Perjanjian

By On Saturday, March 11th, 2017 Categories : Cerita

Perjanjian Satu
Gemericik cucuran air kran ditingkahi dentingan piring beradu dengan mangkuk, gelas dan sendok yang memenuhi wastafel, lekukan pencucian piring itu sudah tidak terlihat lagi tertutupi tumpukan piring kotor dari pagi kemarin baru pagi ini dicucinya, entah hal apa yang membuatnya tidak mau mengerjakan tupoksinya dari kemarin. Ini hari minggu, mestinya dia latihan karate, tapi hari ini dia juga tidak latihan.

“kok.. baru dicuci piringnya, dari kemarin ngapain saja?” istriku membuka percakapan, sambil menumpahkan cabe dan bawang yang sudah dibersihkan ke batu gilingan.
“nggak ada ngapa-ngapain! males aja!”
“jadi, nggak latihan karate hari ini karena males juga?”
“nggak juga! Kakak kan sudah sabuk coklat, ujian tingkatnya sudah semua! Tinggal ambil sabuk hitam aja lagi!”
“Kapan itu?”
“Masih lama lagi, tunggu umur Kakak tujuh belas tahun, lagian ngambil sabuknya kan nggak di sini. Harus ke Jakarta.” Dia memberikan alasan, istriku diam, hening sesaat.
“Buk..! Kakak jadi ya.., ke Smansa…!” mungkin ini sumber kegalauannya, yang membuat Dia lupa akan tupoksinya, belum ada kepastian izin dari ibunya untuk melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Batam.
“Tidak…, Nia… pokoknya ibu tidak izinkan Kakak sekolah di sana.” Sambil menghentak anak batu gilingan hingga beberapa cabe dan bawang berserakan. “Di dekat sini juga banyak sekolah, ada SMAN 5, ada SMKN 1! Ngapain jauh jauh sekolah.” Terdengar lagi penegasan istriku.
“Ibu mau nilai Kakak bagus nggak?” Anak gadisku menjawab.
“Ya mau lah!” kata ibunya.
“Ya sudah kita buat perjanjian saja, kalo nilai UN kakak sembilan, ibu izinkan Kakak sekolah yang Kakak mau tapi kalo nilai Kakak jelek terserah ibu Kakak sekolah di mana saja.” Nia memberikan tantangan buat dirinya sendiri mungkin juga dia sudah capek membujuk ibunya,
“Tidak…, Nia..! Ibu tidak mau.” penolakan dari istriktu karena Dia sangat memahami kemauan dan kemampuan anaknya. Kubiarkan mereka berdebat tanpa ada rasa sedikitpun untuk ikut campur. dua perempuan kusayangi dengan pendirian sama kerasnya tak ubahnya induk batu gilingan dan anaknya. Entah sudah yang keberapa kalinya mereka membicarakan hal itu tapi belum ada titik temunya juga.

Sore hari di teras rumah, ditemani secangkir kopi, aku menyaksikan anak anak bermain bola plastik di lapangan depan rumah. Nia menghampiri.
“Yah…, cita cita Ayah dulu mau jadi apa?” Nia bertanya sambil duduk di sampingku.
“Mau jadi Ayah.” Jawabku langsung karena Aku tidak pernah tahu apa yang kuinginkan dulu, Aku tak pernah tahu cita citaku. Sewaktu mengikuti MOS di SMA, Aku ditanya oleh Kakak kelas Pembina “Kamu mau jadi apa nanti?” Aku jawab “Mau jadi orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa.” Jawabku seperti menjawab soal ujian Pendidikan Moral Pancasila. Tapi jawabanku itu membuatnya tersenyum karena Dia tahu siapa aku jangankan berguna bagi Nusa dan Bangsa membuat dirinya berguna bagi dirinya sendiripun tak bisa pikirnya.
“Jadi.., sudah tercapai cita cita Ayah.” Tersungging seulas senyum di bibirnya, mendengar jawabanku.
“Menurut Ayah, Kakak bagusnya lanjutin sekolah ke mana?” Aku mengerti arah pembicaraanya, Nia mencoba cari dukungan dariku.
“Kakak, maunya ke mana?”
“Terserah Ayah..?”
“Kok.., terserah Ayah. Tujuan Kakak setelah SMA mau ke mana.”
“HI (Hubungan Internasional).” Katanya mantap.
“Kakak mau kerja di kedutaan, biar bisa ke luar negeri.”
“Kalo gitu, ya ke SMA lah.”
“Ya..iyalah.. Ayah. Masa balik lagi ke SD, SMA nya di mana?”
“Kakak, maunya di mana?”
“Smansa (SMAN 1), kalo tidak, Smunti (SMAN 3).”
“Ayah.. setuju itu.”
“Tapi ibu tidak setuju, gimana?”
“Biar Ayah yang selesaikan, nanti Ayah bujuk Ibumu.”
“Bener.. ya Yah…”
“Oke…!”
“Yesss…!” Nia meluapkan kegembiraannya.

