My Adventure with my BFF

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Sarah, Rain, Evellyn dan Ani adalah sepasang sahabat. Mereka gemar berpetualang dan juga pecinta alam, itulah dunia mereka.

“Anak anak, Miss akan beritahu bahwa seminggu kemudian akan diadakan kemah bagi kelas 5 dan 6, terimakasih” anak anak sangat senang akan hal itu. Apalagi aku dan sahabat sahabatku.

“Eh guys aku udah gak sabar nih” kataku dengan wajah berseri seri. “YUP Sarah, begitu juga dengan aku dan yang lain nya” timpal Evellyn

Seminggu kemudian…
Setelah melalui perjalanan yang panjang dan membosankan, akhirnya kami sampai di tempat perkemahan. Tempat perkemahan tersebut nampak bersih, asri dan sangatlah alami.
Malam hari sesudah acara api unggun, aku dan sahabat sahabatku tidur di tenda, begitu juga dengan yang lainnya. Karena kami satu regu, ditambah Monica.

“Bangun, mari kita jurit malam” kakak pembina membangunkan kami yang masih pulas tertidur. Lalu kami pun bangun dan bersiap.
Setelah dijelaskan oleh kakak pembina, kami pun satu regu jurit malam mencari jejak.

Tanpa sepengetahuan kami, John anak yang paling nakal dan jail telah mengusili kami semua dengan mengarahkan tanda yang sebenarnya arahnya ke Utara menjadi ke Barat. “Tuh menggok kiri” komando Monica. Karena Monica adalah ketua dari regunya.

Sudah lama kami jalan, kami tidak menemui tanda lagi. “Eh berhenti dulu!” kami semua sigap berhenti. Hampir saja aku dan Ani terjatuh karena berhenti mendadak.
“Ada apa Mon?” tanya Ani. “Kalian dari tadi nyadar gak sih kalau dari tadi kita jalan terus dan di kanan kiri kita gak ada arah petunjuk?” tanya Monica dengan tegas. “Busettt!!! Iya, kita tersesattt!!!” teriak Rain. “Shuttt… jangan teriak teriak Rain, suaramu itu bisa bikin telinga kita jadi budeg tau gak!” kami semua menutup telinga. “Hehe, sorry” ucap Rain lalu kami memaafkannya.
“Ya udah, kita malah berpetualangan nih” kata Monica, ternyata ia juga suka berpetualang. “Ya udah, let’s go friends!!!” ucap Evellyn. Kami malah semakin jauh dan tiba tiba GEDOBRAK!!! JEBOUMMMM!!! Kami semua mendengar suara seperti ada yang jatuh dari pohon dan kami memasang pendengaran.

Ternyata seekor burung besar yang sayapnya terluka. Kami pun menghampiri burung tersebut. “Aduh, obat obat di mana?” aku panik karena aku memang pecinta hewan. “Ini” lalu Ani memberikan obat P3K yang ia selalu bawa kemana saja.
Kami semua pun mengobati luka burung tersebut. Dengan membersihkan lukanya memakai kapas dan revanol, lalu kami berikan ia obat merah, lalu daun daun supaya jika lukanya dibuka kulitnya tidak ikut robek dan perban.

“Sudah, lalu kita apakan dia?” tanya Monica. “Kita bikinkan ia tempat tidur yang nyaman” usul Evellyn. Lalu kami semua mengambil daun daun yang besar dan lebar, dan juga sedikit jerami. “Eh, selimutnya pakai daun pisang saja” kataku. Lalu aku dan Rain memotong pohon pisang yang ada di belakang kami. Setelah itu kami pun beres. “Udah deh beres!” Monica menggosok-gosokkan tangannya.

Begitu mereka akan pergi, tiba tiba “Terimakasih anak anak, kalian telah menolongku” kami semua terkejut dan menoleh ke belakang. Ternyata burung itu bisa bicara. “Ka… kamu bisa bicara?” tanyaku dengan setengah takut. “Iya, aku adalah jelmaan dari pangeran langit… aku ke sini hanya untuk mengambil obat penawar di atas pohon itu, untuk menyembuhkan ibuku yang sekarat. Obat penawar itu harus diminumkan sebelum bulan purnama, dan itu besok” jelas burung itu panjang lebar. “Ohh, ya sudah mari kita bantu… kamu belum pulih pangeran” ujar Monica. Lalu, Rain yang jago naik pohon naik dan kami bersiap di bawah jika Rain jatuh. “Ini dia” lalu Rain turun dengan selamat. Ia berhasil memetik sebuah daun yang menurut kita aneh. Daun tersebut bulat berlapis lapis dan di dalamnya terdapat sebuah air.

“Pangeran, ini” kata kami. “Terimakasih anak anak” pangeran pun berubah menjadi seseorang pangeran yang tampan dan gagah. “Wowww!!!” kami terpesona dan takjub akan keajaiban itu. “Kenapa kalian malam malam di sini? Tidak pulang” tanya beliau. Lalu kami semua menjelaskan apa yang terjadi. “Ohhh, mari sini aku bantu, ini balas budiku karena kalian sudah membantuku” katanya. Lalu kami diantar oleh pangeran sampai batas perkemahan dan pangeran pun menghilang sebelum kami mengucapkan terimakasih.

Itu adalah pengalaman yang paling berharga dan mereka merahasiakan itu rapat rapat.