, harga minyak bumi sudah mencapai US$ 59,26 per barel. Dibanding bulan Januari lalu yang hanya US$ 54,57 per barel. Diperkirakan angka-angka tersebut masih akan terus naik hingga menembus US$ 70 per barel. Di tengah situasi pelik ini, tren biofuel, sumber energi alternative yang berasal dari tumbuhan, muncul ke kepermukaan.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa tanaman yang berpotensi menghasilkan biofuel kebanyakan berasal dari tanaman pertanian, seperti jagung, singkong, tebu, kedelai, gandum, sorgum, dan kacang-kacangan. Tanaman-tanaman ini ada yang diubah menjadi etanol dan biodiesel yang bisa digunakan sebagai sumber energi pengganti minyak bumi.

Jika demikian keadaannya, krisis pangan bisa jadi akan terus berlangsung, karena terjadi perebutan komoditas untuk kepentingan produksi bahan bakar dan kepentingan pangan. Dilemma krisis energi ini amat terasa bagi negara-negara berkembang dan negara yang memiliki populasi penduduk padat. Seperti di Indonesia, jumlah penduduk yang besar dan kemiskinan yang meraja rela menjadi faktor pendorong utama rentannya persoalan ketahanan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kecepatan pertambahan produksi pangan masih tertinggal jauh di belakang laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang rata-rata mencapai 1,3% per tahun.

Contohnya laju pertumbuhan produksi padi periode 2000-2005 masih relatif rendah, yakni 0,82%. Selain itu, masalah kemiskinan juga memicu kerawanan pangan. Dari laporan BPS, hingga Maret 2006 jumlah orang miskin di Indonesia sudah mencapai 39,05 juta jiwa atau 17,75% dari total penduduk sebesar 220 juta jiwa. Angka itu meningkat sebesar sebesar 3,95 juta orang dari tahun sebelumnya, dan 63,4% dari jumlah warga miskin tersebut ada di pedesaan.

Sayangnya, wacana yang berkembang di Tanah Air hanya berkutat pada apakah Indonesia perlu impor atau tidak. Kenyataannya, kebijakan impor pangan justru menimbulkan kerugian bagi petani. Akibat impor pangan ini, harga di pasar domestik perlahan-lahan hancur, sehingga pendapatan petani semakin berkurang. Sekedar diketahui, Indonesia mengimpor rata-rata 1,5 juta ton beras per tahunnya. Fenomena ini berlangsung hingga tahun 2004. Untuk gula, jumlah yang diimpor sebesar 1,5 juta ton (kedua terbesar di dunia) atau 40% dari konsumsi nasional.

Lalu Indonesia juga mengimpor kedelai sebesar 1,3 juta ton (terbesar di dunia) yang menutup 45% konsumsi kedelai nasional. Sedangkan volume impor untuk jagung berjumlah tidak kurang dari 1 juta ton. Indonesia juga mengimpor buah-buahan dan sayur, seperti apel, jeruk, pir, kentang, bawang, dan lain-lain. Tampak ironis ketika situasi ini membuat Negara yang pernah mengklaim diri sebagai Negara agraris, justru masuk menjadi Negara pengimpor bahan pangan terbesar di dunia.
Di sisi lain, ketahanan energi Indonesia juga bukan tanpa masalah. Berdasarkan laporan Bappenas , pemenuhan energi di dalam negeri masih menemui kendala. Selama ini, terjadi ketergantungan yang tinggi terhadap penggunaan energi primer, seperti minyak bumi (54,4 persen), gas bumi (26,5 persen), batubara (14,1 persen); sedangkan sumber-sumber energi lainnya hanya sekitar 4,8 persen.

Pemanfaatan energi akhir juga masih bertumpu pada beberapa jenis, yaitu BBM (63 persen), gas bumi (17 persen), dan listrik (10 persen). Konsumsi energi ini juga dinilai relatif lebih boros dibandingkan negara-negara lainnya. Data ASEAN Energy Review menunjukkan bahwa pada tahun 1993 rumah tangga dan sektor komersial Indonesia mengkonsumsi energi sebesar 52 % dari konsumsi energi total yang dikonsumsi oleh rumah tangga dan sektor komersial di ASEAN.

Sementara konsumsi energi negara lainnya seperti Thailand sebesar 20.9%, Malaysia 11. 2 %, Philipina 10.6%, Singapura 4.7%, dan Brunei hanya 0.8%. Konsumsi energi ini akan semakin besar bila ditambah dengan konsumsi dari sektor industri dan transportasi.

