My First Love is Erica (Part 2)

By On Sunday, March 19th, 2017 Categories : Cerita

Adrian berjalan dengan wajah yang lesu dan tertunduk, namun dalam hatinya ia sangat puas bisa membantu temannya bisa dekat dengan cewek yang disuka, meskipun harus merelakan perasaannya sendiri.

Sesampainya di rumah ia langsung masuk ke dalam kamar dan memutuskan untuk tidur, dan memilih lari dari kenyataan buruk yang menimpanya. Ada suara membuka pintu yang membuatnya tidak jadi tidur, ia pun menoleh ke arah pintu yang ternyata Ibu sudah ada di dalam kamar.

“Kamu kenapa Dri? Pulang sekolah kok mukanya kusut gitu?”
“Tidak kenapa-kenapa bu’, cuma badan Adrian rasanya sakit semua, apalagi tangan masih dibalut perban begini,”
“Mandi dulu sana, terus makan malam kemudian tidur,”
“Iya bu’, siap. Oh iya ibu masak apa hari ini?”
“Ibu masak Cumi balado kesukaanmu,”
“Okey bu’, Aku akan mandi dengan cepat,”

Setelah mandi ia pun duduk di depan meja makan, namun ia tiba-tiba tak bernafsu makan karena perasaannya yang campur aduk, dan timbul pertanyaan di otaknya. Apakah aku bahagia dan baik-baik saja? Apa aku harus sedih? Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang terus mengganggunya. Bahkan semalaman ia tidak bisa tidur sama sekali, dia hanya duduk menghadap laut dan melihat bintang-bintang malam itu.

Sedangkan Erica yang masih sedih dan bingung dengan perasaan baru yang timbul di hatinya, karena takut cintanya bertepuk sebelah tangan. Gadis imut itu pun memberanikan diri untuk menelepon Adrian.

*tuut.. tuut.. tuut.. tuut.. tuut suara dering telpon yang sedang ditunggu oleh Erica.

“Halo, Adrian?”
“Iya Halo, ada yang bisa dibantu?”
“Aku pengen ketemu kamu besok, aku memasak makanan yang super spesial untuk kamu,”
“Oh, benarkah? Baik-baik aku akan beritahu Leo setelah ini,”
“Jangan.. jangan.. jangan, aku pengennya kita berdua saja yang ketemu di pantai dekat sekolahmu,”
“Hah, baiklah,”
“Terima kasih,”

Teleponnya pun ditutup, dan Adrian pun mencoba menguatkan hati agar besok bisa membantu Erica dan memberi saran yang baik supaya bisa dekat dengan Leo. Tiba-tiba TOK.. TOK.. TOK suara pintu rumahnya dan terdengar suara Leo berteriak-teriak di depan pintu.
“Drii, ayo main PS aku lagi senang ini, hari ini aku yang mentraktir kamu, ayo keluar dasar kutu buku,”
“Apa kau gila, ini sudah jam berapa bodoh?”
“Aku bosan di rumah terus, ayolah main PS,”
“Oke deh, apa sih yang bisa kutolak kalau kamu yang ngajak,”

Mereka berdua berjalan kaki pergi ke rental PS yang paling dekat dengan rumah mereka berdua, dan sesampainya di rental mereka berdua sangat kesal, karena rentalnya begitu ramai dan dua sahabat ini tak dapat tempat untuk main. Mereka pun memutuskan berjalan-jalan di pinggir pantai dan mengobrol santai.

“Drii, Erica itu cewek baik yah? Dia juga begitu polos dan sangat tulus,” ucap Leo spontan mengejutkan Adrian.
“Hah? Baru kali ini aku mendengarmu memuji cewek,” jawab Adrian.
“Aku juga sangat ingin mendapatkan hatinya yang tulus itu,”
“Tenang saja boy, aku akan membantumu hehehe,” ucap Adrian sambil merangkul Leo.
“Tapi Drii…”
“Tidak perlu tapi-tapi, aku sudah memutuskan akan membantumu dengan Erica,”
“Huuh, terima kasih,” ucap Leo tertunduk dan mengingat kejadian yang ia alami tadi siang.
“Baiklah, ayo kita pulang!!!”

Leo tidak sempat mengatakan pada Adrian tentang perasaan Erica, karena ucapannya terpotong oleh obrolan-obrolan kosong yang dibicarakan oleh Adrian. Dia pun hanya diam, berharap Adrian tahu dengan sendirinya mengenai perasaan yang dimiliki Erica tehadapnya.

Dingin udara pagi datang menjelma menjadi sebuah kehangatan terik matahari yang menyinari kamar Adrian, ia pun sudah bersiap-siap menuju sekolah dengan sepedanya yang sudah diservis dan memberanikan diri untuk melepas perban yang sangat mengganggu gerak tangannya.

