Semakin hari, pamor Psikologi sebagai salah satu program studi yang bisa diambil selepas SMA semakin naik saja. Yang tadinya sering disalahpahami sebagai jurusan untuk para calon psikiater (itu sih Kedokteran!) itu kini banyak diminati karena lapangan pekerjaannya yang luas. Selain itu, banyak juga anak muda – mungkin termasuk kamu – yang awalnya punya motivasi masuk ke sini karena ingin mempelajari kemampuan “membaca orang”.

Setelah beberapa semester jadi mahasiswa Psikologi, barulah kamu menyadari bahwa pemahamanmu yang dulu tentang jurusan ini bisa dibilang dangkal. Ada beberapa hal yang kamu temui di sini yang bikin kamu terkejut dan sadar bahwa kamu masih harus banyak belajar. Bahkan mungkin kamu berpikiran: Seandainya kamu sudah tahu hal-hal ini dari dulu tentang kuliah di Psikologi, pasti kamu bisa jadi mahasiswa yang lebih baik lagi.

Hal-hal apa aja sih yang dimaksud?

Andai kamu tahu dari dulu kalau Psikologi itu tak membuatmu bebas dari Matematika. Boro-boro, kamu malah harus bergumul tiap hari dengan statistika

Statistika wajib! via community.mis.temple.edu

Adik-adik SMA yang masih unyu, jangan ngambil Psikologi kalau alasannya mau bebas dari Matematika!

Psikologi adalah jurusan yang dalam riset dan penelitiannya bergantung pada matematika, terutama statistika. Statistika adalah ilmu dasar yang akan menjadi pondasi untuk menciptakan skala psikologi, yang lebih lanjutnya lagi dapat dikembangkan menjadi alat tes psikologi — atau yang kamu kenal sebagai psikotes.

Sebagai mahasiswa Psikologi, kamu pasti akrab dengan subtes-subtes yang mengukur tingkat kecerdasan verbal seseorang. Masing-masing item soal itu diciptakan dengan perhitungan statistika demi tingkat akurasi dan konsistensi yang maksimal. Oleh karena itulah, ilmu hitung-hitungan tak bisa dilepaskan dari jurusan Psikologi.

Statistika ini sendiri kamu pelajari dua kali, yakni Statistika I dan II. Kedua jilid Statistika ini me-review ulang pelajaran SMA-mu mengenai pengolahan data mentah, tabel, kurva, grafik, dan seterusnya. Kamu yang sudh berhasil melewati kedu rintangan ini wajib mengembangkan ilmu dengan mengambil Metode Penelitian Kuantitatif, dan puncaknya adalah mata kuliah Psikometri alias Statistika Psikologi. Sudah pernah ambil Psikometri? Gimana nilainya, bagus nggak? Harus ngulang berapa kali? Ehehehe.

Niatmu untuk jadi psikolog mungkin pernah begitu menggebu di semester pertama. Tapi ternyata, perjalanan menjadi psikolog itu lebih panjang dari yang kamu kira

Kamu butuh untuk lulus S2 sebelum menjadi psikolog! via wwwassets.rand.org

Mungkin kamu berminat mengambil jurusan ini karena ingin menjadi seorang psikolog. Entah itu psikolog anak, psikolog forensik, psikolog pendidikan, atau psikolog sosial. Tadinya mungkin kamu percaya bahwa begitu menamatkan S-1 dan diwisuda, kamu bisa langsung praktik sebagai seorang psikolog. Ternyata realitanya, kamu harus terlebih dahulu menempuh biaya kuliah S-2 yang biayanya tentu lebih tinggi dari S1.

“Lho, bukannya S1 Psikologi dulu bisa langsung jadi Psikolog? Papaku aja gitu.”

Iya benar, dulu memang S-1 Psikologi bisa langsung menyandang gelar Psikolog, namun sistem itu sudah lama diganti. Sekarang kamu harus menerima bahwa Keprofesian Psikologi dipisah dan diinstitusikan ke ranah S-2 — atau yang lebih kita kenal dengan Magister Profesi. Alasan terbesarnya? Apalagi kalau karena pendidikan Keprofesian cukup berat dan membebani masa studi kalau harus dimasukkan ke program S1.

