Perjalanan Yang Memberikanku Sebuah Pembelajaran

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Cerita

Aku jack, sekarang aku adalah seorang dosen dan juga aktif di dalam bidang Indonesian Red Cross Society. Menjadi seorang dosen dan juga ikut perperan aktif dalam bidang Indonesian Red Cross Society bukanlah cita-citaku sejak kecil. Aku bukan keturunan asli Indonesia, Mamiku berdarah Indonesia dan papi berdarah Turki. Menjadi orang yang berdarah campuran tidaklah mudah, sewaktu aku sekolah hingga kuliah teman-teman sering mengucilkan walaupun itu hanya sebagai lelucon semata buat mereka. Dulunya sih aku marah ketika mereka mencelaku dengan berbagai celaan, seperti bule palsu, pengembala unta dan masih banyak lagi, seiring dengan berjalannya waktu itu membuat aku terbiasa dengan celaan mereka.

Aku sering merasa kesepian baik di rumah maupun di luar rumah, papiku tidak tinggal di Indonesia dia menetap di Turki bekerja sebagai manager Industri di salah-satu perusahaan di Turki, sedangkan Mamiku adalah seorang designer dan aku terlahir sebagai anak semata wayang. Mungkin itulah salah-satu hal yang menyebabkan aku kesepian jika sedang berada di rumah. Namun berbeda ketika aku berada di luar rumah, sebenarnya sih sama saja aku juga tetap merasa kesepian, namun hal yang membedakan adalah penyebab dari kesepian aku ini. Aku sangat jarang untuk bergaul, bukan karena tidak ada yang mau menemaniku, apa lagi dengan kondisi Financialku tentunya banyak yaang ingin berteman denganku. Hanya saja aku tidak suka menghabiskan waktu untuk hal-hal yang menurut aku tidak memiliki manfaat.

Menurutku dengan memiliki banyak teman akan memiliki dampak munculnya problem-problem baru. Itulah alasanku untuk tidak terlalu dekat dengan siapapun. Hari itu tepatnya tanggal 26 Agustus 2013, aku telah menyelesaikan program pendidikan S1 di Surabaya, aku merasa masih memiliki ilmu yang sangat sedikit jadi tawaran papi untuk ikut bekerja dengannya di Turki aku tolak, begitu juga dengan tawaran mami.. aku memang pintar di dalam bidang design mungkin bakat ini aku peroleh dari mami, tapi bukan itu tujuanku. Aku sama sekali tidak memilih mengikuti jejak mami ataupun papi. Aku masih bingung dengan diriku, aku berbeda, sangat berbeda dengan teman-temanku yang lain. Mereka akan melakukan pekerjaan walaupun pekerjaan tersebut bertolak belakang dengan cita-cita dan hobi mereka selama ini.

Aku membenci itu, menurutku suatu pekerjaan itu harus dikerjakan sesuai dengan hobi dan impian kita selama ini, jika pekerjaan tersebut bertolak belakang dengan itu semua maka diri kita sendiri yang akan merasa tersiksa. Jadi itu alasanku untuk menolak tawaran papi dan mami. 1,3,5, hingga 6 bulan aku juga belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan diriku. Jadi aku hanya jalan-jalan untuk mengisi waktuku. Mami dan papi tidak memaksaku untuk harus menemukan pekerjaan, tapi hal yang tidak aku suka di sini adalah ketika kita telah selesai menanam sesuatu namun kita tak mampu memetik hasilnya itu bakalan menjadi hujatan orang-orang sekitar. Padahal ketika aku belum menemukan pekerjaan aku selalu melakukan hal-hal positif seperti menjadi donatur di berbagai pantai asuhan. Tapi itu juga dipandang buruk oleh masyarakat, aku dibilang hanya mampu menghabiiskan apa yang ditanam oleh kedua orangtuaku. Padahal sama sekali aku tidak berniat untuk melakukan itu, uang yang aku donasikan itu uang jajanku dari mami dan papi, jadi itu sudah menjadi hakku. Aku sama sekali tidak pernah meminta uang dengan orangtuaku untuk hal-hal seperti itu, tapi masyarakat selalu melihat dan berbicara tanpa pernah menyelidiki.

