Myboss Mr. Possesive

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

Lagi-lagi hari ini aku harus menemaninya kepesta pernikahan sahabatnya. Aku mengeluh pelan membaca BBM dari Pak Hadi, Direktur dari Cempaka Indah Land, perusahan pengembang properti , di mana tempat aku bekerja sekarang.

Terbayang wajah Pak Hadi di pelupuk mataku. Sudah empat bulan aku bekerja dengannya, dan sudah dua bulan aku menjadi pacar pura-puranya. Semua ini bukan tanpa alasan…

Dering tanda BBM masuk membuyarkan lamunanku. Aku membacanya. Dari Pak Hadi, siapa lagi yang rajin BBM aku selain bosku yang over posesif ini.

Tanpaku sadari aku menarik nafas panjang. Rasanya ribet sekali terlibat dengan lelaki yang kita sendiri tidak tahu apa maunya.

Untungnya di sini semua karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jadi tidak ada yang sempat bergosip atau segala macam, tidak ada juga yang memperhatikan aktifitasku.

Aku mengambil tas-ku. Beranjak meninggalkan kantor.

***

Aku tiba di parkiran Mall yang terletak tidak jauh dari kantor. Untunglah masih ada tempat kosong untuk mobil mungilku ini. Ah, sebenarnya ini bukan mobilku, ini mobil perusahaan, sebagai sekretaris aku diberikan fasilitas kendaraan dan apartemen yang kutempati sekarang.

Terkadang ada rasa janggal juga di hati, apa memang benar, sekretaris memndapatkan fasilitas yang kupunyai sekarang?

Akhirnya tiba juga aku di cafe tempat aku dan Pak Hadi janjian untuk ketemu. Dari jauh kulihat sosoknya yang sangat kurindu, padahal baru beberapa jam saja kami tidak bertemu. Ah, aku seperti orang di mabuk cinta, andai saja semua ini bukan pura-pura semata….

“Sudah makan Yu?” tanya Pak Hadi begitu aku duduk di kursi kosong di depannya, matanya tak beranjak dari layar ipadnya

Sengaja pertanyaannya tidak kujawab. Pak Hadi mengangkat wajah. Memandangku sambil mengernyit dahi.

“Makan hati,” jawabku pedas.

Tawa Pak Hadi meledak, aku makin cemberut. Ya, walau sebenarnya kami ini bos dan karyawan, tapi karena ada kerjasama menjadi pasangan pura-pura, aku bisa bebas mau bercanda atau marah padanya. Enak ya. Hehe.

“Aku juga belum makan nih,” kata Pak Hadi. “abis makan kita ke butik Mbak Dian ya,”

Aku hanya mengangguk. Semua dia yang atur…

***

Aku mencoba beberapa gaun pesta untuk kupakai nanti malam. Sebisa mungkin aku memilih gaun yang sopan tapi elegan. Aku bukanlah gadis metropolitan asli, aku berasal dari daerah. Tubuhku tinggi langsing dengan lesung pipit di kedua belah pipiku. Yah, bukannya ge-er, tapi aku termasuk gadis yang cantik dan ideal.

Setelah mendapat gaun yang kuinginkan, aku memilih sepatu hak tinggi, dan clutch bag untuk dipadukan dengan gaun yang akan kupakai nanti.

Aku melirik Pak Hadi, yang ternyata sedari tadi terus memperhatikanku. Ia berjalan mendekatiku.

“Kapan nih mau meritnya?” tanya Mbak Dian sambil tersenyum manis.

Pertanyaan Mbak Dian tak jelas ditujukan pada aku atau Pak Hadi. Yang jelas, aku memilih diam.

“Ya, entar juga nyampe undangannya ke Mbak Dian,” jawab Pak Hadi sambil mengedipkan matanya.

Aku pura-pura tidak mendengar kata-katanya. Iyalah, jelas-jelas hubungan ini tidak ada tujuan untuk melangkah kearah sana.

“Berapa semua Mbak?” tanya Pak Hadi.

Mbak dian menyebut sejumlah nominal yang membuat mataku terbelalak. Iya, untuk gadis biasa seperti aku, ini semua terasa sangat mahal. Tapi harus kuakui, produk bermerk itu, memang membuatku terlihat sangat anggun.

Ini bukanlah kali pertama ia membelikanku gaun karya disainer terkenal, atau tas dan sepatu branded, tapi tetap aja aku belum terbiasa dengan harganya yang wah.

