My First Love is Erica (Part 1)

By On Sunday, March 19th, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung

Pagi datang, lonceng gereja di samping rumah Adrian berdentang begitu keras dan membangunkannya tepat jam 6 pagi, tidak bisa dipungkiri kalau dia terganggu dengan lonceng itu, namun hal itu sangat membantunya untuk bangun pagi.

Adrian adalah remaja berusia 17 tahun yang culun dan kuno, bahkan selalu dipandang sebelah mata oleh cewek-cewek di sekolahnya. Sikap ramah pada siapapun itulah yang membuatnya menjadi lelaki yang cukup dikenal oleh murid lain, meski hanya dianggap cari perhatian bagi cewek di sekolahnya

Dia memiliki sahabat bernama Leo yang sangat berbanding terbalik dengannya, ia sangat dipuja oleh gadis-gadis di sekolahnya, karena memang memiliki wajah rupawan dan sikapnya yang juga baik pada setiap orang. Namun karena sifat baiknya itu dia tidak bisa menolak cewek, bahkan cewek yang disukai oleh Adrian pun lebih memilih Leo yang playboy dari pada Adrian.

Suatu hari ketika jam istirahat selesai, Leo berlarian dari kantin mendatangi sahabatnya yang sedang belajar di kelas. Dengan hembusan nafas yang terengah-engah dan wajah yang begitu panik Leo berteriak dan mencari Adrian.

“Drii… kamu di mana?”
“Ya, seperti biasa aku duduk di bangku ini, ada apa?” jawab Adrian dengan tenang.
“Maafkan aku Drii, hal ini lagi-lagi terjadi, cewek yang kamu suka mengungkapkan perasaannya padaku, tapi kali ini aku menolaknya, aku tidak enak hati sama kamu,”
“Hehehe santai saja Bro, hal ini sudah sering terjadi sejak dulu, kita kan sudah sejak kelas 1 SD bersahabat, asal kamu senang aku juga senang,” Jawab Adrian dengan senyum.
“Huh… Syukurlah, kamu tidak pernah berubah dari dulu, selalu saja sabar padaku hahaha,”
“Yosh, kita tidak perlu bertengkar hanya karena hal sepele seperti ini,”
“Drii, kali ini aku janji, aku tidak akan pacaran dulu sebelum kamu dapat pacar,” ucap Leo dengan penuh semangat.
“Heeeeh!!! Jangan gitu, walaupun kita sudah lama bersahabat, kamu boleh mengambil hakmu itu,”
“Tidak, ini janjiku pada sahabatku yang paling aku sayang, dan semua cewek yang kamu suka dan lebih suka padaku, semua sengaja aku terima karena aku ingin menyakiti orang yang bisanya hanya menjelekkanmu dan memandangmu sebelah mata,”
“Yah, terserah kamulah, tapi untuk hal yang terakhir itu terima kasih,”

Mereka bersahabat sejak SD dan mereka pun selalu berangkat dan pulang bersama naik ontel kesayangan yang sudah mereka miliki sejak kelas 6 SD dan masih dipakainya meski sudah SMA kelas XI. Suatu sore yang dipenuhi warna matahari senja yang indah, mereka berdua pulang sekolah menggunakan sepeda ontelnya, tiba-tiba Adrian berlari dan melompat ke tengah jalan untuk menolong seseorang nenek yang menyeberang jalan dan hampir tertabrak mobil.

Bruakkkk. Suara sepeda ontel Adrian hancur ditabrak oleh pengendara mabuk yang hampir saja membunuh nenek tua yang menyeberang jalan. Leo yang melihat tindakan bodoh temannya itu langsung menjatuhkan sepedanya dan berlari mendatangi Adrian dan nenek yang sudah di pinggir jalan.

“Syukurlah, dasar bodoh!!! kamu selalu saja seperti ini!!! apa kau baik-baik saja sobat?” ucap Leo yang lega melihat temannya baik-baik saja.
“Tenang saja kawan, ini hanya sedikit luka gores saja yang aku dapatkan hehehe,” ucapnya sambil tersenyum.

Tiba-tiba ada sesosok cewek yang berlari dari seberang jalan menghampiri mereka dengan wajah yang super panik, dan ternyata dia adalah cucu dari nenek yang Adrian selamatkan.

“Nek… nenek tidak apa-apa?” ucap cewek itu kepada neneknya.
“Iya cu, nenek selamat kok,”
“Yosh, Leo ayo kita pulang, boncengin aku ya bro, sepedaku hancur begitu hehehe,” ucap Adrian mengabaikan Nenek yang ia selamatkan.
“Baiklah kawan, aku akan mentraktirmu makan karena kebaikanmu itu, aku ngebut ya?” jawab Leo dengan semangat.

