Perkembangan Internet dan Strategi Pemanfaatannya di Perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Sains
I. Pendahuluan
Internet merupakan suatu fenomena yang luar biasa. Berawal dari sebuah eksperimen militer di Amerika Serikat, internet telah berkembang menjadi ?kebutuhan? bagi lebih dari puluhan juta orang di seluruh dunia. Hal ini merupakan konsekuensi dari semakin murahnya biaya yang dibutuhkan bagi teknologi komputasi dan komunikasi serta ketersediaan perangkat lunak yang mudah untuk dioperasionalkan.  Selain itu tentu saja karena keterlibatan kepentingan perusahaan-perusahaan besar dalam pengembangan teknologi tersebut.
Jumlah pengguna internet yang besar dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu dan pandangan dunia. Dengan memanfaatkan mesin pencari (search engine)  seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Internet melambangkan penyebaran (decentralization) / pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara cepat. Perkembangan internet juga telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Bermacam transaksi jual beli yang sebelumnya hanya dapat dilakukan dengan cara tatap muka, kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui internet dengan telah banyaknya on-line store (toko/gerai on-line). Transaksi melalui internet ini dikenal dengan nama e-commerce.  Dalam bidang pemerintahan, internet juga memicu tumbuhnya transparansi pelaksanaan pemerintahan melalui e-government.
Dalam bidang perpustakaan, internet telah memacu perpustakaan untuk meningkatkan layanan dan koleksinya melalui e-library  (perpustakaan digital).  Jika sebelumnya, informasi berbasis cetak merupakan primadona perpustakaan tradisional, sekarang tersedia format baru dalam bentuk digital melalui internet. Koleksi digital yang dapat diakses secara elektronik dan disebut perpustakaan digital, keberadaannya semakin penting dalam pemenuhan kebutuhan informasi pengguna.  Di lingkungan lembaga penelitian seperti halnya Perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, ketersediaan bahan jenis ini semakin dirasakan manfaatnya oleh para peneliti yang sebelumnya kurang memiliki akses terhadap publikasi mutakhir dalam bidang mereka. Terutama bagi para peneliti yang tersebar di Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh wilayah Indonesia.
Fenomena tersebut  akan berpengaruh pada peran perpustakaan di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pengguna perpustakaan akan semakin tergantung pada internet dengan beberapa alasan seperti biaya, ketersediaan, dan kecepatan pemerolehan. Bahkan pada tingkat tertentu, kemungkinan ketergantungan pada bahan digital akan lebih tinggi dibandingkan terhadap bahan cetak.
Oleh karena itu, paradigma bahwa suatu perpustakaan hanya menyediakan informasi cetak harus diubah ke paradigma perpustakaan juga menyediakan informasi digital terutama yang tidak tersedia dalam bentuk cetak.
Atas dasar latar belakang tersebut maka diperlukan pengembangan sistem informasi digital perpustakaan berupa website perpustakaan, OPAC berbasis web, dan e-journal.
Berdasarkan perubahan dan perkembangan diatas maka pertanyaan yang timbul yaitu bagaimana strategi  Perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dalam memanfaatkan internet?
II. Strategi Perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dalam Memanfaatkan Internet

A. Teknologi Internet
Fitur-fitur yang ditawarkan  internet dan jamak dimanfaatkan oleh pengguna  antara lain:
Search engine  atau mesin pencari. Merupakan teknologi yang paling popular. Cukup dengan mengetikkan kata kunci sesuai yang kita inginkan maka akan didapatkan informasi dengan cepat.
E-mail dan mailing list. Internet menawarkan fasilitas e-mail (surat elektronik) yang dapat dimanfaatkan secara gratis. Dengan e-mail pengguna dapat mendaftar maupun membentuk suatu grup yang mempunyai ketertarikan pada topik yang sama berupa mailing list.
Forum diskusi, Internet juga menyediakan berbagai forum diskusi. Dengan fitur ini memungkinkan pengguna untuk melakukan diskusi dengan pengguna lain tentang berbagai topik dalam suatu forum diskusi.
