Obyek Wisata Candi Penataran – Blitar

By On Saturday, April 15th, 2017 Categories : Travel

Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang terletak di Jawa Timur. Candi ini persisnya terletak di lereng barat daya gunung Kelud di sebelah utara Blitar. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur.

Nama Candi Penataran kiranya tidak asing lagi kedengarannya di telinga kita terutama bagi masyarakat Jawa Timur. Nama tersebut sudah begitu lekat dan akrab sehingga tidak jarang digunakan orang sebagai mana jalan, toko, depot, dan nama badan – badan usaha lainnya.

Orang mempergunakan nama “Candi Penataran” (yang kadang tanpa kata “candi” di depannya) barangkali di dorong oleh rasa kagum akan masa gemilang yang pernah dicapai oleh nenk moyang kita di masa lalu, sisa-sisa bekas kegemilangan itu masih dapat kita saksikan peninggalannya sampai sekarang.

Dengan menggunakan nama ini diharapkan dapat membawa sukses besar pada pemakainya disamping untuk melestarikan nama yang mempunya nilai historis itu. Penggunaan nama Candi Penataran itu memang tidak salah pilih walaupun bagi Shakespeare tidak pernah ambil peduli apakah arti sebuah nama.

Candi Penataran yang terletak di sebelah utara Blitar adalah satu-satunya komplek percandian terluas di kawasan Jawa Timur, hampir sepanjang hari tidak pernah sepi pengunjung. Menurut catatan jumlah pengunjung umum rata-rata dalam satu bulan sekitar 20.000 sampai 25.000 orang, suatu jumlah yang tidak dapat dikatakan kecil sementara jumlah pengunjung candi-candi yang lain rata-rata dalam satu bulan sekitar 5.000 orang saja.

Wisatawan – wisatawan asing yang datang di Jawa Timur dalam kunjungannya ke Blitartidak lupa menyempatkan diri berkunjung ke Candi Penataran. Kekunaan ini paling banyak di tulis orang, sumber inspirasi bagi para seniman, lahan yang lumayan bagi para penjaja makanan dan barang – barang cindera manta.

Sebagai suaka budaya yang dilundungi undang-undang, Candi Penataran tergolong dalam monumen mati (dead monument) artinya tidak ada kaitannya lagi dengan agama atau kepercayaan yang hidup dewasa ini. Bangunan percandiaan tidak lagi berfungsi sebagaimana sewaktu dibangun semula.

Kontak yang terjadi antara pengunjung dan kekunaan adalah dalam rangka penikmatan seni dan budaya serta ilmu pengetahuaan. Candi tidak lagi sebagai tempat untuk ibadah dan bukan tempat semedi atau meditasi. Pemugaran-pemugaran candi yang telah memdapat perhatian pemerintah sejak Pelita II adalah dalam Rangka menyelamatkan bangunan dari kerusakan yang lebih fatal bukan untuk menghidupkan kembali tradisi lama.

Apabila karena sesuatu hal sebuah candi atau monument runtuh berarti kita telah kehilangan bukti sejarah yang autentik, kehilangan tersebut tidak akan dapat diganti oleh yang lain untuk selama-lamanya. Kini 500 tahun lebih telah berlalu, komplek percandian Penataran masih tegak berdiri di tempat semula dengan penuh keanggunan dan kemegahan siap menanti kunjungan anda setiap saat

Cerita Singkat dalam Relief Candi Penataran
Sejumlah bangunan purbakala di Jawa Timur dindingnya berpahatkan relief-relief cerita dalam kombinasi berbagai ragam hias yang indah dan menarik. Relief-relief tersebut dipahatkan pada bangunan-bangunan yang dibuat dari bahan batu keras dan juga dipahatkan pada bangunan-bangunan yang di buat dari bahan bata merah walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak.

Pada umumnya relief-relief gaya Jawa Timur berbentuk agak pipih (gepeng) seperti wayang, berbeda dengan relief-relief gaya Jawa Tengah yang berbentuk naturalis atau realistik dalam arti mendekati bentuk model yang sebenarnya. Dengan melalui visualisasi relief-relief ininenek moyang kita atau seniman ingin menyampaikan informasi atau pesan kepada masyarakat. Informasi atau pesan tersebut dapat berupa cerita yang didalamnya terkandung tentang ajaran-ajaran agama, tentang kepahlawanan, tentang cinta kasih dan sebagainya.

Juga berupa tutur yakni dongengan yang bersifat mendidik. Dan tidak mustahil bila di antara sekian banyak relief ada yang menggambarkan semacam protes sosial yang terjadi pada zamannya. Studi tentang relief memang menarik sebab dari sinilah kita dapat melihat gambaran sebagian dari kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu, tentang kehidupan masyarakat sehari-hari, tentang model-model bangunan, tentang berbagai pola ragam hias, tentang filsafat dan kepercayaan nenek moyang pada waktu itu.

Untuk pembacaan suatu adegan dalam relief dapat mengikuti arah jarum jam yang juga di sebut pradaksina dan juga dapat kebalikannnya yakni berlawanan dengan arah jarum jam yang di sebut prasawnya. Jadi ada yang berurutan dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Di komplek percandian penataran relief-relief yang terdapat di dinding-dinding pendopo teras pada bidang atau panil-panil tertentu di bagian atasnya terdapat tulisan singkat dalam huruf jawa kuno yang diduga merupakan petunjuk bagi para pemahat cerita apa yang harus digambarkan.

Beberapa tulisan singkat yang telah berhasil dibaca memang sesuai dengan adegan yang dilukiskan dalam relief tersebut. Tulisan-tulisan singkat seperti ini juga terdapat di candi Borobudur. Adapun relief-relief di komplek percandian Penataran yang telah diketahui jalan ceritanya seperti di bawah ini.

  • Sang Setyawan
  • Sri Tanjung
  • Bubuksah – Gagang Aking
  • Ramayana (Hanoman Duto)
  • Kresnayana
  • Pemburu yang tertipu
  • Kura-kura yang sombong
  • Lembu dan Buaya