Pengertian Gangguan Sistem Ekskresi

By On Monday, May 5th, 2014 Categories : Sains

Pengertian Gangguan Sistem Ekskresi – Sistem ekskresi merupakan salah satu sistem organ yang terpenting bagi organsime. Dimana proses ekskresi ini berperan dalam pembuangan zat sisa-sisa dari metabolisme. Namun pola hidup yang tidak sehat dapat menyebabkan gangguan dan penyakit pada sistem ekskresi.

Beberapa gangguan yang dialami oleh sistem ekskresi manusia antara lain sebagai berikut.

  • Diabetes insipidus, yaitu penyakit pilulusan atau banyak kencing yang terjadi akibat kekurangan hormon ADH.
  • Diabetes militus, yaitu penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa didalam darah sehingga urine yang dihasilkan masih mengandung glukosa. Diabetes insipidus disebabkan karena kekurangan hormon insulin.
  • Albuminuria, yaitu penyakit yang ditandai dengan adanya protein dan albumin didalam urine karena kerusakan glomelurus.
  • Nefritis, yaitu penyakit yang dikarenakan infeksi pada bagian nefron.
  • Edema, yaitu penyakit yang disebabkan oleh penimbunan air diruang intraseluler.
  • Uremia, yaitu kondisi dimana terjadi penimbunan urea yang tinggi dalam darah.
  • Poliurea, yaitu kondisi urine yang sangat encer dan berjumlah banyak karena kegagalan nefron untuk melakukan reabsorbsi.
  • Batu ginjal, yaitu suatu endapan garam kalsium didalam rongga ginjal, saluran ginjal, atau kandung kemih.
  • Anuria, yaitu urine yang tidak dapat keluar sama sekali.
  • Gagal ginjal, yaitu kegagalan suatu ginjal dalam menjalankan fungsinya.

Saat ini, sudah ada terapi modern untuk membantu penderita gagal ginjal berupa cuci darah atau hemodialisis dan cangkok atau transplantasi.

1. Dialisis
Dialisis atau hemodialisis atau cuci darah, merupakan salah satu metode untuk menggantikan fungsi ginjal. Pada alat dialisis untuk pasien dengan detak jantung normal, pemompaan darah dapat melalui alat dialisis, sedangkan untuk pasien dengan detak jantung tidak normal dilengkapi dengan alat pemompa darah.

2.Pencangkokan atau Transplantasi
Transplantasi merupakan metode pengobatan dengan cara mencangkokan ginjal penyumbang atau pendonor ke ginjal resipien atau penerima. Kegagalan pencangkokan ginjal sering terjadi karena adanya ketidakcocokan darah dan jaringan antara pendonor dan penerima. Sekarang, ketidaksesuaian jaringan dapat teratasi dengan penemuan siklosporin yang dapat mencegah penolakan jaringan. Ginjal yang ideal untuk donor ginjal mempunyai beberapa ciri, yaitu berasal dari pendonor berusia kurang dari 70 tahun, masih berfungsi dengan baik dan bebas penyakit.