Pengertian dan Definisi Asma Beserta Asma Pada Kehamilan (Persalinan)

Pengertian dan Definisi Asma Beserta Asma Pada Kehamilan (Persalinan) – Pengertian dan Definisi Asma adalah penyakit paru kronis yang melibatkan berbagai varietas immune sistem cell, yang menyebabkan timbulnya respon bronkus berupa wheezing, dyspne, batuk, dan dada terasa berat.

Asma merupakan peradangan kronik saluran nafas dengan herediter utama. Peningkatan respon saluran nafas dan peradangan berhubungan dengan gen pada kromosom 5, 6, 11, 12, 14, & 16 termasuk reseptor IgE yang afinitasnya tinggi, kelompok gen sitokin dan reseptor antigen T-cell sedangkan lingkungan yang menjadi allergen tergantung individu masing-masing seperti influenza atau rokok. Asma merupakan obstruksi saluran nafas yang reversible dari kontraksi otot polos bronkus, hipersekresi mukus dan edem mukosa. Terjadi peradangan di saluran nafas dan menjadi responsive terhadap beberapa rangsangan termasuk zat iritan, infeksi virus, aspirin, air dingin dan olahraga. Aktifitas sel mast oleh sitokin menjadi media konstriksi bronkus dengan lepasnya histamine, prostaglandin D2 dan leukotrienes. Karena prostaglandin seri F dan ergonovine dapat menjadikan asma, maka penggunaannya sebagai obat – obat dibidang obstetric sebaiknya dapat dihindari jika memungkinkan.

Perjalanan asma selama kehamilan sangatlah bervariasi bisa tidak ada perubahan, bertambah buruk atau malah membaik dan akan kembali ke kondisi seperti sebelum hamil setelah tiga bulan melahirkan
Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap penderita tidaklah sama, bahkan pada seseorang penderita asma serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya. Biasanya serangan muncul pada usia kehamilan 24 – 36 minggu, dan akan berkurang pada akhir kehamilan.

Pada asma yang tidak terkontrol selama kehamilan akan mempunyai efek yang serius baik bagi ibu maupun bagi janin. Komplikasi untuk ibu pada asma yang tidak terkontrol adalah kemungkinan pre-eklampsia, eklampsia, perdarahan vagina dan persalinan premature, sedangkan komplikasi terhadap bayi adalah intra uterine growth retardation, bayi premature dan meningkatkan kemungkinan resiko kematian perinatal. Oleh karenanya pasien hamil dengan asma harus dianggap sebagai pasien dengan kehamilan resiko tinggi. Tujuan penatalaksanaan pasien asma dalam kehamilan harus meliputi : pencegahan eksaserbasi akut, mengontrol symptoms, mengurangi inflamasi saluran nafas, memelihara fungsi paru rata – rata mendekati normal.

Pemeriksaan Asma Terhadap Ibu Hamil
1. Riwayat Asma
Pasien dengan riwayat asma yang telah berlangsung sejak lama ditanya sejak kapan, derajat serangan-serangan sebelumnya. Penggunaan kortikosteroid yang telah lalu, riwayat sering dirawat di rumah sakit, riwayat ventilasi mekanik yang pernah dialami, atau perawatan di ruang rawat darurat yang baru dialami dapat memberikan petunjuk bagi adanya serangan lebih parah atau membandel yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

2. Pemeriksaan Fisik
Serangan yang parah dicurigai dari adanya sesak nafas pada waktu istirahat, kesulitan mengucapkan kalimat, diaforesis atau penggunaan otot-otot pernafasan tambahan. Kecepatan respirasi lebih besar dari 30 kali/menit, nadi berdenyut lebih cepat dari 120 kali/menit dan pulsus paradoksus yang lebih besar dari 18 mmHg menunjukkan serangan berat yang berbahaya.
Gejala yang ditemui : wheezing sedang sampai bronkokonstriksi berat. Bronkospasme akut dapat bergejala obstruksi saluran nafas dan menurunnya aliran udara. Kerja system pernafasan menjadi meningkat drastis dan pada pasien dapat dilihat gerakan dada yang tertinggal, wheezing atau kesukaran bernafas. Peristiwa berikutnya pada refleks oksigen primer terjadi reflek ventilasi perfusi yang tidak sepadan karena distribusi dari saluran udara (bronchus) secara merata tidak terjadi.

