PARA PENGUASA DINASTI AL-AYYUBIYAH DAN MASA PEMERINTAHANNYA

By On Friday, February 13th, 2015 Categories : Sains
Advertisement

Para penguasa Dinansti Al- Ayyubiyah terdiri atas:
1. Salahuddin Al-Ayyubi (564 H/1169 M – 589 H/1193 M)
2. Malik Al-Aziz ‘Imaduddin (589 H/1193 M – 595 H/1198 M)
3. Malik Al-Mansur Nasiruddin (595 H/1198 M – 595 H/1200 M)
4. Malik Al-‘Adil Sifuddin, pemerintahan I (596 H/ 1200 M – 1200 H/1218 M)
5. Malik Al-Kamil Muhammad (615 H/1218 M – 635 H/1238 M)
6. Malik Al-‘Adil Saifuddin, pemerintahan II (635 H/1238 M – 637 H/1240 M)
7. Malik As-Saleh Najmudin (637 H/1240 M – 647 H/1229)
8. Malik Al-Mu’azzam Turansyah (647 H/1249 M)
9. Malik Al-Asyraf Muzaffaruddin (647 H/1249 M – 650 H/1252 M)

Perjalanan politik Slauddin Al-Ayyubi dimulai dari masa muda yang selalu ikut berperang mendampingi ayahnya bernama Najmuddin bin Ayyub. Lehih-lebih ketika Slahuddin ikut ekspedisi dengan pamannya ke Mesir. Lima tahun kemudian (1169 M), ia menaklukkan khalifah terakhir dari dinasti Fatimiyah, bernama al-addid (1160-1171).

Sejak itu, ia menghapus tradisi mendo’akan khalifah Fatimiyah dalam khotbah Jum’at dan menggantikannya dengan mendo’akan Khalifah Abbasiyah, Al-Muhtadi (566 H/1170 M – 575 H/1180 M).

Pada bulan Mei 1175 M, Salahuddin mendapat pengakuan dari Khalifah Abbasiyah sebagai penguasa Mesir, Afrika utara, Nubia, hedzjaz, dan suriah tengah. Ia menyebut dirinya sebagai Sultan. Sepuluh tahun kemudian, ia menaklukkan daerah Mesopotamia dan menjadikan penguasa-penguasa setempat sebagai pemimpinnya.

Sebagian besar hidup salahuddin dicurahkan untuk melawan pasukan Salib. Dalam hal ini pada tahun 1170 M. salahuddin berhasil menaklukkan wilayah Masyhad dari tangan Rasyidin Sinan. Kemudian, pada tanggal 1, 3 dan 4 Juli 1187 M, ia berhasil merebut Tiberias dan melancarkan Hattin untuk menangkis serangan pasukan Salib.

Dalam peperangan ini, pasukan Prancis berhasil dihancurkan. Jerussalem sendiri menyerah tiga bulan berikutnya, tepatnya 2 Oktober 1187 M. pada saat itulah suara Azdan terdengar kembali di Masjidil Aqsa, menggantikan suara lonceng gereja. Jatuhnya ibu kota hattin ini memberi peluang baginya untuk lebih lanjut menaklukkan kota-kota lain di Suriah dan Palestina.

Salahuddin melancarkan serangan ke dua arah, yaitu ke utara meliputi Al-Laziqiyyah (Laodesia), Jabalah, dan Sihyawan, serta ke selatan meliputi al-karak dan as-saubak. Semua wilayah itu jatuh ke tangan salahuddin sebelum tahun 1189 M. akan tetapi sampai pada tahun 1189 M, Tripolli, Antioka (Antakia, Turki), Tyre, dan beberapa kota kecil lainnya masih berada di bawah kekuasaan pasukan Salib.

Setelah perang besar memperebutkan Kota Akka (Acre) yang berlangsung 1189-1191 M dan dimenangkan oleh tentara Salib, kedua belah pihak hidup dalam keadaan damai tanpa perang. Perjanjian damai secara penuh dicapai pada tanggal 2 November 1192 M. dalam perjanjian tersebut, disetujui bahwa daerah pesisir dikuasai pasukan Salib, sedangkan daerah paedalaman oleh kaum Muslimin. Dengan demikian, tidak akan ada lagi gangguan terhadap orang Nasrani yang akan berziarah ke Jerussalem. Salahuddin dapat menikmati suasana perdamamian ini hingga menjelang akhir hayatnya karena pada 19 Februari 1193 M, ia jatuh sakit di Damaskus dan wafat 12 hari kemudian dalam usia 55 tahun.

