Persahabatan Dalam Imajinasi

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Di tengah pasar yang ramai, di salah satu kios yang dijadikan tempat tinggal sekaligus tempat berdagang, hiduplah seorang gadis yang bernama Revi, gadis penurut dan pendiam ini dibesarkan oleh tantenya, salah satu pedagang kue di pasar tradisional yang terkenal judes. Revi sama sekali tidak menikmati masa remajanya bersama teman-temannya, ia hanya sibuk dengan pekerjaan rumah.

Suatu hari saat Revi sedang menimba air di toilet umum yang jauh dari tempat kediaman warga, terdengar suara gaduh yang membuat Revi penasaran dan mencoba memastikan suara itu datang dari arah mana. Revi dikejutkan dengan seorang wanita separuh baya yang tergeletak tepat di depan pintu toilet, Revi yang panik pun segera membawa wanita itu ke rumahnya, walau ia tau tantenya pasti akan marah melihat ada orang lain masuk ke dalam rumahnya, tetapi Revi tidak peduli sama sekali.

Setelah sampai di dalam rumah yang sedikit kotor karena berlokasi di dalam pasar, Revi segera membuatkan teh hangat untuk wanita separuh baya yang sekarang berada di kamar Revi. “Kakak siapa? Kakak sakit? Muka kakak pucat lho! Kok kakak lagi sakit tapi gak istirahat di rumah? Ini kan sudah malam!” Tegur Revi ketika melihat wanita separuh baya itu siuman. “Aku Deby, aku gak punya tempat tinggal. Aku diusir dari rumah! Aku sendirian, aku takut!!” Jawab wanita separuh baya itu sambil menyeruput teh hangat buatan Revi. “Reviii… aduh rumah berantakan banget!!! Ngapain aja sih di rumah?” Teriak tante Revi ketika membuka pintu rumah. “Kakak di sini dulu ya?! Jangan keluar dari kamar!” Perintah Revi dan bergegas keluar kamar. Revi yang cemas akan keberadaan Deby di rumahnya itu, berulang kali ia melongok ke arah pintu kamarnya untuk memastikan kalau Deby tidak akan keluar kamar. Ketika pekerjaan rumah selesai, Revi bergegas masuk kamar dan tertidur di sebelah Deby yang sudah terlelap dengan selimut menutupi setengah tubuhnya.

Suara adzan subuh membangunkan Revi, dan Revi bergegas mandi untuk sholat subuh, tanpa ia menyadari kalau Deby tidak ada di sebelahnya. Seusai Revi menjalankan subuh, ia baru menyadari kalau Deby tidak berada di kamarnya sejak tadi, Revi pun mulai kelimpungan mencari keberadaan Deby, karena Revi tak ingin sampai tantenya mengetahui keberadaan Deby disini. “Ree.. bantuin tante bawa-bawain kue ke depan!! cepetan udah mau jam 6 nih, nanti keburu ramai.” Perintahnya. Revi tanpa mikir panjang langsung bergegas melaksanakan perintah tantenya. Revi menata kue-kue nya dengan sangat rapi, setelah tugasnya selesai, Revi membersihkan dapur yang kotor dengan adonan. Revi terkejut melihat Deby berdiri dan tersenyum di depan pintu kamar Revi, “kakak tadi kemana aja? Kakak pergi kok gak pamit? Aku masakin sarapan ya buat kakak?!” Revi bergegas membeli bahan makanan untuk dimasak. Tak lama kemudian Revi pulang dengan membawa bahan makanan, dan Revi pun mulai memasak. Revi dan Deby saling membantu, mereka saling bertukar cerita, bahkan menyempatkan diri untuk bercanda. Makanan pun siap untuk dihidangkan, Revi dan Deby menyantap makanannya dengan lahap.

Selesai makan, Revi mencuci piring dan membereskan rumah sebelum tantenya kembali ke rumah. Tak terasa jarum jam mengarah ke angka 12.00, Revi berpamitan kepada Deby untuk membersihkan diri dan berwudhu, “kak sebentar ya aku mau wudhu dulu.”

Ketika Revi selesai wudhu dan kembali ke kamarnya, dilihatnya Deby sedang asyik menulis di sebuah buku harian milik Revi. “Maaf ya, aku gak sengaja nemuin buku ini, aku boleh kan ikutan nulis di sini?” Ucap Deby dengan senyuman manisnya. “Iya pake aja gak papa kok! Aku sholat diruang tamu dulu ya!” Lanjut Revi. Selesai sholat, Revi kembali ke kamar dan mereka pun saling bertukar cerita sampai lupa waktu.

Keesokan harinya, di pagi buta, tante membangunkan Revi dan menyuruhnya belanja bahan-bahan dagangan yang sudah hampir habis, kebetulan di pasar tempat mereka tinggal itu pedagangnya banyak yang sedang pulang kampung, jadi terpaksa Revi harus belanja di pasar lain yang lokasinya lumayan jauh.

Setelah selesai belanja, Revi bergegas pulang dan ingin cepat sampai di rumah. Sesampainya di rumah, Revi pun kembali ke kamar dan melanjutkan kisah persahabatannya bersama Deby.

Bulan pun terus berlalu, pasar yang semakin sepi karena banyak yang pindah ke kampung, tantenya semakin heran dengan keadaan kamar Revi yang mencurigakan. Padahal Revi baru saja meninggal kecelakaan beberapa bulan yang lalu, saat Revi yang terburu-buru berjalan dari arah tempat ia belanja, ia tertabrak truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi, tetapi di kamar Revi seperti terdengar suara 2 orang yang sedang melakukan percakapan.
“Siapa mereka ini? Kenapa selalu terdengar suara mereka dari kamar Revi? Apa arwah Revi gentayangan? Tetapi, siapa yang satunya lagi?” Cakapnya dalam hati, dan terus bertanya-tanya.

Setelah tantenya bercerita kepada tetangganya yang bernama Nindi, Nindi pun sempat heran, “dulu ya bu, sebelum Revi meninggal dunia, Revi suka ngomong sendiri di dekat sumur, ia juga sering menyebutkan nama Deby. Entah Deby itu siapa?! Tapi kayanya Revi kenal deket!!” Jelas Nindi. Tante pun semakin bingung dengan semuanya, sang tante pun mulai mencari tahu siapa itu Deby?!

Ketika sang tante sedang mengantar kue di seberang pasar, tidak sengaja didengarnya cerita tentang perempuan yang bernama Deby, tante pun langsung menanyakan siapa itu Deby?! Ternyata Deby itu adalah seorang anak Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terkenal cerdas, tetapi sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya, Deby diusir dari rumah, dan bunuh diri dengan cara menjatuhkan dirinya kedalam sumur, tempat Deby dan Revi bertemu. Dari situlah persahabatan yang tidak pernah terlihat bentuk wujud dan fisiknya, tetapi mereka benar-benar ada. Seperti sebuah imajinasi, yang hanya bisa dibayangkan seperti apa mereka sekarang? Kenapa mereka bisa bersahabat walaupun pada awalnya mereka beda dunia? Dan kenapa Revi lebih memilih ikut ke dalam dunianya Deby? Yang jelas peran keluarga itu penting! Revi dan Deby sama-sama kurang kasih sayang dari keluarganya masing-masing, sehingga ketika mereka bertemu, terbentuklah persahabatan dalam IMAJINASI