My Lovely Classmate

By On Sunday, March 5th, 2017 Categories : Cerita

Irene POV
“Irene… Bangun! Ini sudah pukul 6!!!” Teriak Ibu dari depan kamarku.
“Hmmmmm… Iya Ibu…” Kataku sambil bangun dan duduk di atas tempat tidurku.
Saat aku mendengar suara langkah kaki menjauh, aku langsung menuju kamar mandi.

Hari ini adalah hari pertama aku masuk ke sekolah baruku. Sekolah Swasta yang sangat terkenal di Korea. Ya! Korea yang terkenal dengan para Boyband dan Girlbandnya. Aku pindah sekolah ke negara ini dikarenakan Ayahku yang memang asli Korea dipindah tugaskan dari perusahaan Indonesia ke Korea. Oh, ya, kata Ibuku, banyak artis yang menempuh pendidikan di sana. Tapi, aku tidak terlalu peduli sih… Kecuali, kalau nanti aku sekelas dengan artis itu, baru aku perduli…

Setelah selesai mandi, aku membuka lemari seragamku. HAH!!! Seragamnya saja sangat bagus! Sekolahnya pasti sangat elite. Aku melirik jam wekerku dan mendapati sudah setengah tujuh.. aku biru-buru memakai seragam itu dan turun ke ruang makan untuk sarapan. Untung masih ada waktu 1 jam. Memang, sekolahku masuk pukul setengah delapan, jadi sedikit santai.

“Pagi Ayah, Ibu…” Sapaku pada orangtuaku sambil mencium pipi mereka.
“Pagi, sayang…” Balas Ayah. Sedangkan Ibuku hanya tersenyum kepadaku. Aku pun duduk di hadapan mereka dan menyantap sarapanku, setelah sarapan kami habis, aku berangkat sekolah dengan Mang Upi supir keluargaku.

Ketika sampai sekolah aku pun turun dari mobilku dan berjalan menuju kelasku.. Benar dugaanku sekolah ini benar-benar bagus. Dan ada banyak artis yang bersekolah di sini. Wah…! semoga saja kelasku juga ada artisnya!. Pikirku sambil membuka kelasku. Aku adalah siswi kelas 2 SMU. Saat pintu sudah terbuka aku melihat ke dalamnya dan ternyata sudah banyak yang datang. Aku langsung menuju ke salah satu kursi yang kosong. Dan…ya! aku mendapatkanya, aku pun menuju kursi itu. Di samping jendela tempat favoritku. Dan untung sudah ada Siswi yang nantinya akan menjadi teman sebangkuku.

“Annyeonghaseyo, apakah kursi ini sudah ada yang menempati?” Tanyaku pada siswi itu.
“Ah, belum… tapi, siapa kau?” Balas siswi itu dengan heran
“Emm… Aku Irene, siswi baru di sekolah ini”
“Oh… Hallo, Aku Kang Sunghye. Bangapdasemnida…”
“Ne, Sunghye~ssi, Bangapdasemnida” kataku sambil duduk di samping Sunghye.

“Mian, Irene~ssi, Kau pindahan dari mana?” Tanya Sunghye kemudian setelah beberapa kali melirik ke arahku.
“Ehmmm, Aku pindahan dari Indonesia”
“Indonesia? Tapi, kenapa kau bisa bicara bahasa Korea dengan sangat lancar?”
“Ne, Ayahku Orang Korea, jadi sedikit-sedikit aku bisa berbahasa Korea”
“Oh… Begitu” kata Sunghye sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Sunghye~ssi, apakah di kelas ini ada Artisnya? Aku dengar banyak artis yang bersekolah di sini. Apakah Itu benar?” Tanyaku sambil berpura-pura berdiri untuk membetulkan letak kursi yang aku duduki.
“Ne. Ada satu. Namja. Lee Taemin…”
“Hah?! Lee Taemin Shinee maksudmu?” Dengan refleks aku langsung berdiri tegak dengan wajah shock.
“Ne. Kenapa?.” Kata Sunghye dengan wajah heran.
“Aku sangat mengidolakannya… Dia itu tampan, kemampuan dancenya juga bagus, suaranya indah, Hah… Dia itu bagaikan pangeran berkuda putih bagiku…” Jelasku sambil menerawang membayangkan wajah Taemin yang tampan.
“Dan apakah kau tahu aku sudah mengidolakannya sejak dia pertama kali debut. Saat itu dia masih terlihat sangat Imut, tapi sekarang Taemin sudah menjadi tampan dan keren, walaupun dia sudah berganti-ganti style rambut aku tetap saja…” Tiba-tiba ada sesuatu yang menepuk pundakku pelan, dengan seketika aku langsung berhenti bicara, aku melihat kearah Sunghye yang raut wajahnya seketika khawatir. Aku bingung dan langsung membalikan badan dengan perlahan.
Dan,
JLEB!!!
JEGER!!!
SWING!!!
RING DING DONG!!!
BLURP BLURP BLURP!!!
Ternyata yang menepuk pundakku adalah Lee Taemin. Entah seperti apa wajahku sekarang, tapi aku yakin, pasti sangat merah.