“Mahal sekali Pak,” kataku setelah di mobil menuju ke kantor.

“Tidak mungkin aku membawa pacar ke pesta dengan babydoll murahan sayang.”

Hatiku berdesir. Dua bulan kami menjalani hubungan pura-pura, ini kali pertama Pak Hadi memanggilku sayang.

Aku memandang lurus ke depan untuk menutupi debaran di hatiku.

“Sabtu depan Mama ngajak makan malam di rumah.” Ujarnya pelan.

Aku menoleh, menatap Pak Hadi dengan tatapan kurang suka. Perjanjiannya adalah, aku menjadi pacar pura-puranya untuk menemaninya ke pesta-pesta. Tidak ada acara berkenalan dengan keluarganya. Toh ini hubungan yang bersifat pura-pura.

Semenjak Pak Hadi dinyatakan berpasangan denganku, wanita-wanita penggila harta yang biasanya tiap hari selalu mampir ke kantor mulai berkurang. Aku makhlum kalau wanita-wanita itu tergila-gila padanya, selain kaya, Pak Hadi juga tampan, tubuhnya tinggi gagah dengan wajah campuran indo arab.

Pak hadi mengangkat bahu. “Mama Sudah tahu kita pacaran,” ujarnya cuek.

“Pacaran pura-pura,” aku mengoreksi.

“Yah, apa pun namanya, semua teman-temanku tahu, kalau kamu itu pacarku, bahkan seluruh karyawan di kantor juga tahu.”

Aku mendelik ke arahnya. Tidak suka dengan keadaan sekarang. Terasa terperangkap dalam permainan tak berujung. Menyesal aku meminjam uang darinya. Tapi apa daya, demi membiayai biaya perawatan mama di rumah sakit dua bulan lalu, aku tak punya pilihan. Uang tiga puluh juta yang kupinjam, di bayar dengan kontrak pacaran selama setahun. ini semua untuk mengurangi diuber-uber cewek-cewek tiap hari.

“Tapi kenapa orangtuamu bisa tahu?” tanyaku sedikit kesal.

“Nita itu sepupuku, dan dia yang cerita ke mama tentang kita.”

Nita? Terbesit wajah cantik yang berulangtahun sabtu kemarin. Aku menarik nafas berat. Apalagi yang mau dikata…

***

Minggu pagi kuhabiskan waktu di bandara, menjemput sepupuku yang datang dari negeri jiran, Malaysia. Lima belas menit aku menunggu, akhirnya kulihat sosok sepupuku berjalan ke arahku. Aku tersenyum. Kami berpelukan. Ah, sudah lama sekali kami tidak bertemu.

“Apa kabar mas Nathan?” tanyaku sambil tersenyum.

“Sangat baik, Kamu makin cantik aja Yu.” Puji Mas Nathan.

Senyumku makin mengembang, Mas Nathan satu-satunya sepupuku, makanya kami akrab sekali.

“Gimana kabar Tante dan Om di sana?” tanyaku ingin tahu. Sudah dua tahun aku tidak bertemu dengan adik laki-laki mamaku itu. Tante sis, isteri dari Om yarto, sangat baik padaku, mungkin karena mereka tidak punya anak perempuan, aku di perlakukan seperti anak sendiri. Sayangnya, dua tahun lalu mereka pindah ke malaysia karena om yarto pindah tugas ke negeri melayu itu.

“Baik,” jawab Mas Nathan, “Ada salam untuk Ayu dan Bibi dari Mama, sekalian ada oleh-oleh juga, hehe”

Aku tertawa kecil.

“Sekarang ayu tinggal sendiri di apartement Mas, lebih dekat ke kantor,” jelasku. “Kita ke apartemen ayu ya Mas.”

“Beres Honey,”

Aku tersenyum.. dari dulu sampai sekarang, Mas Nathan tidak berubah. masih memanggilku dengan panggilan kesayangannya.

***

Aku memeriksa jadwal kerja Pak hadi hari ini. Semua aktifitasnya hari ini, di luar kantor. Aku tersenyum lega. Hari ini aku merdeka. Entahlah, kalau Pak Hadi ada di kantor, aku pusing. Walau sudah dinyatakan berpacaran denganku, masih saja cewek-cewek datang ke kantor nguberin dia, walaupun jumlahnya sudah berkurang. tapi aku bosan melayani mereka. Bosan dan.. sedikit cemburu.

Setiap hari, ada saja wanita yang berbeda datang mencari Pak Hadi, dan mereka selalu angkuh padaku, karena tahu aku pacar Pak Hadi.

