Saudaraku

By On Friday, March 10th, 2017 Categories : Cerita

Pada zaman dahulu di bawah laut hiduplah keluarga ikan. Keluarga Pak Lionfish. Pak Lionfish memiliki 2 anak. Anak Pak Lionfish bernama Lino dan Loni. Anak kembar Pak Lionfish tidak pernah bisa rukun, mereka selalu saja bertengkar.

“Ini milikku Lino! Ibu yang membelikan untukku!” teriak Loni, sembari merampas mainan yang dibawa Lino.
“Hei! Aku kan sudah bilang, aku pinjam mainanmu.” balas Lino.
“Tetapi aku kan tidak mengizinkanmu.”
“Ah kau ini! Sungguh pelit! Aku tidak mau berbagi apapun denganmu! Aku lelah dan menyesal menjadi kakakmu!” marah Lino sembari berenang pergi ke luar.

“Loni, di mana kakakmu? Mengapa menjelang senja belum di rumah?” tanya Ibu.
“Entahlah bu. Sebentar lagi juga dia pasti kembali.” ucap Loni cuek.

Sang Ibu sangat khawatir, tetapi Pak Lionfish dan Loni menenangkan, akhirnya Ibu pun menjadi sedikit lebih tenang. Mereka sekeluarga pun makan malam bersama tanpa Lino.

Setelah makan malam…
“Mengapa Lino belum balik juga? Kemana dia? Kalau marah, gak pernah sampai kaya gini juga.” ucap Loni di dalam hati dengan perasaan khawatir.
“Ah sudahlah. Buat apa aku mikirin dia. Kan enak aku hidup tanpa dia.” ucap Loni. Loni pun akhirnya tidur.

“Loni bangun nak! Ayo cepat bangun!” teriak sang Ayah dengan wajah khawatir dan ketakutan.
“Ada apa Ayah? Apa yang terjadi?” tanya Loni.
“Kemana saudaramu? Mengapa sampai sekarang belum pulang? Kita harus cari dia. Sampai ketemu.” ucap sang Ayah.
“Mengapa aku juga harus ikut mencari dia?”
“Karena dia saudaramu. Kita butuh dia. Kamu butuh dia. Ayah akan mencari di rumah teman-teman dan saudara-saudara yang ada di luar kota. Kamu cari di sekitar sini.” ucap Ayah.
Mendengar ucapan sang Ayah, Loni pun terenyuh. Seketika pula Loni langsung berenang secepat kilat ke luar rumah. Loni mencari sang Kakak mengelilingi kota. Bertanya kepada teman-temannya.

Loni pun kelelahan mencari sang kakak. Hingga…
“Permisi Tuan, apakah anda melihat seekor ikan mirip saya lewat sini?” tanya Loni kepada Gurita sembari beristirahat sejenak.
“Oh, iya nak. Saya melihatnya kemarin lewat sini. Dia sepertinya menuju Ladang Nelayan. Kemarin saya sempat mencegahnya, tetapi sepertinya dia tidak mendengarkanku.” ucap Gurita.
“Apa? Ladang Nelayan?! Tempat itu berbahaya sekali. Em.. Ya sudah tuan. Terima kasih atas bantuannya.” ucap Loni.

Loni pun berenang menuju Ladang Nelayan, hati Loni berdebar dengan kencang dan takut, ia berfikir jika Lino akan terkena jaring Nelayan. Tetapi, Lino terus berusaha berfikir positif.
“Aku akan mencari Lino hingga ketemu.” ucap Loni yakin.

Loni pun akhirnya memasuki Ladang Nelayan. Ia melihat sekeliling dengan hati-hati. Sampai akhirnya…
“Tolong!! Loni! Ayah! Ibu! Siapapun! Tolong aku! Aku terejerat jaring! Tolooong!!!” teriak Lino ketakutan.
“Tunggu Lino, aku datang!” teriak Loni sembari berenang mencari Lino.
“Tolong cepat! Keluarkan aku dari sini Loni. Cepatlah. Huhuhuhu.” tangis Lino.
Loni kebingungan bagaimana caranya mengeluarkan kakaknya.

“Kak! Gigit rumput laut ini! Gigit yang rapat, aku akan menariknya. Kakak tidak apa kan, kalau menahan sakit sedikit?” ucap Loni sembari melemparkan rumput laut ke arah Lino. Lino pun mengangguk setuju.
“Siap yaa… Satu.. Dua.. Tiga!” tarik dan teriak Loni. Akhirnya Lino pun terbebas dari jaring nelayan.

“Terima kasih Loni, kau telah menyelamatkan aku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kamu. Maafkan aku juga kalau aku jahat padamu.” tangis Lino meminta maaf kepada Loni.
“Kamu itu selalu saja bikin aku susah. Tapi aku juga minta maaf kalau aku sering kasar padamu.” ucap Loni. Mereka pun saling meminta maaf dan memaafkan. Akhirnya mereka kembali ke rumah.

Setelah kejaadian itu, keluarga Pak Lionfish hidup tentram, rukun, damai dan bahagia.