Penggemar Rahasia

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita
Loading...

“Dek, dek, coba lihat apa yang kakak temukan! Kakak dapat paket!”

Loli berteriak keras memanggil adiknya sesaat ketika pak pos pergi meninggalkan rumah mereka. Paket itu berbentuk kotak dan dibungkus kertas coklat, di atasnya tertulis dengan jelas nama penerima dan alamat rumahnya, namun tak ada satu pun tanda-tanda pengirim. Raka, adik Loli turun dari kamarnya saat Loli kembali berteriak. “Kyaaa… sepatu balet! Aduh, siapa ini yang kirim ya? Kok bisa tahu kalau sepatu baletku sudah tipis. Pasti dari Erik! Ah, bukan bukan, Erik kan baru punya pacar, jadi nggak mungkin dari dia. Apa dari Yosi? Ah, tapi kan kita baru ngobrol sekali. Jangan-jangan dari Gary! Menurutmu ini dari siapa dek? Duh, bikin penasaran aja sih!” Bahkan ketika Loli bertanya pada adik satu-satunya itu, Raka tak diberi kesempatan menjawab. Raka hanya bisa duduk tersenyum melihat kakaknya yang berputar-putar mencoba sepatu balet barunya.

Dua hari lalu adalah ulang tahun Loli dan inilah kado pertama yang ia dapatkan. Sepatu Balet. Kenyataan itulah yang akhirnya membuat Loli sibuk menanyai semua orang tentang kadonya. “Halo, Jer, makasih loh kadonya. Aku seneng banget.” Loli akhirnya memutuskan bahwa kado itu adalah pemberian Jeremy, cowok dari klub anggar. Mereka memang sedang dekat, tapi kepribadian Jeremy yang pendiam membuat mereka tak sering terlihat di depan umum. Dari situlah Loli mengambil kesimpulan, bahwa Jeremy mengiriminya kado ulang tahun dan terlalu malu untuk memberinya secara langsung. “Apa? Kamu… bukan kamu yang kirim? Lalu siapa… oh iya, Jer, tak apa, maaf menganggumu kalau begitu.” Loli menutup teleponnya dengan perasaan malu sekaligus curiga. Kalau bukan Jeremy, siapa lagi?

Ah, pasti Nicholas. Kali ini Loli tak langsung menelepon cowok itu. Dengan gesit, Loli mengetikkan sesuatu mengenai paketnya, namun kali ini lebih berhati-hati. “Nic, aku abis dikirimi paket nih, tapi nggak ada nama pengirimnya, dari siapa ya kira-kira?” ujar Loli memancing, tapi balasan Nicholas juga bukan sesuatu yang diharapkan Loli. ‘Jadi, kado ini bukan dari Jeremy bukan juga dari Nicholas.’ Loli memutar otak lagi. Dihubunginya semua mantan, gebetan dan semua cowok yang pernah dekat dengannya, tapi hasilnya akan tetap sama, nihil.

Loli memang terkenal dekat dengan banyak cowok di sekolahnya. Teman sekelas, teman dari kelas lain, teman dari klub sekolah, teman dari temannya di klub balet, dan Loli sangat menikmatinya. Membuat hari-harinya berwarna. Setidaknya, begitulah yang di pikirannya.

Ada sesuatu tersembul di balik kotak kado yang kini dibiarkan Loli berserak di lantai. Sebuah kartu ucapan. Raka mengambil kartu itu dan membukanya singkat. “Kak.” Loli yang masih sibuk dengan telepon genggamnya tak mendengar adiknya memanggil. “KAK! INI ADA KARTU UCAPAN!” Raka berteriak menyamai nada semangat Loli. “Aduh, kamu itu, pelan-pelan saja kenapa? Eh apa itu? Di mana kamu dapat ini?” Loli mengambil kartu ucapan itu dari tangan Raka dan membacanya. Makin rajin ya les baletnya! Dengan mata yang berbinar-binar, ia bergumam. “Tak salah lagi, aku pasti punya penggemar rahasia.”

Raka yang sudah malas menanggapi pikiran tak logis kakaknya kembali masuk ke kamar. Membanting pintu dan memutuskan untuk tidur, tapi nampaknya suara Loli masih bisa menembus pintu kamarnya. “Argh!” Raka kini hanya bisa menutup kupingnya dengan bantal sementara Loli masih bersemangat menemukan penggemar rahasianya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Loli akhirnya menyerah. Usaha terakhir yang ia lakukan adalah mengabadikan sepatu balet itu dalam sebuah foto, lalu meng-uploadnya ke media sosial. Ia bertekad tak akan menggunakan sepatu itu sampai ia mengetahui siapa pengirimnya.

Lelah, Loli masuk ke kamar adiknya untuk menceritakan semua hasilnya yang sia-sia. Namun ternyata Raka sudah tertidur dengan pulas. Loli melirik meja belajar adiknya yang berantakan dan menghela nafas, “dasar anak cowok!” Loli membereskan buku-buku catatan dan alat tulis yang berantakan di meja belajar Raka, ada sebuah mading kecil tempat dimana Raka biasa menempelkan catatan kecilnya agar ia tak lupa. Loli membaca cacatan itu satu persatu sembari menahan tawa, tak menyangka kalau adiknya akan membuat catatan kecil seperti, “hari ini jangan lupa kasih makan ikan, sudah dua hari Tori nggak makan!” dan “Jangan sampai tertukar antara buku catatan dan pr!”. Lalu tiba-tiba Loli teringat sesuatu, kartu ucapan! Loli mendekatkan kartu ucapan itu dengan catatan kecil Raka, dan ia terkejut bukan main! Tulisan yang ada di kartu ucapan itu sama dengan tulisan pada catatan Raka!

“Kak? Kakak ngapain di sini?”
Loli berbalik dan mendapati adiknya sudah duduk di pinggir tempat tidur, “Kok kamu, kok tulisannya sama?” Tanya Loli bingung. Raka hanya mengangkat bahu dan kembali tidur menyelimuti dirinya. Loli yang tak terima diacuhkan seperti itu, menarik selimut Raka, berniat untuk menginterograsi adiknya lebih lanjut, tapi ternyata Raka berkata lebih dulu. “Kakak masih belum sadar juga? Semua cowok yang pernah, atau lagi deketin kakak itu nggak ada yang peduli! Mereka tuh cuma mau seneng-seneng aja! Lihat kan, pas kakak ulang tahun, berapa orang yang kasih kado? Berapa yang inget ulang tahun kakak?”

Kata-kata Raka keluar menampar Loli. Loli membuka mulut tapi tak bisa berkata apa-apa. “Masih banyak orang yang peduli sama kakak, tapi kakak cuma peduli sama mereka!” Kini Loli menutup mulut. Menarik adiknya dalam pelukan. Raka benar, ada orang yang lebih penting untuk dipedulikan, tapi dirinya begitu egois. Padahal mereka begitu dekat, tapi Loli membuatnya jauh. Seharian ia sibuk mencari sesosok penggemar rahasia, padahal jaraknya tak lebih dari satu inch. Loli memeluk adiknya erat, “Makasih ya kadonya.”