Perjanjian Dua
“Yah…, kapan kita pergi nengok Smansa sama Smunti?” Nia belum tahu lokasi sekolah yang akan ditujunya. Dia hanya mendapat informasi mengenai kedua sekolah itu dari teman temannya.
“Mau ngapain. Tidak perlu. Ibu tidak izinin Kakak sekolah disana, Dengar kata Ibu, nak. Ibumu yang ngomong ini.” Belum Aku menjawab, istriku sudah naik spanningnya.
“Jauhhh… itu, sama siapa Kakak pergi? Jam berapa Kakak mau bangun? SMP yang dekat sini saja Kakak masih sering telat! Masih Ibu juga yang bangunin! Sudahlah SMA yang dekat sini saja, biar tenang hati Ibu.” Istriku nyerocos meluahkan kegalauannya karena akan ditinggal anaknya sekolah jauh dari rumah. Dia memang over protective terhadap anaknya. Dulu pernah ribut sama tetangga cuma gara gara anaknya diejek karena sepatunya yang robek. Aku tidak bisa mengelak lagi, Nia menembak aku di depan Ibunya.
“Memangnya kenapa kok nggak boleh? Anakmu itu kan cuma sekali SMA nya, lagian yang diinginkannya kan bagus. Orang lain saja mau bayar jutaan rupiah biar anaknya bisa sekolah di sana.”
“Iya bagus.., SMKN 1 juga bagus, dekat lagi, jalan kaki sepuluh menit nyampe. SMAN 5 juga bagus, banyak teman teman Kakak bareng berangkat sekolah.”
“Iya… tapi kan Dia punya keinginan juga.”
“Tidakkk…, hatiku tidak akan bisa tenang kalo Nia sekolah di sana, lagian dia tuh cewek gak perlu yang bagus bagus, yang penting sekolah cukup.”
“Kamu itu…, sekarang ini bukan zamannya Siti Nurbaya lagi. Sekarang tuh sudah zamannya Siti Nurhaliza, biarkan Nia dengan keinginannya. Mestinya kita bersyukur, dia tahu keingininya. Dia sudah punya tujuan, kita cuma tinggal mendukung apa yang ingin dicapainya, kita gak perlu repot repot mengarahkan dia lagi.”
“Aku tahu zaman sudah berubah, zamannya Siti Nurhaliza pun sudah lewat, sekarang tuh zamannya Siti Badriah, tidak usah nasehati Aku dengan hal seperti itu. Coba fahami juga perasaan aku, Aku ibunya! Hati aku tidak tenang kalo dia tak Nampak di mataku.” Istriku memang agak gaptek tapi dia tidak pernah gapment (gagap infotainment) dan dalam melindungi anaknya pun dia tak ubahnya singa betina Afrika yang tak pernah membiarkan anaknya lepas dari pandangannya.
“Di sana tuh jauh, lagipula teman temannya di sini tidak ada yang melanjutkan sekolahnya ke sana, sama siapa dia pergi? mau naik apa? Angkutan Kota yang arah kesana juga belum ada!” Istriku memberikan alasan. Celakanya semua alasan yang dikemukakannya itu benar, aku tak bisa memberikan jawaban, aku terdiam. Nia yang dari tadi mendengarkan percakapan itu memandangi aku dengan penuh harap.
“Biar aku yang ngantar!” Nia berbinar mendengar jawabanku. Istriku memandangi aku seakan mencari sesuatu di mataku tembus ke dalam hatiku.
“Benarkah?” katanya
“Iya!” jawabku
“Mengantar jemputnya?”
“Iya!” jawabku meyakinkannya. Istriku tetap belum puas.
“Tanggung jawab ya, dengan janjimu!”
“Ya…!!” jawabku lagi. Istriku diam, dipandanginya Aku, dipandanginya Nia, ditariknya nafas panjang, dilepasnya perlahan seolah terhimpit beban yang begitu berat seberat ucapan yang keluar dari mulutnya
“Baiklah, Ibu izinkan!” Ucapnya singkat, berat dan padat.
“Yeee… Makasih Ibu, makasih Ayah…!!!” Nia kegirangan seakan sudah diterima di SMA meskipun dia juga merasakan ketidak relaan ibunya. Si bungsu yang sejak tadi bermain diambil, digendong adiknya sambil diciuminya.

