Petualangan Aneh

By On Wednesday, March 15th, 2017 Categories : Cerita

Satu, dua, tiga… Cerita dimulai! Siang hari nampak terik. Satria melangkah menuju dapur. Dia lihat banyak sekali makanan enak. Bu Ratna ibu Satria memang pandai memasak. Tapi perut Satria masih kenyang, Dia tidak jadi makan.

Sore hari Satria kedapur. Dia melihat makanan enak itu masih menumpuk rapi. Wah pasti lezat nih? Tapi entar sajalah. Satria mau maen dulu ke rumah Edo dan Hasan.

Malam hari Satria benar-benar lapar. Dia menuju dapur, teringat masakan ibu yang enak-enak tadi. Tapi dia lihat meja makannya kosong. Hanya tersisa nasi segenggam di atas bakul. “Ibuuu! Dimana makanan yang enak-enak tadi? Sate ayam, Gulai kambing, Dan rendang sapi tadi lho?” Teriak Satria dari dapur. “Sudah habis! Tadi pamanmu datang rombongan bersama keluarganya. Mereka makan di sini” Jawab Bu Ratna dari depan layar televisi di ruang tamu. “Tapi Satria belum makan! Ini cuma tinggal nasi doang segenggam” Kata Satria penuh harap. “Ya itu saja makan, taburi garam di atasnya! Sudah malam ibu malas masak, ibu lagi nonton sinetron. Jangan diganggu!” Kata Bu Ratna dengan mata terus menatap ke arah layar televisi. “Huuuuu! Ibu..” Satria melangkah lunglai ke dalam kamarnya tanpa menoleh sedikitpun pada ibunya. Klik! Ditutupnya pintu kamarnya rapat-rapat dan dikunci dari dalam.

Nampak Satria, Edo, Dan Hasan sedang duduk di atas sebuah perahu tradisional bersama seorang pemandu. Matahari hampir tenggelam, senja yang indah di tengah pantai Lovina Bali. Tiga ember ikan kecil sudah ada di hadapan mereka bertiga. Ya, mereka mau melihat lumba-lumba di pantai itu. Dan ikan-ikan kecil di ember itu adalah makanan lumba-lumba. Perahu mereka melaju diikuti puluhan lumba-lumba yang saling berlompatan. Akhirnya perahu berhenti. Ketiganya menyodorkan ikan kecil ke pinggir perahu, lumba-lumba berebutan memakan ikan-ikan yang ada di tangan Satria dan Edo. Tapi tidak dengan ikan yang ada di tangan Hasan, aneh! Hingga ikan milik Satria dan Edo habis, lalu lumba-lumba itu pergi menghilang, tak satu pun ikan milik Hasan yang dimakan. “Pak! Kok ikan saya tidak ada yang mau makan? Salah saya apa?” Tanya Hasan penasaran pada pemandu perahu. “Oh itu? Kamu dikira temannya. Kamu dikira lumba-lumba juga. Kamu kan gendut! Dan mereka tidak mau merebut makanan milik teman hehehe” Jawab pemandu perahu polos. Oooooo, Satria dan Edo saling berpandangan dan tertawa cekikikan hihihi. Hasan langsung membuang ikan-ikan kecil itu ketengah laut bersama embernya. Byur!

Kali ini Satria berada di dalam pesawat terbang bersama Edo dan Hasan. Tujuannya adalah kota Sabang. Mereka bertiga sempat tertidur sejenak di kursinya. Tiba-tiba Edo membuka sabuk pengamannya dan melangkah menuju pintu keluar pesawat. Dia coba buka pintu itu berkali-kali, tapi tetap tidak terbuka. Seorang pramugari mendatanginya dan bertanya, “Mau kemana mas?”. Edo menoleh, “Ini mbak pintunya tidak bisa dibuka! Saya mau keluar sebentar, mau ke warung untuk beli makanan” Jawab Edo. “Oh pintunya tidak bisa dibuka mas! Otomatis, hanya pilot yang bisa membuka pintunya. Lagian kita sekarang lagi berada di udara, di angkasa. Entar kamu jatuh ke bawah kalau ke luar” Kata pramugari memberikan penjelasan. “Diudara? Angkasa? Maksudnya gimana mbak?” Tanya Edo penasaran. “Kita sekarang ada di langit, kita sedang terbang. Kamu balik saja kekursinya! Makanan tinggal pesan nanti saya antarkan pesanannya” Kata pramugari. Edo langsung jongkok. Langit? Terbang? Aduh tanah mana ya? Edo kembali ke kursinya dengan merangkak pelan-pelan karena takut jatuh dari langit.