“Huuuwwaaaahhh, Dasar anak bodoh, apa yang kau lakukan, kenapa perbanmu dilepas?” teriak Ibu Adrian.
“Sudahlah Bu, perban itu membuatku susah menggerakkan tanganku, aku berangkat dulu,” ucapya kemudian mencium tangan Ibunya.

Seperti hari biasanya, ia dan Leo bersepeda menuju ke sekolah dengan riang dan penuh semangat tanpa mempedulikan perasaan masing-masing terhadap Erica. Sesampainya di sekolah mereka pun belajar dengan sungguh-sungguh seperti biasanya, namun kali ini Adrian benar-benar gelisah, karena tidak tahu apa kesukaan dari sahabatnya Leo.

TING.. TONG.. TENG bel tanda seleseinya jam pelajaran terakhir, Adrian pun langsung bergegas menuju pantai yang tepat beberapa meter saja dari pantai.
Dengan menggunakan sepeda bututnya ia mengayuh dengan sangat kuat dan bersemangat menuju pantai, sesampainya di pantai yang bisa dibilang dekat ini, ia pun turun dan menunggu kedatangan Erica. Tak lama setelah Adrian datang, tiba-tiba ada suara cewek yang meneriaki namanya, dan saat menengok kanan kiri, ia pun melihat sesosok Erica yang sangat cantik ketika memakai seragam bebas dari sekolahnya.

“Hei Drii, apa kabar?”
“Yah, aku baik-baik saja, bagaimana dengan harimu?”
“Sangat bahagia dan bersemangat,”
“Hehehe, baguslah, oh iya ada apa kok tiba-tiba mengajakku ke pantai dan berdua saja,”
“Anu.. anu.. anu.. aku bingung harus gimana ngomongnya, aku malu,”
“Oh, kalau soal Leo nanti aku akan bantu kamu, kamu mau mengutarakan perasaanmu padanya?”
“Bukan.. bukan.. bukan, apa kamu sudah punya pacar?” ucapnya dengan gugup dan wajah yang memerah.
“Kalau aku sih belum ada, tapi aku sedang menyukai seseorang dan sepertinya lagi-lagi bertepuk sebelah tangan,” ucap Adrian dengan tersenyum.
“Hah? Kamu menyukai seseorang? Pasti dia sangat cantik dan kriteria cewek idamanmu?” ucap Erica dengan mata yang berkaca-kaca dan menunduk sedih.
“Ah malah aku jadi curhat, maaf.. maaf meskipun begitu, aku akan tetap membantumu dengan Leo kok, tenang saja lagian baru kali ini aku lihat Leo serius suka dengan cewek,” ucap Adrian dengan polosnya.

Tanpa ia sadari Erica sudah menangis dan tertunduk lesu di hadapannya. Cewek imut itu pun langsung berlari dan meninggalkan Adrian yang tengah kebingungan dengan tangisan Erica setelah mendengar ucapannya. “Erica.. Erica.. ada apa denganmu? Jangan menangis!!!” teriak Adrian memanggilnya.

Adrian pun hanya tertunduk sedih ketika Erica menangis dan meninggalkannya sendiri di pantai, karena kepolosannya itu yang membuatnya tidak tahu harus berbuat apa disituasi seperti ini.

Sedangkan Erica yang berlari keluar dari pantai di tengah perjalanan ia tidak sengaja menabrak Leo yang baru saja dari membeli barang di mini market. Bruuakkkk suara Erica menabrak Leo dengan sangat keras.

“Erica, kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka hingga kamu menangis seperti itu?” ucap Leo panik.
“Hu.. hu.. dia menolakku, dia menginginkan jika aku dan kamu bersama, dia mencintai cewek lain,”
“Siapa? Adrian? Apa kamu serius dia menolakmu?” ucap Leo yang naik darah mendengar ucapan Erica.

Tanpa menjawab, Erica yang masih menangis itu mengangguk dan hanya bisa terus menangis, karena telah ditolak oleh cowok yang paling dia sukai. Leo pun mengangkat Erica dan menaikkannya ke sepeda dan mengantarkan Erica pulang, sesampainya rumah Erica, Leo pun langsung mengayuh sepedanya menuju tempat Adrian berada.

Dari kejauhan Leo teriak-teriak memanggil Adrian yang ternyata juga masih murung, karena ucapannya membuat Erica sedih. Dengan keadaan yang masih emosi, Leo langsung mendatangi Adrian dan langsung memukul wajahnya dengan keras. Buug.. Baag.. buug suara Leo memukul wajah Adrian.