“Ayo Yu,” ajak Pak Hadi begitu keluar dari ruangannya.

“Kemana Pak?”

“Ikut aku ke lapangan hari ini, toh kamu di kantor juga gak ngapa-ngapain,”

Yah… aku kecewa. Namun aku tetap menurut.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, sambil sesekali tersenyum melihat photo yang dikirim Mas Nathan via BBM. Photo-photo Mas Nathan bersama Mama dan Adikku di kampung. Kelihatan mereka sedang tertawa sambil memetik buah rambutan.

Ah, tahu begini aku cuti dan ikut Mas Nanthan pulang ke kampung. Wajah Mas Nanthan menunjukkan betapa ia menikmati suasana kampung halaman kami.

“Kenapa senyum-senyum Yu?”

Aku menggeleng pelan tanpa menjawab. Ponsel blackberry-ku segera ku masukan ke dalam tas.

“Pacar baru?” tanya Pak Hadi lagi. Tersirat nada cemburu dalam suaranya.

Aku menggeleng tanpa menoleh ke arahnya. Pacar baru? Pacar lama saja tidak punya…

“Bagus, selama kamu jadi pacarku, kamu gak boleh jalan atau pacaran smaa lelaki lain!” tegasnya posesif.

“Kenapa begitu? Ini tidak ada di perjanjian kita kan?”

“Selayaknya orang berpacaran, gak boleh SELINGKUH!” takannya sambil meliriku sekilas.

Aku membuang muka. Iyalah, toh aku juga suka padanya, jadi sepertinya dalam setahun ini, aku tidak mungkin suka yang lain.

Tiba di lokasi, Pak Hadi mulai sibuk dengan para buruh dan arsitek. Aku mengikuti tanpa bersuara. Tersentuh hatiku melihat Pak Hadi berkeringat kelelahan mengawasi dan mengatur ini itu.

Aku meninggalkan mereka untuk ke swalayan terdekat. Aku membeli beberapa botol air mineral dan beberapa jenis roti. Mungkin Pak Hadi tak pernah tahu kalau sebenarnya aku benaran suka padanya. Sebisa mungkin aku menyembunyikan perasaanku darinya.

Tiba di lokasi, aku menyerahkan air mineral dan roti untuk Pak Hadi dan Doni, arsiteknya.

“Makasih sayang.” Ujar Pak Hadi lembut. Menatapku sejenak.

Wajahku memerah seketika. Doni tersenyum menatap kami silih berganti.

“Kapan nikahnya nih Pak?” tanya Doni.

Kulihat Pak Hadi tersenyum. Kenapa sih semua bertanya seperti itu?

“Dalam waktu dekat ini,” canda Pak Hadi sambil melirikku. Aku pasang wajah tanpa ekspresi.

Doni tertawa mendengar jawaban Pak Hadi.

“Jangan lupa undangannya Pak, pasti Mbak Ayu cantik sekali bila menjadi pengantin nanti, sekarang saja sudah cantik sekali.” Puji Doni.

Dasar si Doni. Memancing di air keruh. Aku berusaha menjaga raut wajahku agar terlihat kalem.

“Pengen punya anak berapa nih?” tanya Doni lagi.

Pak Hadi tertawa. “Tiga aja cukup ya yang?” tanya Pak Hadi padaku sambil tersenyum.

“Ehm, terserah aja,” jawabku gelagapan. Wajahku memerah, Asli tidak menyangka Doni akan bertanya sejauh itu.

Akhirnya seharian itu, aku menjadi bahan godaan Pak Hadi dan Doni. Kurang ajar, lain kali aku gak bakalan mau ikut ke lokasi lagi.

***

Sudah sepuluh menit aku menunggu Mas Nathan menjemputku, tapi batang hidungnya pun tidak kelihatan.

“Kenapa masih berdiri di sini Yu?”

Aku menoleh, Pak Hadi berdiri di sampingku.

“Nunggu jemputan,” jawabku singkat.

“Mobilnya mana?” tanya Pak Hadi lagi.

Belum sempat aku menjawab, Mas Nathan muncul dengan mobil yang biasa kugunakan. Ah, ketahuan sama Pak Hadi.

“Sorry, Mas telat Honey,” ujar Mas Nathan.

Aku tersenyum. “Pamit pulang dulu Pak,” aku buru-buru melangkah menuju mobil. Dapat kulihat rahang Pak Hadi mengeras. Pasti dia berpikir aku dan Mas Nathan berpacaran.