Pesawat terbang mendarat. Pintu keluar terbuka, tangga turun terpasang. Ketiganya berebutan keluar pesawat karena takut ketinggian. Nampak di depan mereka rombongan penari adat menari diiringi musik tabuh menyambutnya. Nampak juga tiga orang gadis sedang membawa kalungan bunga untuk dikalungkan. Hore! Ketiga remaja itu berlari mendekati rombongan penari. Tapi rombongan itu acuh, tidak ada yang mengalungkan bunga. Ternyata mereka mau menyambut kedatangan menteri yang ada di belakang Satria dan teman-temannya. Kebetulan satu pesawat.

Sampai di luar bandara Satria terkagum-kagum dengan seseorang yang sedang mengangkat sebuah papan bertuliskan ‘Satria Edo Hasan’. Mereka kegirangan. “Hei lihat! Kita punya fans, mirip artis. Nama kita ditulis di papan sambil diangkat tinggi-tinggi!” Kata Satria. (Itu petugas taksi/travel bro!)

Dari Sabang sampai merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Setelah terbang kekota Sabang, Satria dan teman-temannya terbang ke Merauke. Lalu dari Merauke Satria dan teman-temannya pulang kerumah menumpang dengan sebuah kapal laut. Malam sangat gelap. Sebuah cipratan air laut mengenai lengan Satria. Dia baru sadar kalau kapal itu ternyata miring dan mau tenggelam. Satria meraih sebuah pelampung, Edo juga meraihnya, Hasan pun ikut-ikutan. Sebuah ombak setinggi gunung menghempaskan tiga remaja dalam satu pelampung itu ke pasir pantai sebuah pulau kosong. Mereka terpencar. Hasan ditemukan suku pedalaman pulau itu. Dia dikasih makan yang enak-enak biar tambah gendut, lalu diikat di sebuah tiang untuk dibakar dan dijadikan santapan. Aaaaaaa! Hasan berteriak ketakutan. Edo mendengarnya, dia mencari-cari jalan di hutan yang lebat itu untuk menuju suara Hasan. Tapi sial, Edo menginjak lumpur rawa penghisap. Lama kelamaan tubuh Edo tenggelam kedalam lumpur rawa penghisap itu. Dia berteriak ketakutan. Aaaaaaaa! Satria yang terdampar dipinggir pantai mendengarnya. Belum sempat Satria mencari asal suara Edo, datanglah seekor harimau loreng mendatanginya sambil mengaum auuuummm. Disusul binatang-binatang lain mengelilinginya. Ada gajah, ular, banteng, kera, burung, buaya dan lain-lainnya. Mereka terlihat sangat buas dan marah. Juga nampak ikan paus besar di tengah lautan sedang menyemburkan air dari kepalanya, dan ikan-ikan hiu yang menampakkan siripnya. ‘Jangan siksa kami! Jangan ganggu kami! Atau kamu akan kami makan… Hahahaha” Kata binatang-binatang itu pada Satria. Aaaaaaaaa! Ibuuuuuuuu! Satria berteriak sekuat tenaga. Tok tok tok! “Satria! Buka pintunya! Kenapa pintunya dikunci? Cepat bangun terus sekolah!”. Samar-samar Satria mendengar suara ibunya dari luar kamar. Dia membuka matanya. Ternyata hanya mimpi (Huft!)

Baca Juga

Prilly Latuconsina Datang ke Premiere Film Danur, Netizen Malah Salfok dengan Dadanya

Seramnya Film Horor Danur 2017

Ngerinya Serangan Terror di Westminster

Bahaya Skinny Jeans Yang Wajib Kamu Tau!!

Penampakan Wajah Seram di Bendungan

Article / informasi tentang Petualangan Aneh yang disadur dari berbagai sumber yang ada di internet. Semoga informasi mengenai Petualangan Aneh yang sedikit ini dapat berguna dan bermanfaat untuk Anda khususnya, dan untuk semua pembaca yang tengah mencari pembahasan tentang Petualangan Aneh pada umumnya.