Sehubungan dengan hal itu, pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri dihadapkan pada tiga tantangan sebagai berikut : pertama, mempercepat pencarian sumber energi sebagai upaya peningkatan cadangan sumber daya energi nasional. Kedua, meningkatkan proses produksi dan penciptaan nilai tambah produksi, dan ketiga, menyediakan energi kepada masyarakat dalam jumlah yang cukup dengan harga yang terjangkau. Di samping itu, demi mengurangi ketergantungan yang tinggi terhadap BBM, maka pemerintah mulai menggalakkan pemanfaatan energi alternatif, khususnya biofuel.{mospagebreak}

Persaingan Kepentingan Energi dan Pangan
Suatu pandangan yang dangkal dan prematur bila gencarnya peningkatan produksi minyak berbahan baku nabati (BBN), dipandang sebagai kebijakan yang bijaksana. Tidak menafikan pula bahwa BBN bersifat renewable.

Beberapa pihak yang berpandangan optimis berpendapat bahwa strategi peningkatan produksi BBN tersebut mempunyai banyak dampak posistif, seperti ramah lingkungan, bahan baku berasal dari sumber daya domestik, membuka lapangan kerja baru di pedesaan, sampai dengan argumen ketahanan energi untuk negara.

Jika harga minyak global tetap tinggi, diperkirakan produk biofuel ini memang akan tetap kompetitif; dan beberapa negara telah lebih dulu memproduksi biofuel dalam jumlah besar. Diantaranya, Brazil memproduksi bioetanol dengan bahan baku jagung dan tebu, Amerika menggunakan kedele dan jagung, Filipina menggunakan kelapa, dan Cina menggunakan jagung dan gandum.

Disadari atau tidak, kondisi ini berpotensi memperburuk proses penyediaan komoditas pangan. Terutama bagi negara-negara yang melakukan impor bahan pangan dan negara-negara dengan jumlah penduduk yang relatif banyak, termasuk Indonesia. Dampak awal yang terjadi adalah kenaikan harga gula. Harga gula di Bursa Berjangka London yang semula sekitar 300 dollar AS melonjak menjadi hampir 490 dollar AS per ton.

Kenaikan ini terjadi karena produsen gula seperti Brasil memilih mengonversi komoditas itu menjadi etanol untuk menggantikan atau menyubstitusi bahan bakar minyak. Lain halnya dengan Amerika. Sejak Amerika Serikat (AS) mengumumkan hasil risetnya yang menyebutkan komoditas jagung lebih ekonomis dibanding gula dalam produksi etanol, kontan harga gula langsung anjlok ke harga 400 dollar AS. Sebaliknya harga jagung melonjak dari sekitar 135 dollar AS per ton pada bulan Agustus menjadi 210 dollar AS per ton sampai di pelabuhan Indonesia pada bulan Oktober 2006.

AS telah memutuskan memproduksi etanol dengan menggunakan jagung, bukan gula. Selama setahun, yakni dari Oktober 2005 hingga Oktober 2006, AS mulai membangun 54 pabrik etanol. Direktur Earth Policy Institute Lester R Brown memperkirakan, dengan lama konstruksi satu pabrik sekitar 14 bulan, semua pabrik akan berproduksi pada akhir 2007. Jika semuanya beroperasi akan dihasilkan empat miliar galon etanol. Produksi ini akan membutuhkan 39 ton komoditas biji-bijian yang dipastikan hampir semuanya dari jagung. {mospagebreak}

Antara Kepentingan Makan dan Energi
Situasi sedang sulit bagi peternak babi di Amerika. Sejak akhir musim panas lalu, harga rata-rata jagung melonjak hingga mendekati US$ 0,11 per liter. Hal ini cukup menyusahkan seorang peternak babi, Greg Boerboom, di Marshall, Minneapolis, AS. Greg Boerboom memelihara 37.000 babi setiap tahun, dan mengkonsumsi banyak jagung–masing-masing 352 liter.

Selama sepuluh tahun terakhir, harga pakan ternak masih seharga US$ 0,06 per liter. Kini, ia harus menjual babi-babinya sebelum mencapai berat ideal – 125 kilogram untuk mengurangi biaya pakan ternak, dan menjaga kehangatan suhu tubuh mereka agar tidak banyak makan. Melonjaknya haga jagung di AS bukan disebabkan anjloknya pasokan secara keseluruhan. Tahun lalu, panen jagung mencapai 370 miliar liter, panen terbesar ketiga yang pernah terjadi.

