Noda Yang Kuhapuskan

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Belajar adalah suatu hal yang mungkin sering terdengar atau tidak asing lagi oleh telinga kita. Dan dari belajarlah kita yang mulanya tidak tahu menjadi tahu.

TING TING TING TING TING TING…
Bunyi lonceng pertanda pulang pun terdengar, bunyi ini adalah bunyi yang kutunggu-kutunggu dari tadi. Akhirnya aku pun bisa bersenang-senang bersama temanku yaitu Royan, Hamid dan Dino. Merekalah teman-teman yang mengajarkanku banyak hal yang awalnya aku tidak tahu menjadi tahu, teman-teman yang aku temukan sejak aku bersekolah smp atau masa anak mulai beranjak remaja orang banyak sering menyebutnya masa peralihan. Di masa inilah aku mulai mengenal hal hal yang negatif atau perilaku/kebiasaan yang tidak baik dimasa inilah aku mulai mengenal apa itu rok*k, perkelahian, tawuran dan sampai dimasa inilah aku mengenal nark*ba. Yang bermula dari kebiasaan kami selalu berkumpul di sebuah warung yang banyak berkumpulnya anak remaja yang tidak baik.

“Bagi dong rok*knya teman, walau satu hisap hehee…” Kata Hamid.
“Beli dong, minta mulu. Emangnya gak punya uang lo.” Nada yang terdengar marah dari Royan.
“Gitu amat sih lo, emangnya lo udah lupa orang yang ngajarin lo berok*k itu siapa sih?” Kata Hamid yang mulai panas dengan sikap Royan.
“Masa lalu gak usah diungkit kali, biarlah berlalu.” Kata Royan yang jengkel dengan Hamid.
Mendengar kata kata itu Hamid dan Royan pun berkelahi aku dan Dino yang lagi asik main game pun terganggu.
“Udah stop boy kelahinya! Masa teman makan teman aneh kalian berdua ini.” Kata Dino yang tegas.
“Aduh, mereka kurang puas masih kelahinya malah lo ceramahin, Yan.” Kataku sambil bercanda.
“Dasar lo, Bas. Malah ngomporin mereka berdua.” Kata Dino yang lagi berusaha menjadi orang yang tegas.
“Aja maaf, Boss.” Kataku sambil tertawa

Keadaan yang mulanya tadi ribut malah berubah menjadi penuh dengan suara tawa kami berempat. Dan tiba-tiba saja ada anak sekolah lain yang memukul Hamid dari samping dan mendorong Hamid hingga jatuh.
“Woy, siapa lo.” Kata Royan yang langsung naik darah
Anak yang tidak kami kenal itu langsung mengejek dan menghina kami sambil berkata.
“Anak cupu diam lo, gak usah banyak bacot besok gue tunggu lo di ruko tua dekat pasar di sana kita kelahi. Ingat tuh jangan sampai lupa, Gue tunggu besok lo anak cupu!” Katanya yang menghina kami.
Kami berempat pun mulai memikirkan kejadian tadi sambil mengobati Hamid yang wajah memar akibat kena pukul oleh anak sekolah yang tidak kami kenal itu.
“Intinya besok kita harus ke sana, kita harus membuktikan kalau kita bukan anak yang cupu!” Kataku.

Walapun hanya berempat kami sedikit pun tidak ada terbesit rasa takut, serasa kalau kami berempatlah anak yang paling ditakuti di kota ini. Kami tidak mempedulikan orang yang begitu banyak di tempat itu. Dan tiba tiba saja ada yang memukul pundak aku dan Royan.
“Selamat datang, di Basecamp Blackfoot. Santai saja kalian di sini tidak akan kami pukul ataupun aniaya, soal hal kemarin itu adalah cara kami merekrut anggota baru. Jadi kalian tenang aja di sini.” Kata Zio sang ketua gerombolan Blackfoot.
“Jadi gitu yah, cara Blackfoot merekrut anggota baru.” Kataku
“Tapi kenapa harus gue yang jadi korbannya?” Kata Hamid yang mengingat kejadian kemarin
“Karena anak-anak Blackfoot itu harus pemberani jadi seperti itulah cara kami merekrut anggota baru. Dan harus kuakui kalo kalian berempat adalah orang-orang yang pemberani, atas keberanian kalian telah resmi bergabung dengan Blackfoot.” Kata Zio
“Serius nih, Bang?” Kata kami berempat yang berbarengan mengatakannya.
“Yah, seriuslah masa bercanda.” Kata Zio.
“Asli gak nyangka banget, sumpah.” Kata Royan yang senang sekali.
“Ini buat kalian hadiah dari gue, sebagai tanda ucapan selamat.” Kata Zio
“Apa ini, Bang?” Kata Dino yang rasa penasaran memuncak terlihat pada dirinya.
“Itu nark*ba ya, Bang?” Kata Royan
“Tepat sekali, lebih tepatnya lagi adalah her*in. Gak terlalu banyak sih cuman 5 gram adanya kalian bagi berempat ya.” Kata Zio
“Maaf Bang, kami masih sekolah jadi kami tidak bisa menerima takut ketahuan diperiksa lalu dikeluarkan dari sekolah.” Kataku yang langsung mengambil keputusan sendiri.
“Apa-apaan sih, kalian gak mau ya udah buat gue aja. Kalo kalian gak mau.” Kata Hamid yang langsung mengambil barang haram itu dari Bang Zio.
“Makasih yah, Bang.” Kata Hamid.
“Iya santai aja, kalo mau lagi nanti bisa aja aku kasih lagi.” Kata Zio.
“Ya udah Bang, kami pulang dulu.” Kata Dino.

