Nyanyian Di WC Sekolah

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

Ini hari pertama aku masuk sekolah Dasar.
Saat Mama mengantarku memasuki gerbang sekolah, bulu kudukku merinding tapi aku tidak mau bilang ini pada Mama.
Kedua bola mataku melirik kiri dan kanan memperhatikan suasana sekolah, anak sepertiku sangat pandai mencela sesuatu dan langsung kukatakan pada Mama.

“Kenapa Ledya harus sekolah di tempat jelek seperti ini Ma?!” aku merengek.
“Hussss… Jangan bicara seperti itu. Ayo Mama antar kamu ke kelas!” sebelum Mama pulang, kucium dan kupeluk dia erat seperti ingin berpisah saja.

Layaknya anak SD. Sebelum jam masuk, aku berlari ke sana sini berkejaran dengan teman baruku yang bernama Putri.
Sampai-sampai aku sudah ada di belakang sekolah, tempat yang kumuh dan kotor namun harus kulewati demi mendapatkan Putri.
Tapi langkahku terhenti saat mendengar suara gemercik air dari wc tua di ujung perbatasan sekolah.
Aku semakin mendekat, meyakinkan bahwa aku benar mendengar ada sesuatu di sana. Entah kenapa aku tiba-tiba saja berani, padahal tidak ada seorang pun di sini.
Kudekatkan telingaku, kupasang antenaku di tembok yang penuh coretan itu, dan mulai mendengar sesuatu yang membuatku penasaran.

“Siapa yang bernyanyi? Kenapa suaranya jelek sekali… Iuewww!” gumamku.
Setelah ucapanku berakhir, orang yang di dalam menjerit sangat keras dan membuat telingaku pengang dan tak bisa mendengar sesuatupun.
Karena ketakutan segera ku berlari menuju ruang kelas.

Hari yang sangat menyenangkan di sekolah hari ini.
Waktu pulang untuk anak kelas satu, dua dan tiga tiba. Aku kemudian bergegas ke luar kelas, aku sudah melihat supir di parkiran sekolah. Tapi tiba-tiba aku kebelet buang air kecil, ingin menahan tapi takut kebablasan sebelum sampai di rumah. Terpaksa aku berlari menuju wc yang ada di dekat kantor guru. Tapi sayang sekali antrian sudah sangat panjang, kalau menunggu aku bisa kencing di celana. Aku lalu teringat wc di belakang sekolah,
“Aku harus ke sana!!! Kalau tidak aku pasti bau pesing!” aku mempercepat langkah, dan sampai juga.

Pintunya masih tertutup, kuambil botol air di tas dan masuk ke dalam.
Akhirnya lega juga, namun aku jadi penasaran lagi saat suara yang tadi. Aku dengan berlagak berani menuju belakang wc, tapi suara itu terdengar lagi di dalam wc. Aku berbalik arah dan mulai mengintip,

“Kamu yang bilang suara aku jelek?!” ucap orang itu.

Aku sontak kaget, darimana dia tahu kalau aku ada di luar? Dan tadi bukannya aku hanya bercerita dalam hati, kenapa dia bisa tahu?
Bulu kudukku kembali merinding. Saat ingin pergi, tanganku seperti ada yang menarik, aku berteriak dengan kencang memanggil Mama.

“Tolong… Mama…!” tak ada orang yang datang, padahal suaraku sangat berisik.

Aku menangis tak tahu harus bagaimana, tiba-tiba saja aku sudah ada di dalam wc dan parahnya Wc terkunci dengan sendiri.
Kudengar suara supirku memanggil dari luar, aku sudah berteriak kencang tapi tidak didengarnya. Sampai tanganku kesakitan mengendor-ngedor pintu.

Sesuatu yang aneh muncul dari balik tembok. Kepala, anak seusiaku dengan darah memenuhi kepala. Matanya melotot ke arahku, aku tidak kuat melihat itu sangat menakutkan namun dengan merunduk aku berbicara padanya.

“Kamu marah sama aku?!”

Dia hanya tertawa lalu kembali bernyanyi dengan suara yang sangat sumbang.

“Aku minta maaf…!”

Dengan seketika, dia sudah berdiri di hadapanku. Pelan-pelan kupandang dia, tingginya sama denganku, dia memelukku kuberanikan diri untuk melakukan itu.
Kami pun bersahabat, dia selalu menemaniku di sekolah dan menjaga aku dari teman-teman yang jahil. Sesekali kutemani dia di Wc tua itu sambil bernyanyi lagu kesukaanya.

“Balonku ada lima… Rupa-rupa warnanya… Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru… Meletus balon hijau, hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat kupegang erat-erat!”

Aku sangat senang bisa kenal dengan dia, sahabat tak sedunia namun sehati.
Aku melihat kesedihan mendalam di wajahnya saat aku sudah lulus SD, dia melambaikan tangan seiring kepergianku dari Sekolah itu.
Tapi sampai saat ini aku tak lupa padanya, setiap minggu aku ditemani ibu berkunjung ke WC tua dan mendoakan sahabatku itu.

selesai