Tetapi alih-alih masuk ke mulut babi, sapi perah, manusia; kini semakin besar dari persediaan itu diproses menjadi bahan bakar mobil. Kuran lebih 19 miliar liter etanol yang diproduksi pada 2006 oleh 112 pabrik AS memanfaatkan hampir seperlima hasil panen jagung.

Jika semua pabrik yang kini sedang dibangun atau dalam tahap perencanaan sudah beroperasi, kebutuhan bahan bakar akan menghabiskan sedikitnya setengah dari hasil panen jagung pada 2008. Di AS, penggunaan bahan bakar nabati secara besar-besaran adalah satu-satunya kebijakan yang didukung anggota Partai Demokrat maupun Republik.

Dalam pidato kenegaraan pada 23 Januari lalu, Presiden George W. Bush memerintahkan diproduksinya 133 miliar liter bahan bakar yang dapat diperbaharui dalam kurun waktu 10 tahun–setara dengan 15% bahan bakar yang dikonsumsi mobil di Amerika. Anggota Kongres bahkan sedang mempertimbangkan kebijakan untuk meningkatkannya menjadi 227 miliar liter pada 2030.

Menurut orang-orang yang amat optimis–yang mendukung peralihan ke bahan bakar nabati –mengalihkan konsumsi bensin ke biofuel setidaknya butuh tambahan 20 juta hektare lahan pertanian di AS, bahkan mungkin lebih. Memenuhi mandat Bush hanya dengan jagung mustahil dilakukan, karena berarti perlu tambahan 33 juta hektare lahan jagung.

Perkiraan lain mengungkapkan bahwa meniadakan penggunaan bensin secara keseluruhan akan membutuhkan dua kali lipat luas lahan pertanian yang kini sudah mencapai 174 juta hektare. Permintaan yang semakin meningkat atas bahan bakar nabati sudah mengakibatkan ekspansi lahan pertanian secara besar-besaran dan mengancam fungsi pertanian sebagai sumber makanan, pakan ternak, dan kegunaan yang lain.
Sumber : Majalah BusinessWeek, Februari 2007

Meningkatnya harga pangan seperti jagung, tebu, singkong dan sawit akibat tingginya permintaan untuk biofuel, tak urung berdampak pula pada penduduk miskin yang jumlahnya mencapai 39,30 juta jiwa (tahun 2006, BPS) – yang jelas-jelas sangat sulit mengakses kebutuhan bahan pangan.

Seolah berada di persimpangan, produk pertanian kini melayani dua permintaan, yaitu dari industri makanan, pakan, sandang dan industri biofuel. CPO bisa dijual ke industri minyak goreng yang berakhir di supermarket atau ke industri biofuel yang berakhir di SPBU. Tebu bisa berakhir di pasar dalam bentuk gula atau berakhir di SPBU dalam bentuk bioethanol.

Lester R. Brown dari Earth Policy Institute yang berbasis di Amerika, mengungkapkan bahwa produksi biji-bijian tingkat global pada 2006 mencapai 1,9 miliar ton. Namun, konsumsi mencapai lebih dari 2 miliar ton. Di sisi lain, akhir 2007, ada 800 juta orang yang menggunakan komoditas biji-bijian tersebut untuk biofuel—yakni para pengendara mobil, motor, maupun industri.

Jika tidak dikelola dengan baik, maka akan terjadi persaingan antara para konsumen biofuel dengan penduduk miskin atau penduduk yang membutuhkan suplai bahan pangan. Dengan menggunakan analogi yang sama, bagi Indonesia kondisi ini berarti menimbulkan persaingan antara 39 juta penduduk miskin dengan jutaan pengguna kendaraan atau industri di Indonesia.{mospagebreak}

Biofuel vs Ketahanan Pangan di Cina
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi sejak 1990-an, membuat konsumsi energi di Cina sangat besar. Negara dengan jumlah populasi 1,3 miliar ini merupakan konsumen energi terbesar kedua di dunia. Keperluan energi Cina diperkirakan akan terus meningkat dari 3 juta per barel per hari menjadi 11 juta per barel per hari (www.voanews.com).

Tidak mengherankan jika booming industri biofuel juga terjadi di Cina, guna menyokong denyut nadi perekonomian mereka. Disamping itu, energi yang ramah lingkungan ini dapat membantu mereka mengatasi polusi yang dihasilkan dari bahan baker fosil. Perencana ekonomi Cina telah membuat desain pembangunan energi hijau, seperti etanol dan biodisel.