Website. Secara terminologi, website adalah kumpulan dari halaman-halaman situs, yang biasanya terangkum dalam sebuah domain atau subdomain, yang tempatnya berada di dalam World Wide Web (WWW) di internet. Sebuah website bisanya berupa hasil kerja dari perorangan atau individu, atau menunjukkan kepemilikan dari sebuah organisasi, perusahaan, dan biasanya website itu menunjukkan beberapa topik khusus, atau kepentingan tertentu.
On-line Journal atau jurnal online, merupakan versi on-line dari jurnal. Pengguna dapat mengakses isi dari suatu jurnal baik itu hanya terbatas abstraknya saja maupun keseluruhan teks dari artikel jurnal tersebut (fulltext). Penyedia jurnal online biasanya mensyaratkan pengguna untuk terlebih dahulu membayar maupun berlangganan dalam mengakses fulltext jurnal,  namun tidak sedikit pula yang menggratiskannya.
Messaging. Dengan fitur ini pengguna dapat  mengirimkan pesan secara online maupun melakukan obrolan (chatting) melalui fasilitas instant messaging. Contoh instant messaging antara lain Yahoo Messenger, Skype, ICQ, dll.
Selain fitur-fitur teknologi internet yang telah dikemukakan di atas, beberapa teknologi internet yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi diantaranya adalah:
RSS, Real Simple Syndication atau Rich Site Summary  (RSS) dapat digunakan untuk menyebarkan informasi di internet, maupun membaca ringkasan dari content  di internet. Contohnya dengan membuka account  Google Reader, pengguna dapat memanfaatkan fitur RSS ini dengan mendaftarkan beberapa website ataupun blog yang diminati.  Pengguna akan dapat mengetahui  ringkasan update terbaru dari setiap website yang telah kita daftarkan tersebut dari satu tempat tanpa perlu mengunjungi website-website tersebut satu persatu.
Social Bookmarking Tools.  Fitur ini bisa digunakan untuk mengelola penanda/bookmark pribadi atau memanfaatkan bookmark orang lain untuk mencari informasi yang diperlukan. Beberapa website yang merupakan social bookmark antara lain:  del.cio.us,  digg.com, connotea.org, technorati.com.
Teknologi Web 2.0., merupakan teknologi generasi kedua layanan internet. Teknologi ini memungkinkan partisipasi lebih dari pengguna Internet. Seperti Wikipedia maupun Blog yang memungkinkan pengguna internet untuk aktif perpartisipasi.  Situs jejaring sosial juga masuk dalam kategori ini. Facebook, Friendster, Flickr dan  Twitter mengadopsi teknologi ini. Web 2.0 kian hari kian populer sebagaimana booming  Facebook dalam setahun terakhir ini.
B. Perpustakaan Digital
Perpustakaan digital (digital library atau electronic library ataupun virtual library ) merupakan perpustakaan yang memiliki koleksi  sebagian besar dalam bentuk format digital dan dapat diakses dengan komputer. Jenis perpustakaan ini berbeda dengan jenis perpustakaan konvensional yang berupa kumpulan buku tercetak, film mikro (microform dan microfiche), ataupun kumpulan kaset audio, video, dan lain-lain (Grenstein, 2002).  Isi dari perpustakaan digital berada dalam suatu komputer server yang bisa ditempatkan secara lokal, maupun di lokasi yang jauh, namun dapat diakses dengan cepat dan mudah lewat jaringan komputer.
C. Library 2.0.
Jack M. Mannes (2006) mendefinisikan  Library 2.0 sebagai aplikasi teknologi berbasis web yang interaktif, kolaboratif serta multi media dalam koleksi dan layanan perpustakaan berbasis web. Menurut Michael E. Casey fokus utamanya adalah berpusat kepada pengguna dan memerlukan partisipasi aktif dari dan antar penggunanya dengan memanfaatkan teknologi informasi. Penggunaan sistem OPAC  dan layanan yang memungkinan timbal balik dari pengunanya merupakan aplikasi Library 2.0.
D. Perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan kehutanan selanjutnya disingkat Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan, merupakan salah satu perpustakaan khusus yang bertugas untuk menunjang tugas lembaga induknya yaitu Badan Penelitian Kehutanan. Visi Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan adalah menjadi lembaga terkemuka dalam penyediaan jasa informasi dan di seminasi hasil-hasil litbang.
Adapun misi Perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan sebagai berikut:
1. Mendukung peningkatan penelitian di Badan Litbang Kehutanan dan juga masyarakat, serta meningkatkan motivasi belajar pada peneliti.
2. Meningkatkan peran dan manfaat perpustakaan dalam pengembangan penguasaan IPTEK Kehutanan.
3. Meningkatkan pemanfaatan informasi dan teknologi hasil litbang sebagai bahan kebijakan pembangunan kehutanan.
Sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan khusus memberikan layanan kepada pemustaka di lingkungannya dan secara terbatas memberikan layanan diluar lingkungannya. Pemustaka Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan adalah seluruh pegawai dan staf yang tersebar di Unit Pelaksana Teknis yang ada diseluruh wilayah Indonesia. Yang menjadi pemustaka utama adalah peneliti. Untuk meningkatkan layanan perpustakaan dan seiring dengan kemajuan teknologi internet seperti dipaparkan diatas, maka Perpustakaan Badan Litbang Kehutananan perlu menjawab tantangan ini.
E. Strategi Pemanfaatan Internet
Sebagaimana langkah awal dalam menyusun strategi maka dilakukan beberapa analisa faktor-faktor eksternal dan internal melalui analisa SWOT yang terdiri Strengh (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang) dan Treats (Ancaman). Analisa SWOT dalam strategi pendayagunaan  internet di Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan, adalah sebagai berikut:
1. Strengh (Kekuatan)
a) Infrastruktur. Dukungan infrastruktur berupa koneksi internet yang memadai, Local Area Network (LAN) serta fasilitas berupa komputer yang compatible untuk operator mapun server yang tersedia di Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan merupakan kekuatan internal dalam pemanfaatan internet secara optimal.
b) Anggaran. Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan sebagai instasi pemerintah didukung oleh anggaran rutin yang memungkinkan kegiatan operasional perpustakaan tetap berjalan lancar, terutama untuk melakukan pemeliharaan website perpustakaan dan kegiatan alih media koleksi pustaka, serta untuk melanggan jurnal on-line.
c) Sumber Daya Manusia. Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan dikelola oleh tenaga fungsional pustakawan yang berjumlah 5 orang dan 1 orang staf teknologi informasi  serta staf administrasi perpustakaan sebanyak 4 orang. Komposisi ini merupakan kekuatan yang dapat dioptimalkan dalam pelayanan perpustakaan berbasis internet/web.
d) Otomasi perpustakaan. Perpustakaan telah dibangun dengan sistem otomasi perpustakaan dengan menggunakan perangkat lunak WINISIS dan sistem sirkulasi menggunakan perangkat lunak SIPISIS. Penelusuran dilakukan dengan Online Public Acces Catalog. Telah tersedia website perpustakaan (http://library.forda-mof.org/libforda).
e) Struktur Organisasi. Sejak tahun 2004, dalam struktur organisasi Badan Litbang Kehutanan, perpustakaan berada pada tingkat eselon 4 yang dipimpin oleh Kepala Sub Bagian Perpustakaan.  Kondisi ini lebih baik dari era sebelumnya dimana perpustakaan belum masuk dalam struktur organisasi.
f) Koleksi. Koleksi perpustakaan terdiri dari berbagai jenis berupa koleksi buku teks, referens, jurnal, peta, audio visual dan lain-lain. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi khusus  berupa hasil penelitian Badan Penelitian Kehutanan yang telah dipublikasikan maupun belum.