Mereka berdua pun pulang dengan santai, karena Adrian harus menggeret sepedanya yang sudah seperti barang rongsokan. Terdengar suara cewek yang berteriak-teriak pada mereka berdua, namun mereka tidak menyadarinya dan terus saja Leo mengayuh sepedanya tanpa menoleh ke belakang.

Kemudian si cewek itu meminta seseorang untuk mengejar mereka berdua dengan motor. Ciiiiit suara decit ban mengerem di hadapan dua sahabat ini, tanpa berkata pria itu menunjukkan tangannya ke arah nenek dan cucunya itu. Mereka berdua pun menoleh dengan polosnya, dan melihat si cucu dari nenek itu melambaikan tangan ke arah mereka.

“Leo apakah mereka masih membutuhkan bantuan kita?”
“Sepertinya begitu, ayo kita kembali dulu,”
“Yosh,”

Mereka kembali mengayuh sepedanya ke tempat nenek yang berada di dekat penyeberangan jalan tadi.

“Iya mbak, apa ada yang bisa kita bantu,”
“Ehmm.. ehmmm.. te..te..terima kasih ya, kamu sudah menolong nenekku,” dengan wajah yang memerah cewek itu berkata.
“Ah iya sama-sama mbak,” jawab Adrian.
“Atas kerusakan sepedanya biar saya yang ganti, ini nomor hp saya 081234213411,”
“Eh gak usah repot-repot mbak, wajar kalau rusak, maklum sepeda ontel tua,” jawab Adrian dengan senyum.
“Kalau begitu, boleh saya tau nama masnya sama nomor hpnya, mungkin saja nanti masnya butuh apa-apa,”
“Oh iya mbak, nama saya Adrian,”
“Saya Leo,”
“Nama saya Erica,”
“Okey mbak, nomor hpnya sudah saya save di hpnya mbak Erica,”
“Terima kasih mas,”

Keesokan harinya, dingin pagi akibat angin laut yang mengarah tepat di kamar Adrian membuatnya terbangun dan mengecek ponselnya yang ternyata mati, karena lupa mencharge.

TOK.. TOK.. TOK!!! suara ketokan pintu begitu keras dan terdengar suara teriakan Leo memanggil-manggil namanya berkali-kali, ia pun langsung buru-buru bangun dan mandi. Ia pun sadar kalau hari ini bakalan telat datang ke sekolah, saking terburunya dikejar waktu, ia pun meninggalkan ponselnya di kamar.

“Dasar bodoh, lama sekali kamu keluar?”
“Maaf bro, tadi malam aku tertidur agak larut, karena obat luka yang dioleskan oleh ibuku cukup menyiksa hahaha, yosh berangkat,”

Mereka berdua berangkat berboncengan akibat sepeda Adrian yang tidak bisa dipakai dan belum sempat diservis. Lengan Adrian pun ternyata mengalami lebam yang cukup parah, karena sampai diperban. Dengan nuansa pinggir laut yang segar mereka bersepeda dengan santai, karena mereka juga sudah sama-sama tahu kalau bakal terlambat sampai ke sekolah, bercanda-canda di sepanjang perjalanan hingga sampai ke sekolah.

Sesampainya di sekolah mereka melihat sesosok cewek dengan seragam dari sekolah lain berkeliaran di depan sekolahnya. Mereka yang sedikit curiga, langsung menghampiri cewek yang mondar-mandir terus di depan gerbang sekolah.

“Permisi mbak, ada yang bisa dibantu? Mbaknya kenapa kok sepertinya gelisah,” sapa Leo yang memang cukup berani dengan cewek.
“Eh… masnya yang kemarin nolongin nenek saya, syukurlah bisa bertemu hari ini,” ucap gadis itu yang ternyata Erica.
“Eh Mbak Erica, Ada apa ya mbak kok ke sini?” tanya Leo.
“Anu.. anu.. anu mau tanya, kenapa nomor hp kemarin tidak bisa dihubungi, padahal saya mau mengucapkan terima kasih dengan mengajak makan siang hari ini,” dengan wajah yang memerah Erica berkata.
“Eh Bro, kemarin kan nomor hp kamu, kamu sendiri yang ketik langsung di hpnya?” ucap Leo.
“Hp? Hp? Hp?” sambil merogoh seluruh kantong, Adrian panik.
“Lha dimana hpmu bro?”
“Ketinggalan di rumah bro, baru ingat tadi pagi pas mau berangkat aku charge, habisnya mati ternyata hehehe,”
Erica masih tertunduk dengan wajah yang malu-malu, bahkan ia tidak berani menatap Adrian yang begitu terlihat bodoh ketika mencari hpnya yang ketinggalan. Kemudian Erica memberanikan diri melihat Adrian yang begitu mempesona di matanya dan langsung terkejut ketika melihat tangan kanan Adrian diperban.