Pada tahun 2020, mereka menargetkan penggunaan 15% energi hijau untuk bahan bakar seluruh transportasi dalam negeri (www.usdachina.org). Hingga tahun 2020 itu, Cina akan memproduksi biofuel 20 ton—terdiri dari 15 ton etanol dan 5 ton biodisel (www.ecoworld.com). Oleh karenanya, Pemerintah Cina sangat kuat dalam mempromosikan Program Nasional Bahan Bakar Etanol ini. Pada Juni 2002, pemerintah Cina mulai membuat peraturan tentang penggunaan bio-etanol yang dicampur dengan bensin.

Tahun 2004, pemerintah Cina mulai memperkenalkan penggunaan E10 (10% etanol dicampur dengan bensin) di seluruh wilayah Heilongjiang, Jilin, Liaoning, Henan, dan Anhui (www.usda.gov). Pengembangan etanol di beberapa wilayah di Cina ini lebih banyak dihasilkan dari tanaman pangan, antara lain di wilayah Heilongjiang, Jilin, dan Anhui banyak menggunakan tanaman jagung. Sedangkan di Henan, etanol banyak dihasilkan dari gandum. Pada Oktober 2007, Pemerintah Cina juga merencanakan penggunaan singkong sebagai penghasil etanol.

Tanaman ini akan dikembangkan di daerah otonom, Guangxi Xhuang. Penggunaan kentang, sorgum, padi, dan lignocelluloses untuk produksi etanol juga sedang dalam penelitian (www.usda.gov). Hal ini menimbulkan dilema bagi Cina. Pengembangan industri biofuel dari tanaman pangan, membuat harga bahan pangan di Cina mengalami fluktuasi peningkatan yang tajam.

Situasi ini membawa mereka pada persoalan ketahanan pangan. Peningkatan harga ini terjadi pada jagung. Meski hasil panen jagung membaik, harga komoditas ini terus mengalami peningkatan. Harga 50 MT (metric tones) jagung 2006 mencapai 59.28 Yuan (US$7.706), naik 6,8% dari tahun 2005 (55.25 Yuan). Dalam beberapa tahun terakhir, produksi jagung Cina meningkat dari 107 juta MT (2000) menjadi 140 juta MT (2005).

Meskipun begitu, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh China Business menunjukkan bahwa ekspansi jagung sebagai bahan biofuel lebih cepat dibandingkan dengan produksi jagung itu sendiri. Pada tahun 2005, 23 juta MT jagung diproses menjadi biofuel, naik sebesar 84% dari tahun 2001 yang hanya 12,5 juta MT.

Sedangkan produksi jagung hanya naik 21,9% selama periode tersebut (www.ap-foodtechnology.com, www.atimes.com). Peningkatan ini juga terjadi pada gandum dan bahan pangan lainnya. Untuk mengendalikan lonjakan harga bahan pangan tersebut, pada Desember 2006, pemerintah Cina kemudian melakukan pengawasan ketat terhadap penggunaan jagung sebagai bahan biofuel.

Pengawasan itu dilakukan demi menjaga kestabilan harga jagung dan melindungi pertumbuhan industri pangan. Menurut laporan Shanghai Youth Daily, pemerintah mulai menggalakkan penggunaan tanaman ekonomis lainnya di luar tanaman pangan, seperti singkong, sorgum, tebu, dan ketela rambat untuk biofuel. {mospagebreak}

Butuh Kebijakan Pendukung yang Berjangka Panjang
Melihat fenomena ini, pengembangan biofuel/biodiesel di Indonesia seharusnya diarahkan pada pemanfaatan bahan non pangan dan usaha recycle. Pengembangan biofuel dengan melakukan konversi tanaman pangan tidak akan memberikan manfaat ekonomi dan mengurangi pengangguran. Yang terjadi justru zero sum game. Untuk itu diperlukan kebijakan pendukung yang tidak bersifat parsial, reaktif, dan jangka pendek atau hanya bersifat ad-hoc dalam pengembangan biofuel di Indonesia. Jika tidak, niscaya kita tetap hanya akan selalu menjadi negara ‘pengekor’ dan konsumen saja.

Ketika negara lain berhasil keluar dari jerat persoalan krisis energi, dan bahkan mungkin bisa mengekspor produk biofuelnya, kita pasti sudah tertinggal jauh. Menyinggung soal ketahanan pangan dan energi, perlu kiranya kita bersama kembali menyadari dan menyelami kearifan lokal yang sebenarnya telah ada di tengah masyarakat. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam seharusnya mampu menjadi lumbung pangan dan renewable energi dunia. Sehingga pemenuhan kebutuhan energi tidak perlu dibenturkan pada kepentingan pemenuhan bahan pangan. Bahkan jika mungkin harus menjadi yang saling membangun dan melengkapi. Semoga!