Kini kamu harus puas hanya dengan mempelajari Psikologi secara keilmuan saja. Dasar-dasar ilmunya, berbagai fokusnya (Eksperimen, Klinis, Pendidikan, Sosial, Industri & Organisasi, Perkembangan Manusia), dan dasar-dasar penelitian Psikologis. Ya sudahlah. Begini aja kamu udah megap-megap kok! Apalagi kalau ditambah pendidikan Keprofesian? Mungkin harus kuliah 6-7 tahun dulu baru bisa lulus!

Entah apa penjelasan ilmiahnya. Yang jelas, mayoritas teman kuliahmu di jurusan Psikologi akan berjenis kelamin wanita

Temen sekelas cantik? Sudah biasa..

Sekilas info, buat kamu yang belum tahu, di Psikologi itu mayoritas mahasiswanya adalah wanita. Jadi jangan heran bila kamu menemukan rasio jumlah mahasiswi dan mahasiswanya adalah 3:1. Ada yang menarik juga soal pembagian gender dosen. Di Psikologi, dosen wanita lebih banyak mengampu mata kuliah yang berbau Eksperimen, Klinis, Perkembangan dan Keluarga. Sedangkan dosen pria lebih dominan pada mata kuliah di bidang Sosial dan Industri-Organisasi.

Kenapa sih kebanyakan mahasiswa Psikologi itu cewek? Kemungkinan besar, pandangan orang awam terhadap ilmu Psikologi yang lebih mengurusi masalah “perasaan” adalah penyebab mengapa Psikologi dianggap “Ilmu Feminin”. Jadilah, cowok yang kuliah di Psikologi mirip babirusa: sama-sama langka.

Sayangnya, rasio yang timpang antara pelajar cowok dan cewek ini nggak lantas berarti mahasiswa cowok bisa jadi womanizer. Apa daya, wajah nggak mendukung tidak jarang cewek Psikologi sudah punya pacar dari luar fakultas, yang bahkan mungkin sudah jadi pacarnya sejak SMA. Ya udah, terima aja…

Paling bingung kalau sudah disuruh teman “ngeramal” apa yang mereka pikirkan. Tugasmu ‘kan meneliti, bukan jampi-jampi!

Sekalian aja dong jadi Mama Lauren? via forum.detik.com

“Kamu anak Psikologi ya? Baca aku dooong…”

“Hmmmm oke. Kamu jawab lembar psikotes dulu ya, mau nggak?”

Rasanya paling bingung kalau kamu disuruh meramal kepribadian orang ala paranormal! Iya sih, Psikologi memang belajar cara membaca orang melalui ekspresi non-verbal. Tapi tetap aja, profil kepribadian yang akurat dari seseorang baru bisa dirilis setelah orang ini melalui serangkaian tes. Lagipula, bukankah definisi Psikologi itu seperti yang disebutkan di bawah ini?

“Psychology is a science of mind and behavior.”

Science, Mbak/Mas, bukan ilmu kebatinan~ *lempar lembaran soal tes psikometri*

Psikologi adalah ilmu yang abstrak. Tak jarang, buku diktat dan ceramah dosen yang membingungkan membuatmu merasa terjebak.

Kejiwaan adalah perkara abstrak via www.cianellistudios.com

Bahasan ilmu psikologi termasuk abstrak — ia mengkaji mengenai sisi psikis manusia yang tidak memiliki wujud fisik. Kalau anak Kedokteran bisa memeriksa seseorang yang cidera dengan fokus pada tangannya yang memar, sendinya yang kaku, dan sebagainya, anak Psikologi tentu tak bisa melakukan hal yang sama pada subyek penelitian atau orang yang ingin mereka periksa. Kalau kamu bertemu dengan penderita gangguan waham, misalnya, tak akan kelihatan dari fisiknya bahwa orang di hadapanmu itu adalah pengidap skizofrenia. Hanya dengan mengobservasi perilakunya — yang notabene adalah sesuatu yang tak punya wujud fisik — kamu akan paham bahwa dia butuh bantuan.