“Hah mas, maaf tangannya jadi diperban pasti karena nolongin nenek saya ya?”
“Oh tidak kok, kebetulan saja kemarin habis jatuh terus ditambah nolongin neneknya, tapi ini baik-baik saja kok, tenang saja,” jawab Adrian dengan senyum polosnya.
“Tapi mas, kan gara-gara kejadian itu masnya sampai diperban,”
“Huh, hal seperti itu biasa saja buat si bodoh ini,” umpat Leo.
“Saya baik-baik saja mbak, santai saja,”
“Ehm… ehm… sebagai permintaan maaf maukah mas Adrian makan siang denganku nanti?”
“Wah, terima kasih ya mbak Rica, Saya dan Leo nanti berangkat bareng ke sananya,”
“Terima kasih, nanti saya tunggu di taman kota jam 1 siang ya mas Leo, mas Adrian,”
“Jangan mas, panggil nama langsung saja,” sahut Leo.
“Baik,” ucap Erica yang kemudian melangkah pergi.

Si Adrian pun kemudian teringat kalau mereka sedang telat sekolah dan ketika masuk ke dalam sekolah secara mengendap-endap mereka pun kepergok oleh satpam sekolah yang membuatnya dapat hukuman. Leo hanya bisa marah-marah saja pada Adrian, karena dia mereka berdua jadi dihukum membersihkan seluruh toilet sekolah.

Bel sekolah serasa dipukul dan berbunyi terlalu cepat bagi mereka berdua, karena yang mengajak makan kali ini adalah cewek cantik yang begitu imut. Jam pulang sekolah sudah berdentang keras, mereka pun langsung berlari dan menuju ke parkiran sepeda supaya bisa cepat ketemu dengan Erica. Dikebut sepeda ontelnya itu menuju taman kota yang jaraknya mungkin tiga kilometer dari sekolahnya.

“Le… santai saja woeei, kamu membuatku takut hari ini, ada apa?” sambil berpegangan erat Adrian bertanya.
“Ini kita kan mau ketemu sama Erica bro, ya harus cepat dong!!!”
“Kamu suka sama dia Le?”
“Iya dong, dia cantik dan dilihat saat dia menangisi neneknya dan memperlakukanmu dengan baik, hal itu membuatku sangat terpukau padanya,”
“Oh, ya sudah cepat Le,”

Mereka melaju dengan sangat kencang, namun Adrian terdiam dan berfikir, bahwa dia harus mengalah lagi demi sahabatnya dan ia juga berfikir realistis, kalau kemungkinannya hanya 1:1000 cewek cantik dan semanis Erica bisa suka padanya. Ia pun kembali tersenyum, karena baginya sahabat sejati lebih susah dicari.

Tepat pukul satu siang mereka berdua sampai di taman kota dan melihat Erica sudah berdiri di dekat air mancur. Dari jauh kelihatan kalau Erica tersenyum dengan senyum khasnya dan juga melambaikan tangan.

“Huuuh Maaf maaf kami telat, ternyata cukup jauh taman kota dengan sekolah kami,” ucap Leo ngos-ngosan.
“Hahaha sorry ya Le, kamu tadi jadi super cepat ngontelnya,”
“Lho kenapa emangnya Le? Kok sampai ngebut?” ucap Erica.
“Cuma lagi semangat aja mau ketemu kamu,” jawab Leo sambil nyengir.
“Hahaha bisa aja kamu Le,” ucap Erica.
“Permisi ya, aku mau ke toilet dulu ya,” sahut Adrian.

Adrian ke toilet bermaksud untuk memberi kesempatan agar Leo dan Erica bisa berduaan, namun dalam otaknya banyak yang mengganggu dan ia sebetulnya juga sangat menyukai Erica, karena hanya Erica cewek pertama yang mengucapkan terima kasih padanya, bahkan sampai mentraktir makan.

Cowok tak populer ini mencuci muka dan menyadarkan diri dan mendinginkan kepalanya dengan mengguyur kepalanya. Ia kembali ke tempat Erica dan Leo dengan lebih segar, ia melihat makan siang itu sudah tertata rapi di meja taman.

