Reproduksi Lumut

By On Saturday, February 25th, 2017 Categories : Sains

Pada lumut terjadi reproduksi secara vegetatif (vegetatif) dan generatif (generatif). Reproduksi vegetatif terjadi dengan pembentukan spora melalui pembelahan meiosis sel induk spora di dalam sporangium (kotak spora). Spora tersebut kemudian tumbuh menjadi gametofit.

Pada lumut hati, reproduksi secara vegetatif (aseksual) juga dapat dilakukan dengan pembentukan gemmae cup (piala tunas) dan fragmentasi (pemutusan sebagian tubuhnya). Sementara reproduksi generatif terjadi melalui fertilisasi ovum oleh spermatozoid yang menghasilkan zigot. Zigot tersebut akan tumbuh menjadi sporofit. Sporofit berumur pendek; sekitar 3 – 6 bulan.

Reproduksi lumut terjadi secara bergantian antara generatif dengan vegetatifnya, reproduksi vegetatifnya dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit, sedangkan reproduksi generatifnya dengan membentuk gamet – gamet, baik gamet jantan maupun gamet betina yang dibentuk dalam gametofit. Ada 2 macam gametangium, yaitu sebagai berikut:

  1. Arkegonium adalah gametangium betina yang bentuknya seperti botol dengan bagian lebar yang disebut perut, bagian yang sempit disebut leher.
  2. Anteredium adalah gametangium jantan yang berbentuk bulat seperti gada. Dinding anteredium terdiri dari selapis sel yang mandul dan didalamnya terdapat sejumlah sel induk spermatozoid.

Reproduksi vegetatif

Dilakukan dengan spora. Spora dihasilkan oleh pembelahan yang terjadi dalam sporangium lumut sporofit (sporogonium). Spora yang dihasilkan sporofit adalah spora haploid. Spora tersebut tumbuh menjadi protonema, kemudian tumbuh menjadi gametofit haploid (n).

 Perkembangbiakan secara vegetatif dapat terjadi dengan banyak cara, antara lain :

1. Membentuk tunas pada pangkal batang dan selanjutnya tunas terlepas dan berkembang menjadi individu baru.

2. Membentuk stolon.

3. Batang lumut yang bercabang-cabang mati, lalu cabangnya tumbuh dan berkembang menjadi individu baru.

4. Protonema primer membentuk individu baru.

5. Protonema putus-putus menjadi banyak protonema, dan

6. Membentuk kuncup.

Reproduksi generatif

Terjadi dengan adanya penyatuan gamet jantan (spermatozoid) dan gamet betina (ovum).

Spermatozoid bergerak dengan perantara air menuju ovum pada arkegonium. Spermatozoid kemudian bertemu dan membuahi ovum (fertilisasi). Pembuahan menghasilkan zigot yang diploid. Zigot membelah menjadi embrio yang kemudian tumbuh menjadi sporofit yang diploid (2n).

Reproduksi vegetatif dan generatif berlangsung secara bergantian melalui suatu pergiliran keturunan yang disebut metagenesis.

Jika anteredium dan arkegonium berada dalam satu individu, tumbuhan lumut disebut berumah satu (monoesis) dan jika dalam satu individu hanya terdapat anteredium atau arkegonium saja disebut berumah dua (diesis).

 

siklus hidup lumut

siklus hidup lumut

Dalam sikius hidupnya, lumut mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) antara generasi gametofit yang berkromosom haploid (n) dengan generasi sporofit yang berkromosom diploid (2n). Bentuk gametofit lebih sering kita temukan karena gametofit lebih dominan dan memiliki masa hidup yang lebih lama daripada bentuk sporofit. Metagenesis pada siklus hidup lumut daun dapat digambarkan sebagai berikut.

1)      Spora berkromosom haploid (n) yang jatuh di habitat yang cocok akan berkecambah, sel-selnya membelah secara mitosis, dan tumbuh menjadi protonema yang haploid (n).

2)      Protonema akan tumbuh menjadi gametofit (tumbuhan lumut) jantan dan betina yang haploid (n).

3)      Tumbuhan lumut yang sudah dewasa akan membentuk alat kelamin jantan (anteridium) dan alat kelamin betina (arkegonium).

4)      Anteridium menghasilkan spermatozoid berflagel yang berkromosom haploid (n). Arkegonium menghasilkan ovum yang berkromosom haploid (n). Ovum memproduksi zat gula dan protein yang merangsang pergerakan spermatozoid menuju ovum. Pergerakan spermatozoid disebut kemotaksis.

Gambar Skema Metagenesis siklus hidup lumut

Gambar Skema Metagenesis siklus hidup lumut

5)      Fertilisasi ovum oleh spermatozoid menghasilkan zigot yang berkromosom diploid (2n).

6)      Zigot mengalami pembelahan secara mitosis dan tumbuh menjadi embrio (2n).

7)      Embrio tumbuh menjadi sporofit yang diploid (2n).

8)      Sporofit akan membentuk sporogonium (2n) yang memiliki kotak spora (sporangium).