Kamu pun harus berteman dengan konsep abstrak lainnya dalam keseharianmu. Contohnya:

  • Kecemasan, kebahagiaan, dan depresi pada Psikologi Klinis
  • Leadership, loyalitas, kepuasan pada Psikologi Industri dan Organisasi
  • Konformitas, norma, dan tekanan sosial pada Psikologi Sosial

Segala konsep yang abstrak ini kadang begitu susah dipahami. Alhasil, kamu pun merasa terjebak dengan jurusan pilihanmu sendiri. Hayo, andai kamu tahu kuliah Psikologi seperti ini, masihkah kamu mau mengambilnya? Atau kamu rasa kesulitan itu sepadan dengan apa yang kamu dapatkan pada akhirnya?

Mungkin kamu sempat terkejut pada luasnya cakupan ilmu yang harus kamu pelajari. Bukan hanya psikologi itu sendiri, kamu juga harus belajar filsafat dan sosiologi

Filsafat adalah dasar yang paling dasar dari Psikologi

Kamu mendapatkan Pengantar Psikologi di semester 1 bersamaan dengan mata kuliah umum lainnya, seperti Filsafat, Kewarganegaraan, dan Agama. Kamu pun kaget: kalau yang kedua terakhir itu diajarkan karena memang mata kuliah wajib universitas, yang pertama itu kenapa? Usut punya usut, kamu baru paham bahwa ilmu Psikologi yang ada sekarang ini berawal dari pemikiran mengenai adanya “jiwa” yang eksis di dalam tubuh fisik. Pemikiran ini sendiri dikembangkan oleh para filsuf seperti Rene Descartes. Nantinya, “jiwa” ini akan lebih dikenal dengan sebutan psikis atau mental. Dari situlah, aspek psikis mulai dikaji sebagai materi sains dari waktu ke waktu. Singkat kata: Filsafat itu adalah pengantar-nya Pengantar Psikologi.

Barulah ketika semester 2 dan 3, yang kamu pelajari bisa berfokus ke ilmu Psikologi itu sendiri. Kamu mendapatkan pengantar dari semua major Psikologi, dari Klinis, Pendidikan, Industri-Organisasi, Perkembangan Manusia, sampai Sosial. Di situlah kamu bisa mulai menentukan fokusmu, mau mengambil major di bidang apa. Ternyata ilmu Psikologi itu luas banget, ya?

Kamu yang dulu di SMA mengambil jurusan IPS harus terima untuk sedikit belajar IPA. Soalnya, di jurusan ini kamu juga akan dihadapkan pada Biologi.

Biologi juga ada, komplit!

Selain Filsafat, kamu sebenarnya juga akan mendapat pelajaran lain: Biologi. Tepatnya dalam bentuk mata kuliah yang bernama Biopsikologi alias Psikologi Faal.

Psikologi Faal ini istilahnya adalah pengantar menuju Psikologi Klinis, yang lebih banyak membahas aspek biologis dari manusia. Di mata kuliah inilah kamu akan diajak membahas syaraf-syaraf manusia, indera, respon, dan hal-hal lain yang familiar dengan Biologi yang kamu dapatkan ketika SMA jika kamu anak IPA.

Mungkin ini sempat membuatmu yang saat SMA dulu mengambil jurusan IPS ketar-ketir. Tapi tenang saja, karena Faal ini masih bisa dimengerti oleh lulusan Sosial sekalipun, walaupun hafalannya agak banyak dan praktikumnya menguras tenaga.

Di jurusan Psikologi kamu nggak akan bisa bertahan sebagai penyendiri. Soalnya, bakal ada banyak tugas kelompok yang jadi makananmu sehari-hari

Psikologi ini tugasnya banyak. Hampir tiap minggu kamu akan diberi tugas presentasi yang sifatnya kelompok. Misalnya, presentasi materi kuliah, presentasi analisis kasus, membuat makalah kelompok, diskusi metode jigsaw, Focus Group Discussion (FGD), dan Laporan Praktikum.

Dan kalau sudah ketemu laporan praktikum, niscaya kamu bakal belajar hidup ala kalong: malam garap tugas, tidur pas kuliah. Iya nggak?

Sebagai mahasiswa Psikologi, pada dasarnya kalian memang dilatih untuk terbiasa berbicara dan berhubungan dengan manusia lainnya. Toh plesetan dari Psikolog adalah Speakolog, yang punya dua tugas: ngomong dan mendengarkan. Nah, karena itulah tugas kelompoknya ada banyak banget! Kalau kamu terbiasa jadi penyendiri, di bangku kuliah inilah kamu menemukan bahwa kamu harus beradaptasi.

