Rindu Pelangiku

By On Wednesday, April 30th, 2014 Categories : Cerita

Sore ini kota jogja tampaknya kurang bersahabat dengan banyak orang, di luar tampak suasana kota yang mendung dan diselimuti dengan rintik-rintik hujan, tapi tidak untuku, aku lebih menyukai keadaan seperti ini.

Namaku alisa aku mahasiswi kedokteran di salah satu universitas negeri di Jogja.

Aku yang duduk sendiri saat itu ditemani dengan laptop apple kesayangan ku di atas meja di tepi jendela di sudut cafe njendelo coffe. Pandanganku sibuk melihat pengunjung yang silih berganti memasuki cafe ini, tiba-tiba seorang pelayan datang membawakan pesananku, coklat panas dengan sedikit gula. Itulah yang yang menjadi menu favoritku di cafe ini.
Aku yang sedang online di laptopku sesekali melihat handphoneku yang sepi tanpa ada tanda sms atau pun telpon masuk, aku merasa begitu bosan hari ini.

Tak lama kemudian aku menyadari bahwa hujan di luar sudah reda, tak sengaja aku yang berada di sebelah jendela menoleh ke luar jendela, aku melihat sesuatu yang membuatku terdiam sejenak, lengkungannya yang begitu indah dengan warna-warni yang merangkulnya membuatku ingat pada seseoarang. Rendy itulah namanya, Rendy adalah seorang yang mungkin dulunya adalah teman terdekatku. disaat hujan turun aku selalu cemberut karena tak menyukai hujan atau lebih tepatnya aku phobia sama guntur dan petir dan hujan lebat, tapi Rendy orang yang tak jarang berada jauh dariku itu selalu hadir menemani rasa takutku dengan leluconnya yang tak pernah habis untuk mengukir senyumku meski hanya lewat telepon, aku bahagia punya sahabat kayak Rendy. Rendy selalu bisa menunjukan indahnya pelangi setelah hujan turun padaku. Sejak pertama aku mengenalnya dan menjadi sahabatnya pelangi adalah hal indah yang mempunyai arti tersendiri bagiku. Aku mengenal Rendy saat aku SMP, waktu itu aku pindah ke sekolah Rendy di Jakarta, disana aku tinggal bersama om dan tanteku, karena papa akan melanjutkan kuliah strata tiga di Jerman dan itu membuatnya harus membuatnya tinggal disana untuk beberapa waktu.

Rendy cowok putih, dengan senyumnya manis di bibirnya saat itu duduk sendiri di tepi jendela, teman sebangkunya sudah pindah ke Jakarta sebulan sebelum aku datang, karena di kelas ini hanya Rendy yang duduk sendiri jafi terpaksa aku duduk di sampingnya.

“Hay” sapanya dengan lembut
“Hay juga” jawabku membalasnya
“Rendy” lanjutnya mengulurkan tangan.
“Alisa” jawab ku dengan senyum.
Semenjak pertemuan pertama, Rendy sangat baik padaku, dia begitu ramah, tidak sombong, juga sangat perhatian terhadapku. Aku menyukai sikap Rendy, setalah lama mengenal Rendy, Rendy menjadi seorang sahabat dekat yang sangat baik padaku, banyak hal yang aku bagikan padanya, begitu pula dia tak ada yang ditutup-tutupi dariku.

Banyak hal yang kita lakuin sama-sama, makan bareng, jalan bareng, belajar bareng, nonton bareng, dan semuanya terasa sangat indah bagiku, Rendy bisa menjadi teman curhat, abang yang bawel, adek yang nyebelin, sahabat, bahkan musuh disaat kita beda pendapat, hingga terkadang tak sedikit dari orang yang melihat kedekatan kami mengira kalau aku dan Rendy pacaran.

“Sa kamu dan Rendy pacaran ya, kok gak pernah cerita sama aku sih? Seneng nya sendiri aja nih, gak mau bagi-bagi” tanya Luna yang saat itu menghampiri aku dan Rendy yang duduk di taman sekolah.
“Enggak kita cuma temenan kok, iya kan Ren?” Jawabku melirih Rendy yang saat itu hanya tersenyum.
“Kenapa kalian gak pacaran aja, kalian kan cocok banget?” Tanyanya masih penasaran
Aku hanya diam dan melirik Rendy.
“Iya, nanti juga pacaran kok” celetuk Rendy dengan senyum jahilnya.

Tiga tahun menjadi sahabat Rendy membuat aku tau semua tentang Rendy, ini tak membuatku ragu untuk menjadi pacarnya saat dia mengungkapkan perasaannya padaku. Hanya saja aku sedikit mengkhawatirkan hubungan persahabatan kami.