2. Weakness (Kelemahan)
a) Kebijakan. Belum adanya kebijakan dalam pengembangan perpustakaan yang komprehensif yang dituangkan dalam suatu pedoman. Baik itu kebijakan dalam manajemen perpustakaan, kebijakan pengembangan koleksi, kebijakan pelayanan serta kebijakan pengembangan perpustakaan berbasis internet. Hal ini merupakan kelemahan karena memungkinkan terjadinya inkonsistensi dalam pengembangan perpustakaan terutama dalam pemanfaatan internet.
b) Sumber Daya Manusia. Selain merupakan kekuatan, faktor SDM juga merupakan kelemahan. Pemanfaatan teknologi internet dalam meningkatkan pelayanan kepada pemustaka memerluka pengetahuan dan skill  dalam bidang teknologi informasi. Tidak semua tenaga pengelola perpustakaan (pustakawan) memiliki pengetahuan dan skill yang memadai dalam bidang ini.
c) Anggaran. Meskipun anggaran rutin perpustakaan telah tersedia setiap tahunnya, namun anggaran tersebut masih terbatas untuk kegiatan operasional. Anggaran untuk pengembangan pelayanan perpustakaan berbasis web dan peningkatan kapabilitas pustakawan dalam bidang teknologi informasi.
d) Pemustaka. Tersebarnya pemustaka dalam wilayah geografis yang berbeda seagaimana tersebarnya Unit Pelaksana Teknis Badan Litbang Kehutanan di seluruh wilayah Indonesia
3. Opportunity (Kesempatan)
a) Pendidikan lanjutan. Untuk meningkatkan SDM yang capable dalam bidang teknologi informasi, terbuka kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan formal jenjang yang lebih tinggi  bagi pustakawan.
b) Pelatihan/Training. Selain pendidikan formal, pelatihan/training informal dapat dijadikan peluang untuk meningkatkan layanan perpustakaan berbasis internet.
c) Kemajuan teknologi informasi dan perpustakaan digital, memacu perpustakaan dalam mengembangkan perpustakaan digital.
d) Free Online Journal. Banyaknya vendor jurnal on-line yang menggratiskan content ?nya berupa artikel fulltext. Hal ini merupakan peluang bagi pustakawan untuk selalu aktif melakukan penelusuran informasi dalam rangka menyediakan informasi yang relevan bagi kebutuhan pemustaka.
e) Fitur-fitur internet. Berbagai fitur yang disediakan oleh teknologi internet seperti search engine, e-mail, mailing list, instant messaging, RSS, social bookmarking, dan lain-lain dapat dijadikan sarana dalam peningkatan kualitas layanan perpustakaan berbasis web.
f) Teknologi Web 2.0. Akhir-akhir ini banyak situs jejaring sosial yang marak digunakan, seperti Facebook, Friendster, Twitter dan lain-lain. Pemustaka pun telah banyak yang bergabung ke dalam situs jejaring sosial tersebut.  Perpustakaan dapat memanfaatkan teknologi ini sebagai sarana promosi perpustakaan dan penyebaran informasi terbaru.
g) Kerjasama antar perpustakaan. Dengan semakin eksisnya perpustakaan di ranah maya, maka peluang kerjasama dengan perpustakaan lain dapat dimungkinkan. Baik itu kerjasama resource sharing maupun silang layan perpustakaan.
4. Treats (Ancaman)
a) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Undang-undang yang belum lama disyahkan oleh DPR ini merupaka undang-undang yang mengatur perlindungan hukum atas kegiatan yang memanfaatkan internet sebagai medianya, baik transaksi maupun pemanfaatan informasinya. Banyak kalangan yang menilai bahwa undang-undang justru mengekang kebebasan untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi utamanya melalui media internet.
b) Perkembangan Teknologi Informasi. Apabila perpustakaan  lengah dan terlambat menyikapinya maka ini akan menjadi sebuah ancaman. Tidak adanya inovasi yang terus menerus maka apa yang telah dilakukan selama ini tak ubahnya teknologi yang ketinggalan jaman
c) Kurangnya Minat Pemustaka. Bukan rahasia lagi bahwa minat masyarakat  Indonesia untuk mengunjungi perpustakaan masih sangat rendah. Begitu juga dengan peneliti, dengan berbagai macam alasan peneliti masih enggan memanfaatkan perpustakaan. Hal ini merupakan ancaman karena sebaik apapun perpustakaan yang telah kita bangun tidak akan berguna apabila tidak dimanfaatkan dengan maksimal.
