Pasifik

By On Wednesday, March 8th, 2017 Categories : Cerita

Samudera Pasifik adalah Samudera terluas di bumi. Mungkin karena saking luasnya membuat pasifik pun juga begitu misterius. Misterius karena di sanalah letak segitiga bermuda yang telah menelan banyak korban. Samudera Pasifik tidak begitu jauh dengan sesuatu hal yang kita sebut kehidupan. Seperti Samudera Pasifik, kehidupan pun juga begitu luas dan misterius. Banyak hal yang bisa terjadi diluar kehendak bahkan nalar kita. Seperti berlayar, kita tidak selalu melewati laut yang tenang namun juga merasakan amukan badai dan hempasan ombak di tengah laut. Seperti itulah hidup. Kehebatan seorang nahkoda tidak ditentukan ketika ia mengendarai kapal di laut yang tenang tetapi ketika ia harus memutuskan untuk berbuat apa saat badai menerpa.

Alpha termenung di atap gedung apartemennya yang sepi malam itu. Dia mendongak mentap langit Jakarta yang tak berbintang, hal itu membuat ia teringat percakapan dengan ayahnya sekitar 13 tahun yang lalu. Ayahnya menamainya Alpha karena terinspirasi dari bintang Alpha century. Masih teringat jelas pesan ayahnya kala itu “Di Jakarta bintang tidak bisa kita lihat sejelas di Lembang tempat nenek tinggal, karena itu ayah ingin kamu yang jadi bintang untuk ayah.” Alpha pun memejamkan matanya lalu menunduk “Ayah, aku memang sangat menyayangimu namun aku juga tidak bisa meninggalkan The Uncrowned Kings. Bagaimana pun juga bukankah mereka yang membuatku menjadi “bintang”?” Kata Alpha. Alpha pun melangkah maju mendekati dinding pembatas yang tingginya separuh tinggi badan Alpha, lalu ia menatap gemerlap kota Jakarta di bawah sana.

“Alpha?” Sebuah suara mengejutkan Alpha, refleks Alpha pun menoleh dan mendapati pria berkacamata yang usianya 2 tahun diatas Alpha. “Sedang apa kamu di sini?” Tanya Jordi sambil berjalan mendekati Alpha. “Memikirkan peristiwa tadi. Kakak sendiri kenapa di sini? Aku kira semua anggota marah dan tidak peduli denganku bahkan jika aku loncat dari sini.” Kata Alpha, Jordi pun terkekeh mendengar jawaban Alpha.

“Nggak semuanya gitu Alpha, buktinya aku peduli padamu. Mungkin emosi mereka meningkat karena mereka sedang lelah sekarang, mereka jadi lebih dulu muak bahkan sebelum mendengar penjelasanmu. Aku di sini untuk mencari tahu penjelasanmu itu.” Kata Jordi sambil ikut mengamati pemandangan kota.

Alpha pun terdiam lalu ia mulai menceritakan kisah sebelum dia bergabung menjadi anggota The Uncrowned Kings. Semula ayahnya tidak menyetujui Alpha bergabung dengan band itu karena ayahnya telah mempersiapkan Alpha sejak kecil untuk mengantikannya sebagai CEO perusahaannya. Padahal menjadi CEO bukanlah keinginan Alpha. Tidak hanya ayahnya namun juga beberapa anggota keluarga yang lain seperti kakek, nenek, bahkan paman Alpha pun angkat bicara ketika Alpha mengutarakan keinginannya tersebut. Banyak dari mereka bilang otak Alpha yang cerdas itu hanya akan sia-sia jika dia berkarir dalam dunia entertainment.

Untuk mengatasi itu Alpha pun membuat perjanjian dengan ayahnya yang tidak pernah ia sangka akan menjadi batu sandungan baginya untuk tetap bertahan di The Uncrowned Kings. Ia berjanji pada ayahnya ketika grup band itu merayakan ulang tahunnya yang ke-5 maka Alpha akan mengundurkan diri dari band itu dan akan menuruti keinginan ayahnya. Namun ternyata meninggalkan band yang telah membesarkan namanya sebagi komponis lagu muda yang berbakat tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya terlebih lagi ia akan mengecewakan keempat sahabatnya. Masalah tidak berhenti di situ, 3 tahun yang lalu ketika The Uncrowned Kings mengalami masa-masa sulit dimana promosi album mereka gagal total salah satu anggota yang juga leader dari grup itu memutuskan untuk keluar dari band dan itu pun mengecewakan hati anggota-anggota lainnya. Anggota itu pun digantikan oleh Jordi. Saat itu para anggota menjadi tidak bersemangat untuk bermusik, mereka pun juga menjadi sangat emosional dan egois.

