Secarik Kertas Putih

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Ibuku meninggal tiga tahun silam. Almarhum ibuku memberikan aku secarik kertas putih. Ibuku berpesan kepadaku, jika aku merindukannya maka tulislah di kertas itu bahwa aku tengah merindukannya. Jika aku ingin bertemu dengannya tulislah bahwa aku ingin bertemu. Ayah tidak tahu menahu perihal kertas putih ini. Karena aku tidak pernah menceritakannya kepada ayahku. Saat ini aku menulis sesuatu di kertas itu. Ku tulis bahwa aku ingin bertemu dengan ibu. Sosok ibu muncul perlahan. Aku tersenyum girang.

“Ibu aku rindu padamu.” ucapku. Menghampiri ibuku yang berdiri di depan jendela kamarku.
“Ibu juga merindukanmu sayang…”
“Ibu aku ingin bertanya?”
“Kau ingin bertanya tentang apa?”
“Jika Ibu bisa muncul di depanku, kenapa Ibu tidak menemui ayah?” ibuku terdiam tenang.
“Tidak bisa sayang..”

“Kenapa?”
“Karena hukum gaib tak mengizinkan Ibu menemui Ayahmu” aku hanya manggut-manggut mengerti.
“Ibu, aku sedih jika aku berkata pada Ayah bahwa aku melihat Ibu, Ayah marah kepadaku” aduku pada ibu tentang ayah yang sering marah, kalau aku menyebut nama ibu.
“Ayahmu mungkin tidak menerima kehadiran Ibu.” aku menangis sedih mendengar ucapan ibu. Tiba-tiba sosok ibu berjalan mundur ke arah balkon kamarku.
“Ibu, jangan pergi!!” pekikku sambil berlari mengejarnya.

“Mira!! Apa yang kamu lakukan?!” ayahku dengan cepat menarik tubuhku yang hampir terjatuh ke lantai bawah. “Mira, Ayah peringatkan kamu, jangan berhalusinasi, siapa tadi? Ibu? Sadarlah Ibumu sudah tiada!” bentak ayahku. Aku menangis mendengar ucapan ayah. Selalu seperti itu. Ayah menganggapku hanya berhalusinasi. Ayah tidak tahu yang sebenarnya dan ayah tidak tahu apa-apa. “Maafkan Ayah, Mira” ayah menarikku ke dalam pelukannya. Aku menangis sejadinya.

Keesokkan harinya, seperti biasa aku berangkat ke kampus bersama ayah. Tak lama mobil ayah berhenti di depan gerbang kampusku. Aku turun dari mobil ayah, lalu melambaikan tanganku padanya yang sudah menghilang di balik tikungan. Tak sengaja mataku menangkap sosok ibu di seberang jalan. “Ibu!” aku memanggilnya.

Ibu melambaikan tangannya padaku. Aku berlari menyeberang jalan untuk menghampiri ibuku tanpa melihat kiri kanan.
“Awas!!” aku terkesiap, saat mendengar teriakan seseorang. Seseorang itu menarik tanganku dengan kasar untuk menepi ke pinggir jalan. Aku terdiam beberapa saat. Pikiranku melayang entah ke mana. Kelakson kendaraan berbunyi di mana-mana, membuat gendang telingaku serasa ingin pecah.

“Mira, kamu sudah gila ya? Kenapa berdiri tengah jalan seperti itu? Kamu hampir tertabrak tahu!” seseorang itu memarahiku. Aku tak menggubrisnya sama sekali. Mataku terus tertuju ke seberang jalan, tempat di mana ibuku berpijak tadi.
‘Ke mana Ibu?’ batinku.
“Mira, kamu tidak mendengarku hah?” aku tersadar. Aku pun menatap sang pembicara. Wajahnya tidak terlalu asing di mataku. Ah, dia kan tetangga sekaligus teman se kampusku. Siapa namanya, aku sudah lupa.

“maaf.” aku hanya mengucapkan kata itu. Kemudian berlalu dari hadapannya. Tidak puas akan jawabanku, dia mengejarku. “Mira, kamu baik-baik saja kan?” tanyanya. Aku mengangguk sambil mempercepat langkahku. Lelaki ini membuatku sedikit risih.