Telingaku pun merasa panas akan gunjingan-gunjingan dari masyarakat, sehingga aku putuskan untuk berlibur keluar Negeri tepatnya di Turki. Setelah sampai di Turki aku menyewa satu Apartemen yang lumayan mewah, apartemenku menghadap ke arah barat bertepatan dengan pantai yang begitu eksotik, aku merasa sangat tenang di sini. Dan aku tidak memberitahu papi jika aku sedang berada di Turki sekarang. Tidak ada yang menghujatku ketika aku tidak memperoleh pekerjaan orang-orang selalu disibukkan dengan kesibukan masing-masing aku akan merasa betah di sini.

Setelah berada dua hari di Turki, pagi itu aku berniat untuk mengelilingi kota Turki. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang mau berangkat bekerja, pergi ke sekolah semuanya terlihat sibuk. Tetapi dibalik kesibukan dan keindahan kota tersebut aku menaruh simpatik dengan salah seorang anak yang ada di pinggiran jalan tersebut, keindahan kota ditambah kesibukkan orang-orang di sekitar kota teralihkan oleh anak tersebut. Aku langsung menghampirinya, tapi sialnya disaat aku ingin menyeberang jalan anak tersebut telah pergi entah kemana, aku berusaha mencarinya tapi tidak juga aku temukan jejaknya.

Aku pun memberhentikan pencarianku terhadapnya, mengingat hari sudah siang aku kembali ke Apartemenku. Aku masih sangat penasaran dengan sosok anak tersebut, aku merasa tidak asing dengan anak itu, aku seperti memiliki tekanan batin dengannya tapi kapan? Dan dimana aku bertemu dengannya sebelumnya ini masih menjadi teka-teki yang begitu sangat sulit dan tidak dapat aku pecahkan. “tidak, di sini aku ingin liburan jadi aku tidak boleh membebankan pikiranku untuk hal seperti itu” aku pun mulai menghapus bayangan anak tersebut.

Kehangatan cuaca ditambah segelas anggur dan alunan music slow membuat pikiran ini menjadi begitu sangat tenang. Tapi mengapa sangat gelap dan begitu sangat banyak api di sini, semua orang pada berlarian ke barat, ke timur, selatan semuanya berhamburan mencari tempat yang tidak mengeluarkan sumber api, “ini gila.. percuma mereka melakukan itu toh mereka juga nantinya akan terbakar dan menjadi abu atau tertimbun dengan bangunan tersebut”. Aku merasa sangat terkejut disaat kejadian yang seperti ini masih ada orang yang mampu mengatakan seperti itu. Memang iya jika difikir secara logika usaha mereka akan sia-sia, mereka juga nantinya akan mati, tapi mereka pasti berfikir sama denganku, “adakah kematian yang lebih baik?” kematian yang dimana datangnya tidak dapat diduga dan kematian yang tidak menghancurkan serta menyakitkan. Itulah yang mereka inginkan, jadi itu wajar jika mereka berusaha untuk menyelamatkan diri masing-masing. Tuhan juga tidak tidur, tuhan menyaksikan ini. Tuhan akan membantu manusia yang berusaha, jadi mereka percaya jika ada keajaiban yang dapat memadamkan tidak tapi setidaknya masih tersisa tempat yang belum terbakar dari bangunan.