“Wah kelihatannya enak ini,” sambil mengelap sisa air yang mengalir di wajahnya.
“Oh iya, maaf aku belum ada uang, jadi aku masakin ini dengan rasa yang spesial,” jawab Erica.
“Oh tidak apa apa kok,” sahut Leo.
“Aku boleh mencicipinya?” tanya Adrian.
“Ya silahkan, aku sangat senang kalau kamu mau makan makanan yang aku masak,” jawab cewek imut itu dengan tersenyum.

Adrian pun memakan makanan buatan Erica dengan sangat lahap dan tersenyum bahagia saat melihat Leo dan pujaan hatinya saling bercanda satu sama lain. Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua agar lebih akrab.

“Yosh, terima kasih ya Erica,” ucapnya dengan senyum.
“Bagaimana? Apakah masakanku cocok dengan seleramu?”
“Sangat enak dan kamu koki yang hebat,” ucap dengan senyum lebar.
“Benarkah? Jadi malu aku, oh iya apa boleh aku memasakkanmu setiap hari sebagai terima kasihku,”
“Kalau itu tidak merepotkan ya tidak apa, oh iya aku pulang duluan ya Le, Erica,” ucapnya sambil memberi kode pada Leo.

Erica yang terkejut, karena Adrian mau pulang duluan. Ia pun langsung menarik tangan Adrian dan menahannya untuk tidak jadi pulang.
“Tunggu, kamu mau ke mana?”
“Aku pulang duluan, karena ada yang harus aku kerjakan di rumah,”
“Kamu tidak mau pulang bareng aku?”
“Biar Leo yang mengantarmu sampai rumah, dia itu cowok baik kok, sampai jumpa lagi,”

Setelah Adrian membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke rumah, tiba-tiba mata Erica berkaca-kaca dan kembali duduk di hadapan Leo dengan menundukkan kepala. Leo bingung, apa yang terjadi pada Erica sehingga ia meneteskan air mata.

“Erica, apa kamu baik-baik saja? Ada apa denganmu?” tanya Leo.
“Kenapa dia cuek sekali padaku? Apa dia membenciku?”
“Tidak, tidak, tidak mungkin, dia membencimu tanpa alasan, Erica jangan menangis,” jawab adrian kebingungan.
“Lantas kenapa dia sepertinya tidak ingin melihatku, tadi kita ditinggal berdua ke toilet, terus ketika makan dia hanya fokus pada makanannya, dan kali ini dia pulang begitu saja,” umpat Erica dengan tangisnya.
“Memangnya kenapa kalau dia pergi, di sini kan masih ada aku,”

Cewek imut itu hanya menangis dan tidak menjawab pertanyaan dari Leo yang sedari tadi mencoba untuk menenangkan hatinya. Leo bahkan berusaha mengusap air mata yang menetes di pipi Erica, namun ia menolaknya dengan menghadang tangan Leo sebelum sampai ke pipinya. Ia pun berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, dan Leo menahan Erica dengan memegang tangannya.
“Hei, kenapa kamu menangis sehisteris ini? Apa kamu memiliki perasaan terhadap Adrian?”
Erica hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Leo dan ia pun langsung berpamitan untuk pulang tanpa diantar oleh Leo. Sahabat baik Adrian itu pun terpukul dengan jawaban non verbal yang dilontarkan Erica terhadapnya, namun ia langsung tertawa dan bangga, karena setelah sekian lama akhirnya ada juga cewek tulus yang suka pada sahabatnya, ia pun berteriak pada Erica yang sedang berlari dengan balutan tangis.
“Woooeeeii, Erica, kalau kau memiliki rasa padanya, berjuanglah dan jangan pernah menyerah, satu hal lagi yang perlu kamu ingat, dia tak akan pernah membencimu,” teriak Leo dengan semangat.

Vụ Án, Locomotive, Paranormal Romance: Falling into Darkness, The Castle, The One Memory of Flora Banks, Snotgirl #5, The Right Word: Roget and His Thesaurus, Deadly Intent (Linked Inc. Book 1), Kids of Appetite, The Letter, The Adventures of Beekle: The Unimaginary Friend, Beneath a Scarlet Sky, Losing Faith, What Do You Do with an Idea?, Personal Delivery (Billionaire Secrets Book 1), Undone (Will Trent, #3), Taken by the T-Rex, Terms and Conditions, Last Stop on Market Street, Dorothy Must Die (Dorothy Must Die, #1)