Pergi Yang Tak Pernah Kembali

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung

Hidup bagimu seperti sebuah labirin yang kau harus berjalan di dalamnya, meskipun lelah kau harus tetap berjalan untuk bisa keluar dari labirin itu agar kau dapat bertahan hidup.

Tidak pernah lagi kudengar kata-kata sok taumu tentang dunia yang kau dengungkan padaku setiap kali kau bicara. Tidak lagi kulihat kau yang selalu menyiratkan tawa bahagia meski sebenarnya kau begitu rapuh. Tidak lagi kurasa kehadiranmu yang selalu mengiringi setiap langkahku. Aku sudah kehilanganmu.
Sosokmu yang nyata sudah jauh menghilang, sosok yang menganggap dunia seperti kumpulan mozaik yang harus kau satukan setiap potongan-potongannya, sehingga dapat menjadi bermakna. Kau yang hanya menganggap dunia hanya kumpulan luka, kumpulan luka yang kau sembuhkan dengan caramu. Sekarang kau sudah menghilang. Ya, kau sudah menghilang dan aku merindukanmu.

Aku memang tidak sehebat dirimu dalam memaknai hidup ini dengan semaumu, aku pun juga tidak berjalan terjal seperti jalan terjal yang sering kau lalui, tapi kau tidak harus memandang dunia hanya kumpulan luka yang selalu meluluh lantahkan hatimu, kau tidak harus mengutuk hidupmu yang sudah susah menjadi tambah susah, kau hanya harus hidup menjadi lebih baik dengan perjalanan sulit yang telah kau lalui. Kata yang tidak pernah sempat aku ucapkan hingga aku harus kehilangan sosok nyatamu.

Hari itu tidak seperti biasanya, wajahmu tampak lebih pucat dari sebelumnya, wajahmu semakin tampak tirus, matamu lebih cekung dari sebelumnya, aku kira kau hanya kurang tidur seperti biasa. Kau mendekatiku seperti biasa, tidak ada yang berubah. Kau masih mengeluarkan leluconmu, berbicara semaumu, tertawa terbahak-bahak kemudian terbatuk-batuk dan nafasmu mulai sesak. Sudah setahun batukmu tak juga berhenti. Sudah berulang kali aku mengingatkanmu untuk ke dokter, tapi kau hanya bilang ini batuk biasa tidak akan ada masalah.

Hari itu juga kau mengajakku ke rumah pohon tempat biasa kita duduk-duduk, tapi tidak seperti biasanya, kau duduk di sampingku tapi hanya terdiam. “Ada yang aneh” itu fikirku kala itu. Aku tak menghiraukan fikiran dan perasaanku, mungkin kau sedang lelah. Sudah sejam lebih tidak ada sepotong kata pun yang kau ucapkan, kau bukan seperti sosok yang kukenal, ada yang berbeda dari wajahmu, kau tampak begitu hampa tak bernyawa, mungkin itu karena wajah pucatmu dan matamu yang semakin cekung, itu fikirku, lagi-lagi aku menghiraukan fikiran dan perasaanku.

“Kau tau aku suka hujan bukan? Hujan adalah kedamaian dan ketenangan” tiba-tiba kau bicara setelah begitu lama terdiam.
“Tentu aku tau, apa yang tidak aku tau tentangmu” ungkapku seolah-olah benar-benar tau tentangmu.
“Ya, kau benar, kau selalu tau tentangku” ucapmu hampa.
Lagi-lagi kau kembali diam, dan menatapku seolah kau akan pergi jauh. Sangat jauh, benar-benar sangat jauh.
“Apa yang kau lakukan jika aku menghilang dan pergi tanpa membawamu?” tiba-tiba pertanyaan aneh meluncur dari mulutmu.
“Hahaha kau mau pergi kemana? kau tidak mungkin pergi tanpa membawaku, aku tau kau tidak akan meninggalkanku, jadi kau mau pergi kemana tanpa membawaku? hahaha bercandamu ketelaluan dan tidak lucu” candaku dengan perasaan tidak enak.
“Kau benar, aku tidak mungkin meninggalkanmu, tapi bagaimana jika aku pergi meninggalkanmu?”
“Lagi-lagi kau bicara aneh, kau kenapa? apa kau akan meninggalkanku?”
“Aku takut, jika aku harus pergi meninggalkanmu.” fikiranmu menerawang jauh.
“Kau tidak akan meninggalkanku, kau sudah janji menjagaku, kau sudah janji meraih mimpi kita bersama, dan kau sudah janji kau tidak akan pergi” aku mulai menitikkan air mata.
“Aku tidak ingin pergi, tapi bagaimana jika waktu yang mengharuskan aku pergi, aku takut jika waktuku sudah habis!!
“Percayalah, kau tidak akan pergi kemana pun, kita akan meraih mimpi kita bersama, kau tidak akan membiarkanku meraih mimpi sendiri bukan?” tangisku terisak
“Kau tetap harus meraih mimpimu tanpaku” ujarmu
“Bagaimana aku akan meraih mimpi tanpamu, kau yang selalu mengiringiku dalam meraih mimpiku, kini kau akan pergi bagaimana mungkin aku akan meraih mimpiku tanpamu”
“Kau harus meraih mimpi demi aku, aku akan bahagia jika kau tetap melanjutkan mimpimu, kau janji akan tetap meraih mimpimu demi aku?”
Aku hanya mengangguk, aku sudah bisa merasakan aku akan kehilanganmu, entah kehilangan seperti apa yang aku rasakan.

Kau tidak pernah ada lagi sejak hari itu selama-lamanya, kau sudah benar-benar pergi. Kau pergi membawa mimpimu yang belum sempat kau wujudkan namun kau tetap menitipkan mimpiku agar tetap aku raih.
Aku mencintaimu yang telah pergi, cinta yang tidak pernah kau tau sampai nafas terakhir telah habis kau hembuskan. Terima kasih telah mengisi setangah ruang kosong di hatiku.

Cilla Lee-Jenkins: Future Author Extraordinaire, The Twits, Jacked Up (Birmingham Rebels, #3), Pachinko, The Virgins, I Could Pee on This And Other Poems by Cats, Blizzard, Hooray for Fish!, The Art of Peace, Head Start, The Red Pyramid (Kane Chronicles, #1), Bonded by Blood, Round Robin (Elm Creek Quilts, #2), Food Swings: 125 Recipes to Enjoy Your Life of Virtue and Vice, On Tyranny: Twenty Lessons from the Twentieth Century, The Master Will Appear, A New Jersey Love Story: Troy & Camilla, Turbulence (Kennedy Stern #5), The Hating Game