“Bosmu Yu?” tanya Mas Nathan sambil mengarahkan mobil keluar dari area kantor.

Aku mengangguk.

“Tampan Yu, cepat-cepat aja digaet tuh,”

Aku tersenyum tipis mendengar saran Mas Nathan. “Yah, entar aja. Banyak saingan mas, penggemarnya bejibun” candaku menutupi rasa dihatiku.

Mas Nathan tertawa. Sepanjang perjalanan pulang, kami terus bercerita. Seketika aku lupa sama Pak Hadi.

***

Pukul sembilan malam, bel pintu apartementku berbunyi. Aku yang baru selesai mandi, masih mengeringkan rambutku, mengeryit heran. Siapa malam-malam begini datang? Tumben.

“Mas, bukain dong.” Pintaku manja pada Mas Nathan.

Mas Nathan tinggal di apartemenku, untungnya di apartemen, mau tinggal sama siapa kita, tidak ada yang ngurusin.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Pak Hadi ketus tanpa basa-basi.

Mas nathan yang ditanya seperti itu kebingungan. Pak hadi melintasi ruangan mendekatiku yang masih mengeringkan rambut dengan handuk. Ya, aku lebih suka cara alami daripada menggunakan hair dryer yang menurutku bisa merusak rambut.

“Jadi begini kamu di belakangku?” tanya Pak Hadi marah. Nafasnya turun naik menderu menahan amarah.

Aku merusaha melepas cengkraman tangannya di lenganku.

Mas Nathan mendekat ke arah kami. Berusaha menengahi kami.

Tanpa disangka-sangka, Pak Hadi menonjok wajah Mas Nathan. Aku menjerit kaget. Secepat kilat aku mendekati Mas Nathan, \ aku mengelus sudut bibir Mas Nathan yang mulai mengeluarkan darah segar.

“Betani-beraninya kamu meniduri pacarku!” teriaknya marah. Ia kembali mendekat mencengkram kerah baju Mas Nathan. Aku berusaha mencegah, melepaskan cengkramannya.

Meniduri? Aku baru teringat, kondisiku yang sehabis mandi dengan rambut basah, mungkin membuatnya berpikir kami habis bercinta.

“Pak Hadi apa-apan sih?” tanyaku marah. Saking kesalnya aku lupa, kalau di luar kantor, aku tidak pernah memanggilnya Bapak.

“Oh, di depan selingkuhanmu, kamu memanggilku Bapak, pandainya kamu berpura ya Yu.” Kata pak Hadi marah.

Sedikitpun aku tak membalas tuduhannya. Aku mengelap darah yang mengalir di sudut bibir Mas Nathan. Aku tahu, Pak Hadi sedang marah. Jadi percuma aku melayani kemarahannya.

Sepertinya Pak Hadi tidak puas dengan sikapku. Tanganku di tarik ke arahnya. Tubuhku di peluk erat. Bibirnya dengan kasar mencari bibirku. Menciumku dengan penuh amarah. Aku berusaha menolaknya dengan mendorong dadanya. tapi pelukannya terlalu erat. Asli aku malu sekali di perlakukan seperti ini di depan Mas Nathan.

Dan… ciuman pertamaku hilang sudah, di renggut dengan kasar oleh Pak Hadi. Sebel.

Aku memukul-mukul dadanya, mengharap ia melepaskanku. Nafasku ngos-ngosan kekurangan oksigen. Setelah puas ia menciumku, baru ia melepaskanku. Aku terhuyung, tidak siap di lepas secara tiba-tiba.

Mas Nathan keluar meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun. Kakiku lemas. Aku berjalan untuk duduk di sofa tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku diam, kesal dengan sikap Pak Hadi yang kekanak-kanakan.

Pak hadi duduk di sampingku dengan nafas yang masih memburu.

“Jadi dia pacar barumu?”

Aku diam. Tidak menjawab, juga tidak menoleh ke arah Pak Hadi.

“Jawab,” bentaknya.

Ini pertama kali aku di bentak Pak Hadi. Selama ini dia selalu lembut padaku. Tanpa terasa airmataku jatuh. Entah apa yang membuat aku menangis.

“Sorry,” ujar Pak Hadi. Ia mendekap bahuku. “Maaf Yu. Aku tak berniat kasar padamu.”

Ia menyeka airmataku yang makin deras mengalir.

“Aku cemburu,” kata Pak Hadi tiba-tiba.