Setelah Salahuddin al-ayyubi meninggal dunia, daerah kekuasaanya yang terbentang dari sungai Tigris hingga sungai Nil itu dibagikan kepada keturunannya, antara lain:
1) Al-Malik Al-Afdal Ali untuk wilayah Damaskus
2) Al-Aziz untuk wilayah Kairo
3) Al-Malik Al-Jahir untuk wilayah Aleppo
4) Al-‘Adil adik Salahuddin untuk wilayah Al-Karak dan Asy-Syaubak.

Al-‘Adil yang bergelar (Saifuddin) itu mengutamakan perdagangan dengan koloni Prancis. Setelah ia wafat pada 1218, beberapa cabang Bani Ayub menegakkan kekuasaan sendiri di mesir, damaskus, Mesopotamia, Hims, Hamah, dan Yaman.salah satunya untuk memperebutkan Suriah.

Al-Kamil Muhammad, putera Al-‘adil yang menguasai Mesir (615 H/1218 M – 635 H/1238 M), termasuk tokoh Bani Ayub yang menonjol. Ia bangkit untuk melindungi daerah kekuasaannya dari ronrongan tentara Salib yang telah menaklukkan Dimyati atau Damiette (tepi sungai Nil, utara Kairo) pada masa pemerintahan ayahnya, tentara salib tampaknya memang berusaha untuk menaklukkan Mesir dengan bantuan Italia. Penaklukan Mesir menjadi penting karena dengan demikian mereka dapat menguasai jalur perdagangan Samudera HIndia melalui jalaur Laut Merah. Setelah hamper dua tahun (November 1219 M/agustus 1221 M) terjadi konflik antara tentara Salib dan pasukan Mesir, Al kamil berhasil memaksa tentara salib untuk meninggalkan Dimyati.

Al-Kamil juga dikenal sebagai penguasa yang memberikan perhatian terhadap pembangunan dalam negeri. Program pemerintahanya yang cukup menonjol adalah membangun saluran Irigasi dan membuka lahan-lahan pertanian serta menjalin hubungan perdagangan dengan Eropa. Ia dapat menjaga kerukunan hidup beragama antara orang muslim dan orang koptik Kristen, bahkan sering mengadakan diskusi dengan pemimpin-pemimpin Koptik. Pada masa itu tentara salib masih berkuasa sampai tahun 1244 M.

Ketika Malik As-Saleh, putra Malik Al-Kamil memerintah pada 1240 H/1249 M, pasukan Turki dari Khawarizm mengembalikan kota itu ke tangan Islam.

Pada tanggal 6 Juni 1249 M, pelabuhan Dimyati di tepi sungai Nil di taklukan kembali oleh tentara Salib yang dipimpin oleh Raja Lois IX dari prancis.

Pada April 1250 M, akhirnya dapat dikalahkan oleh pasukan Ayyubiah. Raja Lois IX dan beberapa bangsawan lainnya di tawan, tetapi kemudian di bebaskan kembali setelah Dimyati dan dikembalikan ke tangan tentara Muslim disertai dengan beberapa bahan makanan sebagai tebusan.

Pada tanggal November 1249 M, Malik as-Saleh meninggal dunia. Semula ia akan di gantikan oleh putera mahkota Turansyah. Untuk itu Turansyah dipanggil pulang dari Mesopotamia (suriah) untuk menerima tampuk kekuasaan ini. Untuk menghidari kepakuman kekuasaan sebelum turansyah tiba di mesir, kekuasaan untuk sementara dikendalikan oleh ibu tirinya, yaitu “Syajar ad-Durr” akan tetapi, ketika Turansyah mengambil kekuasaan, ia mendapat tantangan dari para Mamluk (Ar: mamluk: seorang budak atau hamba yang di miliki oleh tuannya; jamaknya mamalik dan mamlukan yang tidak menyenanginya).

Belum genap satu tahun Turansyah berkuasa, kemudian di bunuh oleh para Mamluk atas perintah Syajar Ad-Durr. Sejak itu, Syajar Ad-Durr mengatakan dirinya sebagai Sultan wanita pertama Mesir. Pada saat yang sama seorang pemimpin Ayyubiah “Al-asyraf Musa” dari damaskus juga menyatakan dirinya sebagai sultan Ayyubiah, meskipun hanya sebatas lambang saja tanpa kedaulatan atau kekuasaan yang nyata. Kekuasaan sebenarnya ada di tangan seorang mamluk “Izzudin Aybak” pendiri dinasti Mamluk (1250-1257 M), akan tetapi sejak Al-asyraf Musa meninggal pada 1252 M, berakhirlah masa pemerintahan Dinasti Ayyubiah.

Advertisement (Dibawah ini adalah Iklan)
loading...