Di tengah masa-masa sulit itu Alpha yang merupakan anggota termuda tampil sebagai seorang pahlawan untuk bandnya. Dialah yang senantiasa menyemangati anggota yang lain walau sering kali mendapat caci maki bahkan dibentak namun Alpha tetap sabar dan terus menulis lagu-lagu untuk album baru yang akhirnya berhasil melejitkan nama The Uncrowned Kings sampai setara dengan band-band terkenal lainnya. Alpha lah yang sudah berhasil mengendalikan kapal bernama The Uncrowned Kings yang hampir tenggelam karena badai. Karena itu anggota-anggota The Uncrowned Kings pun memutuskan untuk mengangkat Alpha sebagai leader menggantikan leader sebelumnya.

Suara langkah kaki membuat Alpha menghentikan ceritanya lalu menoleh ke arah sumber suara diikuti juga oleh Jordi. “Gini ya kelakuan leader yang sekarang ternyata nggak beda jauh sama yang sebelumnya, sama-sama nggak becus urusan komitmen.” Seru suara itu. Jordi pun melangkah mendekati Dika “Apa maksud kamu bicara seperti itu?” Tanya Jordi, Dika pun tersenyum kecut sambil memalingkan muka dari Jordi “Nggak usah sok belain dia deh, loe tuh anggota baru yang nggak tahu apa-apa tentang band kita.” Jawab Dika dengan enteng, Jordi mengepalkan tangannya menahan marah. “Gini aja deh, loe sekarang mendingan turun ke lobi buat nemuin bokap loe yang butuh kepastian loe. Gue lagi nggak mood buat ribut malam-malam.” Kata Dika lalu ia melangkah pergi meninggalkan Jordi dan Alpha tapi langkahnya tiba-tiba terhenti dan ia pun menoleh ke arah Jordi dan Alpha “Gue harap keputusan loe nanti adalah keputusan bijak dan..” Suara Dika tertahan sebentar “Nggak mengecewakan kita lagi seperti keputusan si brengsek Antonius.” Setelah itu Dika pun melanjutkan langkahnya menuju lift.

Jordi pun menoleh ke arah Alpha, “Alpha, aku akan berusaha menghargai apa pun keputusanmu nanti. Dalam masalah seperti ini memang harus ada yang berkorban, entah itu kau, ayahmu, atau kami anggota The Uncrowned Kings. Namun satu hal yang pasti, setiap keputusan yang kamu ambil nanti pasti menghasilkan sebuah risiko. Bagaimana pun juga yang menciptakan masalah ini adalah kamu sendiri, kamu harus berani menanggung risikonya.” Kata Jordi.

Alpha pun mengangguk “Ya, aku tahu itu. Seandainya aku harus dibenci ayahku sendiri atau anggota The Uncrowned Kings aku akan menerimannya.”

Lift yang membawa Dika pun berhenti di lobby apartemen Dika pun segera keluar dari lift dan berlari menuju Vino dan David. Sesampainya di hadapan Vino dan David Dika pun terlihat ngos-ngosan setelah berlari. “Gitu aja capek.” Celetuk Vino tiba-tiba, Dika pun memelototinya. “Ah, loe mah nggak tahu rasanya nggak usah komentar deh. Gue tuh habis konser trus leo suruh akting segala dan lari nyari kalian berdua, loe kira nggak capek apa?” Keluh Dika. David pun menjitak kepala Dika “Loe kira yang konser dan capek loe doang, kita juga tau.” Kata Dika.

“Yah, mau gimana lagi. Ini semua juga nggak sebanding sama perjuangan Alpha 3 tahun lalu.” Sahut Vino.
“Ngomong-ngomong si Natan mana?” Tanya Dika.
“Tuh” Jawab David sambil menunjuk ke arah segerombolan orang.