Aku pun berusaha untuk berlari… aku tidak mengetahui arah tujuan kemana akan berlari, aku hanya mengikuti perasaan yang aku rasa menuntun dan memberikan arah jalan. Semua orang berteriak “ALLAH, ALLAH, ALLAHUAKBAR” teriakan itulah yang sempat aku dengar… aku berusaha untuk terus berlari… Aghh… kakiku, kakiku tertimpa kayu yang lumayan besar, aku berusaha mengeluarkan semua tenagaku untuk mengangkat kayu tersebut, tapi aku tak mampu, aku berusaha meminta pertolongan kepada orang lain, dan tidak ada satu pun yang berniat untuk membantuku. Sekarang aku merasa begitu sangat lemas, tapi aku bukanlah orang yang mudah bigitu saja untuk menyerah aku berusaha mengangkat kayu itu dengan tanganku yang terkena luka bakar ini, “Allahuakbar…” akhirnya kayu itu berhasil aku singkirkan dari kaki ini, aku langsung mengucap syukur dan bergegas untuk bangkit.. duar.. suara yang begitu gemuuruh terdengar di depanku.. pada saat itu juga orang-orang terlempar.. mereka seperti muntahan magma yang penuh dengan api. Melihat kejadian tersebut aku hanya mampu terdiam airmata ini juga menemani terdiamnya aku. Aku begitu sangat shock, aku tidak pernah sebelumnya melihat kejadian ini. Aku berasal dari keluarga yang sangat bahagia, hampir dipastikan aku tidak pernah melihat pertengkaran apalagi sampai harus menumpahkan bagitu banyak darah. Tapi saat ini aku mengalaminya, aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa diriku jika kayu itu tidak menimpa kaki ini, pasti aku akan bernasip naas sama seperti mereka.

Semangatku kembali datang aku kembali mempunyai tenaga untuk meninggalkan tempat ini, Tuhan telah memberikan pertolongan kepadaku dan itu artinya tidak menginginkan nyawaku sekarang aku harus bisa berusaha untuk selamat dari bencana ini. Aku mulai berjalan sambil sedikit berlari meninggalkan tempat itu, sekarang aku memutar arah tujuanku ke barat, aku berharap itu adalah arah jalan yang tepat.

Tapi dugaanku salah dari jarak 15 M aku melihat betapa tragisnya mereka, harus merasakan kematian yang begitu sangat tragis, mereka tergulung dengan api, sekarang mereka terlihat hanya seperti sampah-sampah yang tidak memiliki arti, mereka bersatu dengan api mencari arus untuk meluluh lantahkan kota ini. Aku langsung berlari, sekarang aku tidak merasa sakit walau telah banyak luka bakar di sekujur tubuhku. Aku hanya berharap dapat keluar dari bencana ini dengan keadaan selamat.

Tapi langkahku terhenti disaat aku melihat anak itu, anak yang tadi siang aku lihat, dia menangis di depanya terlihat seorang perempuan separuh baya yang tergeletak, “mama..” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut munyil tersebut.. aku berusaha untuk menolongnya, karena jika dia tidak cepat untuk pergi dari tempat itu, maka api itu akan menghanguskan tulang-tulang kecil itu. Dengan segera mungkin aku berusa menolongnya.. aku berteriak… “go… go.. from here..go… you will die go… g…!” belum sempat aku melajutkan kata-kata itu, gadis itu telah disambar api.. kini dia menghilang semuanya penuh dengan api.. aku menjerit.. aku merasa bersalah aku membiarkan seorang gadis kecil untuk mati dengan cara seperti ini. duarrr… aku terbangung dari tidur, suara ban mobil pecah tersebut membangunkanku dari tidur.. aku merasa sangat sesak, aku tidak bisa bernapas dengan normal.

Kucurah segelas air putih dan dengan tangan yang mengeletar memegang gelas tersebut aku mencoba meminumnya dan berusaha untuk tenang… “ternyata aku hanya bermimpi, tapi mengapa aku dapat memimpikan hal yang begitu sangat menyeramkan, dan gadis itu.. mengapa dia ada di dalam mimpi ini?” aku berusaha untuk memikirkannya, dan aku merasa begitu tidak tenang mimpi itu telah membuat hidupku dibayang-bayangi rasa bersalah sekarang.

Aku pun keluar untuk mencari udara segar sekarang telah pukul 6, dan kota itu juga telah mulai ramai dipenuhi oleh orang-orang yang akan melakukan aktifitasnya. Aku berjalan terus lurus menelusuri jalanan ramai tersebut, pikiranku ini masih kacau dikarenakan mimpi yang aku alami tadi malam. Setiap sudut jalanan tersebut aku perhatikan dengan sungguh-sungguh, aku berharap dapat menemui anak itu, mungkin dengan menemui anak tersebut aku dapat menjawab rasa penasaran ini.

