Secangkir Kopi dan Renungan Sore

By On Wednesday, March 8th, 2017 Categories : Cerita

Kopi sudah menjadi bagian dari keseharian. Menikmati secangkir kopi di pagi hari dan sore hari, bagiku sudah menjadi ritus yang wajib kulakukan. Ibarat beribadah jika aku melewatkanya seperti ada yang kurang dan rasa gelisah turut menyertainya. Kenikmatan mulai dari memasak air, mengaduk sampai kuhidangkan untuk diriku sendiri, menjadi semacam cara melakukan ritus tersebut. Sore itu tepatnya pukul tiga, setelah semua pekerjaan rumah selesai, seperti hari sebelumnya aku nikmati kopi di teras depan kamarku. Matahari sore yang redup, hangat dan cahayanya masuk di antara celah jemuran pakaian, seolah menambah kenikmatan ngopi sore itu.

Aroma kopi yang kuhirup sebelum menyeruputnya, menambah semangatku ditengah kegundahan hati menjalani hidupku yang belum tentu arahnya ini. Berbicara soal kegundahan hati, yang kumaksud di sini bukan soal memikirkan pacar atau pasangan. Bukan!!! Kegundahan hatiku ini selalu timbul ketika aku memikirkan pencapaian yang sudah aku dapatkan dalam usiaku yang sudah menginjak 24 tahun. Belum ada yang bisa kubanggakan pada ibuku sampai umurku yang sudah menginjak seperempat abad ini. Kegiatanku sehari-hari hanya membantu pekerjaan rumah, karena sampai saat ini surat lamaran yang aku kirim di berbagai perusahaan belum mendapat tanggapan, setelah semua pekerjaan rumah selesai kunikmati secangkir kopi. Secangkir kopi kuanggap sebagai upahku setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Menjemur baju, membersihkan kamar mandi, membayar berbagai tagihan dan menyeterika baju, itulah pekerjaan rumah yang kumaksud. Terkadang aku merasa iri dengan teman-temanku yang sudah mendapatkan pencapaian yang diinginkan di usia yang sama sepertiku. Iri dalam hal seperti ini tidak masalah kan, toh untuk memotivasi diri sendiri.

Pikiran-pikiran semacam itu yang sering berseliweran, ketika aku menikmati secangkir kopi. Dan itu terkadang cukup mengganggu kenikmatanku untuk menyeruput kopiku. “singkirkan sejenak pikiran semacam itu” kukatakan dalam diriku sendiri. Berbicara tanpa ada lawan bicara memang terasa asyik ketika aku sendiri sembari menikmati kopi. “sudah nikmati kopi itu keburu dingin” ucap pikiranku sendiri kepadaku. “Oke-oke Bro” kujawab. Pikiran serasa menjadi terpisah dari diri sendiri ketika momen-momen perenungan semacam ini. Platonis sekali terkadang, aku ini. Kuseruput kopiku. Rasa pahit, sedikit asam dan manis bercampur menjadi satu di lidahku. Rasa ini yang selalu aku ingin dapat ketika aku seduh sendiri kopiku. Tiga sendok teh dan dua sendok gula untuk satu cangkir kecil, jika ingin mendapatkan rasa itu.

Beragam rasa itu seolah menjadi wujud dari beragamnya problematik kehidupan manusia. Dari beragam rasa itu pula aku belajar bahwa hidup itu kurang asyik jika tidak ada problem. Hidup hanya dipenuhi kesenangan tanpa ada kesedihan akan terasa monoton, begitu pula sebaliknya. Bukankah Tuhan menciptakan manusia beserta beragam persoalan yang akan dihadapinya kelak. Mulai dari kecil manusia sudah diberi gejolak-gejolak itu. Mulai dari pendidikan di lingkup keluarga yang didapat sampai pasangan yang akan menemaninya kelak. Setiap gejolak itu berbeda bagi setiap orang, oleh sebab itu manusia dikatakan sebagai makhluk yang unik dan sekaligus otentik. Manusia bukan sederetan angka yang sering digambarkan oleh para ekonom konservatif. Manusia unik karena problem yang dihadapinya berbeda, begitu juga cara menyikapinya.

Satu-dua seruputan sudah masuk melalui tenggorokan. Rasa yang ditingggalkanya cukup khas. Hangat dan sedikit rasa pahit. rok*k mulai kusulut dan kuhisap dalam-dalam untuk menemani kopiku. Bagiku kopi dan rok*k sudah seperti sepasang sandal, jika tidak ada satu maka yang lainya menjadi tidak berguna. Banyak orang yang menganggap aktifitas merok*k ini sungguh merugikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Bagi diri rok*k bisa merugikan dari segi ekonomi dan kesehatan, dan bagi orang lain asapnya begitu buruk bagi kesehatan bahkan banyak dikutuk oleh orang yang tidak merok*k. “kalau ingin mati, jangan ajak-ajak orang lain” begitu kira-kira bunyi kutukan itu. Aku tidak menampik hal itu, yang aku bisa lakukan untuk menanggapinya hanya diam, karena itu memang benar. Dan jujur di Negara kita yang sudah merdeka ini, aku masih terjajah dan belum bisa merdeka dari asap rok*k. Menikmati kopi tanpa menyedot sebatang rok*k bagiku, ibarat makan tanpa nasi. Nasi memang sudah bisa menjadi kata pengganti untuk makan bagi orang kita. Kalau makan dengan roti itu bukan makan tapi ngemil.

Membincang soal rok*k, kemarin sempat beredar isu bahwa Negara kita akan menetapkan harga rok*k di kisaran 50 ribu satu bungkus. Wacana ini membuatku gusar. Jika memang harga sebungkus rok*k menyentuh harga tersebut, kenikmatan kopi akan terasa kurang karena rok*k semakin susah aku dapatkan. Selain itu, bagaimana dengan nasib para petani tembakau, khususnya petani tembakau di kawasan Jawa Timur, karena Jawa Timur bisa dikatakan lumbungnya tembakau. Jika harga tembakau naik, maka menurut pengandaianku, daya beli masyarakat akan turun dan jika daya beli rok*k turun, permintaan tembakau juga turun.

Aku juga sempat membaca berita di salah satu media online, yang memberitakan penolakan petani tembakau terhadap wacana tersebut. Para petani tembakau merasa khawatir dengan kebijakan itu, karena menurut mereka yang diuntungkan dari kenaikan harga rok*k hanya para pemilik perusahaan rok*k, sementara para petani tembakau tidak mengalami peningkatan kesejahteraan karena harga tembakau di pasaran stagnan tidak mengalami peningkatan, bahkan akhir-akhir ini harga tembakau cenderung turun. Belum lagi para buruh di pabrik rok*k yang bisa-bisa terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), karena pabrik rok*k mulai susah untuk memasarkan produknya. Tapi itu semua kan dugaanku, jadi jangan terlalu dipercaya, toh aku bukan pakar, Aku cuma seorang penikmat kopi dan pelamun amatiran.

Kegiatan ngopi selalu menyenangkan bagiku. Berpikir mengenai masa depan dan keadaan sosial-politik selalu menjadi selingan menyenangkan ditengah menikmati rasa asam-pahit dan manisnya secangkir kopi. Berhubung kopiku sudah habis dan rok*k yang kuhisap sudah mencapai filternya, Aku akhiri ritus ngopi hari ini dengan ucapan syukur kepada Tuhan, karena masih diberikanya kesempatan bagiku untuk menikmati kembali secangkir kopi dan sebatang rok*k seperti hari-hari sebelumnya.