Alpha dan Jordi pun akhirnya sampai di lobby. Susana Lobby hening, hanya ada beberapa orang saja yang berlalu-lalang. Ayah Alpha terlihat sedang duduk di salah satu sofa lobby. Alpha pun menghampiri ayahnya dan ayahnya pun berdiri menyambut anaknya. “Ayah aku sudah memikirkan hal ini baik-baik dan aku rasa..” Perkataan Alpha terhenti karena ayahnya mengangkat tangan kanannya “Cukup, Alpha. Ayah tahu apa yang akan kamu pilih, perjanjian itu meski tidak tertulis namun itu tetaplah janji yang harus ditepati.” Kata Ayah Alpha. Mendegar itu Alpha pun tertunduk lemas dalam hati ia berkata “Bukan ayah, bukan itu pilihanku. Ayah tidak mengerti.” Alpha pun mengangkat wajahnya kembali, ia sudah bertekad untuk tidak keluar dari band apa pun resikonya. Ia pun hendak bicara tapi ayahnya justru bicara terlebih dahulu.

“Bukannya ayah tidak menghargai pendapatmu, Alpha. Namun sebagai orangtua, ayah tahu apa yang terbaik bagi anak ayah. Sebaiknya begini saja, malam ini juga kamu kemasi barang-barang mu dan segera pamit kepada teman-temanmu itu dan angensimu.” Kata Ayah Alpha.
“Ayah, mereka bukan hanya temanku namun sahabat dan juga saudara bagiku.” Bantah Alpha.

Ayah Alpha pun terdiam dan memandang Alpha dengan tatapan kekecewaan. “Sebegitu penting kah mereka sampai mereka mampu menggeser posisi nomor 1 yang tadinya untuk ayah?” Tanya Ayah Alpha dan itu membuat Alpha tercengang. “Baiklah kalau memang itu pilihanmu. Ayah akan pergi.” Ayah Alpha pun melangkah cepat menuju pintu, Alpha yang semula terdiam melihat kepergian ayahnya akhirnya berlari mengikuti ayahnya sampai ke luar apartemen dan saat itu ia sangat terkejut melihat Dika membawa roti tart ulang tahun yang di atasnya terdapat lilin berbentuk angka 22. Anggota The Uncrowned Kings dan beberapa anggota agensi band itu pun meneriakan kalimat “Selamat ulang tahun, Alpha!” Ayah Alpha pun tersenyum kepada anaknya lalu memeluknya. Alpha masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Beberapa menit yang lalu susana begitu panas namun sekarang suasana begitu ceria.

“Jadi, itu tadi hanya untuk mengerjaiku? Tapi masalahnya kan memang benar-benar terjadi.” Kata Alpha.
“Ah, si tuan cerdas ini apa-apa selalu dipikir serius.” Sahut Natan.

Alpha pun menatap ayahnya, “Ayah bekerjasama dengan mereka?” Tanya Alpha. “Iya, semuanya yang ada di sini. Dan masalah pilihanmu itu, setelah melihat teman-temanmu ini, eh maksud ayah sahabat-sahabatmu ini ayah jadi tahu apa yang akan menjadi pilihanmu meski kamu tidak mengucapkannya.” Kata Ayah Alpha.
“Jadi, ayah mengizinkanku untuk tetap menjadi anggota grup ini? Terimakasih ayah.” Kata Alpha lalu ia memeluk ayahnya.
“Nggak ada terimakasih buat kita?” Tanya Jordi.
“Terimakasih, kakak-kakakku yang tercinta.”

Malam itu pun di apartemen grup The Uncrowned Kings menjadi penuh dengan keceriaan karena perayaan ulang tahun Alpha meski waktu telah menunjukkan tengah malam lewat. Di tengah-tengah keceriaan itu ayah Alpha memperhatikan anaknya yang sedang tertawa bersama teman-teman satu grupnya. Dalam hati ayah Alpha berkata “Apa pun bisa terjadi di masa depan. Apa pun bisa berubah, biarlah saja dulu dia seperti ini karena dia memang anak muda. Alpha, ayah masih akan menunggu. Menunggu keputusan terbaikmu, masalah belum berhenti sampai di sini. Ya, janji itu, anakku.”

TAMAT