Adapun tingkatan klinik asma dapat dilihat pada table berikut dibawah ini

  • Tingkatan PO2 PCO2 pH FEV1
  • (% predicted)
  • Alkalosis respiratori sedang Normal ? ? 65 – 80
  • Alkalosis respiratori ? ? ? 50 – 64
  • Tingkat waspada ? Normal Normal 35 – 49
  • Asidosis respiratori ? ? ? < 35

Pada kasus asma sedang, hipoksia pada awalnya dapat dikompensasi oleh hiperventilasi, sebagai refleksi dari PO2 arteri normal, menurunnya PCO2 dan alkalosis respiratori. Akibat penyempitan saluran udara yang bertambah berat gangguan ventilasi perfusi menjadi bertambah berat juga dan arterial hipoksemi terjadi. Pada obstruksi berat, ventilasi menjadi berat karena fatigue menjadikan retensi CO2.Pada hiperventilasi, keadaan ini hanya dapat dilihat sebagai PCO2 arteri yang berubah menjadi normal. Akhirnya pada obstruksi berat yang terjadikegagalan pernafasan dengan karakteristik hiperkapnia dan asidemia.
Walaupun perubahan ini bersifat reversibel dan dapat ditoleransi pada wanita tidak hamil namun, setiapa awal derajat tingkatan asma sangat berbahaya untuk wanita hamil dan bayinya. Penurunan kapasitas fungsi residu dan peningkatan efektif shunt menyebabkan wanita hamil lebih rentan terhadap hipoksia dan hipoksemia.

3. Pemeriksaan Fungsi Paru
Pemeriksaan fungsi paru seringkali normal dalam masa remisi. Selama masa serangan akut dan kadang-kadang ketika tidak ada simptom, volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1) berkurang dan juga kapasitas vital paksa (FVC) mengalami penurunan yang secara proporsional lebih kecil sehingga perbandingan FEV1 terhadap FVC menjadi berkurang (< 0,75). Dapat juga dijumpai hiperinflasi dengan kenaikan volume residual (FRC).

4. Pemeriksaan-pemeriksaan Laboratorium
a. Spirometri
Pengukuran yang objektif terhadap aliran udara sangat penting dalam evaluasi dan terapi terhadap serangan. Perawatan di rumah sakit dianjurkan bila FEV1 inisial kurang dari 30% dari harga normal atau tidak meningkat hingga paling sedikit 40% dari harga normal setelah diberikan terapi kuat selama 1 jam.

b. Gas-gas Darah Arteri (GDA)
Ketimpangan ventilasi dan perfusi (ketimpangan V/Q) akibat obstruksi jalan nafas akan menimbulkan peningkatan selisih tekanan oksigen alveolar-arterial [P(A-a) O2] yang berkorelasi secara kasar dengan keparahan serangan. Tekanan oksigen arterial (Pa O2) kurang dari 60 mmHg bisa merupakan tanda suatu serangan akut atau keadaan yang menyulitkan.

Hampir semua pasien asma yang mengalami serangan ringan hingga sedang-berat akan mengalami hiperventilasi dan mempunyai tekanan CO2 arterial (Pa CO2) kurang dari 35 mmHg. Pada serangan berat atau yang berlangsung lama Pa CO2 bisa meninggi sebagai akibat dari kombinasi obstruksi berat jalan nafas, perbandingan V/Q yang tinggi menyebabkan peningkatan ventilasi, dan kelelahan otot-otot pernafasan. Pa CO2 yang meninggi bisa merupakan tanda bagi kegagalan pernafasan yang sedang mengancam.
Pa CO2 lebih besar dari 40 mmHg yang berkelanjutan dan disertai tanda-tanda lain asma berat, hendaknya dikelola dalam unit perawatan intensif dengan evaluasi yang seksama untuk mengetahui perlu tidaknya diberikan intubasi atau ventilasi mekanik.