“Mir, sebenarnya apa yang kamu lakukan di tengah jalan tadi?” tanya laki laki itu. Aku menghentikan langkahku. Aku menatapnya tajam. Binaran matanya menunjukkan kalau dia penasaran. Aku tahu, kalau pun aku menceritakan kenapa aku berada di tengah jalan, pasti lelaki ini tak akan percaya atau bahkan menertawaiku. Aku kembali melangkahkan kakiku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Mir! Jawab pertanyaanku!” dia berlari menghentikan langkahku untuk kedua kalinya. Aku menatapnya jengah. Ada apa dengan laki-laki ini.
“Oke, kalau kamu tidak ingin menjawab tidak apa-apa tapi.. Aku ingin bertanya padamu, sejak kapan kamu mulai seperti ini, apa sejak Ibumu meninggal?” pertanyaannya membuatku menatapnya marah. Apa maksud dirinya berkata seperti itu, apa dia menganggapku sudah tak waras.

“Apa maksudmu?” tanyaku ketus.
“Maksudku, sejak kapan kau selalu seperti orang yang kehilangan sesuatu, dan terkadang seperti orang kebingungan, seperti tadi saat kau di tengah jalan, aku melihatmu seperti itu bukan pertama kalinya, tapi sudah kesekian kali.” aku tersenyum getir.
“Kau kasihan padaku?”

“Tidak, aku peduli padamu Mir, bagaimana pun aku juga temanmu, kita juga bertetangga Mir. Kalau kamu ada suatu masalah yang mengganggumu ceritakanlah kepadaku.”
“Teman? Aku bahkan tak tahu namamu, jadi jangan ikut campur urusanku!” hardikku padanya.
“Kau takut bercerita padaku? Atau kau takut aku menyebutmu orang gila, setelah mendengar ceritamu?” tepat sekali. Dia tahu yang aku pikirkan. Aku menatap matanya yang sejuk dan meneduhkan. “Kau mau mendengar ceritaku?” tanyaku meyakinkannya. Dia mengangguk dengan mantap.

Setelah pulang dari kampus, aku dan laki-laki itu duduk di taman. Sambil menunggu ayahku, aku menceritakan semuanya kepada lelaki itu. Termasuk tentang kertas putih pemberian ibuku. Aku mulai menceritakan semuanya kepada laki-laki itu.

loading…

“Jadi, kau menggunakan kertas putih itu untuk dapat berkomunikasi dengan Ibumu?” aku menggangguk mengiyakan.
“Lalu, peristiwa tadi pagi apa ada hubungannya dengan kertas putih itu, atau kau menulis sesuatu?”
“Tidak, aku bahkan meninggalkannya di rumah” laki-laki itu terlihat berpikir.
“kenapa?” tanyaku pelan. Dia menatapku lekat, membuatku sedikit merinding akan tatapannya.

“Mir, kalau aku mengatakan ini kamu jangan marah ya?” aku mengurungkan niatku untuk menanyakan namanya. Saat ia terlihat begitu serius ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
“kamu harus hati-hati Mir, kertas putih itu mungkin saja hanya perantara yang digunakan oleh roh yang menyerupai Ibumu untuk mencelakakanmu, tapi kau jangan takut, selama kamu tidak memanggilnya dia tidak akan muncul di hadapanmu kan?”

“Kau tidak percaya padaku?” tanyaku sedikit kecewa padanya yang membuat asumsi konyol tentang kertas putih itu.
“Bukan itu maksudku Mir, kau harus mengerti, pikirkanlah baik-baik Mir.” dia memegang kedua pundakku, menatapku lekat untuk meyakinkanku. Aku tersenyum kecil.
“Oh ya, aku lupa menanyakan namamu” ucapku tiba-tiba.
“Aku Hamdan, rumah kita kan beseberangan, apa kau ingat?”
“Memangnya aku pikun” ucapku tak terima.
“Haha.. Bukan begitu.” dia terkekeh sendiri.

Aku mengalihkan pandanganku darinya, dapat ku lihat dari kejauhan mobil ayahku menuju ke taman tempat ku berada.
“Akan ku pikirkan ucapanmu tadi, terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, maaf karena tak mengingat namamu, kalau begitu aku pulang dulu…” aku meninggalkan taman itu, menghampiri ayah yang sudah menepikan mobilnya di pinggir jalan. Aku merenung di kamarku, memikirkan ucapan Hamdan tadi siang. Apakah benar, kertas putih itu hanyalah perantara bagi roh jahat untuk mencelakaiku.

WUSSHH!!!