“Mianhamnida, aku Lee Taemin. Apakah kau tadi sedang membicarakanku?” Tanya Taemin yang membuatku semakin malu saja.
“Ah… Itu, maaf kalau aku terlalu lancang telah membicarakanmu.” Kataku sambil menunduk. Aku terlalu malu untuk menatap wajah yang ada di hadapannya saat ini.
“Tidak apa-apa. Omong-omong kau siapa? Aku baru melihatmu di sini, apakah kau siswi baru?” Mendengar pertanyaan Taemin yang bersahabat, perasaanku menjadi lega. Selama ini aku dugaanku memang tidak salah mengenai seorang Lee Taemin. Taemin memang benar-benar orang yang baik dan bersahabat.
“Iya, aku siswi pindahan dari Indonesia. Irene imnida…” Jawabku sambil membungkukan badan ala Korea.
“Aku Taemin, dan tempat dudukku adalah di sebelah sini.” Kata Taemin dengan telunjuk menunjuk ke arah belakang tempat duduk Sunghye.
“Benarkah? Tempat dudukku ada di sini. Wah! Sunghye, kenapa kau tidak bilang padaku?” Tanyaku pada Sunghye yang sedang melihat ke arah luar jendela.
“Karena kau tadi terlalu semangat menceritakan tentang idolamu.” Jawab Sunghye santai sambil mengedikkan dagu ke arah Taemin yang sekarang sedang menahan senyum.
“Ah, aku tidak seperti itu.” Sergahku dengan wajah yang kembali memerah. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku dan langsung duduk di kursiku.
Aku melihat Taemin telah berjalan ke arah tempat duduknya.
Fiuh… Akhirnya… Dengusku dalam hati lega.

Sudah lama insiden memalukan saat pertama aku masuk sekolah saat itu berlalu, tak terasa aku sudah tinggal dan bersekolah di Korea selama tiga bulan. Dan selama itu pula aku, Sunghye, dan Taemin sudah menjadi teman dekat. Taemin dan Sunghye memang sudah berteman lama, jauh sebelum aku datang. Selama aku beteman dengan Taemin, aku jadi mengetahui sedikit tentang kepribadian asli Lee Taemin. Sunghye juga sering memberitahuku tentang sifat Taemin.

Terkadang Taemin izin ditengah jam pelajaran untuk syuting atau apapun yang berkaitan dengan karirnya sebagai seorang member dari salah satu Boyband terkenal. Dan terkadang dia mengajak aku dan Sunghye makan siang di Restaurant dengan pakaian tertutup, topi dan masker. Saat pertama dia mengajak kami makan, aku bertanya-tanya dalam hati, bagaimana cara dia makan jika mulutnya saja tertutup oleh masker? Ternyata, Taemin hanya memakai kostum aneh itu saat di jalan, dan saat telah memasuki Restaurant dia melepaskan masker yang dia pakai. Untung saja Taemin merekomendasikan Restaurant Elite, dan itu pun masih di dekat sekolah kami. Jika tidak, mungkin akan banyak yang bisa mengenalinya dan kami bertiga akan diberitakan di sana-sini.

“Hey! Apa yang sedang kau pikirkan? Sedari tadi aku memanggilmu tapi kau hanya diam saja. Aku ingin memberi tahumu tentang sesuatu” Kata Sunghye yang secara tiba-tiba sudah ada di sampingku. Saat ini aku dan Sunghye memang belum pulang ke rumah seperti para siswa lain yang sudah pulang dari satu jam yang lalu. Kami masih di sini karena Taemin yang menyuruh kami untuk menunggu di kelas.
“Waeyo?” Tanyaku acuh sambil bertopang dagu.
“Ini tentang Taemin”
Mendengar nama Taemin di sebut, tubuhku langsung menegang. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang. Sejak beberapa minggu belakangan setiapa aku mendengar nama Taemin ataupun berdekatan dengannya, terasa ada desiran halus di dalam hatiku. Aku mencoba untuk mengabaikan perasaan itu dan hanya fokus pada persahabatan kami, namun apa daya, aku tidak bisa mengontrol desiran itu.
“Kenapa dengan Taemin?” Tanyaku lagi sambil berdehem. Sunghye mendekat padaku dan memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka sebelum berbisik dengan pelan padaku.
“Tadi dia meneleponku dan berkata bahwa dia ingin menyatakan perasaan terhadap seorang perempuan.”

JLEB!

