Saat Kuhampir Kehilangan Bayiku, Tuhan Memberiku Kesempatan Kedua

By On Saturday, March 18th, 2017 Categories : Cerita
Sebuah keajaiban bisa terjadi di saat tak terduga. Bahkan ketika situasi sudah memburuk sekalipun. Seperti kisah yang ditulis sahabat g-excess ini untuk mengikuti Lomba Bangga Menjadi Ibu. Ia menceritakan tentang sebuah kesempatan kedua yang ia dapatkan ketika dulu ia merasa sudah akan kehilangan putrinya untuk selamanya.

Senyum yang terlihat ini sangat berarti dan tak ternilai harganya, kami terlihat kompak dan sangat menikmati kebersamaan kami. Sebagai seorang ibu, aku tidak ingin melewatkan setiap detik kebersamaanku dengan sang buah hati. 7 tahun sudah sosok mungil itu kini melenggang dan memberi banyak tawa padaku dan suamiku.

Kami berdua sangat menghargai kebersamaan bersama buah cinta kami. Karena aku yakin sebelum ia mengepakkan sayapnya dan mencari masa depannya, aku dan suamiku harus mengukir masa kecilnya dengan pengalaman yang indah, yang mendidik kemandirian, yang mendukung kepercayaannya pada lingkungan, dan memberi kepercayaan diri yang berkarakter.

Naura. Itulah sosok cantik, buah cinta pertama kami sejak pernikahan kami tahun 2007 lalu. Pendampingan yang demokratis yang kami lakukan saat ini bukan tanpa alasan. Selain karena kami ingin menanamkan pendidikan karakter untuk membekali masa selanjutnya, kami juga punya alasan tersendiri yang sangat pribadi yaitu bahwa pendampingan ini adalah kesempatan kedua yang Tuhan berikan kepada kami.

Kesempatan kedua? Ya, kesempatan kedua! 7 tahun lalu ketika Naura berusia 40 hari tiba-tiba ia mengalami kejang, tanpa jatuh ataupun demam. Malam itu tepatnya pukul 23.00 WIB, Naura kejang dengan kondisi penglihatan juling. Kami langsung membawanya ke dokter. Penanganan pertama dilakukan oleh dokter spesialis anak RS Rajawali, Bandung. Namun, kondisi Naura tidak ada tanda-tanda membaik. Kemudian setelah cek darah, Naura kehabisan darah dan hemoglobinnya tinggal 3 saja. Sedangkan untuk ukuran orang dewasa saja 3 umumnya sudah tidak kuat dan nyaris meninggal. Setelah jam 2 pagi di lakukan transfusi darah, HB-nya mulai bertambah, namun kejang tidak jua berhenti. Sampai 8 hari berlalu kondisi Naura tak kunjung membaik.

Setiap detik aku dan suami tak henti berdoa, melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Namun, kondisi Naura tak juga ada perubahan. Semua orang mengharap keikhlasanku sebagai seorang ibu untuk melepaskan dan mengikhlaskan Naura kecil kembali ke pangkuan Sang Kholiq. Dalam benakku terpikir bahwa Tuhan belum percaya padaku sebagai sosok ibu yang baik untuk Naura. Pikiran itu berkali-kali terlintas dalam benakku. Namun, aku tak mau menyerah. Aku masih tetap berharap melalui doa-doaku bahwa aku layak dan mampu menjadi ibu yang baik. Aku masih berharap ada keajaiban dari Tuhan.

Dan, ketika enam orang dokter telah berputus asa mendeteksi penyakit yang dialami Naura, tiba-tiba di hari ke-10 Naura sadar dan terus menatap mataku sambil bercucuran air matanya. Aku terheran melihat anak seusia 40 hari mampu berlinang air mata. Tanpa berpikir lagi, aku langsung memeluknya dan memberinya ASI. Dokter pun takjub menyaksikan keajaiban ini. Tuhan ternyata masih memberi kesempatan padaku untuk menjadi seorang ibu yang baik. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.

Sejak saat itu, aku selalu menikmati setiap detik kebersamaanku bersama Naura. Aku selalu memperhatikan perkembangan motoriknya, bahasanya ketika ia mulai berceloteh, dan perkembangan emosinya.

Sebelum ia menjadi malaikat bersayap, aku ingin mengisi masa kecilnya dengan dukungan dan pendidikan berkarakter yang akan membekali ia ketika ia mulai mengepakkan sayapnya menjelajah dunia ini. Saat ini aku sangat menikmati peranku sebagai seorang ibu. Aku membebaskan ia untuk berkreasi dan mengembangkan potensi.

Aku tidak pernah memaksa sesuatu yang tidak ia sukai dan aku juga merasa bangga ketika Naura berkata, “Mama tidak hanya sebagai ibuku, tapi juga sebagai temanku, dan aku ingin seperti Mama.“ Sebuah kalimat yang mendalam dan berarti yang membuat aku bangga sebagai seorang ibu.