Tiba-tiba angin berhembus entah dari mana asalnya. Ku lihat jendela kamarku tertutup semua. Aku melihat kesekeliling kamarku, hawanya tiba-tiba saja berubah dingin mencekam, padahal baru pukul lima sore. Langit sudah nampak kehitaman, sepertinya akan turun hujan. Aku sengaja tak menulis apa pun pada kertas putih yang tergeletak begitu saja di atas nakasku, untuk membuktikan kebenaran atas ucapan Hamdan. Pikiranku melayang saat kejadian tadi pagi, benar kata Hamdan, aku bahkan tak memanggil ibuku dan tak membawa kertas putih itu, tapi ibuku menampakkan dirinya di depanku.

Aku menyadari sesuatu. Tiga tahun yang lalu saat ibuku dipanggil oleh sang maha kuasa, aku sangat terpukul. Aku sering memimpikan ibuku setiap malam, namun pada malam ketiga aku bermimpi ibuku memberikan secarik kertas putih untukku. Lalu berpesan kepadaku, jika aku merindukannya, maka tulislah di kertas itu. Karena saat itu, aku sedang sangat terpuruk dalam keadaan setengah depresi. Aku mengganggap mimpi itu nyata. Dan saat aku terbangun dari mimpiku kertas itu ada di samping tempat tidurku.

“Mira sayang…” aku terhenyak mendengar suara itu. Itu suara ibu. Badanku panas dingin, keringat mulai bercucuran dari pelipisku. Tak lama muncullah sosok ibuku. Aku melihatnya tak percaya. Benar apa yang dikatakan Hamdan. Tanpa aku memanggilnya, dia sudah menampakkan dirinya.
‘tidak, dia bukan ibuku’ batinku memberontak.
“Mira sayang.. ayo ikut Ibu,” ajak ibuku.

Aku menggeleng keras. Sosok ibu semakin mendekat, dengan sekejap dia sudah menyeretku ke balkon kamar. Suaraku tercekat di tenggorokan. Ingin rasanya aku meminta tolong. ‘Ayah, Hamdan, selamatkan aku.” aku hanya bisa membatin. Sosok itu mendorong tubuhku, hampir saja aku terjatuh, jika saja Hamdan yang entah datang dari mana memegang erat tanganku.

“Mira sadarlah!” Hamdan dengan napas menggebu mencoba menyadarkanku.
“Tidak Ibu, jangan lakukan ini padaku, ku mohon.” aku memohon kepada sosok ibu dengan suara yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Sosok ibuku menarik-narik tanganku, hingga tanganku berdarah terkena goresan pagar besi balkon kamarku.

“Tidak!!” aku menjerit kesakitan. Tak lama semuanya menjadi gelap.

Aku membuka mataku perlahan. Dapat ku lihat ayah yang memandangku di sisi ranjang dengan khawatir.
“Kau baik-baik saja sayang?” tanya ayahku. Aku mengangguk pelan.
“Mir, bisakah kamu menulis sesuatu di sini?” pinta Hamdan memberikan secarik kertas putih dan pena kepadaku.
“Apa yang harus aku tulis?”
“Tolong jangan menggangguku, dan kembali ke tempat asalmu. Setelah itu bakarlah kertas itu.” perintahnya padaku. Aku menulis apa yang dikatakan Hamdan. Aku pun membakar kertas itu. Ayahku melangkahkan kakinya ke luar dari kamarku, meninggalkan aku dan Hamdan berdua.

“Mir, sebaiknya jangan kau ingat-ingat lagi orang yang sudah tiada, kau boleh merindukannya sekali-kali, tapi jangan sampai membuatmu merasa terus kehilangan, karena rasa kehilangan yang hinggap di dalam dirimulah sosok ibumu seolah hadir ke dalam hidupmu. Padahal itu adalah sosok rasa kehilangan, bukan sosok Ibumu yang sebenarnya. Jangan menyiksa dirimu sendiri Mir. Lihatlah dunia luar yang penuh kebahagiaan, mereka menunggumu, kebahagiaan telah menunggumu Mir.” aku terdiam membisu mendengar ucapan Hamdan. Menyadari bahwa rasa kehilanganlah yang membuatku terpuruk dan jatuh dalam dunia halusinasi.

23979025, 23979026, 23979027, 23979028, 23979029, 23979030, 23979031, 23979032, 23979033, 23979034, 23979035, 23979036, 23979037, 23979038, 23979039, 23979040, 23979041, 23979042, 23979043, 23979044, 23979045, 23979046, 23979047, 23979048, 23979049, 23979050, 23979051, 23979052, 23979053, 23979054, 23979055, 23979056, 23979057, 23979058, 23979059, 23979060, 23979061, 23979062, 23979063, 23979064