Mendengar Taemin menyukai perempuan, membuat hatiku sakit. Bukan hanya karena alasan pribadi mengenai ketertarikanku pada Taemin, tapi juga mengenai mengapa dia hanya memberitahu hal ini pada Sunghye dan tidak padanya.
“Benarkah? Aku ikut bergembira dengan kabar baik itu. Akhirnya Taemin mempunyai orang yang bisa dijaga selain kita. Dan kelak yeojachingunya mungkin akan bisa menjadi sahabat kita juga.” Kataku sambil menahan rasa sakit yang ada di dalam hatiku. Aku mencoba tersenyum gembira namun yang keluar adalah senyum hambar.
“Irene, Apa kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu terlihat sangat sedih?” Tanya Sunghye sambil menyentuh wajahku pelan.
“Ah, Aniya… Aku baik- baik saja.”
“Jangan selalu bilang ‘aku baik-baik saja’ atau ‘aku tidak apa-apa’ Iren. Aku tahu sebenarnya kau menyukai Taemin bukan lagi sebagai idolamu, melainkan kau sudah menyukai Taemin sebagai seorang pria. Aku memang belum begitu mengenalmu, tapi waktu tiga bulan itu sudah cukup untuk aku mengetahui perasaanmu pada Taemin yang mulai berubah.” Seru Sunghye.
Kenyataan bahwa Sunghye benar-benar memperhatikanku sebagai seorang sahabat, membuatku terharu. Aku sudah tidak kuat lagi untuk menahan air matanku untuk menetes.

GREP…
Tiba-tiba Sunghye memelukku. Akhirnya aku menagis di dalam pelukan Sunghye. Aku merasakan usapan lembut di punggungku. Akupun mendengar bisikan lembut yang begitu menenangkan. Di dalam ruang kelas yang lenggang ini, hanyalah isak tangisku yang terdengar.

“Seharusnya aku tidak menyakitimu seperti ini, Irene.” Seru sebuah suara dari arah pintu.
Kami begitu terhanyut dalam suasana haru ini sampai tidak mendengar bahwa ada orang selain mereka yang memperhatikan mereka sejak tadi. Sunghye langsung melepas pelukannya dan menengok ke arah sumber suara, sedangkan aku buru-buru menghapus air mataku.
“Taemin?!” Seruku tertahan saat mengetahui orang yang sedang berdiri di depan pintu kelas. Sedangkan Sunghye mengambil tindakan untuk berdiri dan pergi.
“Selesaikan masalah kalian. Aku tidak ingin masalah ini mengganggu persahabatan kita.” Ucap Sunghye sebelum keluar dari ruang kelas.

Sepeninggalan Sunghye, atmosfer di ruangan ini mendadak jadi kaku. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut kami. Setelah beberapa menit saling berdiam diri, akhirnya aku memecah keheningan ini.
“Aku dengar kau ingin menyatakan perasaanmu kepada seorang perempuan?”
“Ya”
“Selamat” Ucapku dengan tersenyum terpaksa.
“Terimakasih” Jawab Taemin singkat yang hanya aku respon dengan anggukan samar.
“Siapa perempuan beruntung itu?” Tanyaku lagi sambil mengalihkan pandangan ke arah luar jendela. Di sana aku melihat ada tukang kebun yang sedang menyapu halaman sekolah.
“Kau” Mendengar jawaban itu, aku langsung menengok pada Taemin yang sedang memandangku intens.
“Naega?”
“Ne”
“Kau bercanda. Kau pasti hanya merasa kasihan padaku dan kau juga…”
“Aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu Irene!” Potong Taemin. Aku sekarang bingung. Aku hanya terbengong memandangnya.
“Ya! Perempuan yang ingin aku beri hatiku adalah kau, Iren. Sebenarnya aku tadi mendengar sebagian pembicaraan kalian. Dan aku juga senang mengetahui bahwa kau ternyata memiiki perasaan yang sama denganku. Jadi apakah kau mau menerimaku?” Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung berlari dan memeluknya dengan sangat erat. Dalam pelukan Taemin, aku mengangguk. Taemin lalu membalas pelukanku dan setelah beberapa saat, aku melepaskan pelukan kami. Aku tersenyum pada Taemin yang dibalas dengan senyum manis pria yang ada di hadapanku ini. Aku merasa sangat bahagia hari ini dan mungkin saja sampai kapanpun.

“Jadi kalian sekarang sudah berpacaran?” Tiba-tiba Sunghye sudah ada di antara kami. Aku dan Taemin langsung menengok pada Sunghye yang sedang tersenyum.
Aku dan Taemin berjalan menghampiri Sunghye dan kami lalu berpelukan dengan erat bahagia.
“Berarti, sekarang sudah tidak ada masalah apapun lagi ‘kan?” Tanya Sunghye ditengah-tengah pelukan kami. Aku hanya memgagguk dan lalu kami bertiga tertawa bersama dengan lepas.

Irene POV END

Tuhan, aku tak tahu apa takdirku kelak, tapi aku hanya ingin kau kabulkan satu permintaanku. Jagalah hubungan ini. Sahabat dan Cintaku saat ini. – Irene –

Jagalah kebersamaan ini, Tuhan. – Lee Taemin –

Tetaplah tersenyum Irene, Taemin. Aku hanya ingin kita akan selalu bersama. Sampai kapanpun. Tuhan, aku hanya ingin itu. – Kang Sunghye –

THE END