Sialnya aku tidak melihat anak itu, berhubung hari sudah semakin siang dan perut ini sudah mulai keroncongan aku memutar arah kembali untuk ke apartemen. Sandwich dan segelas susu cukup untuk membuat penduduk di perut ini tidak melakukan demonstrasi, ring… ponselku berbunyi, mami menelponku dan memberitahu jika dia akan meninggalkan Indonesia untuk beberapa bulan dia akan ke Turki untuk menemui client dan sambil mengunjungi papi. Aku pun mengiyakan apa yang diberitahu oleh mami, biasa kalau Ibu-ibu jika memberitahu itu tidak cukup sekali, informasi yang disampaikan hanya satu namun memiliki cabang yang tidak habis-habis. Huftt…

Siang ini cuaca begitu bersahabat, sehingga membuatku semangat untuk melakukan hunting di sekitar apartemen. Tidak lupa Kamera aku kalungkan ke leher, topi koboy sebagai penambah styleku siang ini. Betapa indahnya kota Istanbul ini, semua masjid bernuansa biru mengingatkan islam itu satu, dan saling membantu. Dan ada pula Hagia Sophia, Aya Sopha yang dulunya sebuah gereja, tetapi kemudian diubah menjadi peribadatan oleh umat Islam.

Ini bukan untuk pertama kalinya aku bertemu dengan gadis kecil itu aku tidak akan menyia-yiakan kesempatan ini. Aku langsung menghampirinya
“Selam (Hai)… Adin(iz) ne? (siapa namamu)”
“Adresin(iz) nerede (Di mana alamatmu?)”
“(Benim) adim jack (Namaku jack)”
“Endonezyaliyim (Saya orang Indonesia)”
Dia langsung mematahkan kata-kataku
“firsat sadece tüm gelir, ama neden bosuna israf edilmektedir? bir sürü is gerektirir, ama sana bakmak buradan bile ülke her seyi var ama her seyi unutmak (kesempatan itu hanya datang untuk sekali, tapi mengapa kau menyia-nyiakannya? di sini bahkan di negaramu banyak yang membutuhkan pekerjaan, tapi lihat dirimu kau punya segalanya tapi kau melupakan segalanya)”

Aku langsung tertegun mendengar dia mengatakan itu kepadaku, apakah dia malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk memperingatkanku? Ya ampun aku baru menyadarinya sekarang jika aku tidak pernah menganggap apa yang telah dimiliki dan diimpikan oleh kedua orangtuaku, aku hanya mampu melakukan semuanya sesuai dengan keinginanku. Tetapi keinginan tersebut tidak aku ketahui apa sesungguhnya yang aku inginkan, aku hanya berjalan terus lurus tanpa mengetahui arah tujuan. Aku baru saja terbangun dari tidur yang terlalu panjang dan aku sekarang baru tersadar, aku akan menetap di Turki dan akan melanjutkkan S2 ku di sini, setelah itu aku akan menjadi Dosen.. akan aku bagikan pembelajaran hidup ini ke seluruh mahasiswa/i ku, dan aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah memperingatkanku, sekarang aku dapat melihat papi dan mami tersenyum bahagia atas penncapain yang aku peroleh.

Baca Juga

Prilly Latuconsina Datang ke Premiere Film Danur, Netizen Malah Salfok dengan Dadanya

Seramnya Film Horor Danur 2017

Ngerinya Serangan Terror di Westminster

Bahaya Skinny Jeans Yang Wajib Kamu Tau!!

Penampakan Wajah Seram di Bendungan

Article / informasi tentang Perjalanan Yang Memberikanku Sebuah Pembelajaran yang disadur dari berbagai sumber yang ada di internet. Semoga informasi mengenai Perjalanan Yang Memberikanku Sebuah Pembelajaran yang sedikit ini dapat berguna dan bermanfaat untuk Anda khususnya, dan untuk semua pembaca yang tengah mencari pembahasan tentang Perjalanan Yang Memberikanku Sebuah Pembelajaran pada umumnya.