Sahabatku Cintaku

By On Sunday, March 19th, 2017 Categories : Cerita

Kutatap mata teduhnya yang memancarkan kebahagiaan yang sangat menenangkan bagiku. Tatapan yang selama ini hampir saja membuatku gila karena ingin melihatnya setiap saat. Namun sayang itu bukan buatku melainkan untuk orang lain

“di.. lo denger gue gak sih?” ucapnya membuyarkan lamunanku
“eh iya apa tadi?” dia merungut kesal karena sedari tadi tak kudengarkan ocehannya
“issh, lo gimana sih tadi itu gue udah jelasin panjang lebar tentang acara makan malam atau kencan gue sama dion entar malem tapi lo malah ngelamun gak jelas” jelas kok, aku melamun tentangmu yang telah hampir membuatku gila karena berceloteh dan mengatakan cinta pada orang lain tepat di hadapanku. Tak taukah kau aku mencintaimu, hatiku meringis
“maaf” hanya kata itu yang bisa kuucapkan
“iya deh, jadi gimana menurut lo? Gue bagusnya pake baju apan dan rambut gue mod..”
“gak usah berlebihan ra.. cukup kamu tampil seperti kamu yang biasanya toh menurutku itu bakal lebih cantik dan pastinya lebih natural” rara tampak berfikir mencerna kata-kataku. lucu, satu kata yang bisa menggambarkan raut wajah seriusnya saat sedang berfikir, satu kata yang selama dua belas tahun ini bisa menjungkir balikkan duniaku yang dulunya sunyi menjadi berwarna hanya karena melihat wajahnya.
“iya sih tapi apa dion suka?” aku mencubit hidung mungilnya
“jika dia benar-benar cinta sama kamu maka dia gak akan mempermasalahkan itu dan nerima kmu apa adanya” dia tersenyum cerah secerah matahari di siang hari yang rasanya hangat namun bisa membakar hatiku yang saat ini sedang terluka parah
“bener tuh, lo emang sahabat gue yang paling the best deh, kalo gitu gue siap-siap dulu” rara berlari meninggalkanku yang masih duduk sambil tersenyum miris menyadari kekalahanku yang sangat memprihatinkan. Aku sadar siapa aku dan siapa rara, jika dia elang yang terbang tinggi maka aku hanya seekor kura-kura yang merangkak perlahan menatapnya dari bawah berharap dia dia melihat dan bisa membalas cintaku yang kuyakini itu mustahil.

Kutatapakkan kakiku kembali di kota ini, kota yang menjadi saksi 3 bulan lalu dimana dia menorehkan luka yang sangat dalam di hatiku. Kini aku kembali setelah 3 bulan lari dari kenyataan meninggalkan semua tentang dirinya tanpa jejak.

Kutatap kota yang luas dari atas balkon apartemenku, membiarkan hembusan angin sore menerpa tubuhku yang terbalut kaos putih tipis pemberiannya 4 tahun lalu. Ini untuk pertama kalinya aku memakai kaos yang diberikan lala untukku setelah selama ini kusimpan rapi di lemari menempati tempat khusus di lemariku.

“di” kudengar suara rara di telingaku, mungkin itu ilusi belaka karena kebanyakan memikirkannya akhir-akhir ini. Kututup mataku dan merentangkan tanganku membiarkan hembusan angin semakin leluasa menghempas tubuhku berharap bisa meringankan bebanku dan juga sakit di dadaku
“di” lagi, suara itu terdengar lagi membuatku membuka mata namun tak bergerak sedikitpun
“di.. ini gue rara” suaranya terdengar lirih membuatku tanpa sadar meneteskan air mata. Cengeng? Mungkin iya aku cengeng karena aku tak bisa mengontrol perasaanku sendiri. Perlahan kubalikkan badanku menatap wajahnya yang kacau matanya merah penuh dengar air mata dan tubuhnya bergetar
“ra..” tanpa terduga dia menubruk tubuhku lalu memelukku erat. Aku bingung kenapa dia menangis, apa dion membuatnya patah hati?
“lo jahat tau gak.. lo pergi gitu aja tanpa alasan dan gak bilang ke gue. Lo jahat hiks” ucapnya sambil terisak, tubuhnya bergetar. Ada apa dengannya?
“maaf” kulepas pelukannya perlahan lalu kutatap mata sembabnya
“aku tau ini gila tapi aku gak tahan buat tetap di sini karena…” kutarik napas dalam-dalam “aku sakit melihatmu bersama dion, aku cinta sama kamu ra..” kuucapkan itu seraya menutup mata
Kurasakan dia menarik punggungku lalu menciumku lembut, seketika mataku membulat
“I love you too adi permana.. jangan tinggalin gue lagi” dia kembali memelukku.

Apa ini mimpi?

Bukan!