Pandangan Gadis Yang Terasingkan

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Cerita

Bagi Sekar, tidak semua perbedaan membawa keberagaman yang menyenangkan. Gadis remaja asal Jawa yang sudah pindah ke kota ini selama hampir 10 tahun itu masih saja merasa asing dengan segala sesuatu yang ia rasakan di kota yang ia tinggali sekarang. Namun apa boleh buat? Ia tidak bisa melakukan apa-apa, tidak mungkin ia meninggalkan kedua orangtuanya begitu saja dan kembali ke kota asalnya. Selama ini yang bisa ia lakukan hanya diam. Merintih. Kesepian. Terasingkan di ‘kota orang’. Namun tunggu, bahkan ini pun bukan ‘kota orang’, ini adalah tempat asal Ayahnya. Ia juga punya keluarga di sini. Tapi tetap saja, segala perbedaan yang ia rasakan membuatnya menjerit dalam hati. Hatinya tetap kaku. Kekakuan hatinya bahkan tega membuatnya bertanya pada dirinya sendiri, “Apa aku punya keluarga di kota ini?”.

Setiap hari berlalu bagaikan angin panas yang berhembus ke arahnya. Bertahun-tahun ia menahan sesak di dadanya yang selalu meneriakkan kalimat “AKU INGIN PULANG!”. Masih selalu terbayang di benaknya saat tahun-tahun awalnya di kota ini, ia berusaha keras untuk menyesuaikan diri. Namun sekali lagi, apa boleh buat? Entah hatinya yang terlalu kaku untuk menerima atau adat dan budaya dari kota ini yang terlalu keras untuk ia coba jalani. Sampai pada suatu titik dimana rasa rindu akan kota asalnya memuncak, dan rasa kesal dengan kota yang sedang ia tinggali ini tumpah menjadi kata-kata.

“Ma, aku mau pulang. Aku tidak tahan di sini. Aku merasa terasingkan di sini. Aku ingin kembali.”
“Kenapa kamu bicara seperti itu nak?”
“Menurutku, di kota ini menjalin tali kekeluargaan itu dinilai dari pengorbanan kita akan acara pesta yang keluarga kita selenggarakan. Kenapa mereka mengolok-olokkan kita jika tidak melakukan kebiasaan mereka juga Ma? Apa itu yang bisa kita sebut sebagai keluarga jika semuanya dinilai dari materi?”
Ibu Sekar terdiam mendengar keluhan anaknya. Ia tidak menyangka bahwa selama ini anak gadisnya menyimpan begitu banyak keluhan, menyimpan segala perasaan tertekan yang selama ini selalu dipendam.
“Ma, aku ingin pulang. Aku tidak suka di sini.”
Ibu Sekar tertawa kecil sebelum berbicara pada putrinya lagi. “Apa karena alasan kamu tidak cocok dengan cara pesta di sini saja sehingga kamu ingin kembali?”
“Tidak mungkin hanya karena masalah itu aku ingin pulang Ma. Hanya saja ku tidak mengerti orang-orang di sini. Beberapa yang sudah kuperhatikan, orang-orang di kota ini selalu saja menilai sesuatu dari harta, tahta, atau pun kebangsawanan. Apa hanya orang dengan derajat tinggi saja yang diutamakan? Dan mengapa orang di kota ini selalu mendahulukan emosinya sebelum memecahkan sebuah masalah? Apa itu memang adat dan budaya orang-orang di kota ini? Kalau benar begitu, itu berarti aku benci adat dan budaya dari kota ini Ma.”
Mendengar keluhan dari anaknya, Ibu Sekar tersenyum. “Sifatmu ini jika diperibahasakan, ‘karena nilai setitik rusak susu sebelanga’. Jangan karena contoh dari beberapa kasus yang kamu lihat di kota ini, kamu menyimpulkan bahwa semua orang di kota ini juga seperti itu. Dan juga, jangan salahkan adat dan budaya. Jangan pernah menyalahkan keberagaman. Kamu tidak harus memaksakan diri untuk menyesuaikan dengan perbedaan yang ada di sekitarmu. Kamu tidak harus menjalani hal-hal yang tidak kamu sukai. Hal itu berlaku juga pada keberagaman. Pandangan orang berbeda-beda nak, belum tentu yang mereka anggap baik juga baik menurut kita, begitu pula sebaliknya. Tapi itulah fungsi dari keberagaman. Keberagaman mengenalkan kita akan perbedaan pandangan setiap orang. Hal yang benar itu berbeda-beda di setiap pandangan orang, apalagi di setiap daerah. Jadi apa pun itu, jangan pernah membenci adat dan budaya orang ya nak.”
Sekar terdiam. Di dalam pikirannya saat ini kata-kata dari Ibunya berperang dengan pemahamannya selama ini. Entah mana yang jadi pemenangnya, jawaban tenang dari Ibunya atau ego dari hatinya. Tapi hari itu, Sekar mendapat pelajaran berharga. “Jangan pernah membenci keberagaman”.

Gadis itu kini menyadari bahwa ia tidak harus merasa cocok dengan adat dan budaya di kota ini. Ia tidak harus berusaha untuk berbaur dan menjalani cara hidup orang di kota ini jika ia tidak menyukainya. Karena menurut gadis itu, keberagaman itu relatif. Perbedaan itu relatif. Pandangan setiap orang itu relatif. Kebenaran tidak sama di setiap pandangan. Semua orang tidak harus memaksakan diri untuk menyesuaikan dengan perbedaan. Sekar pun menghela nafas dan tersenyum lega. Ia berkata dalam hati, “Aku tahu apa yang menyebabkan sesuatu menjadi berwarna. Itu karena keberagaman. Pelangi tidak akan indah jika hanya memiliki satu warna.”

16344739, 16344740, 16344741, 16344742, 16344743, 16344744, 16344745, 16344746, 16344747, 16344748, 16344749, 16344750, 16344751, 16344752, 16344753, 16344754, 16344755, 16344756, 16344757, 16344758, 16344759, 16344760, 16344761, 16344762, 16344763, 16344764, 16344765, 16344766, 16344767, 16344768, 16344769, 16344770, 16344771, 16344772, 16344773, 16344774, 16344775, 16344776, 16344777, 16344778