c. Foto Thorax
Foto Thorax perlu dilakukan ringan. Pertimbangkan usia kehamilan

4 Hal Untuk Antisipasi Serangan Diare

21 April 2014 Category: Artikel
(4 Hal Untuk Antisipasi Serangan Diare) – Pada musim hujan biasanya didaerah tertentu rawan akan banjir. Hal ini menyebabkan beberapa sungai kumuh dan tercemar meluap hingga kepemukiman. Kondisi ini tentu dapat menyebabkan seseorang rentan terkena serangan diare. Penyakit diare tergolong penyakit yang tidak berbahaya, namun tetap memerlukan kewaspadaan untuk meminimalisir risiko terjadinya gangguan kesehatan, penyakit

Daun Singkong dapat Berkhasiat Seperti Obat

21 April 2014 Category: Artikel
(Daun Singkong dapat Berkhasiat Seperti Obat) – Daun singkong merupakan jenis sayuran yang banyak digemari. Manfaat daun singkong ternyata cukup besar bagi kesehatan tubuh. Daun singkong juga relatih murah dan mudah untuk ditemui. Tak jarang para ibu dirumah mengolahnya menjadi sayuran berkuah, urapan, dan tumis. Daun singkong juga bisa dijumpai diresto khas Padang. Disamping itu,

Beberapa Hal Positif dan Negatif Mengkonsumsi Daging

21 April 2014 Category: Artikel
(Beberapa Hal Positif dan Negatif Mengkonsumsi Daging) – Makan daging mungkin menjadi pantangan bagi beberapa orang, terutama vegetarian. Meski tidak melulu merugikan, namun demi kesehatan memang sebaiknya jangan terlalu sering makan daging. Daging mengandung sejumlah nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melaksanakan fungsi metabolisme yang vital, seperti protein, lemak, vitamin dan mineral. Semua nutrisi

Batasi waktu nonton televisi dan bermain game

21 April 2014 Category: Artikel
Kedua kegiatan di atas adalah jenis kegiatan yang sama sekali tidak membuat tubuh buah hati Anda bergerak. Padahal untuk mencegah obesitas, anak-anak harus melakukan aktivitas yang menyehatkan untuk membakar kalori. Oleh sebab itu batasi waktu nonton televisi dan bermain game di depan komputer dan ajak mereka bermain di luar rumah.

Membaca Bantu Jaga Kesehatan Otak

21 April 2014 Category: Artikel
Lintas Kesehatan – Otak merupakan salah satu organ tubuh yang sangat vital, otak memiliki peran sangat penting dalam segala bentuk aktivitas seseorang. Oleh sebab itu harus kita rawat dan kita jaga kesehatannya. Disamping memenuhi asupan nutrisi dan gizi, ada cara mudah untuk menjaga dan merawat otak supaya tetap sehat, yakni dengan rajin membaca. Seperti diulas

Mengatasi Sembelit Tidak Cukup Hanya Dengan Banyak Minum

21 April 2014 Category: Artikel
(Mengatasi Sembelit Tidak Cukup Hanya Dengan Banyak Minum) – Sebuah penelitian di University Of New Mexico, Albuquerque membuktikan ternyata asupan cairan tidak berkolerasi dengan terjadinya sembelit yang kronik. Penelitian yang melibatkan 900 sukarelawan dengan usia lanjut ini menemukan bahwa kurangnya minum bukanlah merupakan factor yang bermakna dalam terjadinya sembelit, sebagaimana yang sudah diyakini sebelumnya. Jadi

Kunyit ini Mampu Mencegah Serangan Diabetes

21 April 2014 Category: Artikel
(Singkirkan Diabetes dengan Kunyit) – Kunyit pada umumnya digunakan untuk menambah penyedap masakan serta menjadi pewarna dalam makanan. Padahal, rempah-rempah ini juga memiliki manfaat untuk kesehatan terutama dalam memerangi risiko serangan penyakit diabetes. Seperti dilansir dari laman Reuters, dari Srinakharinwirot University di Manokomnayok, Thailand, Somlak Cheungsamarn pemimpin penelitian menuturkan bahwa “Karena keamanan dan manfaat, kami