“Leo, apa yang kamu lakukan padaku?”
“Kau itu bodoh ya? Kau sudah dua kali membuat Erica menangis!!!”
“Aku? Tapi iya tadi ia menangis. Mungkin aku salah bicara soal ingin membantunya agar mau jadi pacarmu,”
“Kau memang sahabatku paling bodoh, Erica bilang tadi kamu menolaknya!!!” dengan nada tinggi Leo berkata.
“Hah? Dia kan menyukaimu bro,”
“Kamu gila!!! Sekarang kalau dia tidak menyukaimu, kenapa tadi dia mengajakmu ke pantai dan mengajakmu memakan masakannya,”
“Itu karena dia menyukaimu bro,”
“Kamu tau, saat kamu pulang sendirian kemarin, dia berkata padaku dengan mata yang berkaca-kaca kalau dia menyukaimu,”
“Aku juga menyukainya, tapi waktu itu kamu bilang kamu mulai menyukai Erica dan gestur tubuh Erica seakan tertuju padamu, jadi aku berusaha untuk membantu kalian berdua, meskipun aku yang terluka,” ucapnya Adrian menjelaskan.
“Bro, apa kamu ini bodoh atau kamu ini polos, aku kali ini mendukungmu dengan wanita yang tulus padamu. Dan dari semua cewek yang kamu dekati dulu, hanya Erica yang mau dengan tulus memasakkanmu, bahkan ia menangis untukmu, begitu terlihat jelas ketulusannya mencintaimu. Datangi dia ke rumahnya bro, sebelum kamu menyesal,”

Mendengar ucapan sahabatnya yang begitu meyakinkan itu ia pun tanpa pikir panjang langsung mengayuh sepedanya menuju ke rumah Erica yang dia sendiri tidak tahu dimana rumahnya. Kemudian di tengah jalan ia tersadar bahwa ia tidak tahu rumah Erica dan kembali menemui Leo yang masih di pantai sedang menghapus kegalauan hati, karena cewek yang ia suka harus bersama sahabatnya.

“LEO… LEO… mana alamat Erica? Aku tidak tahu rumahnya,” teriak Adrian yang panik.
“Haha dasar bodoh, ini alamatnya,” ucap Leo dengan memberikan secarik kertas yang berisikan alamat rumah Erica.

Ia pun dengan begitu cepatnya menuju ke rumah Erica yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari pantai. Di satu belokan terakhir sebelum menuju rumah Erica ia pun mengalami musibah, karena rem sepedanya yang blong dan ia tertabrak mobil pick up dengan begitu kerasnya. Bruaaakkkk… Blakkk.. Adrian terlempar cukup jauh dari tempat ia tertabrak.

Dia tergeletak di tengah jalan dengan tubuh yang tidak lagi bisa dirasakan, namun yang ada di dalam pikirannya hanyalah Erica, ia pun kembali berdiri dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah Erica dengan berjalan kaki dan tubuh yang sudah dipenuhi luka.

“Nak, kamu mau kemana dengan tubuh seperti itu, ayo ke rumah sakit dulu,” ujar warga sekitar yang melihat kejadian aksi tabrak lari itu.
“Nanti saja Pak, saya ada urusan yang lebih penting, terima kasih bantuannya,” jawab Adrian dengan wajah yang masih menahan sakit.

Dengan menahan rasa sakit yang ia rasakan, ia pun sampai di rumah Erica sesuai dengan alamat yang diberikan oleh sahabatnya Leo. Dalam hati ia berkata, “syukurlah, akhirnya aku menemukan rumah Erica,”.

TING.. TONG.. TING.. TONG.. TING.. TONG suara bel rumah yang dianggap Adrian tidak salah rumah.

Kemudian pintu itu terbuka yang ternyata sungguh kebetulan, karena meskipun ini bukan rumah Erica, tapi cewek imut pujaan hatinyalah yang membukakan pintu tetangga Erica.

Saat melihat kondisi tubuh Adrian, Erica pun langsung lari menuju pagar dan membukakan pagar untuk Adrian.

“Adrian, ada apa denganmu? Kamu kenapa bisa penuh luka seperti ini?” ucap Erica yang begitu panik melihat pengeran berkuda putihnya penuh luka.
“Hehehe… Erica aku minta maaf, kerena aku tidak menyadari perasaanmu padaku,” dengan sedikit pusing dan mulai pudar kesadarannya ia berkata.
“Iya.. iya tidak apa Drii, ayo kita ke rumah sakit dulu, nanti saja bahas soal itu,”
“Erica, a..a..aku suka padamu dari awal kita bertemu, maaf telah membuatmu menangis untuk yang kedua kalinya, mungkin ini yang ketiga kalinya, karena kebodohanku,” ucap Adrian yang sudah semakin memudar kesadarannya.
“Aku juga begitu menyukai kamu Adrian, tapi ayo ke rumah sakit,” ucap Erica yang sudah meneteskan air mata.
“Maukah kamu jadi pacarku, Erica?”
“Iya Drii, aku mau ayo ke rumah sakit dulu,” jawab Erica dengan tangisannya.
“Hehehe, syukurlah,” Brrukkk Adrian pun terjatuh dan kehilangan kesadaran di pelukan Erica yang tengah menangis.

Setelah dibawa ke rumah sakit dan dioperasi, Adrian pun tersadar dan harus dirawat beberapa minggu di rumah sakit. Dia dan Erica pun menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai setelah kesembuhan total Adrian dari kecelakaan yang menimpanya.