Saksi Mata Biru (Part 1)

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Cerita

Seorang pemuda terhampar dalam lautan pertempuaran sengit mempertahankan kemerdekaan di kota Surabaya. Kaki, tangan dan dadanya tertembak oleh salah satu pasukan Inggris. Nafasnya mulai tersengal, sekelebat pikirannya mengingat surga yang dirindukan oleh para suhada’, demi Allah ia tak akan pernah menyesal dengan kematiannya. Sedikit penyesalannya hanya kerena ia akan meninggalkan seseorang yang dicintainya sendirian dan meninggalkan para santrinya.

Pesan dari kiai Hasyim Asyari kepada seluruh warga Indonesia. Menjadikan pegangan prinsipnya. Semua tubuhnya mulai terasa dingin Apakah akhirnya akan selesai? atau bahkan ini adalah awal. Apakah kita akan menang? ingin rasanya memastikan. Namun apalah daya, padahal nyawa ini tinggal sehasta. Mata ini mulai lelah untuk tetap terbuka. Lambat laun, jendela kehidupan ini mulai menutup, hingga mengintip, sampai semuanya menjadi gelap.

Cerita bermula di suatu pagi penghujung tahun 1935. terlihat lalu lalang para penduduk kota yang sedang sibuk berdagang, pemandangan kota yang indah, penuh dengan bangunan yang kokoh, menjulang di depan pintu-pintu nan tinggi khas Eropa.
Kehidupan terlihat damai ini, ternyata tak seindah keadaan rakyat pribumi yang masih dalam jajahan belanda waktu itu. Hanya orang-orang berkelas dan dari kalangan konglomeratlah yang bisa hidup tentram. Selebihnya, para penduduk hanya menjadi pelayan dan kaki tangan para petinggi belanda yang memanfaatkan tenaga mereka.

Matahari baru sepenggalah naik ketika itu. Dari perempatan jalan kota, terlihat mobil classic keluaran terbaru citroen C4G 1932. Warna mobil hitam mengkilat, dengan dua lampu sen besar seperti dua mata katak, di dalam terlihat sepasang suami istri dan juga gadis kecil berusia lima tahun yang imut dan manis. Memandang ke luar jendela. Sambil tangannya menunjuk sesuatu. Ia kemudian menoleh ke mamanya.
“Ma…! Lihat orang tua itu, kasihan dia. Kurus, namun membawa beban yang berat di pundaknya.” Mata si gadis itu menyipit.
Ibunya pun tertawa mengelus kepala si gadis.
“Jangan khawatir, Annabeth. Mereka lebih kuat dibanding kelihatannya. Mereka sudah terbiasa membawa beban berat itu naik turun kendaraan, bahkan satu di antara mereka, yang paling kurus pun, bisa mengangkat beban lebih berat dari penjaga gerbang di rumah kita.”

Tak terasa perjalan mulai menjauhi kota Surabaya, bergerak ke arah timur, mereka mulai memasuki hutan belantara. Mobil itu dijaga enam opsir belanda yang berkuda.

Matahari semakin tinggi, suhu udara semakin panas, dalam bayangan tingginya pohon, tetap saja tidak berdaya terhadap ganasnya panas terik siang itu. Dari balik semak-semak terlihat seseorang dengan bambu runcing di tangan kanannya. Mengintai mobil berwarna hitam pekat beserta para penjaganya.
Anna dan ibunya di dalam mobil, dengan ceria benyanyi-nyanyi lagu kebangsaan belanda, tiba-tiba dari arah jam dua meluncur busur panah yang tepat menembus salah satu dari opsir belanda.
Keadaan semakin panik disaat puluhan orang dari semak-semak, keluar dan menyerang para opsir belanda itu, mereka kalah jumlah dengan para penyamun itu. Mobil berusaha melarikan diri, sedangkan sebagian dari para penyerang itu ada yang mengejar mobil. Mobil berlari cepat masuk ke dalam hutan belantara, semua keluarga di dalam pun panik.
Anna hanya bisa berteriak dan memeluk mamanya, salah satu dari para penyerang itu membidik panah tepat mengenai sopir mobil tersebut, hingga mobil itu berhenti, dan menabrak pohon besar, dari dalam mobil, ayah Anna keluar dengan membawa pistol, ia sendirian menembaki sekelompok perampok itu, namun nasib ayahnya sama dengan opsir-0psir lain, kini tinggal Anna dan ibunya di dalam, melihat suaminya meninggal penuh dengan anak panah, ibunya langsung mencengkaram kuat pundak Anna.
“Dengarkan ibu, Anna. Larilah sejauh mungkin, hiduplah, bawalah kalung dan gelang ini.” Kemudian ibunya keluar dan mengambil pistol suaminya.
“Mama, mama!” gadis itu berteriak, terus menangis,
Tangisan gadis kecil itu semakin menjadi. Ia sudah tidak bisa melihat ibunya dengan jelas. Matanya yang memerah penuh airmata yang mengalir di pipinya yang merona merah. Tiba-tiba pandangannya semakin kabur. Perlahan demi perlahan hingga semuanya menjadi hitam.