9)      Di dalam kotak spora terdapat sel induk spora diploid (2n) yang akan membelah secara meiosis dan menghasilkan spora-spora yang haploid (n).

Siklus hidup lumut daun

  • Siklus hidup lumut mengalami pergantian antara generasi haploid dengan diploid.
  • Sporofit pada umumnya lebih kecil, berumur pendek dan hidup tergantung pada gametofit.

Siklus hidup lumut hati

  • Siklus hidup lumut ini mirip dengan lumut daun yaitu dengan fase haploid dan diploid.
  • Didalam spongaria terdapat sel yang berbentuk gulungan disebut elatera. Elatera akan terlepas saat kapsul terbuka, sehingga membantu memencarkan spora.
  • Lumut ini juga dapat melakukan reproduksi dengan cara vegetatif dengan sel yang disebut gemma, yang merupakan struktur seperti mangkok dipermukaan gametofit.

Siklus hidup lumut tanduk

  • Secara generatif, dengan membentuk anteridium dan arkegonium. Anteridium dan arkegonium terkumpul pada suatu lekukan pada sisi atas talus.
  • Zigot mula-mula membelah menjadi dua sel dengan satu dinding pisah melintang.
  • Sel diatas terus membelah yang merupakan sporogonium yang diikuti oleh sel bagian bawah yang membelah terus menerus membentuk kaki yang berfungsi sebagai alat penghisap.
  • Bila sporogenium masak maka akan pecah seperti buah polongan, dan menghasilkan jaringan yang terdiri dari beberapa deretan sel-sel mandul yang dinamakan kolumela.
  • Sel-sel mandul ini diselubungi oleh sel jaringan yang kemudian menghasilkan spora, yang disebut arkespora.

Ciri-ciri Lumut Secara Umum

  • Dapat berfotosintesis, merupakan tumbuhan yang eukariotik dan multiseluler
  • Tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati ( talus )
  • Struktur tubuhnya masih sederhana sehingga tidak memiliki berkas pembuluh angkut ( xylem dan floem )
  • Lumut umumnya merupakan tumbuhan kecil, biasanya hanya beberapa mm sampai beberapa cm saja.
  • Ukuran tinggi tubuh ± 20 cm.
  • Mengalami pergiliran keturunan ( dari gametofit ke sporofit ) yang disebut metagenesis
  • Reproduksi secara generatif dan vegetatif ( spora )
  • Habitatnya di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifit ( organism yang hidup menempel pada tumbuhan lain ). jika pada hutan banyak pohon epifit maka hutan demikian disebut hutan lumut.
  • Tumbuhan lumut berwarna hijau karena mempunyai plastida yang menghasilkan klorofil a dan b sehingga lumut bersifat autotrof.
  • Tumbuhan lumut merupakan bentuk peralihan antara tumbuhan bertalus (talofita) dengan tumbuhan berkormus (kormofita). Karena tumbuhan lumut belum memiliki akar sejati.
  • Lumutmelekat dengan perantaraan rhizoid (akar semu). Rizoid berbentuk seperti benang /rambut untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap air dan garam-garam mineral.
  • Dinding sel lumut terdiri dari selulosa
  • Spora lumut tumbuh dan berkembang menjadi protonema (filament yang berwarna hijau)
  • Kromosom tumbuhan lumut bersifat haploid.
  • Batang dan daun tegak pada lumut memiliki susunan yang berbeda.
  • Lapisan lumut yang tebal dipermukaan batang dapat membantu menangkap dan menyimpan air serta menjaga kelembaban hutan.

Pada batang apabila dilihat secara melintang akan tampak susunan sebagai berikut,

  • Selapis sel kulit
  • Lapisan kulit dalam ( korteks )
  • Silinder pusat yang terdiri dari sel-sel parenkimatik yang memanjang untuk mengangkut air dan garam-garam mineral
  • Belum terdapat floem dan xylem.

Pada daun apabila dilihat secara melintang akan tampak susunan sebagai berikut,

  • Sel-sel daunnya kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala
  • Lumut hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak membesar, karena tidak ada sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong
  • Rhizoid seperti benang sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap garam-garam mineral.

Struktur sporofit (sporogonium) tubuh lumut terdiri atas:

1. Vaginula , kaki yang diselubungi sisa dinding arkegonium.

2. Seta atau tangkai.

3. Apofisis, yaitu ujung seta yang agak melebar yang merupakan peralihan antara seta   dan kotak spora.

4. Kaliptra atau tudung berasal dari dinding arkegonium sebelah atas menjadi tudung kotak spora.

5. Kolumela, jaringan yang tidak ikut mengambil bagian dalam pembentukan spora

23939388, 23939389, 23939390, 23939391, 23939392, 23939393, 23939394, 23939395, 23939396, 23939397, 23939398, 23939399, 23939400, 23939401, 23939402, 23939403, 23939404, 23939405, 23939406, 23939407, 23939408, 23939409, 23939410, 23939411, 23939412, 23939413, 23939414, 23939415, 23939416, 23939417, 23939418, 23939419, 23939420, 23939421, 23939422, 23939423, 23939424, 23939425, 23939426, 23939427