Semenjak kami bergabung dengan Blackfoot kehidupan kami dipenuhi dengan masalah kami mulai berurusan dengan polisi, sering tawuran, mulai kecanduan dengan nark*ba, dan sekolah kami mulai berantakan. Ketika itu aku melihat Hamid yang tergeletak jatuh tidak berdaya namun melihat teman-temanku yang lain pada lari karena takut akan tertangkap oleh anak-anak Binjai atau musuh bebuyutan anak-anak Blackfoot, Hamid yang jatuh tak berdaya yang pada saat itu kami sedang tawuran dengan anak-anak Binjai. Dan tidak ada satu pun teman-temanku dari Blackfoot yang menolong Hamid mereka semua hanya memikirkan diri sendiri Royan dan Dino mulai berubah mereka mulai lupa dengan teman lamanya. Dan sekilas pada saat itu karena aku yang tidak sempat menolong Hamid, Hamid pun dibawa oleh anak-anak Binjai.

Hari itu terasa tidak lengkap tanpa kehadiran seorang Hamid, Hamid yang dari pagi tadi tidak ada kabar di sekolah dan salah satu dari kami tidak tahu informasi tentang Hamid. Aku merasa bahwa Dino dan Royan mulai berubah dan mereka pada hari itu mungkin tidak sedikit pun memikirkan tentang Hamid. Aku mulai sadar bahwa hal yang kujalani pada saat ini adalah hal yang salah.

“Yan, Din, gue duluan ya.” Kataku
Mereka berdua seperti tidak menghiraukan aku yang pergi meninggalkan mereka, Dino dan Royan hanya asik bermain game sambil mabuk. Ketika di jalan aku berhenti dan duduk merenung di sebuah kursi taman aku mulai memikirkan keadaan Hamid yang kemarin ditangkap oleh anak-anak Binjai hingga terselip dalam pikiranku.
“Jangan sampai Hamid dibunuh oleh anak–anak Binjai.” Kataku yang khawatir tentang keadaan Hamid.

Hari yang sama seperti hari kemarin tidak ada kabar juga tentang keadaan Hamid dan dua temanku Royan dan Dino tidak juga mengetahui tentang keadaan Hamid, dan tidak juga menanyakan tentang Hamid. Ketika aku di rumah tiba-tiba saja mama menanyakan tentang Hamid saat selesai makan malam.
“Kamu tahu Hamid di mana, Bas? Mamanya Hamid tadi menelepon mama katanya Hamid sudah dua hari belum pulang ke rumah.” Kata mama yang lagi membersihkan meja makan.
“Bastian, juga tidak tahu ma.” Kataku yang sedikit kelihatan ragu karena berbohong kepada mama.

Besoknya pada pagi hari itu aku dikagetkan dengan berita tentang kematian Hamid, jenazah Hamid yang ditemukan mengambang di sungai membuat aku sangat kaget dan polisi masih dalam penyelidikan mencari tahu pelaku yang membunuh Hamid. Mendengar berita ini aku sadar dan ingin berubah dari keburukan yang selama ini menyelimuti hidupku dan aku ingin menghapuskan noda dalam hidup ini. Aku ingin sekali berubah sudah terlalu jauh berada dalam keburukan dan noda yang kutimbulkan sudah terlalu besar aku ingin sekali menghapuskannya.

Dan mulai hari besok aku telah perlahan berubah, aku juga sudah beberapa hari tidak berkumpul dengan anak-anak Blackfoot. Aku mulai memperbaiki perilaku di sekolah mengubah sikapku menjadi seorang murid yang berpenampilan baik luar dan dalam.

TING TING TING TING TING TING…
Lonceng pertanda pulang pun terdengar. Hari ini terasa begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya yang pernah kujalani. Tiba–tiba saja di rumahku ada sebuah mobil polisi tepat berada di depan rumahku, ketika masuk ke dalam rumah aku melihat mama yang sedang menangis.
“Saudara Bastian akan kami tahan atas kasus pembunuhan Hamid. Menurut data yang kami temukan dari beberapa barang bukti di TKP dan saksi-saksi. Telah membuktikan bahwa saudara Bastianlah tersangka dalam kasus ini.” Kata salah satu Pak Polisi.
“Tidak mungkin Pak, Hamid itu teman saya. Tidak mungkin saya yang membunuhnya.” Kataku yang mencoba menghindar dari tuduhan polisi tersebut.
Tapi apa daya aku tidak bisa menghindar dari polisi ini, mungkin aku menjadi tersangka gara-gara polisi menemukan sidik jari yang melekat pada pakaian yang dikenakan Hamid.

TAMAT