d) Kurangnya Literasi Informasi. Literasi informasi sering diterjemahkan sebagai keberaksaraan informasi atau melek informasi. Yaitu serangkaian kemampuan untuk menyadari kebutuhan informasi dan kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi, memanfaatkan secara etis, dan mengkomunikasikan secara efektif. Literasi informasi terkait erat dengan teknologi informasi dan komunikasi.
Berdasarkan analisa SWOT diatas dan mencermati visi dan misi Perpustakaan di Badan Litbang Kehutanan maka isu strategis dalam pendayagunaan Internet oleh adalah sebagai berikut:
1. Penyediaan sarana layanan akses internet merupakan suatu keharusan untuk mendorong peningkatan pemanfaatan internet yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan penelitian di Badan Litbang Kehutanan dan juga masyarakat.
2. Pengembangan perpustakaan digital dan penelusuran jurnal on-line untuk mendorong peningkatan kualitas karya yang dihasilkan oleh peneliti maupun staf lainnya dalam pengembangan penguasaan IPTEK Kehutanan.
3. Penyediaan infrastruktur internet di lingkungan Badan Litbang Kehutanan baik di Pusat maupun UPT akan meningkatkan efisiensi penyediaan layanan akses dan publikasi elektronik disamping fungsi komunikasi dan sistem informasi manajemen.
4. Kolaborasi antara Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan dengan UPT sesuai dengan fungsinya masing-masing untuk mengembangkan suatu pelayanan informasi berbasis web yang sesuai dengan harapan pemustaka (peneliti).
5. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (pustakawan) sebagai pengelola informasi di Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan sehingga dapat memberikan pelayanan yang efektif, optimal dan efisien dalam rangka peningkatan pemanfaatan informasi dan teknologi hasil litbang dalam pembuatan kebijakan kehutanan.
III. Kesimpulan
Perkembangan internet telah berpengaruh dalam berbagai bidang, baik  ekonomi, sosial, budaya maupun pemerintahan. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu dan pandangan dunia. Internet melambangkan penyebaran (decentralization) /pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara cepat.  Kemajuan teknologi komunikasi dan ledakan informasi membuat pengguna memiliki berbagai alternatif dalam mendapatkan informasi. Internet menawarkan berbagai fitur yang dapat dimanfaatkan dalam penelusuran informasi. Perpustakaan harus mampu memainkan peranan aktif dan penting seiring dengan perkembangan perpustakaan digital dan Library 2.0.
Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan dapat memanfaatkan kekuatan dan peluang untuk mengantisipasi kelemahan  dan ancaman yang dimiliki dalam pemanfaatan Internet.  Strategi pemanfaatan internet di Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan adalah dengan membangun situs web http://library.forda-mof.org/libforda yang menampilkan OPAC, e-journal, dan aplikasi perpustakaan digital. Selain itu Perpustakaan juga ikut aktif dalam situs jejaring sosial Facebook sebagai sarana promosi perpustakaan dan penyebaran informasi.
Isu-isu strategis dalam pendayagunaan internet harus mendapatkan perhatian serius karena keberhasilan penggunaan internet di perpustakaan pada dasarnya tidak terlepas dari keberhasilan pengembangan perpustakaan secara keseluruhan.
7475637, 7475638, 7475639, 7475640, 7475641, 7475642, 7475643, 7475644, 7475645, 7475646, 7475647, 7475648, 7475649, 7475650, 7475651, 7475652, 7475653, 7475654, 7475655, 7475656, 7475657, 7475658, 7475659, 7475660, 7475661, 7475662, 7475663, 7475664, 7475665, 7475666, 7475667, 7475668, 7475669, 7475670, 7475671, 7475672, 7475673, 7475674, 7475675, 7475676