Selepas sholat subuh, saat fajar masih bersujud, para santri yang memenuhi masjid, melantunkan Ayat suci Al-Quran hingga datang waktu dhuha.
Setelah sholat dhuha berjamaah, sang kiai turun dari masjid. Ia disambut hangat oleh beberapa warga dan salah satu pemuda berkopyah hitam mendekati kiai, ia menjelaskan prihal serangan yang dilakukan para perampok kemarin siang terhadap salah satu kolonel belanda. Ia juga mengatakan bahwa, ia mendapati salah satu putrinya masih hidup, dan sekarang dirawat di salah satu rumah warga.

“Terus, apa yang akan kalian lakukan terhadapnya?” Kiai bertanya dengan nada tenang, memegani tangan pemuda itu, sambil berjalan beriringan, ia menoleh ke arah pemuda itu.
“Bagaiman kalau kita jadikan tawanan, kiai?” Ia mencoba mengusulkan.
“Jangan! Bukankah rasulullah selalu mewanti-wanti para sahabatnya ketika perang agar membiarkan para wanita, anak kecil dan ahli ibadah, tidak menyakiti mereka, bukankah itu juga yang telah aku ajarkan kepada kalian.” Kiai menghela nafas, para pemuda hanya mengangguk.
“Terus kita harus bagaimana?” Ia agak kebingungan.
“Masukkan dia ke pesantren!” Kiai meyakinkan.
“Mengembalikan ke pihak belanda pun sangat beresiko bagi kita, salah satunya cara adalah dengan menyembunyikannya, bukankah dulu para tawanan pasukan islam, malah bisa memahami islam dengan baik saat mereka hidup bersama orang islam?” Kiai mencoba memahamkan dan menasehatinya dengan bijak. Pemuda itu hanya mengangguk. Memang sudah biasa dalam dunia kepesantrenan, seorang kiai selalu menjadi panutan dan perkataannya adalah harga mutlak bagi para santri-santrinya.
“Jadi apakah kiai serius ingin memondokkan dia, walau pun belum ada jaminan juga ia akan masuk islam”
“Agama itu pilihan, tak ada paksaan, Rasulullah hanya diutus untuk menyempurnakan akhlaq dan budi pekerti, hidayah itu datangnya dari Allah, walaupun ia tetap dengan agama nenek moyangnya, namun tetap terdidik dan berbudi luhur, minimal ia akan menjadi orang yang baik tidak seperti penjajah, walaupun kebaikannya hanya sebatas di dunia.” Perkataan terakhir kiai telah mengakhiri perbincangan mereka berdua di saat sang kiai sampai di depan rumahnya.

24020948, 24020949, 24020950, 24020951, 24020952, 24020953, 24020954, 24020955, 24020956, 24020957, 24020958, 24020959, 24020960, 24020961, 24020962, 24020963, 24020964, 24020965, 24020966, 24020967, 24020968, 24020969, 24020970, 24020971, 24020972, 24020973, 24020974, 24020975, 24020976, 24020977, 24020978, 24020979, 24020980, 24020981, 24020982, 24020983, 24020984, 24020985, 24020986, 24020987 9514140, 9514141, 9514142, 9514143, 9514144, 9514145, 9514146, 9514147, 9514148, 9514149, 9514150, 9514151, 9514152, 9514153, 9514154, 9514155, 9514156, 9514157, 9514158, 9514159, 9514160, 9514161, 9514162, 9514163, 9514164, 9514165, 9514166, 9514167, 9514168, 9514169, 9514170, 9514171, 9514172, 9514173, 9514174, 9514175, 9514176, 9514177, 9514178, 9514179