Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Virus

By On Saturday, February 25th, 2017 Categories : Sains

Hubungan antara infeksi virus dengan gejala penyakit yang ditimbulkannya sering kali kurang jelas. Beberapa virus menghancurkan sel inang dengan menghasilkan enzim hidrolitik.

Ada yang meyebabkan sel inang memproduksi toksin (racun) berupa selubung protein. Terkadang timbul gejala-gejala sementara yang mengiringi terjadinya infeksi virus dapat dilakukan dengan cara pemberian vaksin, sedangkan pengobatannya dengan cara pemberian interferon dan kemoterapi antivirus.

Vaksin Virus

Vaksin virus merupakan formula yang terbuat dari bagian tubuh virus, virus mati, atau virus hidup yang diinjeksikan ke dalam tubuh manusia guna memperoleh suatu sistem imun (kekebalan) secara alamiah. Pada tahun 1789, Edward Jenner menemukan vaksin cacar. Vaksin cacar disuntikan ke jaringan bawah kulit (subkutan). Pada tahun 1952, Jonas Salk menemukan vaksin polio diberikan melalui mulut (oral). Vaksin virus dibedakan menjadi dua macam, yaitu vaksin virus mati dan vaksin virus hidup yang dilemahkan.

Vaksin Virus Mati

Vaksin virus mati dibuat dengan cara memurnikan sediaan virus melalui tahap-tahap tertentu dan merusak sedikit protein virus sehigga virus tidak aktif. Formalin dengan kadar rendah adalah biasanya digunakan untuk merusak protein virus. Vaksin virus mati dapat merangsang pembentukan antibodi tubuh terhadap protein selubung virus sehingga meningkatkan daya resistensi tubuh.

Namun demikian, ada beberapa kelemahan penggunaan vaksin virus mati antara lain sebagai berikut.

  • Diperlukan ketelitian yang tinggi pada saat pembuatan vaksin untuk memastikan bahwa tidak ada virus yang virulen
  • Respons sel terhadap vaksin biasanya lemah
  • Imunitas yang diperoleh hanya bersifat sementara sehingga perlu dilakukan injeksi berulangkali
  • Dapat merangsang hipersensitivitas pada infeksi berikutnya (menyebabkan terjadinya resistensi virus). Hal ini disebabkan adanya respons imun yang tidak seimbang terhadap antigen permukaan virus yang tidak sesuai dengan infeksi virus secara alamiah.

Vaksin Virus hidup yang dilemahkan

Vaksin virus hidup dibuat dari virus mutan yang memiliki antigen hampir sama dengan virus liar, tetapi memiliki kemampuan patogen yang sangat lemah. Pembuatan strain virus lemah dilakukan dengan cara manipulasi laboratorium agar terjadi perubahan genetik secara terencana.

Penggunaan vaksin virus hidup memiliki kelebihan dan kelamahan. Kelebihan penggunaan vaksin hidup antara lain tubuh memperoleh imunitas seperti imunitas yang terjadi alamiah, karena virus akan bereproduksi terus sehingga memicu terbentuknya antibodi tubuh. Sementara kelemahan penggunaan vaksin hidup antara lain sebagai berikut.

  • Terjadi virulensi balik yang lebih besar selama perkembangbiakan virus di dalam vaksin. Walaupun hal ini tidak terbukti sebagai masalah, tetapi potensi tetap ada.
  • Penyimpanan dan keterbatasan hidup vaksin sebelum masa kadaluarsa. Akan tetapi, masalah ini dengan stabilisator virus, misalnya penambahan MgCl2 untuk vaksin polio.
  • Terjadinya pencemaran virus lain di dalam vaksin
  • Adanya gangguan replikasi virus vaksin akibat adanya infeksi virus luar yang terjadi secara bersamaan, sehingga menyebabkan berkurangnya efektivitas vaksin.

Interferon

Interferon adalah protein yang dihasilkan oleh hewa atau sel biakan sebagai respons terhadap infeksi virus atau peginduksi lain dan berfungsi menghambat reflikasi virus dalam satu sel. Interferon mampu mengatur imunitas humoral dan seluler, serta pertumbuhan sel sehingga dapat digunakan untuk pertahanan pertama terhadap infeksi virus. Interferon juga merupakan suatu kelompok hormon sitokin yang berperan dalam pengaturan pertumbuhan dan disferensi sel.

Kemoterapi Antivirus

Saat ini, telah ditemukan beberapa senyawa ativirus yang dapat digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh virus. Namun, penggunaanya hanya dalam keadaan tertentu karena dapat bersifat toksik (racun) bagi sel tubuh. Senyawa antivirus yang ideal bagi sel tubuh masih terus dikembangkan. Senyawa antivirus yang biasanya digunakan merupakan analog ukleosida, antara lain zidovudin, zalzibatin, aksiklovir, gansiklovir, vidarabin, idoksuridin, trifluridin, bromovinideoksiuridin, sitabarin, dan ribaririn. Senyawa lain yang juga terbukti mempunyai aktivitas antivirus, antara lain amantadin, asam fosfonoasetat, enviroksin, metisazon, dan arildon.