Hari-hari indahku bersama Rendy menjadi lebih indah, setelah menjadi pacarku dia selalu ingin tahu, apa yang terjadi?, aku lagi dimana? Aku lagi sama siapa? Bisa dibilang kepo banget, mungkin karena dia sayang dan gak ingin aku kenapa-kenapa. Awalnya aku anggap biasa-biasa saja dan aku juga menyukai hal itu, tapi lama kelamaan aku mulai merasa bosan dengan perhatian Rendy yang begitu berlebihan.

Aku gak tahu apa yang terjadi, kapan, dimana, dan bagaimana semua ini bisa terjadi. Kini aku mendapati aku dan Rendy sudah tidak seperti dulu lagi. Semenjak hubungan kami berakhir, Rendy berubah drastis padaku. Kami seperti orang asing yang tak saling kenal. Awalnya aku yang tak tahu apa yang harus aku lakukan, hanya bersikap biasa-biasa saja melihat sikap Rendy yang begitu cuek padaku. Tapi ini tak bisa lama aku pertahankan, melihat senyuman manis Rendy yang kini bukan milikku membuatku begitu merindukannya. Tingkah lucunya membuat aku merindukan sebuah tawa yang selalu dilukiskannya untuku. Aku rindu saat Rendy menghiburku dan berkata “kamu jangan sedih ya, ingat ada pelangi setelah turunnya hujan”. Kalimat sakti inilah yang dapat merubahku dari seseorang yang membenci hujan menajadi seseorang yang tersenyum saat hujan demi menunggu pelangi setelahnya.

Tapi semenjak Rendy pergi sulit rasanya bagiku menemukan pelangi itu, pelangi indah yang dulunya sering kutemukan bersama Rendy kini seolah menjauh mengikuti jejak pemilik pelangi bagiku itu.

Tak hanya sikap Rendy yang berubah padaku, hari-hari indahku juga seakan enggan mendekatiku entah apa yang terjadi sepertinya Rendy juga telah mencuri semua senyumanku tanpa menyisakan sedikitpun untuku. Bosan, bosan dan bosan itulah hal yang kini selalu menemaniku tanpa Rendy. Tapi hal ini sebisa mungkin aku sembunyikan dari orang-orang di sekitarku termasuk Rendy, padahal aku sangat ingin Rendy tahu kalau aku begitu merindukannya, entah merindukannya sebagai seorang sahabat atau merindukannya sebagai seorang kekasih. Aku hanya tau sekarang aku sangat merindukan kehadiran Rendy.

Tiba saatnya pembagian surat kelulusan, yang berada di kelas XII IPA saat itu merasa sangat bahagia, karena aku mendapatkan nilai tertinggi di sekolahku, namun aku juga merasa sedih. Setelah ini mungkin aku akan balik ke Jogja karena papa mamaku juga sudah tinggal kembali di jogja, aku sedih bagaimana aku bisa bertemu dengan Rendy setelah ini? Aku bahkan tak tau Rendy akan kemana setelah ini, tapi Rendy dulu pernah cerita sama aku kalau dia bakal ngelanjutin kuliahnya di Inggris.

Tepuk tangan dari teman-temanku menghiasi suasana saat itu. Aku memperhatikan Rendy yang saat itu duduk di sebelah kananku setelah tiga orang lainnya tepat di sampingku. Rendy yang mendengarkan apa yang disampaikan kepala sekolah juga ikut bertepuk tangan kepadaku. Dia menoleh ke arahku dan mendapati aku yang sedang memperhatikannya hanya tersenyum manis padaku, senyuman manis untukku yang sangat aku rindukan akhirnya kudapati juga.

Setelah acara selesai aku berada di parkiran untuk menunggu papaku yang masih berbincang-bingcang dengan orangtua murid lainnya.
“Hai Alissa, selamat ya.” Tiba-tiba dari belakang terdengar suara seseorang yang begitu aku kenal sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku menoleh dan ternyata dugaanku tak salah, itu adalah Rendy orang yang selama setahun terakhir ini tak pernah bicara satu kata pun padaku.
“Eh Rendy, makasi ya Ren” jawabku gugup karna sedikit terkejut dengan kehadirannya.
“Sama-sama Sa, aku duluan ya” ucap Rendy dengan senyum manisnya sembari melangkah meninggalkanku.

Aku hanya terdiam memperhatikan langkah kaki Rendy yang menjauh meninggalkanku, semula yang aku harap aku bisa bicara banyak padanya, tak sedikit pertanyaan yang ingin aku ajukan untuknya, banyak juga yang ingin aku ceritakan padanya. Namun aku salah bahkan berbicara sekedar melepaskan penat hatiku tanpa Rendy selama ini saja aku tak bisa. Mungkin Rendy yang sekarang bukanlah Rendy milikku dulu.

Seminggu setelah perpisahan sekolahku, ini adalah minggu sore, dan mungkin sore terakhir aku di Jakarta, kota yang banyak mengkukir kenangan indah untuku, karena besok pagi aku akan balik ke Jogja untuk melanjutkan kuliahku dan tinggal disana. Jam menunjukan pukul 14.00 namun di luar sudah tampak seperti sore. Suasana hujanlah yang membuat hari tampak sore, tapi kali ini hujan yang terlihat hanya rintik-rintik dan tidak terlalu lebat. Aku baru saja membereskan semua barangku yang akan aku bawa ke Jogja besok.

