Peneliti Sukses Hapus Kenangan Buruk dengan Laser

By On Wednesday, February 1st, 2017 Categories : Sehat

Andaikan bisa, setiap orang tentu ingin menghapus kenangan buruk yang tersimpan dalam otaknya. Tetapi harapan itu mungkin bisa jadi kenyataan dengan teknologi medis terbaru dari Jepang.

Baru-baru ini tim peneliti dari Toyama University berhasil menemukan cara untuk memanipulasi sel-sel saraf yang ada di otak agar bisa menghilangkan pemicu munculnya kenangan atau ingatan yang dianggap buruk. Demikian seperti dilaporkan New Scientist.

Kendati demikian, percobaan ini baru berhasil dilakukan pada tikus. Pertama-tama, tikus-tikus ini dilatih untuk memiliki dua kenangan yang menakutkan secara terpisah.

Kenangan pertama berkaitan dengan rasa. Tikus disuntik dengan lithium chloride yang memicu rasa mual tiap kali mereka menjilati botol berisi cairan sakarin atau gula.

Kenangan kedua berhubungan dengan bunyi tertentu yang sengaja dikaitkan dengan serangan atau setrum listrik, sehingga tikus-tikus tersebut akan ‘mematung’ tiap kali mendengar bunyi itu.

Kemudian dua kenangan ini dihubungkan, sehingga tiap kali tikus merasakan sakarin dan peneliti menyalakan bunyi tertentu, tikus akan ‘mematung’. Dengan begitu tiap kali tikus menjilat cairan sakarin, mereka otomatis akan ‘mematung’.

Selanjutnya, peneliti ingin memisahkan kedua memori ini dengan menggunakan teknik yang mereka sebut dengan ‘optogenetics’. Dalam teknik ini, peneliti menggunakan cahaya laser untuk mematikan sel saraf tertentu sehingga kedua memori ini tidak lagi berkaitan.

Dan ternyata percobaan ini berhasil, sehingga tiap kali tikus menjilat cairan sakarin, mereka tak lagi ‘mematung’ ketakutan. Meski demikian hal ini tetap terjadi saat peneliti menyalakan bunyi yang awalnya dapat memicu reaksi tersebut.

Menurut peneliti, Prof Kaoru Inokuchi, kenangan buruk memang tidak dapat dihapuskan sepenuhnya, tetapi penting bagi mereka ketika berhasil menemukan cara untuk memutus keterkaitan antara pemicu trauma dengan kejadiannya.

“Pada dasarnya, kita punya harapan untuk bisa memutus keterkaitan antara ingatan sehari-hari dengan kenangan buruk atau traumatis yang dapat mempengaruhi daya ingat seseorang,” terang Inokuchi.

Peneliti berharap ini bisa jadi metode baru untuk mengobati penderita post-traumatic stress disorder (PTSD).

Mau cara yang mudah? Menurut peneliti dari University of Pennsylvania, kurang tidur selama dua jam saja sudah dapat menurunkan daya ingat seseorang, dengan kata lain mengurangi kemampuan otak untuk menyimpan ingatan tertentu.

Sayangnya cara ini mungkin dirasa ekstrem karena bisa mempengaruhi kemampuan otak secara menyeluruh, tak hanya daya ingat. Belum lagi risiko penyakit kronis akibat kurang tidur seperti diabetes dan obesitas.