Perlawanan Menentang Penjajah: Perang Maluku (1817)

Sri Widayati Jumat, 04 Juni 2010 13:27 WIB Sains
Advertisement

(Perang Maluku, Kapiten Patimura) – Ketika Belanda kembali berkuasa pada tahun 1817, monopoli diberlakukan lagi. Diberlakukan lagi sistem ekonomi uang kertas yang sangat dibenci dan keluar perintah sistem kerja paksa (rodi).

Belanda tampaknya juga tidak mau menyokong dan memerhatikan keberadaan gereja Protestan dan pengelolaan sekolahsekolah protestan secara layak. Inilah penyebab utama meletusnya Perang Maluku yang dipimpin Kapitan Pattimura.

Pada tanggal 15 Mei 1817, pasukan Pattimura mengadakan penyerbuan ke Benteng Duurstede. Dalam penyerangan tersebut, Benteng Duurstede dapat diduduki oleh pasukan Pattimura bahkan residen van den Berg beserta keluarganya tewas.

Tentara Belanda yang tersisa dalam benteng tersebut menyerahkan diri. Dalam penyerbuan itu, Pattimura dibantu oleh Anthonie Rheebok, Christina Martha Tiahahu, Philip Latumahina, dan Kapitan Said Printah.

Berkat siasat Belanda yang berhasil membujuk Raja Booi, pada tanggal 11 November 1817, Thomas Matulessy atau yang akrab dikenal dengan gelar Kapitan Pattimura berhasil ditangkap di perbatasan hutan Booi dan Haria. Akhirnya vonis hukuman gantung dijatuhkan kepada empat pemimpin, yaitu Thomas Matullessy atau Kapitan Pattimura, Anthonie Rheebok, Said Printah, dan Philip Latumahina. Eksekusi hukuman gantung sampai mati dilaksanakan pada pukul 07.00 tanggal 10 Desember 1817 disaksikan rakyat Ambon.

(Pengetahuan: Kapitan Pattimura nama aslinya adalah Thomas Matullesy. Dilahirkan pada tahun 1783 di negeri Haria, buah perkawinan dari Frans Matulessy dan Fransina Silahoi. Thomas memiliki saudara kandung yang bernama Johannis Matulessy.

Mereka kakak beradik memiliki tekad perjuangan yang sama. Nama Kapitan Pattimura merupakan nama gelar mewarisi gelar dari moyangnya.)

Kapitan Patimura

Kapitan Patimura Sumber: Album Pahlawan Indonesia, 2004