Selain itu, perilaku, gaya pakaian, etika dan keramah-tamahanmu juga patut selalu dijaga

Kudu sopan!

Dosen Psikologi termasuk lumayan peduli tentang gaya berpakaian dan sikapmu selama mengikuti perkuliahan. Ini wajar, karena kamu adalah jurusan yang nantinya akan bertemu banyak orang, terutama klien. Dresscode yang rapi dan baik akan membantumu untuk berkomunikasi dengan orang lain, selain itu tentunya mereka akan lebih menghormatimu jika kamu berpakaian rapi.

Ada mahasiswa Psikologi, tapi pakai sendal jepit dan celana pendek? Wah, itu mau kuliah atau piknik? Ehehehe.

Dan bukannya sombong nih ya… Tapi Psikologi termasuk yang skripsinya paling sulit diantara jurusan sosial lainnya!

Mak, maafkan aku karena belum pakai toga…

Ini fakta. Bahkan ada yang bilang kalau skripsi psikologi itu paling sulit di antara jurusan sosial yang ada.

Teori Psikologi tergolong kompleks, karena mendekati bahasan sains ala ilmu eksak, bahkan sampai terpecah ke beberapa aliran psikologi. Aplikasi metode penelitian di psikologi juga cukup bikin kamu pusing tujuh keliling. Dalam mengambil data, kita akan dihadapkan untuk memilih metode kuantitatif atau kualitatif. Dalam metode kuantitatif, kamu akan diminta untuk membuat skala psikologis baru untuk penelitianmu, atau paling tidak mengadaptasi skala lama yang harus kamu utak-atik lagi melalui pengambilan data dengan subjek yang tergolong banyak (di atas 100 orang!). Ketika sidang pendadaran, kamu pun harus mampu mempertahankan keabsahan alat tesmu tersebut.

Hal lebih ribet akan terjadi jika kamu memilih skripsi Kualitatif. Contohnya, kamu mewawancarai seorang Purnawirawan TNI mengenai Loyalitas Patriot. SEMUA hasil dialogmu dengan beliau harus dibuat transkrip pembicaraannya kata per kata, dan tentunya metode penarikan kesimpulan kualitatif yang gak kalah susah harus kamu lakukan!

Setelah berhasil menuntaskan skripsi, kamu pun masih harus bertemu orang-orang yang mengira bahwa kalian harus bekerja di rumah sakit setelah lulus nanti.

Psikolog selalu kerja di rumah sakit? Kuno!

Mungkin kamu pernah atau malah sudah bertemu orang-orang yang mengira kamu harus bekerja di rumah sakit dan menjadi psikolog selepas diwisuda. Padahal, bekerja di rumah sakit untuk menangani mereka yang membutuhkan terapi psikis adalah eksklusivitas bagi kamu yang mengambil Psikolog Klinis. Sementara mayoritas mahasiswa Psikologi tidak meneruskan ke magister keprofesian klinis. Kebanyakan dri kita yang lebih memilih berkarir menjadi HRD manager, konsultan, jurnalis, peneliti, guru BP, dan sebagainya. Supaya orang awam lebih mengerti fakta ini, jangan lelah menjelaskannya ke mereka ya! :p

Di balik kuliah yang abstrak dan skripsi yang memusingkan, kamu bangga telah mempelajari ilmu ini. Psikologi mengajarkan kalian untuk tetap happy

Kalau kalian belajar untuk membantu orang lain menghadapi masalah mereka, tentunya kalian sendiri harus memastikan bahwa diri kalian bahagia, dong? Karena itulah, di balik segala kesulitan dan tantangan akademik yang kalian hadapi, kalian belajar menjadi mahasiswa Psikologi yang selalu happy!

Apapun yang sempat membuatmu terkejut selama mempelajari Psikologi, tentunya kamu bersyukur juga sudah diberi kesempatan untuk menimba ilmu di jurusan ini. Tapi seandainya kamu bisa memutar waktu kembali, bukankah kamu berharap bisa mengetahui hal-hal di atas lebih dulu agar lebih siap jadi mahasiswa yang berprestasi? Hehehe.

Tetap semangat ya. Semoga pilihanmu menjadi mahasiswa Psikologi nggak akan sia-sia!