Please Smile!

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Cerita

Suatu hari yang cerah ada anak bernama Fatimah Azzahra Launi, panggil saja Fatimah, ia kelas 4 SDIT. Pagi itu, Fatimah sudah siap dengan memakai seragam merah putih gamisnya.

“Fatimah, ayo makan dulu!” bunda Fatimah memanggil Fatimah yang masih berada di kamarnya.
“Sebentar bunda!” Fatimah pergi keluar dari kamarnya sambil menggendong tas biru lautnya.
“Makan bun!” Fatimah menyapa bundanya dengan senyuman merona. Fatimah memang anak yang murah senyum.

“Fatimah ayo berangkat!” bunda Fatimah sudah siap di luar rumah dengan motor beatnya.
“Ayo bun, berangkat!” motor bunda Fatimah melesat pergi jauh dari rumah.

Lima menit kemudian, Fatimah sudah sampai di sekolahnya.
“Bun, Fatimah belajar dulu ya!”
“Ya sudah, nanti telat lho!”
Fatimah memasuki pagar sekolah sambil bersenandung riang.

Sampai di kelas, Fatimah kaget, di sebelah tempat duduknya, ada anak baru yang belum pernah ia lihat.
“Halo! Namamu siapa?” tanya Fatimah sambil tersenyum manis bak gulali.
“Hai! Namaku Jeny Mafulia Putri. Jeny” ia berkata sambil tersenyum tipis.
“Ohh! kamu anak baru ya? nanti kukenalkan ke semua orang yang kukenal, kan kamu anak baru”
“Oh makasih” Jeny tersenyum senang.

Ketika istirahat sekolah, Fatimah mengajak Jeny pergi ke kantin.
“Jeny perkenalkan ini bu kantin!” Fatimah tersenyum mengarah kepada bu kantin.
Jeny hanya mengangguk.

Esoknya, ada berita bahwa bu kantin meninggal dunia. Entah karena apa sebabnya, Fatimah merenung di dalam kelas sambil sesekali meneteskan air mata.
“Jeny, kamu tahu? bu kantin kemarin sudah meninggal!” ucap Fatimah terisak.
“Sudah! tak perlu bersedih, kan ada aku!” Jeny menenangkan Fatimah.

Ketika pulang sekolah, Fatimah memperkenalkan Jeny kepada tantenya. Fatimah tersenyum sambil memperkenalkan tantenya dengan Jeny. Tantenya terus tersenyum kepada Fatimah.

Esoknya, Fatimah dengar dari ibunya bahwa tantenya meninggal dunia. Fatimah kembali bersedih.
“Aku sudah tak tahan lagi, Jeny!” ungkap Fatimah kepada Jeny.
“Tenang saja! Masih ada aku, kita kan sahabat selamanya!”

Sepulangnya dari sekolah, Fatimah mengajak Jeny pergi ke rumahnya.
“Bun, ini Jeny bu!” Fatimah menyilahkan Jeny duduk, bunda Fatimah terus tersenyum kepada Fatimah.

Esoknya, ibu Fatimah dikabarkan meninggal, Fatimah bersedih mengingat masa lalunya bersama bunda tersayangnya.

Hari minggu, Fatimah pergi ke rumah Jeny, Ternyata, rumah Jeny gelap, Fatimah masuk ke rumah Jeny, Fatimah bertemu suatu ruangan di dalam rumah Jeny, Di dalam ruangan itu, terdapat setengah kepala bagian muka bu kantin, tantenya, dan bunda, Fatimah sugguh kaget.
“Fatimah! mengapa kau lancang masuk ke rumahku!” teriak Jeny dari arah belakang.
“Jadi, kau yang telah membunuh semua orang yang kucintai! Kau benar benar jahat Jeny!”
“Aku memang jahat Fatimah! Aku iri denganmu. Berkali kali orang tersenyum padamu tetapi tidak kepadaku”
“Bunuh aku Jeny!” Fatimah kesal saat itu. Sambil memegang pisau, Fatimah berteriak.
“Tidak silahkan kau yang bunuh aku!” tak ingin kalah, Jeny menyiapkan pisau. Keduanya bertarung sengit. Sampai akhirnya Fatimah terbunuh oleh pisau Jeny. Tak ingin lihat sahabatnya menderita, Jeny menusuk perutnya dengan pisau yang digenggamnya. Akhirnya bersama sama, mereka mati dengan bunuh membunuh sahabatnya sendiri.