Cepat Aku menoleh kearahnya. Mengharap penjelasan akan pernyataannya barusan.

“Sudah lama aku mencintaimu Yu, dari awal kamu menjadi sekretarisku.” Ungkapnya tanpa memandang ke arahku. “Begitu banyak wanita mengingginkanku, tapi sedikitpun hatiku tak tergugah.”

Aku terus menatapnya tanpa berkedip. Aku tersanjung mendengar pernyataannya. Tangisku terhenti berganti dengan senyum tipis.

“Saat kamu ingin meminjam uang dari perusahaan, aku berpikir, mungkin aku bisa memnafaatkan kesempatan yang ada. Akhirmnya aku memintamu menjadi pacarku.” Katanya pelan.

Aku mendengarkan dengan seksama. Tangannya kusentuh lembut.

“Mungkin bagimu kita pacaran pura-pura, tapi tidak bagiku. Aku serius, dan berharap dalam masa setahun, kamu akan jatuh cinta padaku.” Jelasnya lagi.

Senyumku semakin lebar. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan.

“Kalau kamu memilih dia, aku tidak akan memaksamu Yu. Hutangmu juga sebenarnya sudah ku anggap lunas. Aku hanya ingin membantumu dan orangtuamu.” Katanya tulus.

Aku tersentuh mendengar penjelasan Pak Hadi. Kupeluk erat tubuhnya, seolah ingin menyatukan hati kami, ia juga balas memelukku dengan erat.

“Nathan itu sepupuku,”bisikku di telinga Pak Hadi. Berniat memberinya penjelasan agar ia tidak salah paham lagi.

Tubuhku di dorong kedepan, Pak Hadi menatapku dengan pandangan tak percaya. Aku mengangguk mengiyakan.

“Tapi kenapa dia memanggilmu Honey?” tanya Pak Hadi masih tidak percaya dengan ucapanku.

“Dari kecil kami bersama-sama. Itu panggilan kesayangannya padaku.” Jelasku. Senang melihat Pak Hadi bergelut cemburu sedari tadi.

Kulihat wajah Pak Hadi memerah menahan malu.

“Kenapa gak cerita dari awal?” tanyanya malu.

Aku tertawa. Jelas Pak Hadi berhutang minta maaf pada Mas Nathan yang sudah di tonjok olehnya.

“Makanya gak boleh cemburu buta,” kataku lagi.

Wajah Pak Hadi makin memerah. “Cemburu tandanya sayang. Dan aku akan terus cemburu bila ada lelaki lain di dekatmu.”

Aku tersanjung mendengar kata-katanya. Hatiku berdesir indah.

“Siapa yang gak cemburu lihat kekasihnya berduaan sama lelaki lain? Kondisinya kamu abis mandi lagi, kupikir kalian begituan.” Katanya lagi.

“Sembarang!” aku menonjok pelan dada Pak Hadi. Secepat kilat Pak Hadi meraihku ke dalam pelukannya.

“I love you Ayuni.” Bisiknya tepat di telingaku.

Hatiku berbunga-bunga. “Me too..” balasku.

Pelukannya semakin erat. Aku juga balas memeluk dengan segala rasa sayangku padanya.

“Benarkah kamu mencintaiku?” tanya Pak Hadi masih dalam kondisi berpelukan.

Aku diam. Sengaja ingin menggantungnya sebentar. Pelukan direnggang olehnya. Ia memandang tepat ke bola mataku.

“Yu?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk. “I love u Mr. Possesive. Sejak lama, Cuma aku tidak berani menunjukkannya.”

“Benaran?” Dia tersenyum bahagia.

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, minggu depan kita menikah ya Yu? Mau kan? Mas akan mengantar rombongan meminang ke rumah orangtuamu.” Hilang sudah aku-kamu nya.. berganti dengan Mas. Hmm..

Aku terpaku dengan niatnya. “Apa gak terlalu cepat Mas?”
“Mas sudah tak sabar sayang,” Pak Hadi mencium pipiku, lalu bibirnya menyentuh bibirku. Aku menyambut ciumannya dengan hati berbunga-bunga. “I Love you Mr. Possesive.” Bisikku disela-sela ciumannya.

“Me too, You is mymine.” Bisiknya.

Hatiku berdesir indah akan sikap posesifnya. Ya. Hilang sudah status pacar pura-puraku… berganti dengan calon istri si bos. Hehe. I love you Mr. Possesive.

… tamat…