Pengaruh obat, narkotika, alkohol pada sistem saraf

By On Sunday, February 26th, 2017 Categories : Sains

Kerja sistem saraf dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti obat, alkohol, dan narkotika.

Obat

Pengobatan pada dasarnya merupakan proses mengobati suatu penyakit atau rasa sakit. Pada sistem saraf, sakit merupakan respon terhadap penyebab tertentu, baik dari luar (mikroba, tumbuhan dan hewan) maupun dari dalam (berlebihnya asam lambung). Sebenarnya obat secara medis (dari zat-zat kimia) dapat mengurangi atau menghilangka rasa sakit, namun efeknya hilangnya rasa sakit tersebut adalah kesembuhan semu.

Alkohol

Fungsi alkohol ada sebagai obat luar dan disinfektan (membunuh mikroba), tetapi ada yang menggunakannya sebagai minuman untuk menghilangkan perasaan tidak menyenangkan (gelisah, takut, ragu-ragu). Minuma alkohol menyebabkan rasa tersebut “hilang” karena keadaan tubuh terkondisi oleh zat depresan (menekan) dan menjadi stimulan (menimbulkan rasa senang).

Perasaan tersebut sebenarnya tidak musnah dan dapat muncul lagi atau hilangnya bersifat semu. Pemakaian alkohol tersebut dapat menimbulkan adiksi atau kecanduan. Adiksi atau kecanduan adalah orang yang ingin selalu ingin menggunaka lagi dengan dosis yang semakin banyak. Akibatnya penyalahgunaan alkohol, antara lainya:

  1. Pandangan menjadi kabur
  2. Hilangnya kendali otak
  3. Denyut jantung dan frekuensi pernapasan lambat,
  4. Hilangnya kesadaran
  5. Reaksi menjadi lambat, dan
  6. Merusak organ hati, lambung, dan jantung.

Golongan narkotika

Golongan narkotika secara medis berfungsi menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan ketenangan. Macam-macam narkotika, yaitu opium, morfin, ganja, heroin dan kokain. Penyalahgunaan narkotik untuk menciptakan suasana fly memberi halusinasi, merasa gembira, dan hiperaktif, megakibatka kerusakan pada otak atau sistem saraf sampai pada kematian.

Ada empat macam obat yang berpengaruh terhadap sistem saraf, yaitu:

  1. Sedatif, yaitu golongan obat yang dapat mengakibatkan menurunnya aktivitas normal otak. Contohnya valium.
  2. Stimulans, yaitu golongan obat yang dapat mempercepat kerja otak. Contohnya kokain.
  3. Halusinogen, yaitu golongan obat yang mengakibatkan timbulnya penghayalan pada si pemakai. Contohnya ganja, ekstasi, dan sabu-sabu.
  4. Painkiller, yaitu golongan obat yang menekan bagian otak yang bertanggung jawab sebagai rasa sakit. Contohnya morfin dan heroin.

Penggunaan obat-obatan ini memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai, kekurangan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis.

Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitter tidak dapat melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya.

Efek lain dari penggunaan obat-obatan terlarang adalah hilangnya kendali otot gerak, kesadaran, denyut jantung melemah, hilangnya nafsu makan, terjadi kerusakan hati dan lambung, kerusakan alat respirasi, gemetar terus-menerus, terjadi kram perut dan bahkan mengakibatkan kematian.