I have die everyday waiting for you darling don’t be affraid I have love you for a thousand year, love you for a thousands more. terdenga suara handphone yang saat itu mengagetkan aku yang sedang melamun memperhatikan rintik-rintik hujan yang jatuh dari lantai atas. Dengan segara aku mengambil handphone ku yang berdering di atas meja belajarku. Aku yang kaget saat melihat handphoneku dengan nomor tanpa nama memanggilku, tapi nomor yang sangat tidak asing bagiku, aku yakin ini adalah nomor Rendy, aku masih sangat hafal dengan nomor handphonenya. Tak menunggu lama dengan jantungku yang “deg-deg” aku segera mengangkat telpon itu.
“Hai Alisa, apa kabar?”
“Baik, kamu sendiri gimana?”
“Baik juga, kamu tau aku siapa?”
“gak mungkinlah aku bisa ngelupain suara kamu, tumben kamu nelpon, ada apa Ren?”
“Oh, gak ada apa-apa kok, aku cuma mau minta maaf sama kamu karena sikap aku selama ini sekaligus mau pamitan, besok aku berangkat ke Inggris buat ngejar cita-cita aku, semoga masih ada pelangi yang menunggu kita untuk menjumpainya kembali di lain waktu.”
Aku yang mendengar ucapan Rendy, tak bisa berkata apa-apa hanya air mata yang mampu mewakili perasaanku saat itu.
Rendy yang tak mendengar sepatah kata dariku pun hanya diam, aku yakin dia bisa merasakan tangisan ku saat itu.
“Maafin aku udah buat kamu sedih, kamu jaga diri baik-baik ya sa, jangan sedih lagi, ingat masih ada pelangi setelah turunnya hujan, aku sayang kamu sa” lanjut Rendy dan kemudian mematikan telponnya. Aku hanya terdiam saat itu, air mataku terus menetes membasahi pipiku dan sejak saat itu nomor handphone Rendy tak pernah lagi aktif.

Senin pagi aku yang duduk sendiri di airport karena orangtuaku telah pergi ke jogja 2 hari yang lalu, hanya termangun sendiri sambil sesekali melihat handphone ku, pikiranku bimbang, tak tau entah kemana arahnya, aku masih saja mengingat Rendy dan aku masih berharap bisa bertemu Rendy disini. Mata ku yang saat itu berkaca nampaknya tak mampu aku sembunyikan, lagi-lagi tetes air mata dengan begitu mudahnya keluar membasahi pipiku, aku menundukan pandangkanku dan menghela nafas panjang, tiba-tiba seorang mengulurkan sapu tangan untukku, aku menemukan aroma yang sangat begitu aku kebal dari sapu tangan itu, “ini parfum favoritku yang pernah aku beri untuk Rendy dulu” gumamku dalam hati, aroma parfum ini menenangkan ku sejenak aku merasa seoalah-olah ada Rendy di dekatku. Aku mengangkat pandanganku dan berharap Rendy lah orang yang pertama kulihat, tapi aku salah seorang anak kecil perempuan yang lucu berada tepat di depanku dengan tangannya yang masih mengulurkan sapu tangan itu. Aku mengambil sapu tangan di tangan gadis kecil itu, belum sempat aku mengucapkan terima kasih dia sudah berlari menghilang dari hadapanku.

Aku mengusapkan sapu tangan itu di pipiku, dan aku merasa ada yang aneh di lipatan sapu tangan itu, aku membukanya dan di dalamnya aku mendapati secarik kertas dengan gambar pelangi dan tulisan “kamu jangan sedih lagi ya, ingat ada pelangi setelah turunnya hujan” dan dibagian bawah sapu tangan itu aku mendapati huruf “R” yang aku yakin ini berarti Rendy.

Aku segera bangkit dari tempat dudukku mencari sosok seorang Rendy, namun banyaknya penumpang pada saat itu sangat menganggu ku dalam mencari Rendy. Setelah setengah jam sibuk mencari aku juga tak mendapatinya dan sekarang aku harus meninggalkan ruangan ini, karena pesawat yang aku tumpangi akan segera berangkat, aku naik ke pesawat dan duduk di tepi jendela, aku berfikir sejenak dan aku membuka tas kecilku kembali mengambil sapu tangan itu aku tersenyum padanya, aku yakin masih ada pelangi yang menunggu untuk aku dan Rendy lihat bersama meskipun kapan aku tak tahu.

Cerpen Karangan: Rina Paramita Utami
Facebook:
Hello, my name is Rina Paramita Utami, you can call me Rina :)) I school in Senior High School 1 Sukadana. I like anything in sky :)) follow me @thammy_fz .