Perjanjian Tiga

Kupanjatkan syukur atas nikmat iman
Juga tentang nikmat kehidupan
Kupanjatkan beberapa harapan
Diantaranya ruh suci saat kematian
Harapan tentang indahnya kasih sayang tuhan
Tentang nyamannya genggaman tuhan
Juga tentang indahnya jalan pulang
Dian milenia trisna afiefa

Ini untuk ketiga kalinya Aku akan melintasi Sei Ladi. Di hari biasa, Aku sangat menikmati perjalanan melintasi Kawasan Hutan Lindung Sei Ladi ini, rasanya bukan seperti di Batam, apalagi di pagi hari, udaranya sejuk dan segar karena di kiri kanan terlindungi oleh rapatnya pepohonan, kabut putih terkadang masih menutupi sebagian lebatnya hutan yang berbukit setelah menanjak pendakian melintasi sebuah hotel yang cukup megah diturunannya ada sebuah jembatan yang membelah dam dengan air yang jernih. Tetapi tidak hari ini, aku tidak lagi peduli dengan indahnya Sei Ladi. Yang ketiga kali ini pun aku bukan hanya sekedar melintasi, tapi untuk masuk ke hutannya, dengan perasaan yang berkecamuk! Karena ditemukan sesosok mayat. Kecamuk di hatiku karena anak gadisku belum pulang, ya Nia belum pulang! Sudah satu malam kami mencarinya, tetangga dan warga membentuk tim pencarian untuk menelusuri penjuru Batam, berita kehilangan sudah disebar di berbagai media sosial, laporan kehilangan sudah dibuat di kepolisian. Tapi Nia belum ketemu juga.

Pagi itu, Sabtu 26 September seperti biasa Nia berangkat sekolah, hari ini dia kesiangan lagi karena tadi malam terlambat tidur akibat terlalu asyik bergelut dengan adik adiknya, istriku mengingatkan semuanya sebelum berangkat, “Hati hati, jangan kencang kencang, baca doa, cepat pulang..!!” Istriku juga yang melepasnya setiap hari, setelah mencium tangan ibunya, Nia bersama adiknya yang SMP hilang dari pandangan di tikungan perumahan kami. Nia tidak kuantar lagi, Nia membawa motor sendiri. Ya.., Nia sudah SMA. Nia semakin kuat niatnya untuk melanjutkan ke SMAN 1 setelah melihat sebuah banner besar yang terpampang di depan SMAN 1, tertulis nama 81 murid yang lulus menjadi siswa undangan di berbagai perguruan tinggi negeri, di ITB tiga orang, UI dua orang, UGM, Unpad dan berbagai Perguruan Tinggi Negeri lainnya baik di Jawa maupun Sumatera. Nia berhasil mewujudkan mimpinya, meskipun nilai UNnya tidak sesuai targetnya yaitu 9, nilai UNnya hanya 86,6 tapi cukup untuk diterima di SMA 1.

Hari minggu pagi, jalanan tidak terlalu padat tidak seperti biasanya orang berlomba lomba untuk tiba lebih dulu ke tempat tujuanya. Pak Yos, konsentrasi dengan kemudinya, pak Veri terdiam di kursi belakang. Kami dalam perjalanan menuju Sei Ladi. Di keheningan itu handphoneku bergetar, nomornya tidak tercantum di dalam kontak,
“Hallo… Ayah Nia ya? Di mana?” meskipun suaranya bergertar seperti menahan tangis tapi aku mengenali suara itu,
“Di jalan Yuk! Mau ke Sei Ladi.”
“Oh ya! Sama siapa? Yang sabar ya!” getar suara menjadi tangisan yang tertahan.
“Niaaa…!!! Kan Yukk..!!” membuatku tak tahan untuk teriak, menjebol pertahanan air mataku yang kutahan dari tadi malam, handphone dimatikan dari seberang sana. Pak Yos berusaha menenangkan aku,
“Sabar pak… sabar…!! Istighfar…!!”
Kuletakan sepuluh jari di wajah, kutahan air mata, kutenangkan lagi hati, kukuatkan lagi bercerita untuk menghibur diriku sendiri.

“Tadi pagi, sesudah sholat shubuh di Masjid Baitusy Syakur Jodoh, saya sempat bilang sama teman teman yang mencari Nia tadi malam, melihat kejadian di Batam belakangan ini memang ada kekhawatiran dalam hati tapi perasaan saya mengatakan bahwa Nia akan pulang!”
“Saya tidak berharap itu Nia, pak..!”
“Sabar.. pak.. istighfar, kami juga berharap, semoga bukan!”
“Saya tidak tahu jawaban apa yang harus kuberikan ke ibunya karena saya sudah janji ke ibunya untuk antar jemput Nia sekolah.”
“Istighfar.. pak… istighfar.. jangan menyesali diri, kembalikan semuanya kepada Allah, mudah mudahan itu bukan Nia, semoga bukan Nia tapi seandainya itu Nia sudah perjanjian Nia dengan penciptanya juga lah itu. Sudah tertulis di laufhul mahfuznya. Tidak berangkat nia ke sekolah, tidur nia di rumah kan dipanggil juga dia, sudah perjanjiannya itu.”

Terima kasih Tuhan
Tentang rancangan terindahmu
Yang Kau tuliskan di lauhul mahfuzku
Tentang nikmat yang mengharu biru
Serta bagian yang mungkin aku membisu
Tentang semua kecupan manis hidupku
Juga pedih perih yang membalutku
Dian milenia trisna afiefa

Kami semakin dekat, sudah di jembatan Sei Ladi dari kejauhan terlihat keramaian kendaraan. Pak Yos memperlambat laju kendaraan, Aku sudah tak sabar, mobil belum berhenti sudah kubuka pintunya aku berlari menuju ke pusat keramaian aku berusaha menerobos kerumunan untuk melihat jenazah yang ditemukan. Tapi aku tertahan, aku dihalangi, Aku meronta berusaha melepaskan diri.

“Aku mau nengok… aku mau nengok…!!!” teriakku histeris.
“Sabar pak.. istighfar… istighfar..!!!” beberapa orang yang sangat kukenal berusaha menenangkan aku. Aku yang lemah tak mampu lagi untuk meronta, kuteguk air mineral yang diberikan kepadaku.
“Tolong…, izinkan aku untuk melihatnya! ”
“Mohon maaf Bapak, jenazah sudah dibawa ke rumah sakit. ”
“Apakah ini tasnya, Pak?” seorang wartawan mendekati aku, sambil menunjukan foto dari hpnya, sebuah tas berwarna pink.
“Iya, itu warna tasnya. Bisa gak dibalik, aku ingin lihat motifnya.” Jawabku tetap berharap itu bukan anakku.
“Gak bisa pak, ini cuma foto.” jawabnya. “Helmnya warna apa?” tanyanya lagi.
“Warna hijau.” jawabku
“Merk JM yaa..?”
“Innalillahi waa inna illaihi rojiun… iya.. itu Nia… anakku…!!”
Indahnya perjalanan melintasi Sei Ladi tak seindah jalan pulangmu, anakku!

17469225, 17469226, 17469227, 17469228, 17469229, 17469230, 17469231, 17469232, 17469233, 17469234, 17469235, 17469236, 17469237, 17469238, 17469239, 17469240, 17469241, 17469242, 17469243, 17469244, 17469245, 17469246, 17469247, 17469248, 17469249, 17469250, 17469251, 17469252, 17469253, 17469254, 17469255, 17469256, 17469257, 17469258, 17469259, 17469260, 17469261, 17469262, 17469263, 17469264 25744423, 25744424, 25744425, 25744426, 25744427, 25744428, 25744429, 25744430, 25744431, 25744432, 25744433, 25744434, 25744435, 25744436, 25744437, 25744438, 25744439, 25744440, 25744441, 25744442, 25744443, 25744444, 25744445, 25744446, 25744447, 25744448, 25744449, 25744450, 25744451, 25744452, 25744453, 25744454, 25744455, 25744456, 25744457, 25744458, 25744459, 25744460, 25744461, 25744462